Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 23. Jenguk Nesya



Keluar dari apartemennya dengan pakaian santai, kini Arkan siap untuk memeriksa dua gadis yang dititipkan padanya--memastikan mereka baik-baik saja.


Arkan menaiki mobilnya lalu melaju membelah jalanan kota kembang yang cukup ramai karena masih belum terlalu malam. Di sebuah kedai, Arkan berhenti untuk membeli martabak manis sebagai buah tangan untuk Nesya dan Silva. Ia masih ingat rasa favorit Silva meski ia tahu sekilas dari kebiasaan Faris yang sering membelikan Silva martabak saat tak sengaja sedang bersamanya, Rafan dan Kevin. Varian yang Faris beli selalu sama saat membelikan Silva camilan manis itu.


Beberapa menit menunggu, pesanannya pun siap. Arkan kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah orang tuanya lebih dulu untuk memeriksa Nesya. Arkan tersenyum tipis membayangkan wajah bahagia Nesya saat ia sampai nanti.


***


"Wuaa!! Kak Arkaaaan!!" pekik Nesya kaget saat tiba-tiba Arkan muncul di belakang sofa ketika ia sedang menonton tv sendirian di ruang keluarga.


Arkan terkekeh pelan membuat matanya menyipit. Ia memutari sofa lalu duduk di samping Nesya.


"Udah, gak usah ngambek! Nih, Kakak bawain kesukaan kamu." Arkan menaruh sebuah plastik berisi martabak manis di meja di hadapan Nesya.


Seketika kedua mata Nesya berbinar dan segera merangsek pada martabak di atas meja. Ia rela duduk di lantai demi lebih dekat dengan makanan kesukaannya itu.


"Woaah! Pisang colkat keju!" seru Nesya lalu mulai menyantap sepotong martabak itu.


Arkan tersenyum sambil mengusak pelan surai Nesya gemas. "Bilang apa dong sama Kakak?"


"Mwakaswih Kwak Awkan!" seru Nesya dengan mulut penuh martabak.


Arkan mencubit pipi Nesya yang mengembung dengan gemas.


"Kamu gak apa-apa di rumah sendirian?" tanya Arkan lalu bersandar di sofa.


Nesya yang seakan melupakan fakta itu, beralih mendekat pada Arkan. Kedua matanya menatap Arkan memelas. Sementara Arkan mengangkat kedua alisnya seakan bertanya.


"Gak berani sendirian, Kakak di sini aja ya, selama papa mama pergi?" pinta Nesya menggenggam tangan besar Arkan.


Arkan melirik ke atas seakan sedang berpikir. "Umm... Gimana, ya?"


Nesya berdecak lalu berpaling melipat tangan di depan dada dengan bibir mengerucut. "Kak Arkan jahat! Kita musuhan aja!"


Arkan mendengus geli. Memang, saat sedang bersama adiknya ini senyumnya lebih terasa mudah mengembang. Ia mendekati Nesya lalu berbisik. "Ya udah, kalo kita musuhan berarti Kakak gak bakal ke sini lagi. Biarin aja kamu dimakan sama hantu yang ada di gudang deket dapur."


Grep!


Seketika tanpa aba-aba, Nesya memeluk tubuh kekar sang kakak dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arkan. "Gak mau ih! Ya udah iya, kita temenan kok, gak jadi musuhan! Kak Arkan harus temenin aku!" seru Nesya yang teredam di dada Arkan.


Lantas Arkan terkekeh geli mendengarnya meski kurang jelas. Ia membalas pelukan Nesya mempererat dekapan mereka. "Iya, iya, Kakak tidur di sini malam ini. Tapi, sekarang Kakak mau ke rumah kak Silva dulu, ya. Soalnya orang tua kak Silva juga ikut sama papa mama. Jadi, dia juga sendirian sekarang. Oke?"


Arkan merasakan kepala Nesya bergerak naik turun tanda mengangguk. "Tapi jangan lama-lama, ya!"


"Iya, cuman mastiin dia baik-baik aja, terus pulang ke sini lagi, terus baru Kakak temenin kamu sampe tidur," jawab Arkan.


Nesya melepaskan pelukan mereka lalu menyodorkan kelingking mungilnya ke hadapan Arkan. "Janji?"


Tanpa ragu, Arkan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Nesya. Terlihat jelas sekali perbedaan ukuran jari mereka. Tangan Nesya begitu mungil berada di samping tangan Arkan. "Iya, janji!"


***


Di sebuah rumah, gadis sang pemilik sedang sibuk dengan tugas sekolahnya di meja belajar. Ponselnya menyala menampakkan wajah seorang pria yang menunjukkan tatapan memuja menatap wajah kekasihnya yang sedang fokus mengerjakan tugas-tugas.


"Kenapa sih kamu tuh selalu cantik di setiap waktu?"


Pertanyaan tiba-tiba itu sempat berhasil membuatnya merona, namun dengan cepat ia mengontrolnya dan berusaha tetap fokus pada soal fisika yang sedang ia kerjakan.


"Waktu senyum cantik banget, waktu ketawa apalagi, waktu cemberut juga cantik, imut. Yang paling cantik iu waktu kamu lagi fokus begini, aku suka banget liatnya. Makanya, aku gak pernah bosen nemenin kamu belajar. Soalnya, aku bisa puas menikmati indahnya wajah kamu."


"Faris, diem dong! Aku gak bisa konsentrasi kalo kamu ngegombal terus!" rengek Silva menatap layar ponselnya frustasi.


Sementara sosok yang terpampang di layar ponselnya justru terkekeh gemas dengan senyum lebar dan mata cerah yang seakan memancarkan banyak cinta.


"Karena kamunya baper, ya?" tanyanya dengan alis naik turun menggoda gadisnya. Siapa lagi, kalau bukan Silva?


Faris mengangguk dengan senyum yang tak mau hilang. Silva pun melanjutkan kegiatan belajarnya.


Mereka sudah biasa melakukan ini. Saat malam, mereka selalu melakukan panggilan video. Kebanyakan kegiatan yang mereka lakukan saat panggilan video adalah Silva yang belajar dan Faris yang dengan setia menemani hingga gadisnya selesai belajar. Seperti yang dikatakan Faris, lelaki itu tidak terlihat bosan sama sekali meski harus menemani Silva berjam-jam. Bahkan senyum manisnya seakan tidak pernah luntur meski sudah berjam-jam lamanya. Selalu seperti itu dan selalu berhasil membuat Silva semakin menyayangi kekasihnya itu.


"Aku mau ke sana kalau kamu ngizinin aku. Boleh, ya? Aku pengen ketemu pacarku, pengen peluk, cium dikit--"


"Tuhkan! Kalo kamu ke sini malah bikin aku tambah gak fokus! Jadi, mending gak usah. Besok juga kita ketemu kok."


Ocehan Faris terpotong oleh perkataan Silva. Gadis itu mengerutkan kening sambil mendelik ke arah Faris.


Karenanya Faris mengerucutkan bibir--merajuk. "Tapi aku kan kangen, tadi kamu kan gak sekolah."


Menghela napas pelan, Silva menatap Faris. "Baru sehari gak ketemu, masa udah kangen aja?"


"Honey, kamu itu kok kayak ngeraguin cinta aku? Jangankan sehari gak ketemu, sejam aja, semenit, bahkan sedetik aku gak liat kamu, aku udah kangen sama kamu. Apalagi sekarang, aku rindu berat, Honey~" jawab Faris mendekati merengek.


"Lebay dih!" acuh Silva lalu kembali berkutat dengan bukunya.


"Bukan lebay, Honey, tapi sayang!" tekan Faris yang diabaikan oleh Silva.


Beberapa menit berlalu, Silva tidak mendengar ocehan Faris lagi. Sepertinya kelinci imutnya itu sedang merajuk karena diacuhkan olehnya.


Selesai sudah tugasnya, Silva merapikan barang-barangnya lalu meraih ponsel yang masih terhubung dengan nomor Faris. Namun, tidak ada wajah lelaki itu, hanya ada langit-langit kamarnya saja. Pasti ngambek, pikir Silva.


"Bunny," panggil Silva lembut. "Kamu marah, ya? Maaf, aku gak bermaksud ngomong gitu. Aku kan tadi lagi belajar, kalo ditanggapin pasti kamu bakal ngoceh terus. Aku jadi gak konsen belajarnya. Maaf, ya."


"Dapet apa kalo aku maafin?"


Senyum mengembang di bibir Silva. Faris menampakkan separuh wajahnya dengan ekspresi yang masih tertekuk.


Ia berdengung tanda berpikir sejenak. "Dapet--"


Tok tok tok!


"Non, ada tamu di bawah!"


Pintu kamarnya diketuk disusul oleh suara Bi Lela. Silva menoleh pada pintu lalu kembali menatap Faris.


"Ada tamu katanya, Bunny. Udah dulu, ya? Nanti kita lanjut lagi kalau tamunya pulang gak terlalu malam," ujar Silva dan dibalas dengan kesal oleh Faris.


"Tamu siapa sih? Ganggu aja! Biar aku usir sini tamunya!" kesal Faris menukik kedua alisnya.


"Ya jangan dong! Ya udah, aku tutup, ya! Bye bye, My Bunny!"


Silva segera bangkit keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang tamu.


"Siapa tamunya, Bi?" tanya Silva saat melihat Bi Lela menuruni tangga di depannya.


"Itu, Non!" jawab Bi Lela menunjuk sosok lelaki yang Silva kenal.


"Arkan?"


...Bersambung.......


Yah... Kepanjangan. Segini dulu aja ya uwu-uwuannya. Part selanjutnya baru uwu-uwuan sama Arkan-Silva--ups!🀭


Luv yu all❀️β™₯οΈβ£οΈπŸ§‘πŸ’›πŸ’™πŸ–€πŸ’˜πŸ’πŸ’“πŸ’•πŸ’ŒπŸ’ŸπŸ’œπŸ’šπŸ’—πŸ’–


Salam


DidiloveπŸ’–