
Di sinilah mereka, di rooftop gedung tiga sekolah mereka. Arkan, Rafan dan Kevin duduk melingkar bersama Raini, Dinda dan Bening. Sesuai pesan Arkan, mereka semua berkumpul di sana setelah makan siang, tentu saja saat jam istirahat.
"Jadi, Silva kenapa, Ar?" tanya Raini yang terlihat khawatir.
Arkan mendongak, menatap lurus mereka semua yang sedang menunggunya bercerita dengan rraut cemas yang kentara. Pasalnya, ini berhubungan dengan salah satu dari mereka. Silva adalah sahabat mereka yang paling baik dan bisa diandalkan. Di antara para cewek, Silva yang paling jarang ribut. Justru dia yang menengahi jika mereka ada yang berselisih paham. Jadi, di sini posisi Silva cukup penting.
Arkan mengembuskan napasnya panjang. Ia berusaha memantapkan hatinya untuk mulai bercerita.
"Jadi gini, eum... Sebenarnya, Silva..."
Arkan menjelaskan kejadian yang menimpa mereka tanpa ada yang ditutup-tutupi. Mereka semua tak terkecuali Rafan memasang wajah terkejut sekaligus prihatin. Mereka sangat sedih mendengar kabar buruk yang baru saja dua sahabat mereka alami.
"Terus, sekarang keadaan Silva gimana?" tanya Bening dengan mata memerah. Mungkin sedang menahan tangis.
"Dia kacau banget setelah kejadian itu. Apalagi waktu hari pertama kita pindah ke apartemen gue, dia sama sekali gak mau liat muka gue. Dia nangis terus sambil bilang benci gue berkali-kali," jelas Arkan dengan dada yang terasa ngilu karena mengingat kejadian itu.
"Tapi, segimana pun bencinya Silva sama gue, dia tetep terima pelukan gue walaupun sempet berontak. Itu artinya, dia butuh sandaran, kan? Silva tuh rapuh sebenarnya. Makanya, gue bawa dia ke apartemen gue dulu sampe orang tua kita gak marah lagi. Karena gue gak mau liat Silva sedih kalo liat wajah kecewa orang tuanya. Jadi, kalian bantu gue ya. Jangan ada yang bocorin keberadaan Silva di apartemen gue. Dan pokoknya kalian tenang aja, gue bisa ngurusin ini semua sendiri. Kalian gak perlu ikut campur, kalo mau jengukin Silva, nanti aja ya. Sekarang keadaannya masih belum stabil. Kasih waktu seminggu lagi buat ngilangin traumanya."
Semuanya mengangguk paham. Bening sudah berkali-kali mengusap air matanya. Ia sangat prihatin dengan nasib sahabatnya.
Di saat semuanya sedang larut dalam rasa empati mereka terhadap Silva, Kevin justru menunjukkan tatapan tajamnya.
"Tapi, gue gak yakin kalo Silva pergi ke tempat itu sendiri. Pasti ada orang yang ngejebak dia. Kalian tau sendiri kan, Silva orangnya kayak gimana?"
Mereka semua mengangguk setuju menanggapi kecurigaan Kevin.
"Menurut lo siapa, Vin?" tanya Rafan menatap Kevin menuntut jawaban.
"Kalo menurut gue, pelakunya itu orang yang ngasih tau keberadaan Silva di club' dan yang ngefoto Arkan sama Silva," jawab Kevin dengan yakin.
"Jadi, menurut lo mereka orang yang sama?" tanya Dinda dengan tatapan tajam terarah kepada Kevin.
"Ya," sahut Kevin singkat.
"Dari mana lo dapet keyakinan itu?" tanya Dinda lagi.
"Feeling aja sih hehe." Seketika raut wajah serius Kevin lenyap, berganti dengan cengiran lebar. Membuat semua yang ada di sana menyorakinya. Bahkan Raini yang berada di sampingnya langsung menoyor kepala Kevin.
"Tapi, gue setuju sama Kevin," kata Rafan menarik atensi mereka semua.
"Kenapa?"
"Karena Silva gak mungkin datang ke club' sendirian. Pasti ada yang ngajak dia ke sana dengan segala macam bujuk rayu. Di sana dia diajak minum sampe teler. Terus pelakunya ngehubungin Arkan waktu Silva dibawa sama om-om. Setelah Arkan datang buat nyelamatin Silva, Arkan justru dijebak sampe pingsan dan mereka berhasil bikin keadaan Arkan seakan Arkan yang udah ngelakuin itu sama Silva," jelas Rafan panjang lebar.
"Tapi, bisa jadi Silva datang ke sana sama orang lain yang emang udah ngincer Silva dan orang yang ngefoto kalian manfaatin situasi buat niat jahatnya yang pengen kalian hancur," sambung Dinda yang mengungkapkan teorinya.
"Jadi, menurut kalian pelakunya adalah..."
Silva hobi membaca, apalagi novel fantasy-romance seperti yang terdapat di rak buku di apartemen Arkan. Ada beberapa genre buku, tapi kebanyakan bergenre fantasy-romance.
Selama sebulan ia tinggal di sini, ia belum pernah membaca novel-novel itu. Hanya melamun dan meratapi nasibnya. Silva rasa sudah cukup baginya merutuki perbuatan bejat Arkan. Mau bagaimanapun waktu terus berjalan, ia pun harus tetap menjalani hidupnya. Tidak mungkin kan, ia akan terus seperti ini.
Silva berdiri dan menyusuri rak yang penuh dengan buku. Satu novel yang berjudul "A Bad Pair of Fairy" berhasil menarik perhatiannya. Diraihnya novel itu dan dibawa ke ranjang kemudian ia pun mulai hanyut dalam alur ceritanya.
Novel yang mengisahkan tentang sepasang peri yang telah melakukan pelanggaran besar saat hari penting bangsa peri. Mengakibatkan mereka berdua harus diturunkan ke dunia manusia. Dipisahkan dan harus menjalani hidup dengan melakukan sepuluh kebaikan tanpa kekuatan.
Sebenarnya tidak salah bagi para peri memiliki hubungan yang spesial. Namun, tidak seharusnya mereka meninggalkan kewajiban. Apalagi sampai mengotori nama cinta sejati yang bagi mereka itu suci. Maka, sang ratu peri memberikan mereka hukuman. Yaitu menjadi manusia.
Silva sangat menyukai alur dari novel tersebut. Hingga ia tidak sadar bahwa dirinya sudah membaca novel itu selama enam jam, sampai setidaknya menyisakan beberapa bab lagi menuju ending. Ia baru sadar saat perutnya terasa keroncongan. Jadi, saat ini Silva sedang menuju dapur untuk memasak mi. Ya, apalagi memangnya? Di sana hanya ada mi instan. Ia berharap Arkan pulang dulu dan membawakannya bahan-bahan makanan. Tapi, pasti itu tidak mungkin. Arkan kan harus kerja paruh waktu setiap pulang sekolah. Ya sudahlah, makan mi sekali lagi ia rasa tidak terlalu buruk.
"Seru banget itu cerita, sampe gue gak sadar kalo udah lewat waktunya makan siang," gumamnya sambil merebus air.
"Tapi kalo dipikir-pikir, dua peri itu kayak kita berdua. Gue sama Arkan. Kami melakukan kesalahan meski hanya disengaja oleh satu pihak. Lalu dikeluarkan dari rumah dan harus berjuang untuk bertahan hidup. Sampai orang tua kami mau memaafkan putra-putrinya. Entah kapan mereka akan melunak. Tapi, gue harap secepatnya. Gue kangen banget masakan bunda. Walaupun jarang masak, tapi setiap ayah ada di rumah--yang otomatis bunda juga ada di rumah--pasti selalu masak. Dan masakannya selalu enak dibanding masakan dari restoran manapun." Silva terkekeh setelah mengucapkan kalimat yang cukup cheesy baginya.
Setelah matang, Silva memindahkan mi rebus ke sebuah mangkuk lalu membumbuinya. Kini, saatnya ia makan siang! Namun, saat memasukkan sesuap kuah mi rebus, sesuatu di dalam perutnya seperti ingin menerobos keluar. Silva segera berlari ke wastafel dan berusaha mengeluarkannya.
Dapur itu seketika dipenuhi suara Silva yang berkali-kali mencoba memuntahkan isi perutnya. Tapi, selalu hanya cairan bening yang keluar. Sementara perutnya seperti diaduk-aduk. Seakan mendorong isi perutnya keluar.
Beberapa menit kemudian, perutnya sudah tidak terlalu mual lagi. Silva bisa mengatur napasnya sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding wastafel. Setelah dirasa cukup, ia kembali ke meja makan. Yang tadi mi rebus itu terlihat menggoda, entah kenapa sekarang jadi tidak selera. Ia malah menginginkan makanan lain yang harus dibeli di luar.
"Ck, kenapa tiba-tiba kepengen makan bubur Mang Ujang sih?" gumamnya sambil menyentuh perut. Bubur Mang Ujang adalah bubur kesukaannya yang kedainya dekat dengan sekolah. Bubur yang waktu itu Arkan bawakan untuknya.
Di tengah lamunannya tentang bubur Mang Ujang, terdengar suara bel di pintu apartemen. Silva segera berlari untuk melihat siapa yang datang. Ia harap itu Arkan. Tapi, jika Arkan kenapa tidak langsung masuk saja?
Silva membuka pintunya lalu segera disambut oleh dekapan para sahabatnya. Ya, yang datang itu para sahabatnya. Setelah puas berpelukan, para cewek melepaskan tubuh Silva dengan mata yang berkaca-kaca.
Silva bisa melihatnya. Namun, ia berusaha untuk tidak menangis di depan mereka. Ia harus tegar agar mereka juga kuat dan bisa terus menyemangatinya.
"Hai, Va!" sapa Rafan mengalihkan perhatian Silva pada dua orang laki-laki sahabat Arkan.
"Hai, Fan! Hai, Vin! Makasih udah mau dateng ke sini," balas Silva menatap mereka semua.
"Iya, sama-sama, Va. Nih, kita bawain lo bubur Mang Ujang. Bubur kesukaan lo, kan?" jawab Kevin lalu menunjukkan seplastik besar berisi banyak porsi bubur.
"Wah, kebetulan gue lagi kepengen makan bubur Mang Ujang. Ya udah yuk, masuk!" ungkap Silva dengan mata berbinar.
Meninggalkan tanya di benak masing-masing dari mereka. Terbukti dari tingkah mereka yang saling pandang. Seakan menyampaikan dugaan mereka yang tidak diharapkan terjadi dengan tatapan.
'Apa jangan-jangan Silva ngidam?'
...Bersambung......
Aduh, kalo iya gimana tuh?😲