Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 30. Muslihat



"Dea?"


Si empunya nama tersenyum tipis lalu berdiri. Menunggu tuan rumah yang masih berdiri di ujung tangga.


"Hai! Udah lama ya, gue gak main ke sini lagi?" Dea memulai pembicaraan dengan menebar pandangan ke segala arah ruangan ini.


"I-iya." Silva menjawab dengan gugup dan raut yang kentara sekali gugupnya.


Dea yang menyadari sikap Silva yang seakan ketakutan padanya, lantas mendekati Silva di depan tangga. Mereka berhadapan dan Silva terlihat semakin gelisah. Hingga Dea mengulurkan tangan kanannya.


Tidak mengerti dengan maksud Dea, Silva menatap Dea seakan bertanya apa maksud gadis itu.


"Gue minta maaf, ya? Gue sadar, Faris cuma cinta sama lo. Gue juga salah. Gak seharusnya gue mutusin hubungan persahabatan kita cuma karena satu cowok. Gue sadar gue bodoh banget! Sekarang gue kangen sama momen-momen persahabatan kita, Va. Gue sadar kalo persahabatan kita tuh lebih penting dari apapun. Lo mau ya, maafin gue?" Dea memohon dengan menggenggam kedua tangan Silva.


Masih bertahan di posisinya, Silva terdiam menatap tepat pada kedua manik milik Dea. Jujur ia juga rindu dengan momen-momen mereka dulu. Sebelum ia berpacaran dengan Faris dan membuat Dea yang ternyata juga menyukai Faris memusuhinya. Padahal, dulu mereka dekat sekali. Seakan apapun yang dilakukan Dea, Silva harus terlibat. Begitupun sebaliknya, saking dekatnya hubungan persahabatan mereka. Ke manapun Silva pergi, pasti ada Dea bersamanya. Dea pun seperti itu. Ingin pergi ke manapun, ia akan memberitahu Silva dan mengajaknya. Jika salah satunya tidak ada, maka satu yang lainnya akan merasa tidak semangat.


Tapi, semuanya berubah saat Dea tahu bahwa Silva menjalin hubungan dengan Faris. Padahal ia sudah lebih dulu bercerita tentang rasa sukanya pada lelaki itu. Mungkin karena hal itu Silva merahasiakan hubungannya dengan Faris pada Dea. Tapi, itu sangat menyakiti hatinya karena Dea sungguh mencintai Faris. Mungkin karena Silva juga mempunyai rasa yang sama pada Faris, makanya wajahnya selalu terlihat murung setiap kali Dea bercerita tentang Faris dan harapannya mendapatkan lelaki itu. Sejak saat itulah hubungan mereka renggang. Dea berubah menjadi seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Tidak ada lagi Dea yang selalu bersama Silva. Yang ada justru Dea yang selalu melempar tatapan benci padanya saat mereka tidak sengaja berpapasan.


"Hei!" ujar Dea mengagetkan Silva yang melamun.


Dea masih tersenyum. Ia menggoyangkan tangan Silva di genggamannya. "Jadi gimana? Lo mau kan maafin gue?" tanya Dea membuat Silva menunduk.


Ia bingung harus bagaimana. Ia senang jika Dea benar-benar akan menjadi sahabatnya lagi seperti dulu. Namun, di sisi lain ia masih belum yakin pada pernyataan Dea.


"Hiks..."


Silva yang sedari tadi menunduk seketika mendongak menatap Dea yang terisak di depannya. Dea menangis.


"Gue sadar gue salah, Va. Gue nyesel udah mutusin persahabatan kita. Gue sadar lo lebih berharga dari apapun, apalagi cuma seorang cowok. Gue udah gak mau ngerebut Faris lagi. Gue ikhlasin Faris buat lo sepenuhnya. Gue janji gak bakal ganggu hubungan kalian lagi. Please, maafin gue, ya?" mohon Dea sambil terisak dan berlinang air mata, menatap Silva dengan penuh rasa bersalah.


Perlahan Silva menghapus air mata Dea. Kini ia yakin bahwa Dea sungguh-sungguh menyesal. Senyum tulus mengembang di bibir Silva. Ia mengangguk yakin. "Gue udah maafin lo, kok." Lalu menarik Dea ke dalam pelukannya.


Mengusap punggung bergetar Dea yang masih mengeluarkan air matanya. "Gue juga kangen banget sama momen-momen kebersamaan kita. Gue sayang banget sama lo, De. Lo udah gue anggap sodara. Jangan pergi lagi, ya?"


Dea mengangguk dalam dekapan Silva. "Iya, gue janji gak bakal ninggalin lo lagi."


Silva melepas pelukan mereka dan menatap wajah Dea dan tersenyum. Kedua tangan Dea ia genggam erat. "Ayo bikin janji!" seru Silva mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Dea.


Tidak mengerti dengan maksud Silva, Dea mengangkat kedua alisnya bertanya. "Janji gak bakal ninggalin gue lagi dan janji kejadian dulu gak bakal terjadi lagi. Kita akan selalu sahabatan apapun yang terjadi."


Senyum Dea mengembang dan mengangguk. Ia pun mengaitkan jari kelingkingnya tanpa ragu. "Ayo! Gue janji akan terus jadi sahabat lo."


Mereka sama-sama melempar senyuman lalu terkekeh menyalurkan rasa bahagia mereka.


"Ayo keluar!" ajak Dea yang dibalas kerutan di dahi Silva.


"Ngapain?"


"Jalan-jalan aja, ngerayain hubungan kita yang udah baikan lagi," jawab Dea dengan wajah antusias.


Silva melirik jam dinding di ruang tamu. Sudah menunjukkan pukul 9 malam. Ia tak pernah keluar rumah semalam ini. Jadi, ia pun berdengung ragu akan setuju atau tidak.


"Gak bakal kenapa-napa, kok. Kan perginya sama gue. Gue bakal jagain lo. Ayo!" ujar Dea seakan tahu pikiran Silva.


"Umm... Oke deh, gue ganti baju dulu, ya, bentar. Lo duduk aja dulu, bentar doang, kok," jawab Silva pada akhirnya lalu menaiki tangga dengan sedikit berlari.


Dea di bawah memandang punggung Silva yang terlihat antusias. Ternyata dirinya masih seberharga itu bagi Silva. Dea memutar bola matanya jengah lalu berbalik dan kembali duduk di sofa ruang tamu.


***


Mobil Dea sudah sampai di suatu tempat yang asing bagi Silva. Gadis itu terus memandang sekitarnya sejak keluar dari mobil, hingga kini mereka sudah berada di depan pintu masuk.


"Dea tunggu! Ini tempat apa?" tanya Silva menahan Dea yang akan melangkah mendekati pintu masuk saat mendengar suara musik  samar-samar.


"Lo denger suara musik?" tanya Dea menunjuk ke atas, lantai dua berada--sumber musik itu berasal.


Silva mengangguk sebagai jawaban.


"Sekarang coba baca tulisan di atas sana!" Dea menunjuk tulisan yang berada di atas gedung itu.


"Crow Cafe?" ucap Silva menatap Dea dengan penuh tanya.


Di depan pintu masuk, mereka diperiksa petugas dengan menunjukkan kartu identitas mereka. Setelahnya, mereka berhasil masuk dan di sinilah mereka berada sekarang. Duduk di sebuah meja dengan dua kursi kosong di hadapan. Musik DJ diputar keras hingga memenuhi ruangan. Sebenarnya Silva kurang nyaman di sana, apalagi dengan musik yang diputar sangat keras. Bahkan ia tidak dapat mendengar suaranya sendiri saat mencoba berbicara dengan Dea.


Hingga Dea mengangkat tangannya memanggil pelayan. Seorang pelayan menghampiri meja mereka dan memberikan buku menu.


"Lo mau pesen apa, Va?" tanya Dea berbagi buku menu dengan Silva.


Silva mengerutkan kening bingung. Ia merasa semua menu di dalam buku itu asing baginya.


"Bingung ya? Ya udah, samain aja ya sama gue?"


Meski sedikit ragu, Silva mengangguk juga.


Dea menyebutkan pesanannya kepada si pelayan dengan cara berbisik yang kemudian pelayan itu meninggalkan meja mereka kembali ke belakang.


"Lo tau gak, di sini tuh makanan sama minumannya enak-enak. Jadi, lo harus cobain semuanya. Gue jamin, gak bakal nyesel," ujar Dea agak berteriak dan mendekatkan dirinya dengan Silva agar Silva dapat mendengarnya.


"Oke, asal gak mencurigakan bentuknya, gue pasti makan kok," jawab Silva mengundang tawa geli Dea.


"Bisa aja lo! Masa mencurigakan? Emang lo pikir ini tempat sarang mafia apa?" Dea masih dengan tawa gelinya.


Saat itu seorang pelayan kembali dengan membawa pesanan mereka beserta dua buah botol. Silva kembali mengerutkan kening bingung. "Kok minumannya pake botol?" tanyanya heran.


Silva masih belum sadar bahwa mereka sedang berada di sebuah club' malam. Karena suasana di sana pun belum terlalu ramai dan masih terkondisikan karena masih belum terlalu malam. Lain lagi jika sudah mendekati tengah malam hingga dini hari, suasana sudah kacau dan Silva pasti tidak akan nyaman berada di sana.


"Iya, emang kaya gini bentuknya. Ini minuman yang gue suka dan selalu gue pesen setiap datang ke sini. Lo harus coba, pokonya. Tapi nanti, kita makan aja dulu."


Lagi-lagi Silva hanya mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya bahwa Dea tidak akan mencelakainya. Dea sudah kembali seperti dulu, yang menyayangi dan akan selalu melindunginya. Ia pun memakan makanannya dengan hati berharap tidak akan ada hal buruk setelahnya.


"Nah, sekarang kita minum! Lo harus, kudu, wajib banget ngerasain minuman ini! Gak ada di cafe manapun selain di sini. Kayak ini tuh minuman khas yang mereka ciptain khusus buat pelanggan mereka gitu," ujar Dea sambil menuangkan minuman bening itu ke dalam gelas milik Silva.


Setelah itu ia pun melakukan hal yang sama pada gelasnya. "Nih, ayo cheers!"


Tring!


Suara gelas mereka beradu sebelum keduanya meminum cairan bening di dalamnya. Dea nampak menikmati minuman itu. Berbeda dengan Silva yang mengerutkan keningnya dalam. Ia tidak terbiasa dengan sensasi yang ditimbulkan setelah cairan itu turun ke kerongkongannya.


"Kok rasanya begini?" tanya Silva setelah menelannya setengah gelas.


Dea terkekeh geli. "Iya, emang begitu rasanya, Va. Tapi, setelah minum ini, lo pasti bakal ketagihan. Liat aja, bentar lagi, lo pasti minum lagi," jawabnya lalu kembali meneguk cairan itu hingga habis.


Silva hanya diam tak merespon apapun. Ia merasa kerongkongannya seperti terbakar namun terasa candu. Benar kata Dea, ia ingin merasakan sensasi itu lagi. Silva pun kembali menenggak minuman itu hingga di gelasnya habis. Lagi-lagi rasa aneh yang ia dapatkan. Silva baru saja akan menghentikan Dea untuk menuang lagi minuman itu, namun Dea sudah menuangnya dan memaksa Silva untuk minum lagi.


Hingga tanpa Silva sadari, ia dan Dea sudah menghabiskan hampir satu botol. Perlahan, penglihatan Silva memburam dan kepalanya terasa pening. Tubuhnya terasa panas terbakar dan kerongkongannya terasa sangat kering. Ia butuh air!


"Air... Aku mau minum, De-huk!" racau Silva disertai cegukan lalu menopang kepalanya dengan satu tangan tertumpu di meja.


Dea mengunggingkan senyum miring tanpa Silva sadari. "Baru setengah botol aja udah mab*k? Payah!"


Ia tak menghiraukan Silva yang terus meracau. Ia hanya menyaksikannya sambil menikmati minuman di tangannya.


Setelah bergumam seperti itu, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya. Tak lama kemudian, seorang pria dewasa datang dan menatap lapar pada Silva yang sudah kehilangan setengah kesadarannya.


"Ini ceweknya?" tanya pria itu.


"Ya, dia ceweknya. Sekarang, lo bebas mau ngelakuin apa sama dia. Tapi inget, jangan sampe pagi! Gue kasih waktu sampe tengah malam."


"Siap, Bos! Gue bawa, ya!" Pria itu menggendong Silva di pundaknya lalu berlalu meninggalkan tempat itu masuk ke dalam lift dan menuju lantai atas.


"Sebentar lagi, lo bakal jadi cewek yang paling dibenci Faris!"


... Bersambung......


Silva mau dibawa ke mana itu hei!! penasaran gak? tunggu lanjutannya di part selanjutnya yaaaa!! harus tunggu pokoknya!


luv yu all❤️♥️❣️🧡💛💙🖤💘💝💓💕💌💟💜💚💗💖


salam


Didilove 💖