
Pagi-pagi rumah besar itu sudah dipenuhi kepanikan. Pasalnya, Silva terus-terusan muntah-muntah. Kebiasaannya saat pagi selalu mengalami morning siskness. Namun, bedanya jika di apartemen, ada Arkan yang akan menemaninya, memijat tengkuknya saat muntah, membuatkannya minuman hangat dan memeluknya untuk menenangkan Silva dan memberi asupan energi menggantikan tenaga Silva yang terkuras setelah muntah-muntah. Jadi, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Silva untuk kembali sehat dan melakukan tugasnya sebagai istri, meskipun belum resmi menjadi istri Arkan. Entah kenapa, setiap menghirup aroma tubuh Arkan, ia akan merasa lebih tenang dan rasa mulanya perlahan menghilang.
Tapi sekarang, ia berada di rumah orang tuanya tanpa kehadiran Arkan dan mereka tidak diperbolehkan untuk bertemu sementara waktu ini. Tidak ada yang bisa menjadi obat bagi Silva selain Arkan. Meski sang bunda sudah memijat tengkuknya dan kepalanya, juga membuatkan minuman hangat yang Arkan katakan selalu diminum Silva saat mengalami morning sickness. Tapi Silva masih tak bisa menghentikan muntah-muntahnya. Rasanya perutnya seperti diaduk-aduk, kepalanya pusing, namun tak ada yang keluar dari mulutnya selain cairan bening.
Kini, Silva sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi kamarnya. Punggungnya bersandar di dinding. Ia sudah tidak memiliki tenaga untuk sekadar berjalan ke tempat tidur karena sudah terlalu lelah. Bahkan sekarang rasa mualnya kembali terasa. Silva tak mampu lagi berdiri ke wastafel, jadi ia memuntahkan isi cairan bening di lantai kamar mandi. Sangat tersiksa rasanya. Inilah salah satu alasan Arkan sering terlambat datang ke sekolah. Karena ia harus memastikan dulu Silva sudah baik-baik saja. Sekarang, mereka sedang berjauhan. Apa yang harus ia lakukan? Pikir Silva.
"Silva!" panggil Laras memasuki kamar mandi dengan wajah panik. Wanita itu baru kembali dari dapur untuk membuat racikan rempah-rempah yang biasa ia konsumsi waktu mengandung Silva dulu. Ia harap ramuan itu juga bisa bekerja terhadap Silva. Ia menaruh ramuan itu di nakas, lalu menghampiri Silva di kamar mandi.
"Astaga, Sayang... Ayo Bunda bantu ke kasur!" kaget Laras saat melihat putrinya bersandar lemah di lantai kamar mandi.
Silva dipapah Laras menuju tempat tidurnya. Silva benar-benar kehabisan energinya. Ia sudah tidak kuat lagi, ingin tidur saja tapi rasa mualnya kembali. Silva muntah lagi setelah sampai di kasur.
"Bunda, maaf..." cicit Silva menatap Laras dengan mata berkaca-kaca karena cairan muntahnya berceceran di lantai. Apalagi sempat terkena sprei.
Laras menggeleng lalu memeluk Silva. "Gak apa-apa, Sayang. Kamu gak perlu minta maaf. Lantai masih bisa dibersihkan. Yang penting kamu bisa ngeluarin cairan yang bikin kamu mual. Sekarang minum jamu dulu, yuk!"
Silva terpaksa mengangguk meski sempat ragu. Karena yang ia tahu rasa jamu itu selalu pahit. Tapi, mau bagaimana lagi? Di sini tidak ada Arkan--obatnya dikala seperti ini. Ouw, terdeteksi virus bucin Arkan sepertinya sudah menular kepada Silva.
Saat akan dibantu meminum jamu, Silva menghentikan pergerakan tangan Laras lalu menatap sang bunda memelas. "Pahit, Bunda..."
"Cuma sebentar kok pahitnya, kan ada penawarnya," jawab Laras menunjuk segelas kecil cairan madu yang sudah diolah dengan bahan yang Silva dan author tidak tahu. Yang jelas, katanya sih rasanya manis.
Mau tidak mau, Silva mengangguk lalu menerima minuman itu memasuki mulutnya dan kerongkongan. Rasa pahit menyerbu indra pengecap Silva saat itu juga. Ia rasanya ingin memuntahkan jamu yang baru masuk ke kerongkongannya. Namun, jika seperti itu, ia tidak akan sembuh. Jadi, Silva menahannya agar masuk sepenuhnya ke dalam perut.
Laras segera memberikan cairan penawar rasa pahit dan langsung diminum Silva. Rasanya memang manis, tapi rasa pahitnya masih sedikit terasa, membekas di pangkal lidahnya.
"Masih pahit, Bun..." rengek Silva lalu kembali muntah karena tidak tahan dengan rasa pahitnya.
Laras menghela napasnya. Sudah bingung apa lagi yang harus ia lakukan agar Silva berhenti muntah. Ia sungguh tidak tahu harus bagaimana.
"Ya udah, Bunda coba telfon Arkan dulu deh," ujar Laras lalu menghubungi nomor Arkan.
Namun, beberapa kali dihubungi, tidak kunjung dijawab.
"Apa mungkin lagi di kelas, ya?" tanya Laras sambil menatap layar ponselnya.
"Iya, Bun. Jam segini masih jam pelajaran. Udah, gak usah telfon Arkan, Bun. Kasian dia keganggu belajarnya. Aku udah gak apa-apa kok--hoeeek!" Silva kembali muntah.
"Apanya yang udah gak apa-apa?" Laras kembali membantu memijat tengkuk Silva.
Saat itu, ponsel Laras berbunyi menampilkan nama Arkan di layarnya. Ia segera mengangkatnya.
"Halo, Arkan!"
"Iya, ada apa, Bun?" tanya Arkan di seberang sana. Berbeda dengan Hanum yang tidak mau dipanggil ayah sebelum Arkan dan Silva menikah, Laras justru meminta Arkan memanggilnya bunda.
"Ini loh, Silva gak berhenti-berhenti muntah dari pagi. Udah Bunda kasih minuman hangat sampe jamu, tapi masih aja gak bisa berhenti. Tuh, sekarang aja masih muntah-muntah. Kamu biasanya kasih apa kalo Silva begini?"
Arkan dapat mendengar suara Silva yang muntah. Hatinya tidak tenang hingga berpikir untuk bolos saja dan pergi menemui Silva.
"Oh pantes, obatnya pelukan Arkan ternyata. Makanya gak mau berhenti muntah, karena obatnya gak ada di sini," simpul Laras tersenyum menggoda menatap Silva yang mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan sang bunda.
"Apa Arkan ke sana dulu aja ya, Bun?" tanya Arkan dengan nada yang terdengar khawatir.
"Jangan! Kamu kan lagi sekolah. Suruh orang aja buat ambilim baju kamu di apartemen. Terus bawa ke sini, ya."
"Ya udah deh, Bun. Nanti aku telfon supir aku. Nanti kalau ada apa-apa hubungin aku lagi ya, Bun," pesan Arkan dengan rasa khawatir yang belum bisa hilang. Sopir? Iya, sekarang Arkan diantar jemput oleh sopir pribadi papanya. Karena setelah pulang sekolah, ia harus segera pulang dan lanjut ke kantor Setya.
"Siap, kamu mau ngomong dulu ga sama Silva?" tawar Laras menatap Silva yang sudah membaringkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Padahal baru mendengar suara Arkan saja, tapi muntahnya sudah berhenti. Laras tak habis pikir dibuatnya.
"Enggak deh, Bun. Nanti yang ada Arkan malah pengen ketemu. Kan kita lagi dipingit," jawab Arkan terkekeh.
Laras juga ikut terkekeh mendengar jawaban Arkan. "Bisa aja kamu. Kalau mau ke sini, ya gak apa-apa. Tapi, kalo lagi gak ada ayah. Kalo ada, kamu gak bakal diizinin masuk, malah yang ada diomelin."
"Makanya Bun, jangan dulu, deh. Ya udah, Arkan tutup, ya."
"Iya, maaf ya udah ganggu waktu belajar kamu."
"Gak apa-apa, Bun. Kan buat calon istri aku. Salam buat Silva ya, Bun."
"Salam apa nih? Salam sayang? Salam cinta? Atau salam rindu?" tanya Laras terkekeh menggoda Arkan dan Silva yang merengek karena merasa malu.
"Bunda mah ih..."
Di seberang sana, Arkan terkekeh saat mendengar rengekan Silva. Tuh kan, ia jadi sangat merindukan gadisnya.
"Bunda bisa aja, aku tutup, ya," pamit Arkan sebelum memutus sambungannya.
Laras mematikan ponselnya lalu mendelik menatap Silva dengan senyum menggoda.
"A, apa sih, Bunda?" tanya Silva yang gugup ditatap seperti itu oleh Laras.
"Anak gadis Bunda udah gede, ya. Udah bisa bucin-bucinan," goda Laras sambil mengusak rambut Silva.
"Mau makan apa, hm? Sambil nunggu kiriman Arkan sampe, kamu sarapan dulu, ya?"
"Enggak ah, Bun. Nanti aja kalo baju Arkan udah sampe. Yang ada aku muntah lagi kalo makan sekarang," jawab Silva yang kembali memejamkan matanya.
"Ya udah deh, sekarang kamu istirahat aja dulu. Bunda temenin di sini," ujar Laras lalu pindah ke samping Silva yang kemudian memeluk perut Laras manja.
Laras pun mengusap kepala Silva dengan lembut. Ia sungguh masih tidak percaya dengan apa yang telah menimpa putri tunggalnya. Namun, semuanya sudah terjadi. Mereka tidak bisa mengubah apapun yang sudah terjadi selain memberikan yang terbaik untuk Silva saat ini dan seterusnya. Pasti putri kesayangannya ini harus menjalani masa-masa yang pahit.
"Maafin Bunda, ya, karena gak ada di saat kamu terpuruk," lirih Laras menatap wajah damai Silva yang tertidur sambil memeluknya.
... Bersambung......