Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 38. Teori Rafan



Satu jam lebih mereka menangis sambil berpelukan, keduanya pun sudah tenang.


"Udah mendingan?" tanya Arkan melonggarkan dekapannya untuk menatap wajah Silva.


Gadis itu hanya mengangguk tanpa membalas tatapan Arkan.


"Kalo gitu, kita makan, yuk! Nih, gue udah beliin bubur kesukaan lo. Mau makan di mana? Di ruang makan atau di sini?" Arkan mengacungkan kantung plastik yang berisi dua buah sterofom yang tadi sempat ia simpan di atas nakas.


Silva menatap kantung plastik itu lalu menggeleng pelan. "Lo aja, deh."


"Loh, kenapa? Lo belum makan apa-apa dari pagi, ayo makan dulu, yuk! Kalo gak makan, nanti lo sakit, gimana?" Arkan mencoba membujuk Silva.


Namun, gadis itu tetap pada pendiriannya. Menggeleng lalu bersiap berbaring lagi sebelum terdengar bunyi gemuruh dari perutnya.


Mendengar itu, Arkan menahan tawanya. Suara perut Silva jelas terdengar karena keadaan di sana sunyi. Perlahan rona merah di kedua pipi Silva terlihat. Gadis itu pasti sedang menahan malu sekaligus lapar.


"Tuh, denger sendiri kan, perut lo protes tuh! Dia minta diisi. Yuk!"


Masih geming yang Arkan dapatkan. Silva tidak menjawab apapun. Pandangannya terarah pada jendela yang menampilkan langit biru berhiaskan awan putih. 


"Ya udah, lo makan di sini aja, ya. Gue makan di dapur. Nanti gue balik lagi buat bawain minum. Nih, buburnya gue simpen di sini. Dimakan, ya," ujar Arkan dengan lembut. Ia mengambil satu wadah sterofom serta sendok dan disimpan di atas nakas. Sementara satu lagi akan ia bawa ke dapur.


Arkan bangkit, menatap Silva yang masih enggan menatapnya dengan sorot sendu. Hatinya sakit, tapi ia tak akan memaksa Silva untuk menerima keberadaannya. Apalagi menerima keadaan yang amat buruk ini. Pasti sangat sulit. 


Tanpa berkata apapun lagi, Arkan berbalik dan melenggang keluar dari kamar.


Setelah mendengar pintu ditutup, Silva memejamkan matanya perlahan. Jatuhlah air dari kedua matanya. Ia tak terbiasa dengan situasi ini. Arkan masih sebaik dulu. Biasanya ia akan memperlakukan Arkan dengan baik, sebagaimana lelaki itu memperlakukannya. Namun, mengingat kesalahan yang diperbuat pada dirinya, membuat Silva sulit untuk bersikap seperti biasa. Terlalu sakit untuk sekedar menerima kata maaf darinya.


***


Weekend seperti ini ingin rasanya Rafan pergi berlibur. Tidak perlu jauh, sekadar jalan-jalan ke mall juga boleh. Tapi, tidak ada yang bisa ia ajak pergi. Sayang seribu sayang, ia tak punya gandengan.


"Pasti asyik ya, kalo punya pacar? Bisa diajak kemana-mana, kalo malem ada yang nemenin telponan, chattingan, ke sekolah juga jadi lebih semangat. Ah... Sayang banget adek kelas gak ada yang nyantol sama gue. Eh, gak ada yang cantik juga sih, angkatan sekarang," gumam Rafan sambil tangannya menekan-nekan remot tv, memindahkan channel ke acara favoritnya yang biasanya tayang pada jam ini.


"Upin dan Ipin inilah dia... Kembar seiras itu biasa. Upin dan Ipin ragam aksinya... Kau disenangi siapa jua..."


Iya, Rafan yang sudah sebesar ini masih sering menonton animasi anak-anak seperti itu. Ia tidak kekanakkan kok, tapi semua temannya juga suka animasi itu. Sampai hapal potongan-potongan dialog dan sedikit lagu-lagu dari soundtrack-nya.


"Assalamu'alaikum! Atok oh at--"


Bruk!


Saat sedang menirukan dialog anak kembar itu, tiba-tiba saja ada yang menubruk tubuhnya. Sesuatu yang besar dan kini memeluknya hingga terasa sesak. 


"Huwaaa sapa lo, hah!! Berani-beraninya Lo malem-malem masuk ke rumah anak perawan! Meluk-meluk gue lagi!" Dengan sekuat tenaga Rafan mendorong sosok itu hingga menjauh darinya.


Plak!


"Aw! Heh, kok gue digeplak, sih? Apa-apaan nih?! Enak aja, udah masuk gak bilang-bilang, sekarang malah nganiaya yang punya rumah," gerutu Rafan menatap tajam orang itu.


"Siapa anak perawan gue tanya?"


"Reva lah, masa gue? Gue cowok tulen, kok," jawab Rafan dengan tampang polosnya. Membuat Faris sangat ingin menggesekkan wajah polos itu ke ketiaknya yang sungguh harum.


"Udah deh, lo mau ngapain sih ke sini, Ris? Ganggu ketenangan gue mulu lo mah!" ketusnya mengibaskan tangan ke arah Faris. Sementara pandangannya tertuju ke televisi di depannya.


Menanggapi itu Rafan menatap Faris sinis sebelum memutar bola matanya jengah. "Buat apa ngehibur lo? Sedih lo itu lo yang buat sendiri. Jadi, ya udah, nikmatin aja sendiri. Gak usah bawa-bawa gue!"


Faris seketika menatap Rafan miris dan menyentuh dadanya dramatis. Seakan tersakiti oleh perkataan Rafan.


"Gak usah drama, deh! Mau lo bilang alesan apapun juga, tetep lo yang salah di sini. Coba kalo lo gak ngikutin keegoisan lo dan gak mutusin Silva, mungkin kalian masih bersama, dan kejadian kayak gini gak bakal terjadi. Jadi, ini semua gara-gara lo!"


Faris yang tidak terima disalahkan, mengerutkan keningnya dalam. "Loh, kok gue? Gue gak tau apa-apa, ya! Seharusnya Arkan dong yang salah! Dia yang ngelakuin semua itu, dia yang nyentuh Silva, dan dia yang udah ngerusak hubungan kita!"


"Kita?"


"Serius, Rafles!"


"Rafan, njir!"


"Makanya, serius dong lo!"


Rafan malah diam, dan itu membuat Faris semakin frustasi. "Kok lo malah diem sih, Fan?"


Rafan melipat kedua tangannya di depan dada lalu dengan tatapan tajamnya ia melirik Faris yang kebingungan dengan sikap sahabatnya itu.


"Lo percaya sama foto itu?" tanya Rafan menghadap Faris sepenuhnya.


"Ya iyalah, percaya! Udah jelas banget di dalem foto itu Arkan sama Silva tidur berdua gak pake baju. Apalagi coba yang mereka lakuin kalo bukan hmmp!"


Rafan buru-buru membekap mulut Faris dengan tangannya. Bahaya jika Faris mengatakan kata tidak senonoh itu.


Iya, Rafan sudah mengetahui kabar buruk itu. Tadi sebelum datang ke rumahnya, Faris sempat menghubunginya sambil menangis tersedu. Menceritakan apa yang terjadi dan mengirimkan foto Arkan dan Silva yang tertidur di dalam sebuah kamar berdua tanpa busana.


Namun, Rafan hanya menanggapinya dengan terkejut lalu pasrah. Ia tak melakukan apapun karena tidak ada yang bisa ia lakukan juga.


Faris menghempaskan tangan Rafan dari wajahnya dan menampilkan wajah merajuk.


"Kalo gue sih gak percaya." Rafan berdecak dan berdesis keras saat Faris akan memprotes perkataannya.


Setelah Faris merapatkan kembali mulutnya, Rafan melanjutkan kalimatnya.


"Kalo mereka emang sengaja ngelakuin itu, atau lebih parahnya kalo Arkan sengaja ngejebak Silva, kenapa didokumentasiin? Harusnya Arkan bakal ngerahasiain fakta itu soalnya gak mau orang lain tau. Begitupun kalo mereka sama-sama setuju ngelakuin itu."


"Ya itu, mungkin orang yang ngirim foto itu ke gue yang mergokin mereka."


"Nah, justru gue malah curiga sama orang yang ngambil foto mereka."


Selanjutnya, Rafan kembali diam, tanpa melanjutkan teorinya.


"Diem lagi. Mau lo apa sih, Fan?! Udah ah, gue mau balik aja!"


Kemudian Faris benar-benar pergi keluar dari rumah Rafan.


Sepeninggal Faris, Rafan menghela napas dalam. "Buat apa gue jelasin. Lo gak bakal percaya, Ris. Karena hati lo udah dikuasai ego. Sejelas apapun teori yang coba gue jabarin, lo akan tetap benci sama Arkan."


Hatinya miris memikirkan perjalanan hidup sahabat-sahabatnya. Kenapa begitu rumit? Padahal, mereka hanya anak-anak remaja yang baru akan beranjak dewasa. Namun masalah yang menimpa mereka sudah sesulit itu. Andai ia bisa membantu, tanpa diminta pun ia akan membantu. Tapi, ini masalah pribadi mereka. Ia tidak bisa seenaknya membantu tanpa persetujuan mereka. Jadi, hanya berdoa yang bisa ia lakukan untuk kebaikan semuanya. Semoga badai ini cepat berlalu.


...Bersambung......