
Bel istirahat berbunyi, Faris berjalan menuju kelas Arkan bersama Rafan dan Kevin di sisi kiri-kanannya. Dengan mantap, ia melangkah disertai niat dalam hati untuk memperbaiki hubungan mereka. Karena, bagaimanapun mereka adalah sahabat dari dalam kandungan. Maksudnya, para orang tua mereka pun bersahabat sebelum mereka ada di dunia, jadi, tidak baik jika mereka yang memutus ikatan persahabatan itu.
Sampai di kelas Arkan, bertepatan dengan Arkan yang keluar kelas dan terlonjak saat hampir menabrak ketiga sahabatnya.
"E ayam! Anjir kaget gue! Untung bisa ngerem," seru Kevin kaget sambil mengusap dada.
"Kalian mau ngapain?" tanya Arkan menatap mereka.
"Kita nganter yang mau konferensi pers menyatakan sesuatu," jawab Rafan melepaskan rangkulannya pada Faris, lalu menarik Kevin agar agak menjauh dari mereka kemudian berlagak seperti kameraman dengan siku tangannya yang disorotkan pada Arkan dan Faris, seakan mereka sedang menyiarkan acara konferensi pers sungguhan.
"Silahkan dimulai acaranya Pak Faris Kaga Dermawan!" seru Kevin mempersilahkan Faris karena sahabatnya itu malah diam saja memperhatikan tingkah konyolnya bersama Rafan.
"Faza Dharmawan, njir!" kesal Faris sambil menoyor kepala Rafan.
"Kok gue yang kena?!" sembur Rafan merasa tak terima.
"Ya lo yang deket sama gue, dan lo bisa sampein toyoran gue ke si Kevin," jawab Faris tanpa merasa bersalah, malah nampak sedang menahan tawa.
Sementara Kevin dan Arkan sudah tertawa terang-terangan.
"Seneng lu liat gue ternistakan, iya?! Tahan gue, Ris, tahan gue!" Rafan yang menahan tangannya sendiri agar tidak memukuli Kevin.
Arkan berdecak. "Udah, udah, ah! Kalian mah kebiasaan setiap ketemu ribut mulu!"
"Tau nih! Udah diem! Gue mau mulai nih, konferensi pers-nya," ujar Faris lalu berdehem sambil membetulkan seragamnya. Dibantu oleh kedua sahabat konyolnya itu yang tiba-tiba merangsek membetulkan letak dasi, kancing, dan kerah seragamnya.
"Heh, heh, udah woy!" seru Faris sambil menjinjing kerah belakang keduanya agar menyingkir dari hadapannya.
Setelah semuanya terkendali, Faris memulai niatnya. "Umm... Arkan, dengan sepenuh hati, seluruh jiwa dan raga, dari ujung kaki sampai ujung rambut, gue minta maaf, ya. Gue janji bakal ikhlasin Silva buat lo. Tapi buat waktu dekat ini, jangan ketemuin gue sama dia, takutnya gue khilaf."
"Anjir! Lo minta maaf apa ngajak ribut sih? Tapi, gak apa-apa. Gue maafin lo, kok," jawab Arkan lalu memeluk bahu Faris.
Jadi, sekarang mereka resmi berbaikan.
Rafan dan Kevin segera berganti peran. Sekarang, Kevin menjadi reporter yang menyampaikan berita yang terjadi di lokasi "konferensi pers" dan Rafan menjadi kameramen yang menyorot Kevin.
"Ya, jadi pemirsa itulah tadi konferensi pers Bapak menteri Kebuayadaratan, yaitu Bapak Faris Kaga Dermawan yang menyampaikan permintaan maafnya kepada Bapak Arkana Putra Siapa sebagai menteri Kebucinan. Sekian berita hari ini, saya Kevin reporter paling ganteng segedung RTCI melaporkan bersama Rafan Japran, kameramen bertubuh mungil seperti boneka santet, HA HA HA HA HUWAAA TOLONGIN WOY GUE DIKEJAR BONEKA SANTET!!"
Apa lagi? Kevin dikejar oleh Rafan karena telah mengatainya boneka santet.
Sementara Arkan dan Faris hanya menggelengkan kepala melihat tingkah absurd dua sahabatnya yang kadang bisa kompak, tapi tak bertahan lama ribut kembali. Tapi mereka juga bersyukur, dengan bertemu Kevin, Rafan jadi lebih terlihat semangat dan lupa dengan kondisinya dahulu.
"Yuk, susul mereka! Pasti ke kantin."
Ajakan Arkan diangguki oleh Faris dan mereka berjalan ke kantin dengan saling merangkul.
***
Baru saja ia keluar dari toilet, Bunga melihat sang kakak juga baru keluar dari toilet pria. Ada hal penting apa ia datang ke sini, pikir Bunga.
"Bang Regan!" panggilnya membuat sang kakak menoleh lalu tersenyum.
"Hai, adikku yang paling cantik!" sapa Regan melambaikan tangannya lalu memeluk Bunga yang langsung menubruk tubuhnya.
"Abang ngapain ke sini? Ada perlu sama bu koperasi? Atau ibu kantin?" tanya Bunga setelah melepaskan pelukannya.
Tidak salah kok, ia bertanya seperti itu. Karena, abangnya itu memang bekerja sama dengan koperasi dan kantin sekolahnya untuk menyediakan beberapa menu dari cafe miliknya di sekolah. Jadi, Regan bisa keluar masuk sekolah itu dengan bebas.
Regan terkekeh gemas lalu menggeleng. "Enggak, Abang cuma kangen sama adek Abang ini," jawabnya kemudian mencubit pipi Bunga.
Merasa jawaban sang kakak sulit dipercaya, Bunga mengerutkan keningnya, menatap Regan dengan mata memicing.
"Boong banget!"
"Loh? Bener kok, Abang tuh kangen sama kamu tau!"
"Kangen apa sih? Orang tiap hari ketemu juga."
Regan hanya terkekeh sumbang sambil menggaruk tengkuknya. Adik kecilnya sudah besar, ternyata. Jadi tak bisa ia bohongi lagi. Tapi, mana mungkin ia berkata jujur, dengan mengatakan bahwa ia datang untuk menghajar Faris yang telah membuat Bunga menangis, kan? Yang ada ia malah kena omel oleh adiknya yang manis tapi cerewet ini.
"Eh, kamu gak makan? Ini udah istirahat, kan? Yuk makan! Abang temenin," ujar Regan merangkul pundak Bunga.
Sementara yang merangkul, diam-diam menghela napas lega. Untung, Bunga tidak terus memaksanya menjawab pertanyaan.
***
Di kantin, mereka duduk berhadapan di salah satu meja yang agak di pojok kantin. Bunga melihat Arkan dan dua temannya sedang asyik makan di satu meja yang ada di pojok ruangan.
"Kak Arkan?" gumam Bunga dengan pandangan tertuju pada sosok Arkan yang sedang bercanda.
Regan mengetahuinya. Ia tahu bahwa Bunga sedang memperhatikan Arkan. Seulas senyum ia berikan saat melihat binaran bahagia dari kedua mata Bunga.
Ia berdiri dari duduknya dan menyebabkan Bunga menatapnya bertanya.
"Kenapa, Bang? Kok berdiri?" tanya Bunga mengerjap polos.
"Ayo ikut Abang!" Belum sempat Bunga menjawab, pergelangan tangannya sudah ditarik pelan meninggalkan meja itu menuju sebuah meja yang berada di pojok. Yaitu, meja Arkan dan kawan-kawan.
"What's up, Bro!" sapa Regan mengangkat tangan kanannya, menyapa Arkan dan teman-temannya.
Ya, mereka semua sudah mengenal Regan karena merupakan alumni dari sekolah itu.
"Bang! Lo ngapain di sini?" tanya Arkan setelah menyambut Regan.
"Ada urusan sama kepala koperasi dan kantin sekolah tentang menu cafe yang mau dijual di sini. Sekalian aja makan siang di sini sama adek gue," jawab Regan dan di akhir merangkul pundak Bunga.
Gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk sekali pada Arkan dan teman-temannya.
"Loh? Bunga? Jadi, kamu adeknya Bang Regan?" tanya Arkan menatap Bunga dengan heran.
"Iya, Kak Arkan. Kakak sama abang-abang ini temennya Bang Regan, ya?" tanya Bunga menatap dua orang lainnya, yaitu Rafan dan Kevin.
"Hah? Kita? Bukan tuh! Gak kenal kita sama dia. Siapa sih?" sahut Rafan mengedikkan kepalanya pada Kevin dan Arkan.
"Gak tau gue juga, Regan siapa ya? Gak pernah denger gue namanya. Kayak aneh gitu gak sih namanya? Regan? Hah! Nama Regan? Gak ada keren-kerennya!" timpal Kevin yang berhasil membuat Regan mengusap dada.
"Anjir! Adek-adek durhaka emang lo semua! Awas aja nanti kalo dateng ke cafe gue terus minta gratisan. Gak bakal gue kasih!" ancam Regan menunjuk mereka satu persatu.
"Gratisan? Hah! Sultan gini kok minta gratisan? Sorry ya, gue gak butuh gratisan, gak kaya depan gue nih. Apa-apa pasti gratisan yang dicari." Kevin menuding Rafan dengan lidahnya.
Rafan berdecak malas. "Sebenarnya lo tuh berpihak sama siapa sih, Vin?! Lo tuh harusnya ngebela gue dong, jangan malah ngejatuhin gue!" sembur Rafan lalu bangkit hendak meraih kerah seragam Kevin, namun ditahan oleh Arkan dengan sedikit ekspresi tidak peduli, lebih tepatnya seperti sudah muak dengan tingkah kekanakkan mereka.
"Ya kan emang lo begitu, wleee!" Kevin menjulurkan lidahnya mengejek Rafan dengan cengiran jahilnya.
"Kevin anjir!" seru Rafan sudah dengan aba-aba akan memutari meja dan memiting leher Kevin. Namun, lagi-lagi ditahan oleh Arkan.
Bruk!
Saat Kevin akan kabur dari Rafan, ia malah menabrak perut seseorang. Ternyata orang itu Faris dengan membawa dua nampan makanan pesanan mereka.
"Guys, nih--" ucapannya terhenti karena melihat sosok Regan dan Bunga duduk di sana. Seketika raut wajah Faris berubah. Yang tadinya senang karena sudah berbaikan dengan Arkan, kini tertekuk kembali saat melihat orang yang tadi memukulinya. Ia pun berbalik arah setelah menyimpan pesanan para sahabatnya di meja, mencari tempat duduk lain.
"Kak Faris!" panggil Bunga namun tak diindahkan oleh Faris.
"Bang, aku mau ke Kak Far--"
"Gak boleh!" Regan menahan tangan Bunga saat akan berdiri meninggalkan meja.
"Tapi--"
"Gak boleh! Abang bilang gak boleh, ya gak boleh. Ngerti gak?"
"Iya, ngerti," jawab Bunga dengan wajah menunduk.
Sementara ketiga orang lainnya yang ada di sana hanya memperhatikan sambil bertanya-tanya, sebenarnya ada apa diantara Faris, Bunga, dan Regan?
... Bersambung......
Lucu gak sih tingkah mereka?? aku ga pede, soalnya ngerasa bukan orang yg berjiwa receh😭