
Selesai dengan pekerjaannya di cafe, Arkan diizinkan pulang. Saat ini ia sedang berjalan tergesa keluar dari taksi dan memasuki pelataran rumah sakit. Tadi sebelum ia pulang, Raini mengiriminya nomor kamar yang ditempati Silva. Jadi, ia langsung ke sana dengan hati cemas, tentu saja.
Tok tok tok!
Arkan mengetuk pintu untuk memastikan ruangan yang di depannya memang benar kamar yang ditunjukkan Raini. Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok Kevin yang masih mengenakan seragam. Jelas sekali bahwa ia masih di sini semenjak pulang sekolah dan Silva dilarikan ke rumah sakit.
"Langsung masuk aja, Ar. Bini lo nangis terus. Tenangin gih, kita gak tau caranya gimana," ujar Kevin memberi akses untuk Arkan agar bisa masuk.
Arkan segera menghampiri Silva. Gadis itu memang sedang menangis dalam pelukan Raini. Melihat Arkan datang, Raini melepaskan dekapannya dan berpindah tempat agar posisinya digantikan oleh Arkan. Ia yakin, setelah beberapa hari tinggal bersama, ada keterkaitan diantara mereka.
"Va, udah ya, jangan nangis terus. Kasian nanti mata cantik kamu bisa bengkak, loh!" bujuk Arkan sambil membawa tubuh Silva ke dalam dekapannya.
Merasakan kehangatan tubuh Arkan, perlahan tangisan Silva mereda. Entah kenapa ia merasa lebih tenang dalam pelukan Arkan. Yang lainnya pun heran, kenapa bisa sehebat itu pengaruh Arkan, pikir mereka. Itu membuat mereka berpikiran buruk bahwa janin dalam perut Silva memanglah darah daging Arkan.
"Arkan, kami harus pulang. Lagian Silva udah tenang dan ada lo yang jaga. Kita pamit, ya. Besok kita ke sini lagi, kok," ujar Rafan dibalas anggukan oleh Arkan.
"Iya, thanks ya, temen-temen. Kalian udah bawa Silva ke sini dan jagain dia sampe gue datang. Gue gak tau kalo gak ada kalian. Sekali lagi, thanks," jawab Arkan sambil mengelus rambut Silva dengan lembut.
"Iya, sama-sama. Lagian Silva kan sahabat kita, jadi ini emang tugas kita," sahut Raini yang mengusap pipi basah Silva.
"Udah ya, jangan lama-lama nangisnya," ujar Dinda yang mencubit ringan pipi Silva.
"Kasian mata cantik kamu, nanti bengkak, loh!" sambung Bening sambil menahan tawa.
Sebenarnya mereka sedang menyindir Arkan yang beberapa saat lalu mengatakan kalimat itu. Bukan apa, tapi Arkan itu irit bicara. Jadi, ia bisa bicara dengan sedikit dibumbui gombalan seperti tadi, membuat mereka semua tidak menyangka dan jujur saja, sedikit geli.
Arkan hanya menggeleng melihat teman-temannya cekikikan menahan tawa setelah Bening dan Dinda berhasil menggodanya.
"Ya udah, kita pamit pulang, ya!"
Mereka pun keluar dari ruangan itu. Menyisakan Arkan dan Silva bersama keheningan yang menyelimuti.
"Arkan," panggil Silva dengan suara parau. Gadis itu mendongak menatap Arkan yang sedang memeluknya sambil berdiri.
"Iya? Butuh sesuatu, hm?" sahut Arkan sembari membersihkan seluruh wajah Silva dari air mata.
Silva tidak buru-buru menjawab, ia menatap mata Arkan yang menyorotkan ketenangan dan senyuman lelaki itu yang terlihat ringan dan tulus meskipun tipis. Dan kedua alis tebal itu terangkat seakan mendorongnya untuk mengatakan yang sejujurnya.
"G-gue hamil," ucap Silva sambil menunduk. Ia takut jika reaksi Arkan seperti yang ia duga. Ia takut jika Arkan akan marah dan tidak mau bertanggung jawab. Jika benar seperti itu, ia tidak tahu harus kepada siapa lagi ia bersandar. Mungkin ia akan berjuang sendiri dan membesarkan anak ini sendiri.
Sementara Arkan sempat terpukul. Ia sudah sangat khawatir jika Silva bisa saja hamil. Karena janinnya berarti darah daging si pria hidung belang br*ngs*k itu. Namun, Silva pasti lebih terpukul. Ia butuh sandaran, perlindungan dan semangat. Jadi, Arkan akan tetap menerima si jabang bayi dan bertanggung jawab menikahi Silva. Karena bagaimanapun, masih ada darah daging Silva di bayi itu. Lagi pula, bayi itu tidak tahu apa-apa, ia tidak salah. Tidak seharusnya ia membenci kehadirannya.
"Hei, kenapa nunduk?" Arkan mengangkat dagu Silva agar bertatapan dengannya.
"Dengerin baik-baik." Arkan mengusap rambut Silva dan menangkup wajahnya.
"Aku akan tanggung jawab. Aku bakal nikahin kamu, kerja keras buat nafkahin kamu dan adek bayi. Aku janji akan terus ada di samping kalian dan gak akan pernah ninggalin kalian, sebelum ajal menjemput. Jadi, jangan takut. Aku akan selalu ada buat kamu, oke?"
Seketika tumpahlah air mata Silva yang sempat kering. Ia terharu mendengar serangkaian kalimat janji yang Arkan ucapkan. Ia sangat berharap bahwa itu semua benar dan akan benar-benar Arkan lakukan. Karena ia sudah tidak punya siapapun yang bisa dijadikan tempat berlindung. Bahkan ayahnya sudah mengusirnya.
Sementara Silva menenggelamkan wajahnya di dada bidang Arkan. Membasahi seragam lelaki itu dengan air matanya. Ia membalas pelukan Arkan dengan erat. Seakan menyalurkan rasa gundah dan takutnya pada Arkan. Mulai sekarang, ia akan menerima Arkan di hidupnya dan berjuang bersama menjalani pahitnya dunia menuju keindahan yang ia yakini pasti menunggu di ujung kesedihan.
"Arkan..." panggil Silva tanpa mendongak menatap Arkan.
Arkan hanya membalas dengan gumaman. "Hm?"
"Janji ya, k-kamu akan terus ada di samping aku. Jangan tinggalin aku, karena sekarang cuma kamu yang jadi rumahku," ujar Silva sedikit tergagap karena ikut menggunakan 'aku-kamu'.
Bagaimana kondisi Arkan? Tentu saja kacau. Apalagi di dalam dadanya. Hatinya porak-poranda dan jantungnya berdetak sangat cepat. Hingga Silva bisa merasakan debarannya.
Merasa heran dan sedikit khawatir, Silva mendongak untuk memastikan bahwa Arkan baik-baik saja. Saat melihatnya, wajah Arkan sudah memerah hingga ke kedua telinga. Dan kedua matanya menatap Silva namun seperti kosong tatapannya. Silva yang tidak mengerti hanya mengedipkan matanya berkali-kali.
"Silva, jangan begitu lagi, ya."
"Loh? Kenapa?"
"Gak baik untuk kesehatan jantung aku, tau!" jawab Arkan yang seperti rengekan. Setelahnya lelaki itu memeluk Silva dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Silva, mendusal di sana. Membuat Silva tertawa geli. Ia tidak menyangka Arkan bisa semanja ini.
***
Di kediaman Faris, tepatnya di ruang tv. Faris tidak bisa untuk tidak mengeraskan rahangnya. Ia sangat tidak nyaman ditempeli oleh gadis yang tidak ia sukai. Mungkin sebentar lagi akan ia benci.
"Faris, kita sender-senderan kayak gini udah kayak suami istri, ya? Nanti, kalo kita udah nikah terus punya anak, pasti di sana ada anak-anak kita yang lagi pada rebutan mainan. Terus--"
"Diam!" Faris membentak Dea karena merasa telinganya panas mendengar ocehannya. "Gue pusing denger lo ngoceh terus. Siapa juga yang mau nikah sama lo! Gak Sudi! Mending sekarang lo balik sana! Enek gue ngeliat muka lo!" gerutu Faris sambil melepaskan genggaman Silva di lengannya.
"Terus gimana caranya biar lo suka sama gue? Gue udah ngelakuin berbagai cara, dari yang bersih sampai yang kotor. Kenapa lo masih tetep gak ngelirik gue? Apa perjuangan gue masih kurang? Faris, gue suka sama lo, gue cinta sama lo, Ris! Liat gue sedikit aja, apa gak bisa?" Dea berbicara dengan napas terengah. Seakan mengeluarkan semua rasa gelisah dan sakit di hatinya.
"Gak, De. Lo gak cinta sama gue. Itu bukan cinta, tapi obsesi. Gue harap, lo bisa lupain gue dan nyari cowok lain yang bener-bener lo cintai," jawab Faris bangkit dari duduknya.
Dea menggeleng ribut, ia ikut bangkit dan kembali bicara. "Tapi gue maunya lo! Apa gue harus jadi Silva dulu biar lo ngebalas perasaan gue? Lagian, apa sih bagusnya dia? Cuma cewek lemah, bodoh, gampang dibohongin."
Mendengar penuturan Dea, Faris mengerutkan keningnya dalam. Rasa curiganya muncul karena penghinaan Dea terhadap Silva. Faris perlahan melangkah mendekati Dea dengan tatapan tajamnya. Mengikis jarak diantara mereka dengan aura dingin yang menyesakkan. Apalagi bagi Dea yang sekarang berdiri dengan gelisah di tempatnya.
"Maksud lo apa ngomong begitu? Jadi lo pernah bohongin Silva? Lo tau dari mana dia bodoh? Emang lo pernah ngebodohin dia? Hah! Jawab gue!!" teriak Faris tepat di depan wajah Dea yang menutup erat kedua matanya.
Meneguk salivanya kasar, Dea memberanikan diri menatap balik netra merah Faris. "Ya! Gue yang bawa Silva ke club' itu. Gue yang bikin dia mabuk, dan gue yang bikin Silva disentuh sama om-om. Gue yang ngelakuin semua itu. Liat, kan? Gue bisa ngelakuin apapun, Ris. Demi siapa? Demi lo! Cuma lo yang bisa bikin gue begini dan berani ngelakuin itu semua. Jadi, kalo lo gak nurut sama gue, gue bisa banget ngelakuin hal yang lebih buruk dari ini ke Silva."
Faris memucat mendengar pengakuan Dea. Jadi, bukan Arkan pelakunya, tapi Dea, pikir Faris.
Sementara Dea menyunggingkan seringainya melihat wajah pias Faris. Ia pikir Faris takut dengan ancamannya dan akan mengikuti keinginannya.
...Bersambung......
Benarkah begitu, Dea?😏