
Arkan sampai di depan pintu kamar apartemennya. Ia memasukkan kode password lalu pintu terbuka dan masuk.
"Va!" panggilnya setelah menutup pintu. Ia melihat sekitar, mencari Silva.
"Va! Silva?" Ia membuka pintu kamar mereka, namun tidak ada juga.
"Di dapur kali, ya?" gumamnya lalu berjalan ke dapur.
Saat sampai di dapur, ia tersenyum kala melihat Silva yang tertidur di meja makan. Kepalanya direbahkan di meja dengan bantalan tangan, sementara badannya menduduki salah satu kursi yang menghadap ke lorong kamar.
Perlahan Arkan mendekati Silva. Ia berdiri di sampingnya, menatap wajah damai Silva yang begitu menyejukkan mata dan hati. Hingga memunculkan senyum di bibirnya. Arkan beralih pada masakan yang masih tertata rapi di meja makan. Ada dua piring kosong yang masih bersih. Itu artinya, Silva pasti belum makan.
"Astaga... Udah jam sebelas. Kamu bandel ternyata, ya? Udah dibilangin jangan nungguin, masih aja ditungguin," gerutu Arkan sambil merapikan rambut Silva yang menutupi wajahnya.
Meski kalimatnya menandakan kejengkelan, tidak dengan nada dan ekspresi wajahnya. Bagaimanapun, Arkan tetap senang karena ia ditunggu oleh Silva. Bukankah itu berarti Silva ingin selalu bersamanya? Bahkan makan pun ingin bersama dengannya. Ouh, romantis sekali gadisnya ini.
Arkan merendahkan tubuhnya lebih dekat dengan wajah Silva. Lalu ia mengusap pipi mulus itu dengan lembut.
"Va... Bangun yuk!"
Namun tak ada pergerakan yang berarti. Silva masih terlelap dalam tidurnya. Yah, bagaimana bisa bangun jika Arkan membangunkannya dengan suara yang lembut dan usapan di pipi Silva. Yang ada Silva akan semakin nyenyak tidurnya. Ia pun tersenyum lalu menggeleng pelan menyadari kebodohannya.
Ia beralih menepuk pelan pipi Silva. "Va, ayo bangun dulu, yuk! Kamu belum makan, kan?"
Merasa terusik, Silva mengerjapkan matanya dan membukanya sedikit. Namun, saat ia melihat Arkan dari celah mata yang sedikit terbuka tadi, ia kembali menutup matanya dan berpura-pura tidur kembali.
'Astaga, terlalu dekat!!' batin Silva menjerit frustasi bersamaan dengan detak jantungnya yang melaju tak normal.
Arkan yang menyadari tingkah Silva pun tersenyum geli. Terlintas ide jahil di kepalanya. Ia mendekatkan bibirnya ke daun telinga Silva dan berbisik di sana.
"Mau bangun atau mau aku cium?"
Seketika kedua mata Silva terbuka lebar. Punggungnya menegak dan berseru, "Bangun! Bangun, bangun, bangun, aku mau bangun."
Arkan terkekeh geli melihat semburat merah di kedua pipi Silva. "Gak mau aku cium aja?"
"Enggak! Arkan jangan deket-deket mukanya! Udah sana duduk!" pekik Silva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu satu tangannya mendorong pipi Arkan agar menjauh dari wajahnya.
Bukannya menurut, Arkan malah menarik kursi yang berhadapan dengan Silva menjadi berdempetan dengan kursi yang diduduki oleh gadis itu. Setelahnya, ia pun duduk. Jadi, mereka duduknya berdampingan.
"Udah, aku udah duduk," ujar Arkan memberi tahu agar Silva menurunkan kedua tangannya.
"Loh?" Silva tak melihat Arkan di depannya saat menurunkan tangannya. Lalu ia menoleh ke samping dan menemukan Arkan yang tersenyum manis padanya.
"Kenapa di sini duduknya? Sempit tau, nanti makannya gimana?"
"Ya aku maunya di sini biar deket sama kamu," jawab Arkan sambil memeluk Silva dari samping dan wajahnya berada tepat di samping wajah Silva.
Sementara keadaan wajah Silva sudah memerah padam dan jantungnya berdetak cepat. Bagaimana ia bisa tenang jika wajah Arkan tepat berada di samping wajahnya? Tinggal maju sedikit saja, bibir Arkan sudah bisa mencapai pipinya.
"Nanti makannya susah, Ar. Udah duduk di sana aja, ya," bujuk Silva tanpa menatap Arkan. Karena jantungnya tidak kuat.
"Gak mau! Mau disuapin aja," sahut Arkan yang terdengar seperti rengekan. Ia juga mengeratkan pelukannya pada tubuh Silva dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Silva.
Cup!
Silva kaku seketika saat merasakan kulit lehernya dikecup sekilas oleh Arkan. Astaga! Kalau ini acara uji nyali, Silva ingin melambaikan tangan saja ke kamera. Ia sudah tidak kuat, sungguh!
"Arkan," panggil Silva setengah sadar. Ia seperti kehilangan separuh nyawanya.
"Ya?" Arkan mengangkat wajahnya dan menatap Silva.
"Aku mau pingsan aja, ya?"
"Habis aku gak kuat kalo kamu begini terus..." rengek Silva sambil melemaskan tubuhnya dan masuk seluruhnya ke dalam rengkuhan Arkan.
Senyuman lebar muncul dengan sendirinya di wajah Arkan. Ia menarik Silva agar bersandar di dada bidangnya. Lalu tangannya mengelus lembut surai hingga Silva.
Kemudian, keheningan mengambil alih. Meski begitu, tidak ada rasa canggung diantara mereka. Hanya ada rasa nyaman meski tanpa pembahasan apapun. Hanya berpelukan dalam diam dan menikmati kehangatan dari satu sama lain dan merasakan debaran jantung masing-masing. Berdebar namun nyaman.
"Va, tau gak apa yang paling aku pengen dari pertama kali aku jatuh cinta?" tanya Arkan memecah keheningan.
Silva menggeleng lalu berbalik bertanya, "Apa?"
"Momen-momen kayak gini. Aku pertama kali jatuh cinta itu sama kamu. Sayangnya, cinta pertamaku gak bisa aku dapetin. Malah aku harus melepaskan dengan ikhlas demi persahabatan yang tetap terjalin. Tapi sekarang, gak tau aku harus seneng atau sedih. Ya, walaupun persahabatan kami udah baik-baik aja, tapi aku tau Faris pasti terpaksa ngelepasin kamu. Sebenarnya dia masih cinta sama kamu, tapi harus bertukar posisi sama aku karena keadaan. Mungkin kamu juga terpaksa terima aku. Maafin aku, ya." Terdengar melirih di ujung kalimat Arkan.
Silva melepas pelukan Arkan dan duduk tegap berhadapan dengan Arkan, namun kedua tangan mereka masih bertaut. Ia menilik wajah lelaki itu yang nampak seperti sedang menahan tangis.
"Ar, jangan begini. Hei, mana Arkan yang kuat? Arkan yang aku kenal itu kuat dan gak suka nangis. Dia bertanggung jawab dan tangguh, penyayang, lembut, tapi bucin." Silva terkekeh di akhir. Lucu sekali melihat perubahan raut Arkan yang tadinya sedih menjadi datar saat mendengar ujung kalimatnya.
"Tapi kamu tau gak, Ar. Kayaknya aku juga udah kena virus bucin kamu, deh," sambung Silva dengan wajah serius. Membuat Arkan menahan senyumnya.
"Aku juga gak tau kenapa, tapi dari pagi sampe malam, aku kepikiran kamu terus. Rasanya tuh pengen keluar dari sini dan nyamperin kamu. Gak tau deh, kenapa. Apa mungkin bawaan si adek, ya?"
"Hm? Si adek?" tanya Arkan dengan kening mengerut.
Silva mengangguk. "Iya, calon anak kita ini aku namain adek dulu. Nanti kalau udah lahir, baru kita kasih nama yang bagus," jawabnya sambil mengusap perutnya yang masih rata.
Arkan tersentuh sekaligus miris. Ada rasa takut terselip diantara rasa haru karena Silva sudah menerima kehadirannya sepenuhnya. Rasa takut akan suatu saat nanti jika Silva mengetahui yang sebenarnya. Bahwa itu bukan darah daging Arkan. Namun, Arkan menutupi semua kegelisahannya dengan senyuman.
"Itu tandanya selain si adek kangen papanya, mamanya juga bucin sama papanya," jawab Arkan mencubit hidung bangir milik Silva.
"Uh! Arkan sakit!" Silva cemberut sambil mengelus hidungnya yang nampak memerah.
"Coba sini liat, biar aku obatin!"
"Gak mau!"
"Sini dulu!"
"Gak mau, nanti dicubit lagi!"
"Enggak kok, janji gak nyubit lagi."
"Bener ya, gak dicubit lagi?"
"Iya, janji."
Perlahan, Silva pun mendekat ke arah Arkan.
Cup!
"Nah, udah gak sakit lagi, kan?"
Seketika tubuh Silva kaku dan kedua matanya mengerjap lambat. Apa-apaan itu?! Seenaknya mencium hidungnya!! Tidak tahu apa, sekacau apa detak jantungnya!! batin Silva menjerit frustasi.
"Tau ah! Mending kita makan aja, keburu larut banget nanti. Besok kan kamu harus bangun pagi." Silva bangkit untuk mengambilkan nasi beserta lauk pauk untuk Arkan dan dirinya.
Mereka pun makan dengan tenang. Tapi, tidak dengan jantung Silva yang masih berdebat tak bisa tenang. Sudahlah, biarkan mereka makan berdua.
...Bersambung......
Uh! sooo cheesy🤭