Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 6. Terlalu Nyaman Sendiri



Malam ini langitnya mendung. Cahaya bulan hanya mengintip di balik tipisnya awan. Tanpa bintang-bintang yang menemani. Hanya angin malam yang dingin dan cukup kencang hingga menerbangkan gorden jendela kamarnya.


Meski merasa dingin, tak sedikitpun Arkan beranjak dari tempatnya. Duduk di sofa yang ada di balkon, menghadap langsung ke gelapnya langit yang disertai kilatan-kilatan cahaya dan gemuruh petir. Agaknya sebentar lagi akan turun hujan disertai petir. Dan ia akan tidur sendirian di bawah bisingnya badai petir.


Bukannya takut, ia laki-laki, mana boleh takut hanya pada petir di atas langit. Ia hanya merasa ... sedikit kesepian (?). Ya, hanya sedikit. Ia sudah terbiasa sendiri. Setiap malamnya selalu ditemani lembaran-lembaran kertas soal dan berkas-berkas kantor. Yah, terkadang gitar kesayangannya juga turut menemani dikala ia sedang sangat pusing dengan tugas-tugasnya.


Seperti saat ini. Ia duduk di balkon berduaan dengan gitar kesayangan. Menyanyikan lagu mellow favoritnya. Masih ingat, kan? Ya, "Sudah - Afgan". Sebenarnya Arkan ingin menyenandungkan lagu lain yang lebih manis yang bisa membuat suasana hatinya lebih ceria. Namun, keadaan sendu seperti ini sudah terlalu nyaman untuknya. Bukan, tapi ia hanya terlalu terbiasa dengan suasana damai menenangkan, meski tanpa senyuman menyertai.


"Tak perlu kau katakan isi hatimu


Semua telah tersirat di dua matamu


Simpan semua upaya tuk buatku percaya


Semua baik adanya


Terluka sendiri kupendamkan segala rasa


Karena aku tak bisa


Mengharapkan cinta yang takkan pernah ada."


Sembari memejamkan mata, Arkan bernyanyi sambil membayangkan wajah Silva yang sedang tersenyum bahagia. Mirisnya, tatapan itu tak pernah terpusat padanya saat tertawa. Hanya beberapa kali bibir itu tersenyum kepadanya. Sebuah senyuman tulus yang ia yakini hanya sebagai bentuk formalitas karena menganggapnya sebagai sahabat Faris. Sahabat kekasihnya.


Ouh! Lagi-lagi hatinya bagai tergores pisau tak kasat mata. Selalu begitu saat ia memikirkan betapa payah dirinya dalam kisah asmara. Bahkan memulai saja belum, tapi ia sudah harus melupakan. Baginya, Silva itu terlalu indah untuk dilupakan. Mana bisa ia melupakan gadis cantik, baik hati yang selalu memancarkan aura positif bagi lingkungannya. Silva selalu ceria dan ramah kepada semua orang. Gadis itu juga tidak pernah terlihat merasa terganggu akan kehadiran dirinya ataupun teman Faris yang lain saat mereka mengganggu waktu berduaan Faris dan Silva. Justru ia ikut meramaikan suasana. Meski Faris sudah misuh-misuh ingin pergi ke tempat yang lebih sepi agar bisa berduaan tanpa terganggu.


Seperti waktu itu, saat istirahat Faris sedang bermanja dengan Silva karena sudah seminggu lebih mereka tidak bertemu. Faris disibukkan dengan turnamen basket, dan Silva juga sibuk dengan perlombaan cerdas cermat yang membuat Silva harus mempersiapkan segala kebutuhannya selama lebih dari satu bulan. Selama satu bulan itu, Faris terpaksa harus sabar karena waktu Silva lebih banyak dihabiskan untuk berkencan dengan buku-buku dibanding dengan Faris. Jadi, setelah semuanya berakhir, Faris tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil jatah waktu berduaannya dengan Silva yang sempat direbut oleh kesibukan masing-masing. Namun, dengan tidak tau malunya--kalau kata Faris--Arkan, Rafan, dan Kevin malah merecoki kebersamaan mereka.


"Pergi gak, lo semua!" seru Faris dengan mata melotot menatapi satu persatu teman-teman laknatnya.


"Kenapa sih, lo? Kita cuma mau numpang makan aja di sini, elah, pelit amat?!" sanggah Kevin sambil memakan potongan siomay nya.


"Tau nih, mentang-mentang punya gandengan. Inget kita dong, Ris! Kita gak punya cewek, nih! Harusnya lo gak boleh ngebiarin kita sendiri, ntar kalo kita gelap mata terus bunuh diri, gimana?" tambah Rafan menaikkan kedua alisnya tinggi disertai tatapan polosnya.


"Anjir! Lo aja itu mah, Fan!" tukas Arkan meninju lengan Rafan pelan.


"Tau nih, si pendek! Bunuh diri ngajak-ngajak?" gerutu Kevin melemparkan tatapan sinisnya pada Rafan.


"Heh, apa lo bilang?!" sembur Rafan yang kini sudah berdiri menatap Kevin tajam. "Jangan mentang-mentang tinggi ya! Seenaknya aja ngatain gua pendek! Tinggi gua tuh normal, guys. Badan kalian aja yang kelebihan hormon. Makanya, kalo makan tuh pake nasi sama lauknya makanan bergizi, jangan tangga lo cemilin!"


Sret!


Kevin ikut berdiri menantang Rafan. "Songong amat lu, pendek! Sembarangan kalo ngomong. Masa kita nyemilin tangga? Kita tuh gak nyemilin tangga, tapi ngegarotin bambu! Puas lo!"


Pecahlah tawa mereka semua saat mendengar jawaban Kevin. Mereka memang sudah biasa saling mengejek. Bahkan Arkan yang lebih sering diam pun selalu terkena ejekan mereka. Jadi, tidak ada yang akan marah hanya karena diejek.


Pada akhirnya, Faris juga ikut tertawa dan mengizinkan teman-temannya bergabung. Meski harus dibujuk dan diiming-imingi kencan sepulang sekolah dulu oleh Silva.


Kedua sudut bibir Arkan tertarik ke atas membentuk senyuman indah bersama kedua matanya yang juga ikut tersenyum. Mengingat betapa hangatnya persahabatan mereka.


Ia, Faris, dan Rafan sudah bersahabat sejak kecil, bahkan sebelum mereka lahir pun, orang tua mereka sudah bersahabat. Sementara Kevin, sudah tiga tahun menjadi sahabat mereka. Sudah banyak sekali suka duka yang mereka rasakan bersama. Kadang pertikaian dan perselisihan juga kerap harus mereka hadapi. Yang namanya remaja, pasti terkadang lebih menuruti ego dari pada logika.


Tapi, karena persahabatan yang terlalu berharga untuk dilepaskan, mereka selalu berbaikan tidak lama setelah bertengkar. Mereka akan merasa menyesal setelah saling menyudutkan dan melemparkan kata-kata kasar saat bertikai. Dan keesokan harinya, pasti ada yang memulai untuk meminta maaf.


Yang sering bertengkar diantara mereka adalah Faris dan Kevin. Kedua anak itu memiliki kepribadian yang hampir sama. Sama-sama senang bercanda menyerempet mengejek, sama-sama suka bermanja kepada Rafan atau Arkan, sama-sama ceroboh, sama-sama ingin selalu jadi yang terpenting. Meski banyak kesamaan, namun jika sama-sama tidak ingin mengalah, tidak akan ada habisnya. Ketika mereka berbeda pendapat, tak jarang akan berakhir dengan pertengkaran. Tapi, tidak sampai sehari, sudah baikan lagi. Arkan kadang tak habis pikir kepada dua sahabatnya itu. Benar-benar difinisi dari Tom and Jerry.


Sedang asyik melamun, hujan turun dengan derasnya. Tanpa aba-aba, hujan disertai angin seakan menghempas tubuhnya hingga sedikit basah terkena air hujan yang terbawa angin. Arkan segera bangkit dan masuk ke dalam. Ia tak ingin sakit, karena jika ia sakit, tak akan bisa melihat wajah Silva di sekolah. Ada yang mau mengejek Arkan bucin? Ejek saja, jangan ragu-ragu! Mirisnya, yang dibucinkan adalah milik orang lain. Double kill!


"Silvayang, tunggu!" pekik Faris saat melihat punggung Silva yang akan memasuki gerbang sekolah mereka.


Merasa mendengar suara Faris yang menggelegar, Silva menghentikan langkahnya dan berbalik. Ternyata benar, Faris memanggilnya. Namun, kenapa ia tidak merasa dipanggil?


"Kamu manggil aku?" tanyanya setelah Faris sampai di hadapannya lalu merangkul bahunya.


"Iyalah, siapa lagi?"


"Tapi namaku Silva, bukan Silvayang!"


"Silvayang itu singkatan dari Silva sayang, Honey," jawab Faris dengan lembut dan tatapan lekat pada kedua netra bening gadisnya. Membuat Silva merona samar meski berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah. 


"Cie ... Merona pipinya, uhuy! Baper gak? Baper gak? Baper do--" Belum selesai menggoda Silva, pinggangnya sudah jadi korban kekerasan tangan Silva.


"Sakit, Honey," rajuk Faris dengan bibir mengerucut dan tangan mengusap-usap bekas cubitan maut Silva.


"Abis kamunya malu-maluin! Jangan teriak-teriak dong! Diliatin, tuh!"


Faris menebar pandangan ke sekitar. Ternyata benar, mereka jadi pusat perhatian. Ada yang memberi tatapan sinis karena terganggu atau memang tak suka hubungan mereka, ada juga yang menatap mereka gemas. Kebanyakan menatap mereka dengan senyum. Mungkin mereka suka dengan hubungan keduanya. Kalau iya, Faris sangat bersyukur karena hubungan mereka disukai dan didukung banyak orang.


"Bunny!" Panggilan Silva yang disertai tarikan di lengan seragamnya membuat Faris kembali memusatkan perhatiannya pada Silva.


"Ya? Kenapa, Honey?"


"Itu ada Arkan, kamu udah baikan belum?" Silva menunjuk pintu gerbang yang baru saja dimasuki Arkan.


"Udah, kok. Kemaren kita ketemu terus baikan," jawab Faris yang memang benar adanya.


"Bener?" tanya Silva lagi untuk meyakinkan.


"Iya, Honey. Udah, kok. Kalo gak percaya, tanya aja sendiri sana!"


"Dih? Kok ngambek?" Kini Silva menatap Faris menggoda.


"Enggak, kok. Siapa yang ngambek?"


"Kamulah! Kenapa, sih?"


"Ya kamu gak percayaan sama aku!" sungut Faris enggan menatap Silva.


"Dih? Gitu aja ngambek! Gak boleh! Pokoknya kamu gak boleh ngambek! Ayo senyum! Senyum!" Silva menggoyangkan genggaman tangan mereka meminta Faris tersenyum.


"Gak!" Faris masih dengan pendiriannya.


"Ih, ayo senyum! Nih, kaya gini! Smile!" Silva menyentuh kedua pipi Faris lalu menariknya hingga kedua sudut bibir Faris tertarik ke atas membentuk senyuman konyol. Itu juga yang membuatnya tertawa pecah.


Hingga mereka tidak menyadari seseorang telah melewati mereka. Melihat keduanya yang tertawa bahagia dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang pasti, kedua tangannya mengepal kuat dan rahangnya mengeras. Ia melewati pasangan yang sedang bersenda gurau itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Baru saja semalam ia obati hatinya, kini sudah hancur kembali. Memang seharusnya Tuhan tidak menciptakan dirinya dengan hati. Jika harus sakit terus, lebih baik tidak punya hati sekalian.


...Bersambung......


Akhirnya bisa update lagi setelah hampir seminggu ga update. Banyak drama, ga ada kuota lah, sibuklah, sakitlah, ide mentoklah🙄


so, enjoy!!