Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 76. Aku Kangen Kamu, Va...



Kedua matanya baru saja terbuka. Sebenarnya ia sudah siuman. Tadi, ia hanya sedang tidur saja.


Saat Silva belum datang, Arkan baru saja siuman. Tapi, rasa sakit di kepala langsung menyergapnya dengan hebat. Ia juga merasakan nyeri di setiap jengkal tubuhnya, namun tidak bisa melakukan apapun termasuk meminta bantuan karena bicara dan bergerak saja, ia belum bisa. Tubuhnya masih terpengaruh anestesi. Maka, Arkan memutuskan untuk tidur saja lagi, berharap setelah bangun nanti rasa sakitnya telah berkurang.


Arkan terbangun oleh pergerakan Silva yang ikut naik ke brangkar dan memeluknya lalu menangis tesedu di bahunya sambil mengatakan apa yang telah terjadi. Arkan ingin sekali membantah dugaan buruk Silva terhadapnya, namun ia masih belum bisa melakukan apapun. Bahkan karena itu, Silva tidak sadar bahwa ia sudah membuka matanya. 


Hingga beberapa saat Silva keluar dari ruangan itu, Arkan baru bisa bergerak. Meski sekujur tubuhnya terasa perih, Arkan tak peduli. Ia tetap berlari mencari Silva. Mengingat perkataannya tadi, perasaannya jadi tidak nyaman. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Silva.


Di koridor lantai lima, Arkan kebingungan harus mencari Silva ke mana. Sampai di depan tangga, ia bingung harus menggunakan tangga naik ke lantai enam atau turun. Hingga seorang pria paruh baya datang dari lantai enam dengan wajah panik.


"Pak, Pak, ada apa, ya?" tanya Arkan menghentikan pergerakan si pria.


"Ada cewek yang mau bunuh diri, Mas. Itu di atap. Saya mau ke bawah minta bantuan--"


"Biar saya aja, Pak!" potong Arkan lalu segera naik ke lantai paling atas dan naik lagi menuju rooftop. Entah kenapa, tapi ia yakin jika gadis yang dimaksud pria itu adalah Silva.


Dengan tergesa, Arkan membuka pintu rooftop dan seketika kedua matanya terbelalak. Ia melihat Silva yang berdiri di pembatas atap dengan satu kaki yang sudah tidak lagi berpijak pada pembatas. Ia siap untuk terjun bebas.


"Silva!"


Hap! Bruk!


Silva sudah meluruhkan tubuhnya dan hampir terjun bebas. Beruntung, Arkan sampai tepat waktu. Sebelum Silva jatuh, ia sudah menangkap tubuhnya dan menariknya hingga terjatuh di atas lantai rooftop.


Seketika itu, terdengar suara riuh orang-orang yang menonton yang merasa lega karena Silva berhasil diselamatkan.


Arkan menatap Silva yang masih memejamkan mata erat dengan cemas. Namun, perlahan ia bernapas lega karena sekarang ia yakin bahwa Silva sudah benar-benar selamat dan sekarang berada dalam dekapannya. Arkan lalu mendudukkan tubuh mereka dan mengeratkan pelukannya pada Silva. Ia tenggelamkan wajahnya di bahu Silva dan mengusakkan wajahnya di sana. Merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh Silva hingga ke hatinya. Ia sungguh merindukan gadisnya ini.


Sementara Silva perlahan membuka mata. Ia memperhatikan sekitarnya. Masih di atas rooftop dan sekarang ia berada dalam pelukan seseorang. Seorang lelaki yang sangat ia rindukan.


"Aku kangen kamu, Va..." lirih Arkan agak teredam di bahu Silva.


Mendengar lirihan itu membuat kedua mata Silva menjatuhkan airnya tanpa diminta. Tanpa berpikir dua kali, Silva membalas dekapan Arkan dengan tak kalah erat. Ia pun sangat merindukan Arkan-nya.


"Aku lebih kangen..." balas Silva yang terdengar bergetar.


Seulas senyum tercetak di bibir Arkan. Dengan mata masih memejam dalam pelukan Silva, ia usap rambut Silva dengan lembut. Namun, senyum itu harus luntur saat Silva mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dikatakan.


"Aku minta maaf."


Kening Arkan mengerut mendengar permintaan maaf dari Silva. Ia menarik diri dan menatap wajah Silva yang menunduk.


"Kenapa kamu minta maaf?" Arkan bertanya dengan sangat lembut sambil mengusap kedua pipi Silva yang basah oleh air mata. Lalu ia mengangkat dagu Silva agar bertatapan dengannya.


Namun, nampaknya itu tak cukup untuk Silva menatap hanya pada mata Arkan. Gadis itu masih berusaha menatap apapun asal tidak bertubrukan dengan netra kelam Arkan yang menatapnya dengan teduh dan lembut.


"A, aku... aku gagal jagain adek. Aku gak becus jadi ibu, aku gak bisa jagain adek dengan baik, aku gak pantes jadi istri ka--hmmp!"


Arkan membungkam bibir Silva dengan ci*man. Ia sungguh tidak suka mendengar Silva menyalahkan dirinya sendiri. Dalam tautan itu, Arkan mencoba menyalurkan rasa tidak sukanya namun tetap melakukannya dengan lembut. Air mata mereka menetes di pipi masing-masing. Membasahi ranum keduanya. Melengkapi kesedihan mereka dalam tautan itu.


"Jangan nyalahin diri kamu sendiri atas apa yang bukan salah kamu. Aku tau kamu begitu karena khawatirin aku, karena terlalu mikirin aku. Jadi, di sini aku juga salah. Aku minta maaf, ya."


Silva menggeleng tegas. "Enggak, kamu gak salah. Aku seharusnya bisa jaga adek lebih baik. A, aku..."


"Ssst... Mau aku ci*m lagi?"


Ancaman Arkan seketika membuat Silva bungkam dan tubuhnya menegang.


Arkan dapat merasakannya. Ia pun memeluk Silva dengan gemas. Lalu, ia kembali melepaskannya. Digapainya kedua tangan Silva untuk ia genggam.


"Denger aku! Ini semua bukan salah kamu, bukan salah aku juga. Tapi, ini udah jadi takdir Tuhan. Mungkin, kita masih belum dipercaya untuk ngurus anak. Mungkin Tuhan lagi berbaik hati dengan ngasih kita kesempatan untuk mempersiapkan diri dulu. Supaya aku bisa nyelesaiin sekolahku, bisa belajar bisnis dulu, bisa belajar lebih dewasa dulu. Kamu pun begitu. Mungkin Tuhan mau kamu mempersiapkan diri dulu supaya bisa jadi istri dan ibu yang baik nantinya. Katanya kamu mau jadi wanita yang berpendidikan tinggi? Mungkin ini kesempatan buat kamu. Kamu bisa home schooling sampai lulus dan lanjutin kuliah. Iya kan?"


Namun, Silva menggeleng. "Enggak, Ar. Aku lulus SMA aja cukup. Aku gak akan nuntut untuk kuliah, karena cita-citaku udah berubah. Yaitu, jadi istri yang baik buat kamu."


Kini, giliran Arkan yang menggeleng. "Jangan, Va! Ini kesempatan kamu untuk mencapai cita-cita kamu. Aku gak akan nuntut untuk kita nikah secepatnya. Kamu bisa kok tamatin kuliah dulu. Bahkan aku..." Arkan menggantungkan kalimatnya dengan tatapan merunduk.


"Kenapa, Arkan?" tanya Silva mendesak Arkan untuk melanjutkan kalimatnya.


"Aku akan bebasin kamu untuk milih masih sama aku atau enggak."


"Maksud kamu?!" desak Silva menatap Arkan dengan alis mencuram dan mata berkaca-kaca kembali. Bahkan tangannya sudah melepaskan genggaman mereka.


Arkan gelagapan melihat reaksi Silva. Ia berusaha meraih kembali tangan Silva, namun Silva lebih cepat menarik tangannya.


"Silva, plis dengerin aku dulu! Tenang, oke?"


"Gimana aku bisa tenang?! Kamu bicara seakan aku nyesel dengan hubungan kita! Seakan selama ini aku menderita sama kamu! Jadi, selama ini semua perhatian dan pernyataan cinta yang aku ucapin, gak berarti apa-apa buat kamu?!" Silva menatap Arkan dengan sorot kecewa dan bola mata yang bergetar.


Arkan tak kuasa menatapnya lebih lama lagi. Ia memejamkan matanya lalu menunduk.


Keheningan menyeruak diantara mereka. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang saling bertentangan.


Arkan sangat mencintai Silva, tapi ia juga merasa telah menjadi penghalang bagi gadis itu dalam hubungannya dengan lelaki yang dicintainya, yaitu Faris. Juga penghalang atas keinginan Silva yang pasti ingin menggapai mimpinya.


Padahal, Silva sudah mencintai Arkan dengan tulus. Bahkan separuh jiwanya seakan sudah ia berikan untuk Arkan. Tapi apa yang lelaki itu pikirkan?


"Kalo itu mau kamu, oke, aku akan pergi!" Silva bangkit dan berjalan menuju pintu, menjauhi Arkan yang tetap pada posisinya. Menunduk, memejamkan matanya membiarkan air mata mengaliri pipi.


Sesaat kemudian, Arkan tidak lagi mendengar langkah kaki Silva. Ia mendongak dan melihat punggung Silva yang berhenti di depan pintu rooftop.


"Tapi, kamu harus tau, Ar! Jangan berpikir aku pergi karena aku pengen sama Faris lagi! Aku pergi, bukan untuk Faris. Tapi, untuk kamu! Kamu yang pengen aku pergi. Selamat tinggal, dan cepet sembuh, ya."


Rasanya Arkan ingin berlari menghampiri Silva dan memeluk gadis itu sekarang juga. Tapi, keputusannya sudah bulat. Ia tak ingin membebani Silva dengan perasaannya. Silva harus bebas memilih dan menggapai cita-citanya. Maka, yang Arkan lakukan saat Silva melanjutkan langkahnya meninggalkan rooftop adalah diam. Tidak menahan ataupun mengejar. Karena, memang seharusnya seperti itu.


...Bersambung......