
Berjalan tergesa, Arkan melangkah cepat sejak keluar dari kelas. Bahkan saat teman-temannya menyapa pun ia hiraukan. Saat sampai di halte, kebetulan sebuah bus baru saja berhenti. Arkan segera naik. Ia harus segera sampai.
Kenapa? Karena tadi papanya bilang akan menemuinya di apartemen. Pasti tahu kan, apa yang akan dilakukan papanya jika datang ke tempatnya. Semua benda koleksi Arkan, pasti akan dibuang. Arkan itu suka membaca buku-buku novel yang bergenre romantis, percintaan remaja, dan juga petualangan. Sementara sang papa tidak menyukai hobi Arkan yang satu itu. Karena menurut Setya, buku-buku itu tidak berguna untuk karir Arkan. Membacanya hanya akan membuang-buang waktu.
Selain itu, gitar kesayangan Arkan juga pasti tak luput dari razia sang papa. Sekali lagi, bermain musik tidak berguna di mata Setya. Hanya akan menghabiskan waktu tanpa manfaat. Kecuali piano yang biasanya selalu ada di setiap pesta perjamuan rekan-rekan bisnisnya yang sering ia hadiri. Sejak kecil, Arkan sudah diberi les piano, jadi sekarang pun ia mahir bermain alat musik itu.
Maka, demi barang-barang berharga yang selalu menjadi hiburannya di kala tugas-tugas seakan menjajah pikirannya, ia harus segera sampai di apartemen sebelum sang papa tiba lebih dulu. Ia harus menyembunyikan barang-barang itu di suatu tempat yang tidak akan diketahui oleh sang papa.
Arkan segera berlari saat bus yang ia tumpangi sampai di halte dekat apartemennya. Menunggu lift terbuka dengan satu kaki mengetuk-ngetuk lantai tak sabar. Setelah terbuka, ia segera masuk dan naik ke lantai 6. Di dalam lift, ia melihat jam di tangannya yang menunjukkan waktu yang ia habiskan dari sekolah sampai ke sini adalah 15 menit. Biasanya sang papa menghabiskan waktu 20 menit untuk sampai ke sini. Masih ada lima menit lagi untuk mengamankan barang-barang itu.
Lift terbuka, Arkan tak menunggu lama lagi. Ia segera membuka pintu apartemen dengan kartu aksesnya. Namun, saat masuk kenapa ia mendengar suara seperti orang sedang memasak? Ia juga mencium aroma ayam goreng yang harumnya seakan tidak asing. Ia sering mencium aroma ini ketika di rumah. Ah, ia tahu sekarang. Di dapur, sang mama dan sang adik sedang sibuk memasak. Arkan melihat punggung mereka yang sedang sibuk berkutat dengan penggorengan dan potongan-potongan sayuran. Saking sibuknya sampai tidak menyadari kehadirannya. Arkan tersenyum senang. Setidaknya, ia bisa mendapat bantuan saat sang papa akan memasuki kamarnya yang terdapat barang-barang yang akan ia sembunyikan.
Hingga sang adik menyadari keberadaannya.
"Kak Arkan! Yeay, Kak Arkan udah pulang!" Gadis kelas dua SMP itu berlari menghampiri sang kakak. Saat sudah dekat, ia melompat ke pelukan Arkan. Nesya memang sangat dekat dan suka bermanja dengan Arkan.
"Kok kalian bisa masuk?" tanya Arkan di balik punggung Nesya.
"Bisa, pake password," jawab Lisa tanpa membalikkan tubuhnya. Ia sedang menggoreng ayam yang jadi kesukaan kedua anaknya.
"Eca kangen banget sama Kak Arkan. Kok Kak Arkan gak pulang-pulang, sih?" tanya Nesya setelah melepas pelukannya. Bibirnya mengerucut lucu, menunjukkan rasa kesalnya pada sang kakak.
"Kan Kakak udah dipindahin ke sini sama papa. Nanti kalo Kakak udah libur semester, Kakak pasti main ke rumah," jawab Arkan sembari mengelus rambut panjang Nesya.
Gadis itu bergeleng. "Bukan main, Kak. Tapi, pulang."
Arkan tersenyum asimetris. Miris yang ia rasakan. "Rumah Kakak kan udah pindah ke sini, Ca," jawab Arkan pelan sebelum ditarik menghampiri sang mama yang kini sedang menyiapkan makanan di atas meja.
Arkan senang sekali hingga tak berhenti tersenyum. Melihat banyak masakan sang mama di atas meja makan yang biasanya hanya diisi makanan siap saji atau mi instan. Ia merasa seperti benar-benar di rumah.
"Hei, kenapa senyum-senyum?" tegur Lisa yang sudah selesai meletakkan masakan terakhirnya.
Arkan segera memeluk mamanya. "Makasih, Ma, udah mau datang ke sini. Aku kangen banget sama Mama," tutur Arkan terdengar lirih bahkan agak bergetar.
Itu membuat Lisa tersenyum geli. Diusapnya punggung lebar milik sang putra sulung untuk memberinya kenyamanan. Lisa tahu Arkan pasti lelah dan butuh sandaran. Arkan butuh sosoknya untuk menumpahkan segala macam keluhan dan masalah yang selama ini ia rasakan dan selesaikan sendirian.
"Iya, Mama juga kangen sama Kakak," jawab Lisa yang terdengar merdu di telinga Arkan. Seakan semua beban hidupnya meluruh seketika saat mendengar suara lembut itu mengungkapkan kerinduannya. Memang, saat ini sosok ibulah yang ia butuhkan. Pelukannya, belaiannya, kata-kata lembutnya. Ah, Arkan jadi ingin tinggal di rumah mereka lagi supaya bisa setiap hari mendapat kasih sayang seperti ini. Tapi, ia tahu keputusan sang papa itu mutlak, tidak bisa dibantah.
"Udah yuk, makan dulu!"
Namun, Arkan tetap pada posisinya. Enggan melepaskan sang mama di pelukannya. "Mama tinggal di sini aja, ya? Temenin aku," celetuknya tiba-tiba.
Lisa terkekeh lalu melepaskan pelukannya pelan. "Kamu mau dimarahin Papa karena gulingnya diambil?"
Berdecak, Arkan mengerucutkan bibir membuat Nesya yang melihatnya mengerutkan kening meringis.
"Ah, papa curang!"
"Dih! Kak Arkan sok imut," ejek Nesya sambil pura-pura muntah.
"Apa kamu bilang, hah?" Arkan segera menghampiri Nesya dan menggelitik pinggang gadis itu sampai tertawa terbahak dan bergerak acak agar Arkan menghentikan aksinya.
"Sudah sudah, ayo kita makan dulu!"
Keduanya berhenti lalu Arkan duduk di kursi samping Nesya. "Papa mana, Ma? Katanya tadi papa yang mau ke sini?"
"Iya, harusnya papa yang ke sini buat liat keadaan kamu, tapi ada meeting dadakan di kantornya. Makanya, kita yang ke sini," jawab Lisa sembari menyendokkan nasi ke piring Arkan dan menambahkan lauk-pauknya.
Arkan mengangguk dan diam-diam tersenyum senang. Lalu mengucapkan terima kasih menerima sepiring nasi beserta lauk pauk dari sang mama.
"Seneng kan, kamu, papa gak jadi ke sini?" tuduh Lisa tersenyum jahil. Kedua tangannya masih sibuk menyendok nasi dan lauk pauk untuknya.
"Ma, Eca mau capcai, gak sampe, hehe," ujar Nesya menyengir menunjuk piring capcai yang berada jauh dari jangkauannya.
Lisa yang masih berdiri menyendokkan capcai untuk putri bungsunya.
"Bukan seneng, Ma. Cuma, sedikit lega," kelit Arkan setelah tersenyum lebar.
"Lega karena koleksi novel sama gitar Kakak gak jadi disita, kan?" tebak Nesya menunjuk Arkan dengan mata memicing.
Setelah itu ketiganya tertawa merasa lucu dengan kelakuan dan hobi Arkan yang kontras dengan badan kekarnya.
***
Silva masih di sekolah sedang menunggu sang ayah yang katanya akan menjemput. Hampir 30 menit ia menunggu, namun ia tak bosan karena menunggu bersama Faris. Mereka duduk di pos satpam sambil bercanda. Mumpung pak satpamnya sedang patroli keliling sekolah, memeriksa setiap ruang kelas, apakah masih ada siswa atau sudah tidak ada.
Saking serunya bercanda, mereka sampai tidak sadar mobil milik ayah Silva sudah sampai di depan sekolah. Hingga ponsel Silva berbunyi menandakan panggilan masuk.
"Eh, ayah udah sampe deh, kayaknya," ujar Silva lalu menerima panggilan tersebut.
"Halo, Yah!" seru Silva lalu berdiri melongok ke luar gerbang.
"Iya, Yah. Ini aku ke luar," kata Silva lagi sebelum mematikan sambungan teleponnya.
"Ayo, Bunny! Ayah udah ada di depan," ajak Silva menarik tangan Faris.
Sempat agak ragu, Faris bangkit juga membiarkan Silva menarik tangannya.
Di depan gerbang, seorang pria paruh baya dengan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, berdiri memainkan ponselnya bersandar di badan mobil.
Silva berlari menghampiri pria itu. "Ayah!" seru Silva membuat pria itu mengangkat pandangannya dan memasukkan ponselnya ke saku jas.
Lantas Hanum merentangkan kedua tangannya menyambut sang putri dengan sebuah pelukan rindu. Mereka sudah seminggu tidak bertemu karena pekerjaan Hanum yang mengharuskan dirinya tinggal sementara di luar kota.
"Aku kangen Ayah!" seru Silva yang teredam di bahu lebar ayahnya.
"Ayah juga kangen Silva!" balas Hanum mengusap rambut Silva sayang.
"Papa baru pulang?" tanya Silva setelah melepas pelukannya.
"Iya, bahkan Papa belum pulang ke rumah. Pas sampe langsung ke sini buat jemput kamu. Makanya telat jemputnya, maaf ya," jawab Hanum menunjukkan raut bersalah.
"Gak apa-apa, Ayah. Malah aku seneng banget dijemput sama Ayah. Ya udah, yuk pulang, Yah!" Silva menggelayut manja di tangan sang ayah.
Saat itu ia baru sadar bahwa tadi ia menunggu ayahnya bersama Faris. Sampai sekarang pun Faris masih berdiri di belakangnya. Silva menepuk kepalanya pelan.
"Astaga, kok aku lupa sih kalo ada kamu. Maaf ya, Bunny." Silva menggandeng lengan Faris dan bersandar di bahunya. "Abis ini kamu mau kemana, Bunny? Mau pulang atau ikut ke rumahku?" tanyanya menatap Faris. Kedua tangannya masih setia melingkari lengan Faris.
Di saat mereka hanya berdua saja atau bersama teman-temannya, pasti Faris sangat menikmati sifat manja Silva ini. Namun, sekarang di depannya ada ayah Silva yang selalu memberi tatapan mengintimidasi setiap kali Silva berkontak fisik dengannya. Itu menyebabkan Faris gugup dan berdebar.
"Eum, aku mau pulang aja, ya, Honey? Mau ngerjain tugas," jawab Faris yang mengartikan tatapan ayah Silva sebagai perintah untuk tidak mengganggu quality time mereka.
Silva mengangguk. "Oke, belajar yang rajin, ya, My Sweet Bunny. Aku pulang dulu."
Cup!
Tanpa diduga dan tanpa meminta persetujuan lebih dulu, Silva mencium pipi Faris di hadapan sang ayah. Lantas segera membuka pintu mobil dan masuk ke kursi belakang.
Kedua lelaki itu terkesiap. Tak menduga sama sekali dengan yang dilakukan Silva.
"Bye, Bunny! Ayah, ayo pulang!" seru Silva yang sudah berada di dalam mobil.
Kedua netra Faris tidak sengaja bertubrukkan dengan milik ayah Silva. Seketika ia menelan saliva gugup. Seakan ia siap jika harus diceramahi habis-habisan oleh pria di depannya ini.
Namun, justru Hanum mendekatkan dirinya dengan Faris lalu berbisik, "Bagus, baru seminggu saya tinggal, anak saya sudah berani mencium kamu. Sore ini saya mau kamu tanggung jawab! Temui saya di cafe milik Setya!"
"B-baik, Om," jawab Faris gugup.
Setelahnya Hanum kembali menjauhkan tubuhnya. Membenarkan letak dasi dan jas hitamnya, Hanum memasuki kursi penumpang dan mobil pun melaju. Meninggalkan Faris yang masih mematung di tempatnya. Mengikuti arah perginya mobil dengan pandangannya.
"Mampus gue," bisik Faris lalu mengacak rambutnya frustasi. "Ah, sial!" pekiknya sembari menendang batu kerikil yang ada di depan kakinya. Lantas berbalik ke parkiran dan pulang dengan motor miliknya.
...Bersambung......
Hai readers👋 gimana bab kali ini? Menghibur? atau menginspirasi? Kalau belum keduanya, semoga cerita ini bisa menemani kegabutan kalian. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dengan like, favorit, komen, atau kasih tips, hihi🤭 Have a nice day!❤️