
Langkahnya terasa lebih ringan setelah keluar dari cafe Regan. Kini, ia sedang dalam perjalanan pulang ke apartemennya dengan menenteng seplastik berisi dua bungkus bubur yang ia beli di kedai dekat sekolahnya. Beruntung mereka masih buka sampai jam 9 malam. Ia tahu Silva sering membeli bubur di sana untuk sarapan pagi atau sepulang sekolah. Bubur ayam di kedai itu terkenal karena cita rasanya yang jarang ditolak lidah berbagai selera. Entah sihir apa yang ditambahkan ke dalamnya saat sedang memasak. Bahkan hingga malam masih saja tempat itu ramai oleh pengunjung. Arkan kadang heran, siapa yang mau makan bubur malam-malam begini? Jika bukan untuk Silva, ia sendiri tidak akan membelinya.
Ia sengaja mampir ke sana untuk membeli bubur itu. Karena, Silva pasti mau memakan ini. Sekarang, ia sedang berjalan di trotoar menuju halte terdekat.
Sedikit lagi ia sampai di halte yang sudah terlihat di depan sana, seorang pengendara motor berhenti tepat di hadapannya--memaksa Arkan untuk ikut berhenti.
Bugh!
Tanpa memberikan waktu untuk memproses keadaan, pengendara motor itu menghajar Arkan hingga terjerembab ke aspal. Beruntung ia segera menarik diri kembali ke trotoar. Jika telat sedikit saja, sudah dipastikan nyawanya melayang terlindas truk.
"Bajing*n! Bisa-bisanya lo ngerusak cewek gua!!" sembur pria di depannya yang tadi meninju rahang kirinya.
Senyum remeh Arkan berikan bersamaan dengan sorot yang mengejek. "Cewek lo? Gak salah? Bukannya kalian udah putus, ya?"
"Brengs*k!! Walaupun gue udah putusin Silva, tapi lo gak bisa seenaknya nyentuh dia, bajing*n!!"
Bugh! Bugh!
Kembali Arkan dapatkan pukulan bertubi-tubi di sekujur tubuhnya. Sesekali ia mencoba menghindar agar kondisinya tidak terlalu parah. Ia tak membalas, hanya membiarkan Faris melayangkan tinju kepadanya dengan seluruh tenaga yang sedikit lagi habis. Hingga energi dan fokus Faris mulai melemah, Arkan pun membalas. Ia melumpuhkan Faris dengan tiga kali pukulan hingga terjatuh. Arkan menahan pergerakannya dengan menindih dada Faris dengan satu lutut dan kedua tangan Faris dengan tangannya.
"Lo gak tau apa-apa masalah yang sebenarnya. Jadi, jangan sok tau! Yang harus lo tau, gue gak akan pernah nyakitin Silva, apalagi selingkuh kayak yang lo lakuin sama Bunga!" desis Arkan tepat di depan wajah Faris.
Setelahnya, ia melepaskan kunciannya dan bangkit. Ia menghampiri sekantung plastik yang buburnya sudah tercecer ke mana-mana.
"Kalo sampe CEWEK gue tambah sakit karena telat makan, lo penyebabnya! Tunggu perhitungan dari gue!" ancam Arkan pada Faris sambil menunjuk kantung plastik tersebut. Ia memungutnya lalu memasukkan ke tempat sampah yang berada tak jauh darinya.
Faris tidak menjawab, ia hanya memperhatikan yang dilakukan Arkan sambil mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
Sebelum beranjak pergi, Arkan menghampiri Faris dan berbisik di depan telinganya. "Tenang aja, gue gak bakal bikin Silva nangis lagi setelah ini. Karena Silva adalah cinta pertama dan terakhir buat gue."
Menyebabkan kedua telapak tangan Faris mengepal kuat dengan rahang mengeras dan gigi bergemelutuk.
***
Ruang kerja di rumah Setya saat ini sedang gempar. Sama sekali tidak nyaman dipakai untuk bekerja. Dua orang wanita terlihat cemas dengan salah satunya menangis dan satu yang lainnya mencoba menenangkan. Sementara Setya berusaha agar tidak ikut terpancing emosi karena harus menghadapi kecemasan Hanum yang sejak tadi berjalan mondar-mandir sambil memikirkan di mana anak-anak mereka berada. Lebih tepatnya, menyalahkan Arkan yang membawa Silva entah ke mana.
Meski Setya juga kecewa kepada Arkan, namun ia tidak ingin mendengar orang lain menjelekkan anaknya. Meski begitu, ia tidak terpancing emosi dan tetap berusaha berpikir dengan kepala dingin. Kira-kira jika dirinya jadi Arkan, ia akan membawa Silva ke mana? Pikir Setya. Arkan tidak memiliki tempat tinggal lain di luar rumah selain apartement yang ia belikan untuknya. Apa mungkin ia membawa Silva ke sana?
"Aku tau dimana mereka," ujar Setya dengan pasti. Bibirnya mengulas senyum miring dengan sorot mata yang sarat akan keyakinan.
Ketiga orang dewasa lainnya menatap Setya penasaran. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan Setya ucapkan.
"Arkan gak punya tempat berlindung selain apartemennya. Mereka pasti di sana!" lanjutnya dengan yakin.
"Tidak, Num! Kita tidak akan ke sana secara terang-terangan," sanggah Setya menatap Hanum sekilas dengan sorot liciknya.
Hanum memicingkan matanya menatap Setya curiga. "Apa yang kamu rencanakan?"
Senyum licik mengembang di bibir Setya. "Aku gak akan memberi tahumu sekarang. Tapi, tenang saja, serahkan semuanya padaku! Aku yang akan menjamin keselamatan anakmu dan anakku. Tinggal percaya saja padaku, anakmu pasti akan baik-baik saja."
"Bagian mana yang harus aku yakini?"
"Arkan mencintai Silva. Ia tidak akan menyakiti gadis yang dicintainya. Justru ia akan melakukan apa saja untuk Silva agar tetap baik-baik saja. Apalagi dia tau kalau mereka dijodohkan. Percaya saja padanya, anakku itu gentle."
"Ya, malah terlalu gentle sampai berani menghamili anak gadis teman bisnis orang tuanya yang dititipkan padanya. Cih! Baru juga dikasih tau mereka dijodohkan, sudah seenaknya menyentuh anakku! Kalau sampai anakku hamil, kalian harus bertanggung jawab saat itu juga!" sarkas Hanum menatap Setya sangsi.
Setya mengusap wajahnya kasar. "Astaga... Di luar itu, Arkan adalah anak yang bertanggung jawab. Mungkin waktu itu keadaan yang membuatnya kebablasan. Apapun itu, sebaiknya kalian pulang. Biar aku yang mengurus mereka!"
Menghela napas sekali, Hanum pun mengangguk. Merapikan jas dan letak dasinya, ia bersiap untuk pulang. "Ya sudah, aku percayakan anakku padamu. Jangan sampai aku kecewa dan mencarinya sendiri!"
Lalu menoleh pada istrinya yang sudah reda tangisannya dan sedang dipeluk nyonya besar rumah itu. "Ayo, Bunda kita pulang!"
Istrinya mengangguk dan melepaskan pelukan Lisa. "Makasih ya, Lis. Aku pulang dulu!"
Lisa mengangguk dengan sorot prihatin. Ia pun sama sedih dan khawatir pada sang anak sulung. Tapi, melihat keyakinan suaminya, ia berusaha untuk tenang dan percaya. Arkan pasti bisa diandalkan.
Keduanya melenggang keluar dari ruang kerja Setya. Menyisakan sang tuan rumah bersama istrinya. Lisa menatap Setya dengan sendu. Setya tahu bahwa istrinya sedang mencemaskan anak mereka. Ia pun berjalan menghampiri Lisa dan duduk di sampingnya. Mendekap tubuhnya hingga tenggelam di dada bidangnya, menyalurkan rasa tenang pada sang istri. Tangannya mengusap kepala Lisa dengan lembut.
"Jangan khawatir, Ma. Arkan itu laki-laki yang bertanggung jawab. Dia pasti bisa melindungi Silva."
Mendengar penuturan sang suami, Lisa segera mengangkat kepalanya menatap Setya dengan mata melebar. "Jadi, kamu gak marah sama Arkan?"
Setya menghela napas sebelum menjawab, "Awalnya marah. Tapi, setelah dipikir-pikir, Arkan itu anakku, aku tau betul karakternya seperti apa. Aku masih sangsi kalau Arkan betul-betul melakukan hal kotor seperti itu. Tapi, dari sini aku jadi tau kalau ternyata Arkan juga mencintai Silva. Buktinya dia sampai membawa Silva kabur. Pasti karena dia takut Silva akan dapat perlakuan yang sama dengannya. Aku jadi tidak merasa bersalah sudah menjodohkan mereka."
Lisa memukul bahu Setya dengan kepalan tangannya. Tatapannya tajam menghunus telak ke dalam kedua mata Setya. "Tetep aja salah! Mana tau mereka begini karena perjodohan kolot kamu dan mas Hanum!"
Setya terkekeh disertai meringis. "Ya berarti Arkan melakukan tugasnya dengan baik. Aku yakin pasti Silva menolak perjodohan itu, karena dia punya pacar. Dengan begini, dia gak bisa nolak Arkan lagi--Aaww!!"
Lisa tidak segan-segan mencubit pinggang Setya atas pemikiran liciknya. "Ayah macam apa kamu ini, Pa??" Lisa menggeleng frustasi. Tak habis pikir dengan suaminya ini. Bisa-bisanya berpikiran seperti itu saat anaknya di ambang menghancurkan masa depan anak gadis orang lain.
"Dahlah! Kamu rese, Pa!" Lisa pun melenggang keluar meninggalkan Setya sendiri di dalam ruang kerjanya. Tanpa menghiraukan sang suami yang memanggil-manggil namanya berkali-kali.
...Bersambung......