Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 53. Kini Berbeda



Bersandar di sofa ruang tv, Silva sedang mengemili mi rebus yang dihancurkan tapi tidak dimasak. Saking inginnya ngemil, tapi di rumah tidak ada camilan apapun. Jadi, ya sudahlah. Gunakan saja caranya ketika masih kecil dulu. Rasanya enak-enak saja, kok. Hanya sedikit asin kalo mi nya sudah akan habis.


Tidak tahu mau melakukan apa. Silva bosan sekali di dalam rumah. Ia sendirian di apartemen Arkan, tanpa teman, tanpa ponsel, tanpa camilan. Hanya ada tv dan novel yang bisa jadi teman untuk berhibur. Tapi lama-lama bosan juga.


Biar Silva ceritakan kegiatannya dari pagi sampai sekarang. Pagi-pagi bangun, sarapan bersama Arkan. Setelah Arkan berangkat, ia menonton tv sampai jam 10. Karena bosan, jadi ia memutuskan untuk membaca novel. Hampir semua novel di sana sudah ia baca, sisanya buku-buku ilmiah dan akuntansi. Ia sama sekali tidak minat karena sekarang ia tidak mungkin sekolah lagi.


Ngomong-ngomong soal sekolah, seharusnya sekarang ia sedang bersiap pulang, tinggal menunggu bel berbunyi saja. Pasti sekarang teman-teman kelasnya sedang gaduh karena jam pelajaran terakhir biasanya tidak sampai bel pulang berbunyi. Kira-kira 15 menit lagi berbunyi, guru mata pelajaran terakhir menyudahi pelajaran. Itu dikarenakan agar para siswa bisa membersihkan kelas dulu sebelum pulang.


Tapi sekarang, ia tidak sekolah. Entah bagaimana jadinya masa depannya. Mungkinkah ia harus jadi ibu rumah tangga saja? Di usia yang masih belum cukup dewasa ini, ia merasa belum pantas dan belum mampu menjadi seorang ibu. Ketika bayinya lahir, akankah ia bisa berperan sebagai ibu yang baik nanti. Bisakah ia?


Saat Silva asyik merenung, bel berbunyi berkali-kali. Silva terpelonjak dan segera menuju pintu. Ia melihat dulu intercom agar tahu siapa tamu yang datang.


"Mama! Tante Lisa?"


Saat melihat mama dan sahabatnya yang datang, Silva segera membukakan pintu.


Bruk!


Tanpa aba-aba lagi, Silva memeluk tubuh Laras dengan erat. Ia tidak sempat berpikir bagaimana jika mamanya marah padanya atau kecewa padanya. Ia terlalu rindu. Tidak bisa menahannya lagi karena sudah terlalu lama. Didekapnya erat tubuh sang mama. Menyalurkan rasa rindu yang terlalu besar bahkan sudah tak bisa lagi dibendung. Silva sampai menitikan air mata.


Saat merasakan bahunya basah, Laras segera melepaskan pelukan mereka dengan lembut.


"Sayang, kamu kenapa nangis? Hei! Jangan nangis, masa ketemu Bunda malah nangis? Emang kamu gak kangen sama Bunda?" tanya Laras sambil mengusap rambut Silva dengan sayang.


Silva menghapus air matanya. "Justru aku kangen banget sama Bunda, makanya sampe nangis begini. Aku kangeeeeeen banget sama Bunda." Silva kembali memeluk Laras.


Sementara Lisa hanya tersenyum haru melihat interaksi ibu dan anak itu. Namun, dibalik itu rasa malu dan bersalah bercokol di hatinya. Ia tahu ini semua karena putranya. Ya, memang belum terbukti bersalah, tapi keluarga Silva, mereka masih menganggap bahwa Arkan lah pelakunya. Orang yang harus bertanggung jawab atas kemalangan yang menimpa putri tunggal mereka. Hatinya serasa teriris melihat Silva yang tidak bisa didampingi sang bunda saat melewati masa-masa sulit seperti ini.


Apalagi saat ia mendengar bahwa ayah Silva mengusirnya dari rumah saat mengetahui kehamilannya. Silva dipercayakan sepenuhnya kepada tanggung jawab Arkan. Tak terbayang sesakit apa hati Silva. Sudahlah hal paling berharga dirinya terenggut, keluarganya pun mengucilkannya. Beruntung, masih ada Arkan yang dengan senang hati bertanggung jawab dan menanggung semua kebutuhan Silva selama tinggal bersamanya. Semoga saja mereka berdua selalu akur.


"Tante Lisa?"


Lisa tersadar dari lamunannya ketika Silva memanggilnya. Gadis itu sekarang sedang menatapnya dengan senyuman terpatri di bibir meski kedua matanya gak sembab. Segera saja ia tarik tubuh rapuh itu ke dalam dekapannya. Ia ingin menyalurkan rasa sayang dan rasa bersalahnya pada Silva. Seakan ingin mengatakan bahwa ia benar-benar menyesal. Hingga ia menangis membasahi bahu Silva.


"Silva, maafin Tante, ya. Maafin Arkan ya, sayang," lirih Lisa dengan sedikit bergetar.


Silva mengangguk sambil mengusap-usap punggung Lisa agar bisa lebih tenang. Ia merasa hatinya ikut sakit mendengar tangisan mama Arkan ini. Seakan beliau sangat merasa bersalah padanya. Sungguh, sosok ibu yang baik dan lemah lembut hatinya. Jadi, apakah ibu selembut ini bisa mendidik putra sebrengs*k hal yang dilakukan Arkan? Pikir Silva. Tapi dilihat dari cara Arkan memperlakukannya, sepertinya sifat lembutnya menurun dari sang ibu. Buktinya yang ia rasakan sendiri saat ini. Mana tega ia marah pada anak dan ibu yang sangat lembut dan tulus meminta maaf padanya, memperlakukannya bagai barang yang mudah pecah. Hati-hati sekali.


"Udah, Mbak, yuk kita masuk dulu. Ngobrolnya dilanjut di dalam aja sambil duduk," ujar Laras sambil mengusap punggung Lisa yang bergetar.


Sesaat kemudian, Lisa mengangguk dan melepaskan dekapannya. Ia menatap Silva dan Laras bergantian. "Ya udah, yuk masuk!"


Mereka pun masuk dan sekarang berkumpul di dapur--mengelilingi meja makan--dengan banyak sekali makanan yang mereka beli sebelum datang. Melihat itu semua, Silva memancarkan binar bahagia dari kedua matanya.


"Wah... Banyak banget belanjaannya!" seru Silva menatap semua bahan makanan dan camilan itu dengan mata melebar kagum.


Lisa dan Laras terkekeh melihatnya, menggeleng tak habis pikir dengan tingkah polos Silva yang seperti anak kecil.


Silva tersenyum setengah meringis. "Hehe, tau aja di sini gak ada apa-apa selain mi instan."


"Mi instan?" ulang Lisa menatap Silva dengan mata memicing.


"I-iya, Tan. Itu Arkan yang nyetok mi instan sebanyak itu. Dia kan gak bisa masak, jadi ya nyetoknya cuma mi instan," jawab Silva agak meringis karena takut dimarahi.


"Kamu ini!" seru Lisa dengan mata menatap Silva tajam, membuat yang ditatap menelan salivanya susah payah.


"Kenapa lucu banget, sih?! Jadi pengen suruh Arkan cepet-cepet nikahin kamu, deh!" Lisa merangsek mendekat pada Silva dan mencubiti pipinya.


Yang dicubit malah mengerjap pelan kehilangan kata-kata. Laras yang sedang mengatur isi kulkas pun tersenyum sambil menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya.


***


Kriiingg!


Lonceng di atas pintu cafe itu berbunyi, menandakan ada yang baru saja masuk atau keluar. Bunyi itu menarik perhatian hampir semua orang di dalam cafe itu. Termasuk Setya dan Hanum. Sesuai perjanjian mereka dengan Faris, sekarang Faris menyalami kedua orang dewasa itu.


Baru saja duduk, ia sudah dihadiahi tatapan tajam dari kedua orang di hadapannya. Hingga rasanya ia kesulitan untuk bernapas.


"Aduh, bentar dulu ya, Om-om. Saya haus, minum dulu bentar, ya," ujar Faris mengangkat telapak tangan kanannya lalu menyeruput jus jeruk yang dipesankan oleh Setya, tentu saja atas permintaannya.


Karena terlalu lama baginya, Hanum berdecak tak sabaran. "Cepetan dong, minumnya! Kamu pikir saya gak ada kerjaan apa!"


Melihat reaksi Hanum, Faris malah terkekeh. Tak menyangka bahwa ayah Silva yang nampak bijaksana, kini setengah merengek menatap mereka.


"Oke oke, aku bakal ungkapin semuanya," ujar Faris dengan sungguh-sungguh.


"Ya sudah, ayo cepat!" seru Hanum yang melihat Faris bukannya memulai penjelasan, ia malah membersihkan yang seharusnya dibersihkan oleh pelayan di cafe itu.


"Ben--"


"Cepetan jelasin sekarang juga!" tekan Setya dengan kedua mata melotot lebar. Hal itu membuat nyali Faris menciut. Hingga niat mengerjai pun hilang bersama keberaniannya.


Faris berdehem mencoba serius. "Oke, jadi, kita langsung aja ke pelakunya. Sebenarnya, pelakunya adalah..."


Kedua pria dewasa itu menunggu dengan penasaran.


"...Arkan."


'Sorry, Bro.'


... Bersambung... ...