Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 37. Siap Dibenci



Kedua mata itu terbuka, mengerjap, dan menginvasi ruangan sekitarnya. Meski sudah tahu di mana ia berada, netra kembar itu tetap menyusuri setiap sudut ruangan. Demi memastikan bahwa hanya ada dirinya sendiri di dalam kamar itu.


Ia mengira-ngira, kemana si empunya rumah pergi. Kenapa belum kembali juga hingga saat ini, padahal perginya pun sudah cukup lama. Tidakkah lelaki itu memikirkannya yang mungkin kelaparan, sendirian. Ia tak mungkin terus terlelap. Meski keadaan kepalanya masih terasa sedikit pusing, tapi kedua matanya sudah terasa perih. Ia tidak bisa kembali tidur.


Jadi, yang ia lakukan hanya menatap langit-langit kamar dan sialnya kejadian buruk beberapa waktu lalu terputar begitu saja di dalam kepalanya bagai kaset rusak.


Kejadian terburuk yang mengapa harus ia dapatkan. Ia menyesal, kenapa malam itu ia menerima ajakan Dea untuk pergi dengannya. Mungkin jika tidak pergi, ia tidak akan berakhir seperti ini. Masa depannya di ambang kehancuran, tubuhnya sudah tidak suci lagi, keluarganya berpotensi membenci dirinya, apalagi para sahabatnya. Mungkin mereka akan memandangnya dengan jijik.


Air mata menetes begitu saja memikirkan nasibnya yang malang. Kenapa Arkan tega sekali melakukan hal itu kepadanya? Padahal, ia sudah bersikap baik pada lelaki itu. Ataukah Arkan terobsesi pada tubuhnya? Jika iya, kenapa masih membiarkan dirinya hidup? Bunuh saja dirinya! Mayatnya diawetkan dan bisa kapan saja diset*buhi olehnya. Itu akan lebih baik baginya daripada masih dibiarkan hidup. Untuk apa hidup namun dibenci orang-orang. Hidup pun percuma karena masa depannya sudah hancur. Tidak ada lagi tujuan hidup yang dulu ia mimpikan. Kini, semuanya hancur, pupus, lenyap, dalam semalam.


Semudah itu Arkan merampas semua darinya. Kehormatannya, yang selalu ia jaga dengan baik. Mahkota berharganya, yang ia kira sangat dihargai oleh Arkan. Namun, ternyata ia salah menilai. Arkan tidak sebaik itu. Justru itu hanya kedok belaka. Agar ia merasa nyaman berada di dekatnya, tanpa curiga.


Kenapa nasibnya buruk sekali? Setelah diputuskan kekasih yang langsung mendapat gandengan lagi, pagi-pagi ia malah mendapati dirinya tidur bersama lelaki lain. Dengan tanpa busana, seluruh badan nyeri dan terdapat banyak tanda kemerahan. Runtuh sudah semua benteng yang ia bangun sejak lama. Bahkan sejak dirinya masih sangat muda. Betapa brengseknya lelaki itu! Lelaki yang mengaku sahabatnya, yang selama ini sangat melindunginya, meski tidak dapat berdekatan dengannya karena ada Faris si possesif.


Padahal ia sudah mengidolakannya karena wataknya yang ia rasa keren. Namun, setelah kejadian ini, ia bersumpah tidak akan mengaguminya lagi! Buat apa mengagumi lelaki brengs*k macam dia!


Silva mengubah posisi berbaringnya menjadi menyamping dan pecahlah tangisannya. Air mata berlomba-lomba menerobos kelopaknya. Membasahi bantal putih itu dalam sekejap.


"Brengs*k! Bajing*n! Jahat! Lo manusia paling jahat, Arkan! Gue benci sama lo! Kenapa masih biarin gue hidup? Harusnya lo bunuh aja gue! Gue gak mau ngerasain semua ini! Mereka pasti benci sama gue! Kenapa!! Kenapa gue masih hidup!!"


Silva menangis dan menjerit histeris bahkan sampai menjambak rambutnya dengan keras hingga membiru di akar rambutnya.


Bertepatan dengan itu, Arkan pulang. Berlari bagai kesetanan menghampiri Silva yang berteriak histeris seperti kerasukan. Tanpa berpikir dua kali, Arkan membalikkan tubuh Silva dan mengangkatnya lebih dekat kemudian mendekapnya. Membiarkan tubuh bagian depannya dipukuli akibat Silva yang terus berteriak dan memberontak. Persis ketika pagi tadi mereka bangun dalam keadaan yang tidak terduga.


Sedikitpun Arkan tidak melonggarkan dekapannya. Ia merelakan tubuhnya yang sakit bertambah ngilu, membiarkan Silva membasahi bahunya dengan air mata yang turun dengan deras dari kedua manik indah yang selalu ia puja. Ditahan sekuat apapun, Arkan menangis juga. Hatinya sungguh sakit melihat gadis yang sangat ia kagumi kacau seperti ini. Apalagi menuduh dirinya sebagai tersangka. Padahal dirinyalah yang hendak menolong. Namun, apa daya. Ini lebih baik ketimbang Silva terpuruk sendiri karena mengetahui bahwa pelaku yang sebenarnya orang asing.


Beberapa menit kemudian, Arkan merasa Silva lebih tenang. Tidak lagi memberontak dalam pelukannya. Hanya tangisnya yang belum reda, meski tersisa sesenggukannya saja. Perlahan namun pasti, Arkan mengusap kepala belakang Silva dengan lembut. Menyalurkan rasa tenang yang justru tidak ia rasakan. Saat ini yang bercokol dalam hatinya adalah rasa sakit yang seakan menusuk hingga ke bagian terdalam dirinya. Ingin sekali mengungkapkan semua kebenaran, namun tidak akan pernah tega apalagi jika hal itu bisa semakin memperburuk keadaan Silva. Akhirnya, yang bisa ia ucapkan hanya...


"Kenapa..." gumam Silva yang terdengar sangat lirih. "Kenapa lo minta maaf seakan bukan lo yang bersalah?"


Tak ada jawaban dari Arkan, usapannya di rambut Silva pun masih konstan, tak terdistraksi sama sekali oleh pertanyaan Silva. Namun, tangisannya semakin ingin pecah.


"Seakan lo yang jadi pahlawannya." Silva mendongak menatap Arkan dengan kedua matanya yang basah dan sembab. "Bilang ke gue, kalo lo pelakunya! Lo yang ngelakuin semua ini! Lo yang ngerusak dan ngehancurin masa depan gue! Lo yang pantes gue benci! Bilang ke gue, Ar, ayo bilang!" raungnya dengan tangis yang kembali pecah. Kedua tangannya mengepal, meremas kuat kemeja yang Arkan kenakan.


Namun Arkan bergeming. Tak ada pergerakan sama sekali. Hanya diam menatap dalam kedua netra Silva yang sarat akan kekecewaan dan ketakutan.


"Kenapa diem?! Ayo bilang, Arkan!"


Menggeleng. Yang justru dilakukan Arkan adalah menggeleng pelan lalu kembali menarik Silva ke dalam dekapannya. Kini, ia menenggelamkan wajahnya di bahu Silva dan menangis di sana.


"Gue gak bisa, Va. Gue akan ngerasa brengs*k banget kalo ngomong begitu. Cukup maaf aja yang gue sampaikan setiap waktu ke elo. Gue rela setiap saat ngucapin kata maaf bahkan seribu kata maaf sekalipun, gue sanggup. Tapi tolong, jangan paksa gue buat ngakuin perbuatan bejat itu." Karena bukan gue yang ngelakuinnya, Arkan melanjutkan dalam hati.


"Lo emang brengs*k! Lo pantes disebut brengs*k! Bajing*n!" umpat Silva yang berkebalikan dengan perbuatannya yang malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Arkan. Mungkin ia butuh perlindungan dan merasa aman dalam dekapan hangat Arkan. Meski yang ia tahu, Arkanlah si brengs*knya, pelaku dari semua ini.


"Ya, lo boleh ngumpatin gue pake semua kata-kata kasar, lo boleh mukulin gue semau lo, dan lo juga boleh benci gue. Tapi, tolong jangan pergi dari gue. Gue janji, gue akan nebus semua kesalahan gue dengan apapun yang lo mau. Bahkan mati pun gue rela, asalkan itu bisa buat lo bahagia kayak dulu lagi."


Silva terdiam cukup lama mendengar perkataan Arkan. Sebenarnya siapa yang salah di sini? Kenapa sosok yang begitu brengs*k malam itu, tiba-tiba berubah sebaik ini sekarang? Silva bingung, sungguh. Ia jadi merasa bersalah jika tidak membiarkan Arkan di dekatnya.


"Gue benci sama lo, Arkan, gue benci!"


Bersamaan dengan desisan lirih itu, Arkan merasakan pelukan mereka semakin mengerat. Juga pergerakan Silva yang seakan mencari tempat nyaman dalam rengkuhannya. Seulas senyum terbit di bibirnya. Setidaknya ia tahu bahwa keberadaannya sangat dibutuhkan oleh Silva. Ya, ia akan tetap di sisi Silva. Ia tak akan pernah pergi meski harus dibenci setiap saat.


...Bersambung......