
"Maksud kamu? Bagaimana mungkin kamu bisa menuduh Arkan? Apa buktinya kalau memang Arkan bersalah?"
"Tunggu-tunggu! Bentar, Om, jangan dulu emosi! Saya belum selesai ngomong."
Faris terpaksa memotong pertanyaan Setya yang beruntun. Salahnya juga yang berkata kurang hati-hati.
"Makanya, kamu bicaranya yang jelas! Jangan dipotong-potong begitu! Kamu ini sedang berhadapan dengan dua orang pria dewasa, Faris! Jadi jangan main-main! Kamu anggap kita ini anak kecil apa!" tegur Hanum yang sudah muak dengan sikap Faris yang seakan mengerjai mereka.
Wajah Faris berubah pias. Ia kapok mengerjai bapak-bapak ini. Ia kira akan seru mengajak mereka bercanda, tapi ternyata itu bukan pilihan yang tepat sama sekali. Mereka seperti tidak terlahir untuk bercanda.
"Iya, Om, sorry. Saya tadinya cuma mau bercanda, Om, sama Om-om berdua. Tapi, ya udahlah, gak usah. Saya mau serius aja mulai sekarang, kalo ketemu kalian," jawab Faris pasrah.
"Nah, begitu, dong! Sekarang, cepat jelaskan kenapa kamu bisa menuduh Arkan?" tuntut Setya.
"Jadi gini, Om. Saya gak nuduh Arkan, kok. Ini menurut semua orang, bahwa Arkan yang bersalah. Karena jelas-jelas dia yang ada di foto itu berdua sama Silva. Menurut saya juga begitu sebelumnya. Tapi, ternyata dugaan kita menuduh Arkan itu salah. Tidak benar sama sekali."
Setya dan Hanum saling melempar tatap mendengar penjelasan Faris. Lalu kembali menatap Faris seakan mempersilahkannya untuk melanjutkan penjelasan.
"Ternyata, pelaku sebenarnya adalah Radea, putri tirinya Om Kamal Winarta, pimpinan salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bertempat di kota Yokyakarta. Tapi, keluarganya tinggal di kota ini, Bandung," jelas Faris membuat kedua CEO perusahaan besar itu terkejut.
"Kamal Winarta? Dia adalah pimpinan Winarta Corp' yang sangat ingin kami ajak kerja sama dari dulu. Perusahaannya itu besar dan terkenal, bahkan hingga ke luar negeri, dan memang memiliki beberapa cabang di negeri tetangga. Tapi, kenapa bisa memiliki anak seperti itu?"
"Kan tadi udah saya bilang, itu anak tirinya, bukan anak kandungnya. Menurut informasi yang saya dapat di internet, anak kandungnya om Kamal itu namanya Humaira Kamalia, dia sekarang gak tinggal bersama keluarganya, tapi tinggal di desa bersama nenek dari ayahnya. Dan katanya sih, anaknya itu baik."
"Oh... Oke, lanjut!"
"Nah, jadi gini, Om. Sebenarnya Dea atau Radea itu terobsesi sama saya--"
"Cih, kepedean sekali!" Hanum berdecih mencibir Faris.
"Astaga, Om. Saya bicara apa adanya, kok. Beneran deh, saya gak mengada-ada atau kepedean. Ini asli dan ya emang begitu faktanya. Dea itu suka sama saya dan rela melakukan apa aja demi bisa dapetin saya. Bahkan apapun penghalang, dia rela nyingkirin semuanya. Termasuk Silva."
"Dea tau kalau Arkan cinta sama Silva tapi gak bisa berbuat apa-apa karena Silva udah jadi milik saya. Jadi, Dea membuat sebuah drama malam itu. Dia minta maaf sama Silva dan berjanji akan jadi sahabat baiknya kaya dulu lagi. Silva percaya dan mau diajak Dea ke suatu tempat yang katanya cafe unik yang cuma ada di Bandung. Silva mau ikut karena Dea bilang itu untuk merayakan hari baikan mereka. Ternyata Dea membawa Silva ke club' malam yang namanya disamarkan. Ujung namanya cafe bukan club' atau bar. Makanya, Silva gak merasa curiga."
"Dea ngebohongim Silva lagi, dia bikin Silva mabuk sampai gak sadarkan diri. Terus dia manggil salah satu pria pekerja se*s di sana untuk menodai Silva sampai jam dua belas tengah malam. Setelah tengah malam, ia menghubungi Arkan untuk bersandiwara. Dia bilang ke Arkan kalo dia ketemu Silva di club itu lagi nari dikerubungin cowok-cowok. Terus, dia liat Silva dibawa satu cowok naik ke lantai atas, di mana lantai itu tempatnya kamar-kamar untuk melakukan hubungan bad*n."
"Arkan yang lagi nemenin Nesya waktu itu, minta Rafan gantiin dia ngejagain Nesya dan dia langsung pergi ke club' yang Dea bilang. Sampai di club', Dea nunjukin kamar yang dimasukin cowok yang ngebawa Silva. Arkan ngehajar habis-habisan cowok hidung belang itu. Tapi, pas Arkan lagi lengah, Dea masuk dan mukul tengkuk Arkan pake linggis sampe pingsan. Silva yang udah pingsan sejak permainan terakhir si cowok brengs*k itu, gak tau kalo Arkan lah yang selamatin dia. Karena pas bangun, dia liat keadaan mereka yang sama-sama naked. Jadi, dia pikir Arkan yang ngelakuin semuanya. Padahal, justru Arkan yang nyelamatin dia."
"Salutnya saya sama Arkan, Om. Dia gak bilang ke Silva kalo sebenarnya bukan dia pelakunya. Tapi, cowok asing. Katanya dia takut kalo bilang ke Silva yang sebenarnya, Silva akan lebih terpuruk karena yang ngerusak dia pria asing yang gak jelas asal-usulnya. Apalagi sekarang Silva hamil, Arkan takut Silva pengen ngegugurin kandungannya karena bukan darah daging Arkan--"
"Jelas itu harus digugurkan! Buat apa dipertahankan kalau bibit yang di dalamnya bukan bibit yang berkualitas. Bahkan milik orang asing yang gak jelas asal-usulnya," tekan Hanum memotong penjelasan Faris.
"Bentar dulu, Om. Tapi Arkan gak mau bayi yang gak bersalah itu jadi korbannya. Dia benci sama bapaknya, tapi gak bisa benci juga sama darah dagingnya, karena bayi itu gak tau apa-apa, cuma korban dari kebrengs*kan bapaknya. Lagian katanya, Om, di dalam janin itu masih ada darah daging Silva juga. Jadi, dia akan tetap menerima selagi itu masih berhubungan dengan Silva."
"Coba pikir, Om. Secinta itu Arkan sama Silva. Sampe rela dianggap pelaku demi kondisi kejiwaan Silva agar gak terguncang lebih parah. Dia juga rela terima si janin demi Silva, padahal itu bukan darah dagingnya. Makanya, saya rela serahin Silva buat Arkan. Karena Silva itu gadis yang luar biasa. Jadi, cocoknya berdampingan sama laki-laki yang luar biasa juga, yaitu Arkan. Saya yakin, Silva akan terus bahagia hidup sama Arkan. Karena Arkan tuh cinta banget sama Silva. Udah teruji selama bertahun-tahun murninya cinta Arkan buat Silva, Om. Bahkan dia rela cintanya bertepuk sebelah tangan, asalkan Silva bahagia sama saya. Pokoknya Arkan tuh luar biasa. Gak ada yang bisa nandingin hatinya yang luar biasa kuat, Om. Saya bukannya lebay, ya, tapi emang itu kenyataannya. Seketika saya menobatkan diri jadi penggemar beratnya Arkan, Om."
Selesai menjelaskan panjang lebar, Faris menenggak minumannya hingga tandas dan menghabiskan juga kopi milik Hanum dan Setya. Namun, mereka tidak bisa melarang karena memaklumi Faris yang pasti kehausan setelah menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya kepada mereka.
"Tapi, kamu belum menjelaskan tentang bagaimana tanggapan keluarga pelaku, Ris," tegur Setya yang membuat Faris menepuk jidatnya.
"Pesenin minum dulu dong, Om," ujarnya dengan cengiran yang sangat lebar.
Hanum dan Setya saling tatap lalu menggeleng tak habis pikir.
"Saya gak yakin kamu anaknya Prama, Ris."
Mengingat sifat mereka yang berbeda jauh. Seperti langit dan bumi. Sementara Faris mana peduli dengan sang ayah yang juga tidak peduli padanya. Ia hanya mengedikkan bahu lalu memanggil pelayan.
... Bersambung... ...
So, jangan hujat Faris ya😉