
Lama menunggu, Silva terlihat bosan. Kakinya tak bisa diam menendang-nendang kerikil di tanah. Arkan gemas melihatnya. Yah, tahu kan dia bucin? Arkan menyadari bahwa Silva sedang bosan. Ia lantas berdehem untuk menarik perhatian Silva.
Berhasil. Silva sudah menatapnya seakan bertanya.
"Udah berapa lama kita nunggu?" tanyanya membuat Silva melirik jam tangan.
"Umm... dua jam lebih sedikit."
Arkan mengangguk. "Lo masih mau nunggu dia satu jam lagi, kan?"
Silva mengangguk sebagai jawaban.
"Mau lanjutin acara lo dulu, gak?"
"Maksudnya?"
"Kalian ke sini mau liburan, kan? Sekarang, dari pada bosen mending gue temenin keliling. Supaya liburan lo ke sini gak sia-sia. Nanti kalo Faris udah datang, pasti ngehubungin lo kan?" jelas Arkan.
Silva berdengung tanda sedang berpikir. "Oke deh, lo temenin gue ya? Gak enak banget gue keliling sendiri."
"Siap! Yuk!" Saking senangnya, Arkan refleks meraih tangan Silva dan menggenggamnya lalu dibawa berlari.
Lantas Silva menghentikan larinya. Membuat Arkan pun berhenti.
"Kenapa berhenti?"
Silva gugup. Antara malu dan tidak enak, ia menatap tangan mereka yang saling bertaut. Arkan juga ikut menatapnya dan segera ia lepas setelah sadar dengan apa yang ia lakukan.
"S-sorry, refleks tadi."
"I-iya, gak apa-apa. Ayo, lanjut lagi!"
Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Mini Zoo. Di sana terdapat beberapa jenis binatang. Diantaranya rusa, kelinci, kucing, anjing, hamster, dan beberapa hewan lain yang berbulu lembut.
"Ih rusa! Lucu banget!" Silva membelai lembut punggung rusa tersebut dengan senyum merekah.
Tiba-tiba sebuah wortel tersodor di hadapannya. Saat menaikkan tatapan, ternyata Arkan yang memberinya beberapa wortel.
"Makasih," ucap Silva mengambil satu wortel untuk diberikan pada rusa-rusa itu. "Ih, lucu banget!"
Arkan tersenyum melihat Silva sangat senang dengan para rusa itu. Hatinya berandai jika saja saat ini status mereka adalah sepasang kekasih, pasti ia akan jauh lebih bahagia.
"Arkan?" Panggilan Silva membuat Arkan mengerjap dan tersadar dari lamunannya.
"Ya?"
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Silva yang terlihat menahan senyumnya.
"Euh... Enggak," gumam Arkan mengusap tengkuknya salah tingkah.
Merasa lucu dengan tingkah Arkan, Silva terkekeh geli. "Ya udah, kita liat binatang yang lain, yuk!"
Arkan hanya mengangguk sebagai jawaban lalu mengikuti Silva yang sudah berjalan di depan.
"Kelinci!" seru Silva lalu menghampiri kandang kelinci yang luasnya seperti kandang rusa tadi.
Arkan mengikuti Silva yang memasuki pagar. Gadis itu berjongkok dan mengangkat seekor kelinci berbulu seputih salju ke gendongannya. Silva juga menatap gemas pada kedua mata kelinci itu yang berwarna hitam namun bening.
"Pantes kamu suka banget sama wortel."
"Hah?" Arkan membeo menatap Silva bertanya. Tapi Silva tidak menatapnya melainkan menatap kelinci di gendongannya. Arkan mengerutkan kening heran. Apa Silva berbicara pada kelinci?
"Oke, sekarang kamu makan wortel yang banyak, ya, Bunny!" seru Silva menurunkan si kelinci lalu terdiam seakan teringat sesuatu.
Tak lama ia menghela napas pelan. "Tuhkan, aku jadi inget Faris. Dia pacarku, mirip kamu loh!" Setelahnya Silva terkikik geli.
Sedang asyik memperhatikan tingkah lucu Silva yang berbicara dengan kelinci, raut Arkan seketika berubah datar saat mendengar nama Faris terselip di kalimat Silva. Ia memutar mata jengah dan beralih menghampiri kelinci lain yang berbulu putih dengan corak hitam. Kelinci itu sedang asyik memakan wortel yang ada di rumput. Arkan perlahan berjongkok di depan si kelinci. Saat satu tangannya terulur hendak mengusap bulu-bulu yang nampak lembut itu, si kelinci terkejut dan seketika berlari menjauh.
Namun, fokusnya teralihkan saat mendengar tawa renyah nan merdu di sampingnya. Saat menoleh, ternyata itu Silva yang menertawakannya. Gadis itu sudah menggendong kelinci putih lagi.
"Harusnya jangan dulu disentuh kelincinya. Biar dia tenang dulu, biar dia kenalan dulu sama kamu. Nih, coba kamu gendong si putih ini!" ujar Silva menyerahkan kelinci putih pada Arkan.
Dengan ragu Arkan menerima si kelinci gemuk itu beralih ke gendongannya. Rasanya nyaman, hangat dan lembut. Seperti sedang memeluk boneka. Tangan kanannya bergerak mengelus punggung si kelinci dengan lembut. Seulas senyum tipis terbit di bibirnya.
"Bulunya lembut, ya?" tanya Silva yang ikut mengelus bulu si kelinci.
Hal itu membuat Arkan menatapnya. Silva ada di dekatnya, dengan jarak sedekat ini. Jantungnya tentu saja berdetak tak karuan. Ternyata gadis itu lebih cantik jika dilihat dari jarak sedekat ini. Lalu, bagaimana jika lebih dekat lagi? Oh, tidak bisa, Tuan Arkan! Arkan sadar, ia masih bukan siapa-siapa bagi Silva. Jika ia nekat melakukannya, pasti malah akan membuat gadis itu tidak nyaman berada di dekatnya. Ya, dari jarak ini saja sudah cukup.
Namun, tiba-tiba tubuh Silva tertarik ke belakang. Betapa terkejut keduanya saat mendapati Faris berdiri di samping Silva. Ternyata lelaki itu yang menarik Silva. Tapi itu terlalu kasar, pikir Arkan.
"Jangan kasar--"
"Dia cewek gue! Lo gak usah ikut campur!" tekan Faris menatap nyalang Arkan.
Arkan terkekeh sinis. Ia menurunkan kelinci di gendongannya lalu kembali berdiri tegak dan menatap Faris tidak kalah tajam.
"Gue tau dia cewek lo. Tapi lo gak berhak nyakitin dia cuma karena dia cewek lo. Dia juga manusia, perlakukan dia dengan baik!"
"Gak perlu lo ajarin, gue udah ngerti! Gue lebih berpengalaman dari pada lo," sindir Faris dengan seringai di akhir.
Mendengus kasar, Arkan terkekeh sinis namun wajahnya masih terlihat tenang. "Berpengalaman soal apa? Soal nyakitin cewek?"
Bugh!
Faris tidak berpikir dua kali. Ia melayangkan tinjunya pada wajah Arkan.
Silva menutup mulutnya karena terkejut. Kenapa harus dibumbui perkelahian, pikir Silva.
Arkan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Kebiasaan lo masih belum hilang, ternyata. Gimana lo mau ngelindungin cewek, kalo lo sendiri aja masih belum bisa ngontrol emosi?"
Bugh!
"Faris!" pekiknya saat Faris kembali melayangkan tinjunya tepat ke hidung Arkan.
"Gue bisa ngontrol emosi selain ke orang yang ganggu milik gue!" tekan Faris menatap tajam Arkan yang mengusap darah di hidungnya.
"Bahkan sahabat lo sendiri."
"Ralat, lo bukan sahabat gue lagi."
Silva terkejut dan tak menyangka dengan yang ia dengar. Faris mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh ia katakan. Kenapa hanya karena dirinya, mereka bertengkar sehebat ini, pikir Silva. Ia pusing sekarang.
Di tempatnya, Arkan mengepalkan kedua tangannya kuat. Rahangnya mengeras dan tatapannya semakin tajam. Ia sedang menahan emosi mendengar kalimat Faris yang menyakitkan sekaligus merendahkan dirinya.
"Sekali lagi gue liat lo deketin cewek gue, abis lo!" ancam Faris lalu menarik tangan Silva meninggalkan Arkan.
Pandangan Arkan mengikuti punggung mereka. Ia tidak menyangka Faris akan melakukan ini. Hanya karena seorang gadis, ia sampai menyakiti sahabatnya sendiri. Padahal ia pernah bilang pada Faris bahwa ia tidak akan merebut Silva darinya.
"Ternyata, pengorbanan gue selama ini gak ada artinya ya, buat lo, Ris?"
Ya, Arkan selama ini selalu mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan sahabat dan gadis yang dicintainya. Ia rela menahan segala keinginannya merebut Silva dan rela hatinya tersakiti setiap melihat keromantisan mereka, hanya demi keduanya bahagia. Arkan bahkan rela memendam semuanya demi persahabatan mereka tetap terjalin. Tapi apa balasan Faris?
"Kalo itu yang lo mau, oke. Gue juga bakal ngelakuin yang gue mau."
...Bersambung......
Astagaaa gimana ini?? Ayo doakan yang terbaik buat mereka😭 Segitu dulu, yaw, papai👋
Luv yu all🧡💛💚💙💜🖤♥️💘💝💓💕💌💟❣️💗💖
Salam
Didilove💖