
Ruangan itu diisi oleh dua orang tersangka. Mereka duduk di kursi berhadapan dengan seorang polisi yang menginterogasi. Di sekeliling mereka pun berjaga beberapa polisi yang akan memberikan mereka paksaan jika tidak mau menjawab atau membuat mereka menyesal karena tidak menjawab dengan jujur. Turut hadir juga Setya dan Hanum yang menyaksikan berlangsungnya proses interogasi itu.
"Pertanyaan selanjutnya untuk Rika. Kesalahan apa yang membuat Anda dendam pada keluarga Arkan?"
Seketika wajah Rika yang sudah tidak mulus lagi--dihiasi beberapa lebam akibat melawan--pun mengeras. Tatapannya mengarah pada Setya dengan tajam. Ia mengepalkan kedua tangannya yang kini diborgol dengan tangan Regan yang duduk di sampingnya. Hatinya dipenuhi rasa benci terhadap keluarga Arkan yang menyebabkan ayahnya meninggal dunia beberapa tahun silam.
"Dia telah membun*h ayah saya karena ketakutan dengan ancamannya yang katanya akan menjebloskan ayah saya ke penjara. Padahal tuduhan masih belum jelas dan ayah saya belum terbukti bersalah. Tapi karena ancaman itu, dia melarikan diri dari kantor dengan kalang kabut dan berakhir tertabrak mobil dan tewas saat dalam perjalanan menuju rumah sakit."
Setya hanya diam walaupun pengakuan itu terdengar seperti tuduhan tak berdasar. Ia hanya mengerutkan kening dan mengatur napas agar emosinya tidak melonjak tinggi.
"Tapi menurut bukti-bukti keterangan yang polisi dapatkan, ayah Anda yaitu bapak Ferry memang terbukti bersalah. Setelah dilakukan penyelidikan, bapak Ferry ditetapkan sebagai tersangka atas penggelapan dana dalam beberapa proyek yang dijalankan oleh perusahaan yang dipimpin Bapak Setya sebagai atasan bapak Ferry. Untuk kejadian kecelakaan, berdasarkan kamera cctv dan beberapa saksi, bapak Ferry tidak terlihat ketakutan, tapi sengaja menyebrang jalan saat jalanan dalam kondisi ramai lancar. Jadi, jelas bahwa pak Ferry atau ayah kamu melakukan percobaan bunuh diri saat dicurigai oleh Bapak Setya telah melakukan tindakan korupsi di perusahaannya," jelas Pak polisi memaparkan kejadian yang sebenarnya.
Jadi, selama ini Rika hanya salah paham dan gelap mata yang berakhir dengan pembalasan dendam pada keluarga inti Setya. Karena setelah diusut lebih dalam lagi, pelaku yang menabrak Nesya waktu itu juga Rika bukan Dea. Dea hanya memanfaatkan kejadian yang ada agar Arkan lengah dalam menjaga Silva waktu itu.
Dalam kejadian ini, dendam adalah faktor utamanya. Padahal sudah banyak diketahui oleh masyarakat bahwa dendam adalah perbuatan yang tercela, tidak dibenarkan, dan tidak akan mendatangkan keuntungan apapun bagi pelakunya. Namun, masih selalu melekat di hati orang-orang tertentu yang sudah gelap mata karena tidak terima atas musibah yang terjadi pada orang-orang yang mereka sayangi atau miliki.
Atas pengakuan mereka dan beberapa bukti yang ada, Rika dan Regan dinyatakan sebagai tersangka utama dan akan mendapat vonis yang sesuai pada proses persidangan nanti.
***
Hari-hari berlalu namun Arkan masih setia menutup mata. Silva sudah dinyatakan sehat pasca operasi pengangkatan janin di perutnya dan bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga Arkan atau hanya sekadar melihat dan berusaha mengajaknya mengobrol dengan harapan bahwa Arkan dapat mendengar kata-kata rindunya yang diiringi tangisan lalu membuka mata. Namun, seringkali hanya keheningan yang menjawab.
Di setiap kali Silva berkunjung, pasti ditemani oleh keluarganya atau para sahabatnya, tapi kali ini ia sendirian. Sengaja tidak memberitahu para sahabatnya dan meminta izin pada sang bunda untuk ke rumah sakit bersama Dinda. Padahal, Dinda tidak mendapat pesan apapun dari Silva. Tidak mengapa, ia hanya ingin sendiri, ah maksudnya berdua dengan Arkan.
Sudah cukup lama ia berbicara sambil menggenggam tangan Arkan dengan air mata yang selalu menemani di setiap kata yang terucap dan napasnya yang tersendat. Namun, Arkan masih tidak menjawab. Ia masih senantiasa menutup mata.
Kini Silva sudah ikut berbaring di samping Arkan. Memeluk tubuh itu dari samping dan menangis di bahu Arkan.
"Kenapa kamu tega biarin aku sedih sendirian, Ar? Apa kamu udah gak sayang lagi sama aku? Sekarang adek udah gak ada, kita udah gak punya lagi calon baby. Khayalan-khayalan kita selama ini kalo adek udah lahir, harus berakhir. Aku emang gak becus jadi ibu! Mungkin kalo kamu sadar, kamu pun akan bilang begitu, iya kan? Maafin aku, Ar... Aku gak mau liat kamu marah sama aku. Aku gak mau kamu ninggalin aku karena kamu udah gak punya tanggung jawab lagi untuk nikahin aku. Satu-satunya alasan kamu mau tanggung jawab, pasti karena keberadaan adek kan? Sekarang adek udah gak ada, gak ada lagi yang nahan kamu. Tapi aku gak mau kamu pergi..." ujar Silva dengan lirih dan beberapa kali terhenti karena sesenggukan.
Silva tidak tahu bahwa pengorbanan Arkan sebagai pertanggungjawaban terhadapnya lebih dari itu. Bahkan sejak pertama, Arkan tahu bahwa bayi itu bukanlah darah dagingnya, namun tetap ia terima karena Silva lebih penting. Apapun akan ia terima asalkan gadis yang dicintai tetap bahagia dan kembali baik seperti semula kondisi psikologisnya. Terdengar seperti seorang lelaki yang sempurna. Itulah sebabnya, takdir sedikit bermain dengannya.
Mulai dari Arkan yang memaki dirinya, mengatainya tidak becus menjaga calon bayi mereka, sampai ucapan Arkan yang akan meninggalkannya. Semua kemungkinan buruk itu berputar di pikirannya. Membuat air mata terus meluruh tanpa henti.
Hingga Silva sampai di depan sebuah tangga menuju lantai enam, yaitu lantai paling atas di rumah sakit itu. Silva terdiam sambil memandangi tangga itu beberapa saat. Setelah terdiam cukup lama, ia melangkahkan kakinya menaiki tangga itu menuju lantai enam. Entah apa yang dipikirkan Silva, karena saat ini tujuannya adalah rooftop.
Sampai di lantai enam, Silva kembali menaiki tangga menuju rooftop yang tak jauh dari sana. Menyusuri tangga itu dengan pandangan lamat-lamat memperhatikan tiap undakan yang ia pijak hingga sampai di undakan terakhir. Silva sampai di rooftop.
Seketika angin berembus kencang. Meski bangunan ini tidak terlalu tinggi, tapi jika cuaca sedang mendung seperti ini anginnya cukup kencang. Silva tetap berjalan walaupun berlawanan dengan arah angin berembus. Ia berjalan menghampiri pembatas atap. Berdiri di depan pembatas, menutup kedua mata menikmati embusan angin yang menyapu wajah basahnya. Namun, masih tidak mampu mengeringkan jejak-jejak air mata di pipinya.
Pikirannya kembali berkecamuk. Runyam, dipenuhi berbagai pikiran buruk yang hanya kemungkinan yang masih belum tentu akan terjadi. Ia takut jika Arkan akan membencinya atau bahkan meninggalkannya. Ia sudah jatuh terlalu dalam pada lelaki itu. Ia hanya ingin bahagia bersama Arkan. Ia sudah terbiasa dengan keberadaan Arkan di sampingnya. Memberinya perhatian, kasih sayang, kenyamanan, rasa terlindungi, dan diperlakukan seperti sesuatu yang sangat berharga. Ia selalu senang saat Arkan memperlakukannya dengan lembut, tanpa paksaan, dan tanpa intonasi yang tinggi. Arkan begitu baik padanya.
Kini, ia telah terbiasa dengan semua itu. Ia tidak siap jika yang akan terjadi nanti adalah yang sebaliknya. Lagipula, kecerobohannya ini pasti membuat Arkan kecewa. Ia tidak pantas bersanding dengan Arkan yang terlihat sempurna. Arkan begitu baik padanya sementara dirinya malah memberikan kekecewaan pada lelaki itu. Betapa dirinya tidak tahu diri jika masih berharap akan bersanding dengan Arkan.
Tapi, ia juga tidak akan sanggup hidup tanpa Arkan di sampingnya. Apalagi melihat lelaki itu bersama wanita lain. Jadi, mungkin inilah yang terbaik yang harus ia lakukan.
Silva mengangkat satu kakinya ke pembatas atap yang hanya setinggi lutut. Perlahan, satu kakinya ikut naik. Berdiri di atas pembatas atap. Wajahnya menengadah menatap langit mendung.
"Tuhan, maaf jika aku telah menjadi hamba-Mu yang lemah. Aku sungguh tidak akan mampu menanggung semua ini. Jadi, biarkan aku pergi dan menemui-Mu," lirih Silva memejamkan kedua mata erat yang menjatuhkan air mata di kedua kelopaknya.
Samar-samar ia dengar seruan orang-orang dari bawah yang berusaha menyadarkannya agar tidak melakukan hal itu. Ada juga beberapa orang yang menyarankan untuk memanggil polisi atau pihak keamanan. Namun, Silva tidak peduli kali ini. Untuk saat ini, biarkan ia menjadi orang yang tidak peduli pada sekitarnya.
Kaki kanannya sudah melayang di udara, tak lagi menyentuh pembatas atap yang dapat menahan tubuhnya.
"Arkan, selamat tinggal..."
Tubuh Silva melayang di udara dan terjatuh.
Bruk!!
...Bersambung......