Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 17. Pengganggu



..."Hal yang paling kubenci adalah kecewa. Dan hal yang paling kuhindari adalah ketidakpastian. Tapi mengapa kau menjatuhkanku bersama rasa kecewa dan menguburku dengan ketidakpastian."...


...~Silvana Oktavia Hanum~...


Cukup lama Silva membujuk Faris agar menyudahi acara merajuknya. Akhirnya, luluh juga. Sekarang mereka sudah berada di parkiran. Silva sudah puas berkeliling tujuh replika negara di sana. Sekarang, mereka akan mengunjungi tempat wisata lainnya.


"Honey, sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Faris mengusap rambut Silva sayang. Faris sudah nangkring di atas motornya dan Silva berdiri di sampingnya.


Silva berpikir sejenak sambil memutar bola matanya. Hingga ekor matanya menangkap sebuah tempat yang menjadi jawabannya.


"Farm House!" seru Silva menunjuk tempat wisata yang berada tepat di seberang The Great Asia Africa.


Faris yang gemas melihat ekspresi Silva, mencubit kedua pipinya pelan. "Oke, ayo naik! Kita langsung ke negeri seberang!"


Silva naik dan Faris pun segera melajukan motornya menuju parkiran yang lebih dekat dengan Farm House.


***


"Uwaaaw, panjang banget antriannya!" seru Silva saat mereka sampai di tempat pembelian tiket.


Faris menoleh pada Silva. "Gimana? Mau tetep di sini atau cari tempat lain? Mumpung masih siang, masih sempet ke tempat wisata yang lain," tanya Faris sambil merapikan rambut Silva.


Gadis itu menggeleng. "Enggak, Bunny. Aku mau di sini aja. Sekalian kita makan siang dulu nanti di dalem, soalnya sebentar lagi masuk jam makan siang."


Faris pun mengangguk. "Ya udah, kamu duduk aja di sana, biar aku yang ngantri."


Silva kembali menggeleng. "Enggak, Bunny. Aku mau di sini aja nemenin kamu antri."


"Tapi nanti kam--"


"Ssst!" Silva memotong kalimat Faris dengan menempelkan telunjuknya pada bibir Faris.


Faris pun terpaku menatap kedua netra Silva. Namun, ia terkesiap saat tiba-tiba Silva beralih mencubit bibir Faris. Silva tertawa geli melihat Faris yang kesulitan berbicara. Kemudian, Faris menghempaskan tangan Silva di bibirnya. Lalu mencubit kedua pipi Silva dan mengecup pipinya. Setelah itu menjauhkan tubuhnya sambil menatap wajah Silva yang kini perlahan memerah.


"Bunny, malu ih!" cicit Silva menangkup kedua pipinya lalu menyembunyikan wajahnya ke dada Faris.


Faris yang gemas langsung memeluk Silva erat. Ia tak peduli dengan tatapan banyak orang yang sedang mengantri tiket mengarah pada mereka.


***


"Kak Arkan, ayo fotoin kita!" seru kedua gadis yang sedang berdiri di belakang wahana Rumah Hobbit. Mereka sudah berpose namun tidak kunjung difotokan oleh Arkan.


Arkan yang sudah bosan menjepret foto mereka, berdecak lalu menyerahkan kamera itu pada Rafan yang baru saja kembali dari wahana Mini Zoo--berfoto dengan binatang-binatang yang ada di sana. Rafan menerima kamera itu, tak lama kemudian ia terkejut karena pekikan kedua adik mereka.


"Bang Rafan fotoin kita!"


"Anjir kaget gue! Dih, gak mao ah! Tuh, si kulkas berjalan aja yang fotoin!" tolak Rafan kembali menyerahkan kamera pada Arkan, sementara ia menjauhi mereka lagi menuju entah kemana.


Menghela napas, Arkan pun menyerah. Ia terpaksa mengarahkan kamera pada kedua bocah itu, mengabadikan setiap pose keduanya yang tidak bisa dikatakan sedikit.


"Udah dong, woy! Kalian pikir ini potoshoot model apa?" protes Arkan karena mereka terus berganti gaya.


Nesya dan Reva mengerucutkan bibir. Terpaksa menyudahi kegiatan berfoto mereka.


"Kalo gitu, sekarang kita ke--"


"Makan siang dulu," potong Arkan tanpa mau dibantah.


"Yah..." Keduanya merengek tak ingin menyudahi kegiatan berfoto mereka.


"Heh, heh, udah gak usah lebay! Ayo kita makan siang dulu! Ntar juga kalian yang paling lahap makannya," lerai Rafan lalu menyeret kedua gadis itu menuju Backyard Kitchen.


***


Sesuai dugaan, dua gadis yang tadi menolak makan siang, kini mereka yang paling lahap. Dengan cepat, satu porsi makanan yang mereka pesan di awal, sudah habis tanpa sisa.


"Kak, lagi dong!"


"Bang, lagi dong!"


Seru Nesya dan Reva bersamaan.


Arkan menggeleng dan Rafan menghela napas kasar.


"Sumpah, kalian tuh kayak anak kembar, deh!" ungkap Rafan menggeleng tak menyangka.


"Bang, mau lagi elah!" rengek Reva menggoyangkan tangan Rafan.


"Apaan sih lu?! Pesen sendiri sana!" sahut Rafan mengibaskan tangannya.


Reva menekuk wajahnya kesal. Menatap tajam Rafan yang asyik dengan makanannya. Tak memedulikan adiknya sama sekali. Huh, dasar abang durhaka! Pikir Reva.


Arkan bangkit mengalihkan tatapan Reva. "Sini, biar gue aja yang pesenin. Sekalian pesenin punya Eca. Sama kan, kayak tadi?" tanya Arkan membuat Reva mengangguk semangat dengan kedua mata berbinar.


"Iya, Kak, samain aja kayak tadi. Aaah... Makasih, Kak Arkan! Pengertian banget sih, gak kayak depan gue, ngeselin bangat!"


"Apasih?! Ya gue lagi makan, harusnya lo yang udah selesai, pesen aja sendiri!"


"Gak kebayang deh, kalo lo punya pacar nanti. Apa ada cewek yang tahan sama sikap lo yang bodo amat dan suka ngegas itu?"


"Dih, gak intro jadi orang! Lo juga sama ya!"


"Ta--"


"Udah, udah! Ribut mulu lo berdua! Nih, makan aja, daripada ribut." Arkan kembali dengan dua piring makanan yang tadi Nesya dan Reva pesan sebelumnya.


"Iya, sama-sama," jawab Arkan sambil menggeleng dan tersenyum melihat mereka yang makan dengan lahap.


Saat itulah ekor matanya menangkap kehadiran gadis pujaan hati. Duduk berhadapan dengan Faris. Dengan segudang afeksi yang saling mereka berikan pada satu sama lain tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar, seakan dunia hanya milik berdua.


Sakit? Tentu saja. Meski sudah bertahun-tahun menyerah, Arkan masih berada diantara mereka. Ia masih hidup berdampingan dengan gadis itu. Setiap hari selalu melihat wajahnya, bagaimana caranya ia bisa move on kalau begitu?


Tak lama kemudian, Arkan melihat seorang gadis lain tiba-tiba menghampiri meja Faris dan Silva. "Dea?"


***


Silva menatap gadis yang berdiri di samping meja mereka dengan tatapan kurang nyaman. Apalagi Faris, ia sudah terang-terangan menatap gadis itu dengan tajam.


"Kalo kedatangan lo ke sini cuma buat ngeganggu kita, mending sekarang juga lo pergi!" tekan Faris menatap Dea tajam.


Dea mengerutkan kening lalu terkekeh sumbang. "Apaan sih, lo? Gue cuma mau numpang duduk, kok. Liat kan, gak ada tempat lagi yang kosong," jawabnya menunjuk sekitar.


"Ya udah, Bunny. Gak papa, biarin aja dia duduk di sini. Kasian, gak kebagian tempat duduk," sahut Silva sambil mengelus lengan Faris.


"Tapi, Honey-- ah, ya udahlah, terserah kamu aja! Tapi jangan deket-deket kita!" Faris menyerah namun ia pindah ke kursi di samping Silva. Duduk di hadapan Dea dengan jarak yang agak jauh.


Terlihat Dea memutar bola matanya jengah, lalu mulai melahap makanan yang sejak tadi dibawanya.


Hening. Aura di meja itu yang tadinya ceria dan penuh keromantisan, kini berubah menjadi dingin dan mencekam. Faris merasa moodnya memburuk karena kedatangan Dea. Ia khawatir gadis itu akan bertingkah yang bisa membuat Silva sakit hati.


"Gue gak nyangka deh, bisa ketemu kalian di sini. Gue kira kalian gak bakal ke tempat wisata kek gini," tutur Dea setelah makanannya habis.


Faris berdecak. "Kita gak sesombong itu! Udah deh, kalo lo udah selesai, mending sekarang lo pergi!"


Bukannya pergi, Dea malah mengacuhkan perkataan Faris yang jelas-jelas mengusirnya. Ia seakan menulikan pendengarannya.


Hening lagi sebelum Dea kembali berbicara. "Silva! Faris pernah ajak lo ke sini, gak?" tanyanya menyodorkan foto sebuah tempat di layar ponselnya pada Silva.


Silva memperhatikan potret tempat itu dengan seksama.


"Belum," jawab Silva setelahnya.


"Yah, padahal di sana tempatnya enak, loh! Udaranya sejuk, pemandangannya indah, cocok banget buat liburan sama pacar," ungkap Dea menjeda kalimatnya. Ia mendekatkan kursinya pada Silva dan berbisik.


"Gue udah pernah ke sana, dong, sama Faris," bisik Dea sembari memperlihatkan beberapa foto berikutnya.


Deg.


Foto-foto di slide selanjutnya adalah foto-foto Faris dan Dea yang berpose seperti mereka sangat dekat. Keduanya tersenyum bahagia seakan keberadaan satu sama lain dari mereka adalah kebahagiaan masing-masing. Silva menggeser satu persatu foto-foto itu. Seiring bergantinya foto, hatinya terasa semakin teriris. Entahlah, ia tahu bahwa foto itu pasti diambil beberapa tahun yang lalu karena wajah mereka nampak masih sangat muda. Seperti anak SMP. Tapi, melihat kenyataan bahwa Faris dan Dea pernah sedekat itu membuat dirinya tak bisa dikatakan baik-baik saja.


Tes.


Tanpa disadari, air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Belum sempat menghapus cairan hangat itu, Faris sudah merebut ponsel Dea dari genggamannya.


Rahang Faris mengeras, kedua matanya memerah menahan amarah yang siap meledak saat itu juga. Dilemparkan ponsel itu ke hadapan sang pemilik dengan kasar.


"Pergi sekarang, atau lo gak bakal bisa liat gue lagi!" ancam Faris menatap tajam Dea.


Seakan tidak takut sama sekali dengan ancaman Faris, Dea masih betah duduk di kursinya. Ia malah kembali mengutak-atik ponselnya.


Ting!


Tak lama terdengar suara notifikasi pesan masuk di ponsel Faris. Ia segera merogoh saku celananya dan memeriksa pesan tersebut. Seketika, tatapannya semakin tajam terhunus pada Dea. Ternyata gadis itu yang mengiriminya pesan. Berisi sebuah gambar mereka yang sedang terlelap tanpa sehelai pakaian. Tubuh naked mereka tertutup selimut. Ingatan Faris langsung tertuju pada hari itu. Hari dimana ia dijebak oleh Dea hingga membatalkan kencannya dengan Silva. Sejak saat itu, ia yang sakit hati pada Dea, semakin membenci gadis itu.


Faris kembali menatap Dea tajam namun tak bisa berucap apapun. Ia hanya diam dengan tatapan tajamnya.


Nampak Dea menaikkan kedua alisnya seakan bertanya apakah Faris ingin dirinya memperlihatkan foto itu pada Silva. Kemudian, Faris menggeleng pelan sebagai jawaban.


Detik berikutnya, sebuah senyum puas tercetak di bibir Dea. Lantas, ia bangkit.


"Ya udah, kalo gitu gue mau balik, deh. Faris, lo bisa anter gue bentar, kan?"


Pertanyaannya langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Faris dan Silva.


"Maksud lo ap--"


Penolakan Faris terpotong karena Dea mengacungkan ponselnya. Terpaksa, Faris memejamkan kedua mata menahan amarah yang semakin memuncak.


"Oke, gue anter!"


Silva menoleh cepat pada Faris saat jawaban itu keluar dari bibirnya. Menatap Faris bertanya.


"Honey, kamu tunggu di sini sebentar, ya? Aku gak akan lama, kok. Oke?" ucap Faris pada Silva dengan menggenggam tangannya.


Sementara Silva menggeleng. "Tap--"


"Ck, cepetan dong! Kalo lama, ntar makin lama Faris nganterin guenya! Mau lo sendirian terus di sini?" potong Dea lalu menarik Faris menjauhi Silva.


"Tunggu di sini ya, Honey! Aku pasti balik lagi!" seru Faris sebelum benar-benar pergi meninggalkan Silva sendirian.


...Bersambung......


Wah, panjang kan? bilang apa sama author? semoga suka episode kali ini.


luv yu allβ€οΈπŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ–€β™₯οΈπŸ’˜πŸ’πŸ’“πŸ’•πŸ’ŒπŸ’Ÿβ£οΈπŸ’žπŸ’—πŸ’–


salam


didiloveπŸ’–