Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 33. Kebenaran yang Disembunyikan



Entah apa yang ada di dalam pikiran Arkan. Ia benar-benar membawa Silva kabur dari rumah. Yang jelas, ia hanya ingin melindungi gadis itu dulu.


Sekarang, mereka sudah berada di apartement Arkan. Lelaki itu sedang berada di dapur, membuatkan minuman hangat untuk Silva, sekaligus membuat sarapan karena tadi pagi mereka belum memakan apapun.


Sambil menunggu mi instan matang, pikiran Arkan melayang ke kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada mereka. Ia tahu bahwa ia salah. Jika kabur ke sini, orang tua mereka pasti mudah untuk menemukan mereka. Tapi, yang penting bukan itu. Saat ini yang menjadi pikiran Arkan adalah bagaimana caranya ia tidak terlalu banyak luka saat nanti kedua orang tuanya pulang. Ia yakin mereka akan menghajarnya habis-habisan. Baginya tak masalah, asalkan Silva baik-baik saja.


Suara gelembung panas yang sudah memenuhi seluruh permukaan mi instan di dalam panci di hadapannya menyadarkan Arkan dari lamunan. Ia segera mengaduk masakannya. Dirasa sudah cukup matang, ia mematikan kompor dan memindahkan mi ke dalam dua buah mangkuk.


Setelah mi instan siap dimakan, ia menaruhnya di meja makan dan ia menghampiri Silva untuk makan bersama dengannya.


Lagi-lagi hatinya terasa mencelos saat melihat Silva melamun. Memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Memang sudah tidak menangis lagi, tapi Arkan tetap khawatir karena Silva masih belum mau berbicara dengannya. Ia takut kesehatannya akan terganggu. Dengan sisa keberanian, Arkan berjalan menghampiri Silva.


"Hei!" sapa Arkan lembut selembut usapannya di pucuk kepala Silva.


Gadis itu melirik sekali pada Arkan, lalu kembali memandang kosong jendela. Menghiraukan Arkan yang berdiri menjulang di depannya.


"Hei, ayo makan! Gue udah buatin mi instan. Sorry, gak ada roti atau yang lainnya. Karena gue belum sempet belanja bulanan. Yuk makan dulu!"


Masih belum ada tanggapan. Seakan gadis itu tidak mendengarkan Arkan sama sekali. Arkan menghela napas pelan, ia masih mengelus pucuk kepala Silva dengan lembut.


"Maaf, gue harus bawa lo ke sini dulu. Setelah situasinya memungkinkan, baru kita pulang. Gue khawatir mereka bakal marah besar saat awal-awal mereka pulang."


"Jadi sekarang lo pengecut?" tanya Silva tiba-tiba dan menatap Arkan tajam.


Tidak langsung menjawab, ia menatap Silva dengan dalam. Dapat ia lihat kilatan amarah di kedua netra itu. Jadi ia tidak boleh ikut tersulut emosi jika tidak ingin ada pertengkaran diantara mereka.


"Ya, lebih baik gue jadi pengecut, dari pada harus liat lo kenapa-napa."


"Tapi kenapa? Kenapa lo takut gue kenapa-napa?" desak Silva menatap nyalang kedua netra legam milik Arkan.


"Karena--"


"Karena sahabat? Iya? Mana ada sahabat ngerusak sahabatnya sendiri!" potong Silva meraung melepaskan amarahnya.


Arkan menggeleng berkali-kali. "Enggak!" Kedua tangannya yang hendak meraih tubuh Silva ke dalam dekapan, ditepis begitu saja.


"Enggak apa?! Lo sebenarnya enggak nganggap gue sebagai sahabat, kan? Lo cuma pengen ngerasain tubuh gue aja! Iya, kan?! Jawab, Arkan!" teriak Silva dengan tangisan yang pecah.


Silva berontak. Kali ini ia tidak akan kalah. Ia tidak mau selalu tunduk jika dipeluk oleh Arkan. Meski pada kenyataannya, ia selalu tenang jika berada di dekapan hangat lelaki ini. Ia terus berontak agar Arkan melepaskannya, bahkan tanpa segan memukul tubuh lelaki itu. Namun, yang ia dapatkan justru pelukan yang semakin mengerat. Arkan sama sekali tidak mengendurkan dekapannya. Seakan ia bisa kehilangan Silva jika ia melepaskan pelukannya sedikit saja.


Arkan membiarkan kepala Silva tenggelam di dada bidangnya. Dapat Silva rasakan debaran jantung Arkan yang berdetak tidak karuan. Debaran keras namun membuatnya lebih tenang hingga perlahan tidak memberontak lagi.


Merasa Silva mulai tenang, Arkan melonggarkan dekapannya dan menatap wajah Silva dengan menangkup sebelah pipinya. "Tolong, jangan ngomong kayak gitu lagi! Hati gue sakit dengernya, Va."


Dengan mata yang masih basah, Silva menatap kedua mata Arkan yang berkaca. Ia mencari sebuah alasan dan kebohongan. Namun, yang ia dapatkan justru penyesalan. "Kenapa? Kenapa hati lo sakit? Waktu ngelakuinnya gak sakit, kan?! Kenapa lo jahat sama gue, kenapa?"


Tangisan Silva kembali pecah. Ia menangis sambil terus menggumamkan kata kenapa berulang-ulang. Arkan kembali mendekapnya. Menyalurkan kehangatan yang ia harap bisa membantu Silva lebih tenang. Tangan kanannya membantu mengusap rambut Silva hingga setengah jam kemudian, tidak terdengar lagi isakan Silva ataupun pergerakan gadis itu.


Arkan melonggarkan dekapannya untuk memeriksa. Ternyata Silva sudah terlelap tidur. Ada sedikit kelegaan di hatinya. Setidaknya, ia bisa keluar sebentar untuk mengurus keperluan Silva selama tinggal di sini. Dengan perlahan, Arkan membaringkan tubuh Silva lalu menyelimutinya. Sebelum berdiri tegak, Arkan membubuhkan ciuman di dahi Silva yang terasa hangat. Pasti ia demam. Maka, Arkan memutuskan untuk mengompres Silva lebih dulu.


Ia berjalan menuju dapur dan beberapa menit kemudian kembali dengan sebaskom kecil air hangat dan sebuah handuk kecil. Dicelupkannya handuk itu ke dalam air lalu diperas. Dengan perlahan agar tidak mengganggu Silva, ia meletakkan handuk basah itu di kening Silva. Saat akan berdiri tegak, Silva mengigau.


"Lo jahat, Arkan."


Bahkan saat tidur pun Silva menyadari kebrengsekan Arkan.


"Seandainya kamu tau yang sebenarnya," lirih Arkan menatap Silva dengan mata berkaca-kaca. Hingga sedetik kemudian, meluncurlah air matanya menuruni pipi. Arkan sudah tidak kuat, rasanya sangat sesak melihat bagaimana Silva menangis karena menganggap dirinya yang bersalah. Tapi sekali lagi, ia tak masalah. Dari pada mengetahui yang sebenarnya, malah akan membuat Silva semakin terpuruk.


Beberapa menit kemudian, Arkan mengganti kompresannya lalu berjalan keluar kamar. Ia menuju meja makan lalu mulai menyantap mi kuah yang sudah mengembang hingga kuahnya hanya tersisa sedikit. Arkan tetap menyantapnya karena merasa sayang jika dibuang. Di tengah kegiatan makannya, ponselnya bergetar tiga kali.


Segera ia memeriksanya. Ternyata pesan singkat dari sang papa yang mengatakan kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Silva sudah sampai di rumah. Mereka ingin Arkan menemui mereka. Ia menghabiskan kedua mangkuk mi instan tersebut dengan cepat lalu mencuci peralatan makan yang kotor.


Setelah selesai mencuci piring, ia kembali ke kamar. Kembali mengganti kain kompresan yang ada di kening Silva.


"Aku pergi dulu, ya, sebentar. Aku janji akan selalu ngelindungin kamu." Itu dilirihkan sambil mengusap lembut rambut Silva.


Lalu Arkan berdiri tegak, meraih jaketnya yang ada di nakas, lalu segera beranjak pergi menuju rumah orang tuanya dengan tekad dan keberanian yang sudah ia siapkan. Pasti ia akan menghadapi kemarahan orang tua mereka setelah ia menceritakan apa yang telah menimpa anak-anak mereka.


...Bersambung......


astaga maaf banget aku baru bisa update😭 setelah ini aku bakal usahain lebih giat lagi. semoga aku bisa nyisihin waktu setiap harinya ya🙏🏻