Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 70. Jadi Penguntit



Pasangan suami istri itu sudah duduk berhadapan di kantin rumah sakit. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting. Setelah teman-teman Silva datang untuk menjenguk, Hanum dan Laras pamit untuk pergi sebentar mencari makanan. Tibalah mereka di sini.


Laras menceritakan kejadian apa yang dialami Silva hingga menyebabkan putrinya itu pingsan.


Flashback on


Siang itu setelah makan siang, Silva pamit kepada Laras untuk istirahat di kamarnya. Laras mengangguk dan akan menyusul setelah membersihkan meja makan.


Namun, tak lama setelah Silva sampai di kamarnya, ia berteriak ketakutan. Laras yang mendengar lantas segera naik dengan jantung berdebar panik.


"Silva!" panggil Laras dengan tergesa membuka pintu kamar sang putri.


Nampaklah Silva yang terduduk di lantai, meremas rambutnya dengan kedua tangan, menangis ketakutan dengan tatapan tertuju pada ponselnya yang tergeletak di lantai. Beruntung masih bisa dihidupkan. Laras segera mencari tahu apa yang baru saja Silva lihat di ponsel itu.


Saat ia membuka lockscreen ponsel Silva, ia langsung disuguhi room chat yang berasal dari nomor asing. Di sana tidak ada percakapan sebelumnya antara si pengirim dan Silva. Hanya ada sebuah pesan singkat dan sebuah foto.


Betapa terkejutnya Laras saat menekan foto itu dan melihat lebih jelas seseorang di dalamnya. Ternyata itu adalah Arkan yang bersimpuh di lantai dengan kedua tangannya diikat ke atas, seluruh tubuh penuh luka dan wajah yang sulit untuk dikenali.


Seketika Laras membekap mulutnya. Ia sungguh terkejut dan ngeri melihat keadaan sang calon menantu. Ia menyimpan ponsel itu di atas kasur lalu mendekat ke arah Silva yang sekarang sudah menangis sejadi-jadinya.


"Itu Arkan, Bunda.... Itu Arkannya Silva, kenapa ada di sana? Kenapa badannya luka-luka? Ayo pulang, Ar... Aku kangen, ayo pulang-hiks." Silva terisak dalam pelukan sang bunda.


Laras mengusap kepala hingga bahu Silva untuk menenangkan. "Sabar ya, Sayang. Arkan pasti pulang."


"Aku mau ketemu Arkan, Bunda. Arkannya aku... Arkan, pulang..." Setelah mengatakan kata terakhirnya, Silva jatuh pingsan tak sadarkan diri.


Laras yang merasakan pergerakan Silva berhenti, lantas panik. Ia guncangkan tubuh Silva sambil meneriaki namanya.


"Silva, bangun, Nak! Silva!"


Tak mendapat respon, Laras berteriak memanggil asisten rumah tangga mereka. Ia memerintah si asisten untuk memanggil supir pribadi keluarganya untuk segera membantu mengantarkan Silva ke rumah sakit.


Flashback off


"Jadi gitu, Yah, penyebab Silva pingsan."


Hanum terkejut mendengarnya. Kedua alis tertekuk curam. Rahangnya terkatup rapat dengan gigi bergemelutuk menahan emosi yang merangkak naik ke kepala.


"Boleh aku lihat isi pesan itu?" pinta Hanum menengadahkan telapak tangannya ke hadapan Laras.


Wanita itu segera mengambil ponsel Silva yang berada di saku celananya. "Ini, Yah."


Telapak tangan Hanum mengepal kuat saat melihat dengan mata kepalnya foto Arkan dengan keadaan yang mengenaskan. Ada sedikit rasa menyesal dan bersalah yang terselip di hatinya. Karena selama ini ia menduga bahwa Arkan memang melarikan diri dari tanggung jawabnya. Tapi setelah melihat itu, ia jadi percaya bahwa Arkan memang sedang dalam bahaya.


"Aku akan melacak nomor ini dan menangkap pelakunya segera!"


***


Menjadi penguntit memang bukan keahlian mereka, apalagi kebiasaan ketiganya yang selalu ribut dan tak bisa tenang. Tapi, saat ini mereka nekat mengikuti seseorang yang mereka anggap patut dicurigai. Entah datangnya dari mana dugaan itu, namun menghilangnya Regan saat Arkan entah dimana, membuat mereka mempercayai prasangka itu. Karena sejak Arkan disadari hilang, Regan pun tidak nampak keberadaannya.


Apalagi sekarang mereka malah melihat Regan di rumah sakit ini. Padahal waktu mereka ke sini, petugas bilang tidak ada pasien atas nama Bunga ataupun penanggung jawab pasien atas nama Regan. Jadi, buat apa sekarang Regan ada di rumah sakit ini?


Faris, Rafan dan Kevin berjalan berbaris. Mulanya Faris di paling depan, Rafan di tengah dan Kevin paling belakang. Tapi, saat melihat gelagat Regan yang seakan hendak menoleh ke belakang, mereka segera bersembunyi di balik dinding.


"Lo aja deh, Fan, jalan duluan!" ujar Faris berbisik mendorong pelan bahu Rafan.


Buru-buru Rafan menggeleng. "Gak mau! Lo aja, Ris. Masa buaya kayak lo penakut, sih?"


"Apa korelasinya, pinter?" sanggah Faris menoyor dahi Rafan.


Kevin berdecak mengalihkan perhatian mereka. "Kalo kalian ribut terus, nanti bang Regan keburu hilang. Biar gue aja duluan, Rafan di tengah, Faris di belakang. Ayo!"


Terlihat punggung Regan yang sudah jauh di depan sana. Keluar dari tangga darurat, berjalan menyusuri koridor lantai tiga kalau mereka tak salah menghitung. Mereka masih memberikan jarak dari Regan cukup jauh, agar tidak dicurigai oleh target maupun orang-orang yang berlalu lalang di koridor itu.


Hingga Regan berhenti di sebuah pintu dan masuk.


"Setau gue ini lantai khusus untuk para penderita kanker dan penyakit parah lainnya yang lagi menjalani perawatan. Ngapain bang Regan ke sini?" ujar Kevin menatap pintu ruangan yang dimasuki Regan kini sudah tertutup.


"Apa mungkin bener adiknya dirawat di sini?" tanya Rafan mengungkapkan dugaannya.


"Bisa jadi, tapi kenapa waktu kita ke sini, kita gak nemuin nama mereka?" timpal Faris menyuarakan isi pikirannya.


"Mungkin mereka pake nama samaran atau nama panggilan lain yang kita gak tau?" Kevin menyuarakan teorinya menatap Rafan dan Faris bergantian.


"Tapi kenapa harus pake nama samaran?"


Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Rafan yang satu itu. Mereka terdiam sejenak lalu kembali berjalan mendekati pintu yang dimasuki Regan.


Ketiganya mengintip di celah kaca pintu itu. Di sana nampak Regan duduk di kursi samping brangkar yang terdapat seorang wanita. Wanita itu nampak terbaring lemah, menutup mata dan menggunakan alat bantu bernapas yang melingkupi hidung serta mulutnya.


Mereka melihat Regan seperti menangis karena bahunya bergetar. Namun, mereka tidak bisa mendengar suara Regan yang sepertinya mengajak bicara wanita itu karena terhalang pintu dan jarak brangkarnya pun cukup jauh dari pintu.


Ketiganya menyingkir dari celah pintu itu lalu saling bertatapan.


"Gue rasa itu Bunga," bisik Rafan karena mereka masih berada di depan ruang itu.


Kevin mengangguk setuju. "Gue juga mikirnya begitu. Dilihat dari mukanya, dia kayak Bunga, tapi rambutnya lebih pendek."


Faris mengernyitkan dahi. "Emang keliatan ya, Vin? Gue liat mukanya pucet doang."


Menghela napas, Kevin dan Rafan sama-sama menoyor dahi Faris. Hingga membuat Faris mengumpat tertahan.


"Anj--"


Buru-buru mereka membekap mulut Faris dengan wajah tegang.


Rafan memelototi Faris karena gegabah. "B*go! Kita masih di depan ruangan mereka, kalo ketauan bisa berabe!" marah Rafan dengan bisikan yang penuh penekanan.


"Tau lu! Udah, mending sekarang kita pergi aja. Diskusinya nanti lagi, ayo!" tambah Kevin lalu berjalan mendahului mereka meninggalkan ruangan itu.


Baru beberapa langkah meninggalkan ruangan itu, ponsel Rafan bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Rafa berhenti dan memeriksa ponselnya. Dahinya mengerut saat membaca isi pesan dari nomor yang tidak dikenal. Ia segera menyusul kedua temannya yang sudah berjalan di depan.


"Eh, eh, liat nih! Gue dapet chat dari nomor yang gak dikenal, tapi dia kayak yang kenal kita," ujar Rafan menunjukkan layar ponselnya kepada Faris dan Kevin.


Mereka mengernyit saat membaca pesan singkat tersebut. Siapa gerangan orang yang mengirim pesan itu? Pikir mereka.


_____________________________________


From : 08xxxxxxxxxx


Kalo lo mau ketemu temen lo, malam ini datang ke tempat ini! Bawa dua temen lo yang lain! Kalo lo gak datang, gue pastiin lo gak bisa ketemu dia lagi!


_____________________________________


Begitulah isi pesan singkat itu dengan sebuah lokasi yang menyertainya.


"Oke, kita dateng malam ini!"


...Bersambung......