
Arkan membawa Silva pulang pagi-pagi sekali. Ia sudah mendapat izin dari dokter kemarin untuk membawa Silva pulang hari ini. Ia harus sekolah, jadi sebisa mungkin untuk tidak terlambat datang ke sekolah.
Kini mereka ada di dalam mobil Arkan. Keduanya fokus menatap jalanan yang masih nampak lengang dan lampu-lampu jalanan masih menyala. Tangan kiri Arkan merayap menggapai tangan kanan Silva yang berada di pahanya. Ia genggam dan dibawa ke tengah-tengah mereka. Sementara fokusnya masih tetap pada jalanan di depan.
Melihat hal itu, Silva menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Kenapa ia selalu terjebak bersama lelaki yang sangat bucin dengannya, pikir Silva.
"Ar?" panggil Silva menatap Arkan yang masih fokus menyetir.
"Hm?" Arkan berdehem sebagai jawaban namun tidak menoleh pada Silva.
"Emang bisa nyetir pake satu tangan begitu?"
Arkan mengangguk dengan pandangan masih tertuju pada jalanan. "Bisa, kok. Kenapa?"
Silva menggeleng dan tersenyum. "Gak kok, gak apa-apa."
Mendengar jawaban Silva yang agak random, Arkan menoleh sekilas untuk memastikan bahwa Silva baik-baik saja. Ia menyunggingkan senyuman lalu mengacak pucuk kepala Silva sambil berkata, "Haha, random banget, sih?" Kemudian menengadahkan tangan kirinya untuk digenggam Silva.
Silva pun menerima dan menggenggam kembali tangan Arkan. "Ar?"
"Ya?"
"Sejak kapan kamu suka sama aku?"
Kening Arkan sedikit berkerut menandakan ia heran dengan pertanyaan Silva. Tapi ia berdengung juga untuk memikirkan jawaban yang tepat.
"Kapan ya? Mungkin sebelum kamu jadian sama Faris. Karena aku waktu itu mau nembak kamu rencananya. Tapi, ternyata udah keduluan Faris. Jadi ya... gitu deh," jawab Arkan mengedikkan bahu.
"Gitu deh apa?" desak Silva menatap jahil Arkan.
"Ya... gitu, broken heart," sahut Arkan simpel.
Silva sendiri sedang menahan senyum senangnya. "Berapa lama patah hatinya?"
"Yah... Jangan pengen tau lah. Rahasia aku itu."
Mengerucutkan bibir, Silva mencebik menyentak genggaman mereka tanpa melepaskannya. "Kenapa yang itu dirahasiain? Udahlah, gak usah dirahasiain, ya? Ayo kasih tau!"
"Imbalannya apa dulu nih?" tanya Arkan menatap Silva dengan jahil dan seringai tipis.
"Imbalan?" ulang Silva dengan kening mengerut.
Arkan mengangguk yakin.
"Umm... Kamu mau apa?" tanya Silva dengan wajah polos.
Arkan menunjuk pipinya sebagai jawaban.
Mengerti isyarat Arkan, pipi Silva memerah perlahan. "C-cium?"
Lelaki itu hanya mengangguk semangat.
Silva yang merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak tak santai, menelan salivanya gugup. Lalu terdiam beberapa saat.
"Gak apa-apa, deh, gak usah dijawab! Kita lanjut ke pertanyaan lain aja!" Silva pun ingin menyerah.
Namun, Arkan tidak semudah itu untuk melepaskan kesempatan yang sudah di depan mata. "Eit! Ya udah, aku gak mau jawab pertanyaan selanjutnya. Ayo!"
Kedua mata Silva membola melihat tangan Arkan yang kembali menunjuk pipinya. Ia berdecak bingung. Tapi ia penasaran dengan jawaban Arkan dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Jadi, mau tidak mau Silva mengumpulkan keberaniannya.
Dengan senyum mengembang lebar, Arkan memiringkan tubuhnya sambil memarkirkan mobilnya di lobi apartemen.
Silva mulai mendekatkan wajahnya perlahan ke pipi Arkan. Dengan jantung yang berdebar tak karuan, pipi Silva sudah memerah matang meski belum sampai di pipi Arkan. Hingga Arkan kehilangan kesabarannya dan menarik tengkuk Silva lalu menolehkan wajahnya. Membuat kedua mata Silva melebar terkejut. Bisa kalian tebak sendiri, kan apa yang terjadi? Ya, pada akhirnya bukan pipi yang Silva cium. Dan pada akhirnya pula, pertanyaan Silva tidak terjawab, apalagi pertanyaan-pertanyaan lain yang belum sempat ditanyakan. Ia sudah malu duluan.
Bahkan setelahnya Silva terus menunduk meski sudah memasuki gedung apartemen. Arkan mengejar Silva yang berjalan cepat di depannya lalu meraih tangannya.
"Hei! Tungguin dong, Sayang. Lagian kamu tuh jangan nunduk terus dong, nanti kalo nabrak orang gimana?"
Silva berdecak lalu kembali berjalan. "Tau ah, salah kamu juga tadi malah nengok tiba-tiba. Sengaja, kan!"
Arkan hanya cengengesan saat ditatap tajam oleh Silva. Mereka memasuki lift yang hanya diisi oleh mereka berdua saja. Arkan memeluk pinggang Silva dari samping dan mengecup pipinya gemas.
"Abis aku gemes liat kamu gigitin bibir terus. Makanya, jangan dibiasain begitu, kalo tetep begitu nanti aku sosor lagi, mau?"
Silva hanya menggeleng dengan wajah yang merona hebat.
"Ya maulah, pastinya--Aw!!" Arkan memekik karena Silva mencubit pinggangnya.
"Siapa yang bilang mau, hah?! Enak aja! Enggak, ya! Huh!" Silva melepaskan cubitannya lalu keluar dari lift dengan wajah tertekuk.
"Hah? Marah dia?" tanya Arkan ke dirinya sendiri lalu tersenyum gemas. "Gemes!"
Arkan mengejar Silva yang sudah berjalan di lorong kamar menuju kamar apartemennya.
"Silva tung-- eh, kenapa?" Arkan menatap Silva yang berdiri kaku di depan kamar tetangga sambil menatap pintu kamar mereka dengan bingung. Ia pun mengikuti arah pandangan Silva dan menemukan dua buah koper di depan pintu.
"I-itu koper aku," cicit Silva menunjuk dua koper itu.
Jadi om Hanum serius dengan perkataannya mengusir Silva? Batin Arkan.
Dengan lembut, Arkan merangkul bahu Silva dan dituntun masuk ke kamar apartemen. "Gak apa-apa, ayo masuk! Aku buatin sarapan, ya."
Setelah mereka masuk, Arkan menyimpan dua koper itu di ruang tamu lalu menuntun Silva duduk di kursi meja makan.
"Kamu duduk dulu di sini, ya. Biar aku bikin sarapan dulu," ujar Arkan mengusap rambut Silva. Ia hendak menghampiri kompor, tapi ditahan oleh Silva yang menggenggam tangannya. Membuat Arkan menoleh dengan kedua alis terangkat tinggi.
"Biar aku aja yang masak," ujar Silva dengan senyum simpul.
"Tapi--"
"Gak apa-apa, Ar. Aku aja ya, yang masak?"
Melihat Silva yang kukuh, Arkan pun tersenyum dan mengangguk. "Ya udah, kamu yang masak. Hati-hati, ya, jangan ngelamun!"
"Iya, iya, bawel!"
Silva segera berlari menuju kompor sekaligus berusaha menghindari Arkan. Ia mengambil dua bungkus mi instan goreng di dalam lemari gantung. Ya, masih mi instan, karena Arkan belum sempat belanja. Tapi tak apa, yang penting mereka bisa sarapan. Silva juga tidak masalah.
Meski hatinya sesak serasa ingin menangis meraung-raung, tapi ia ingat bahwa masih ada Arkan di sampingnya, dan akan selalu ada, itulah janji Arkan. Dan Silva hanya ingin percaya agar hatinya tidak terlalu sakit. Setidaknya masih ada harapan baginya.
Arkan sudah berjanji akan selalu ada untuknya. Kini, ia yang harus percaya dan memberikan yang terbaik untuk Arkan sebagai balasan atas semua kebaikan dan cinta dari Arkan. Meski saat ini ia masih belum bisa membalas Arkan dengan perasaannya, tapi suatu saat ia yakin bahwa hatinya bisa dipenuhi oleh rasa cinta untuk Arkan. Ya, mungkin bisa dimulai dari sekarang.
Silva menoleh pada Arkan di belakangnya yang sedang menumpu dagu dengan telapak tangan di meja makan sambil memperhatikannya dengan tatapan lembut juga senyuman tulus yang terlihat manis. Tuh kan, secinta itu Arkan pada Silva.
... Bersambung.......
Uwuuuđ