Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 77. Semakin Cinta



Melangkah gontai, Silva menyusuri taman dengan pandangan kosong. Matanya masih senantiasa basah oleh air mata. Ia ingin berhenti menangis, namun tak kuasa. Air matanya selalu luruh ketika mengingat perkataan Arkan tadi. Ia merasa sangat kecewa pada Arkan dan pemikirannya. Apa selama tidak sadar, Arkan bermimpi Silva yang ingin meninggalkannya, hingga saat telah sadar Arkan berpikir seperti itu? Padahal, selama ini ia sudah sangat jujur mengenai perasaannya. Hampir setiap saat mereka bersama, Silva selalu menyatakan perasaannya yang mencintai Arkan, begitu pun lelaki itu. Selalu menunjukkan afeksi yang begitu manis pada Silva. Lalu, dari mana pemikiran itu berasal?


Jika tahu akan begini, lebih baik Silva berontak saja saat diselamatkan Arkan. Biar ia jatuh dari rooftop rumah sakit hingga mati dari pada harus mengalami kejadian sebegini menyakitkan. Bahkan rasanya seakan lebih sakit dari pada saat ia keguguran waktu itu. Apa ia harus mengulangi percobaannya lagi?


"Silva!"


Silva terperanjat saat merasakan pundaknya ditepuk seseorang. Ia menoleh mencari keberadaan orang itu namun tak menemukan siapapun di sampingnya. Silva membalikkan tubuhnya ke belakang dan harus terkejut karena Faris tiba-tiba muncul di hadapannya.


"BA!"


"Faris! Ngagetin aja! Ngapain sih?" seru Silva menekuk kedua alisnya.


"Yah, maaf... Kok ngambek, sih? Kamu lagi ada masalah?" tanya Faris dengan wajah terlihat menyesal.


Tanpa menjawab, Silva menggelengkan kepalanya pelan.


"Sedih ya, Arkan belum sadar? Yang sabar, ya. Pasti bentar lagi Arkan siuman. Dia tuh bucin sama kamu, pasti gak akan tahan lama-lama gak liat kamu," ujar Faris dengan senyum tipis namun tulus.


Silva menatap Faris yang nampak biasa saja mengatakan kalimatnya.


"Kenapa?" tanya Faris melihat reaksi Silva yang menatap wajahnya.


"Kamu... gak papa?" Silva bertanya balik dengan sedikit ragu.


Senyum Faris mengembang seakan mengerti yang dimaksud Silva. "Aku baik, kok."


"Maafin aku, ya. Aku--"


"Ssst... Aku gak papa, kok, Va. Kamu gak boleh nyalahin diri kamu sendiri terus. Kamu bisa liat sendiri keadaan aku gimana. Aku baik-baik aja, bahkan lebih dari baik. Justru aku harus ngucapin terima kasih sama kamu karena kamu udah mau bertahan dan mau mencoba bahagia sama Arkan. Padahal, waktu itu kamu belum tau kan, kalau pelakunya bukan Arkan? Tapi kamu--"


"Apa?" potong Silva membuat Faris seketika diam.


Faris baru menyadari bahwa ternyata Silva memang belum tahu yang sebenarnya atau memang tidak diberitahu? Kalau memang Silva tidak boleh tahu, pasti sebentar lagi Faris akan berada dalam masalah karena memberi tahu Silva sesuatu yang sengaja mereka tutupi. Lalu, bagaimana ini? Batin Faris.


"Euh..." Kedua mata Faris mengerjap cepat berusaha mencari jawaban lain. Namun, Silva mendesaknya agar menjawab dengan jujur.


"Faris!" seru Silva tegas, bahkan mungkin merasa frustasi akan sikap Faris yang seakan berusaha menutupi sesuatu darinya, karena ia hampir menangis. Membuat Faris berhenti mencari alasan, beralih menatap Silva dengan sorot iba.


"Aku tau kamu nutupin sesuatu dari aku. Tolong, sekarang tolong kasih tau aku. Aku berhak tau, kan?" ujar Silva memohon dengan suara lirih.


Tentu saja Faris tidak tega. Akhirnya ia mengangguk pelan. "Iya, kamu berhak tau, karena ini tentang kamu. Ya udah, aku akan cerita. Kita duduk di sana aja, yuk!"


Silva mengangguk lalu mengikuti langkah Faris menuju sebuah kursi panjang yang ada di taman itu tak jauh dari tempat mereka.


Sekarang, mereka telah duduk bersisian. Faris memperhatikan keadaan Silva yang kacau. Selama ia berpacaran dengan gadis itu, Silva tidak pernah sekacau ini. Pasti masalah yang baru saja dialami Silva adalah masalah yang sangat besar. Ia jadi ragu untuk mengatakan yang sejujurnya kepada Silva. Khawatir jika nanti keadaan Silva bertambah parah.


"Faris! Kenapa malah diem aja? Ayo jelasin!"


"Euh... Gimana, ya? Aku takut kamu tambah kacau, Va. Sekarang pun aku liat kamu lagi kacau banget. Kamu mau cerita dulu gak?" tawar Faris menatap Silva prihatin.


"Aku bakal cerita kalau kamu udah kasih tau apa yang selama ini kalian tutupin dari aku. Pasti semuanya udah tau, kan? Karena gak mungkin kalo kamu tau tapi yang lain enggak," jawab Silva nampak tak ingin dibantah.


Faris mengangguk. "Semuanya udah tau, kecuali kamu. Tapi ini permintaan dari Arkan. Asal kamu tau, kita pasti udah ngasih tau kamu kalo Arkan gak ngelarang. Aku juga bingung sama pemikiran dia, tapi setelah tau alasannya, aku ngerti kalo ternyata Arkan tuh sangat mencintai kamu, Va. Dia gak mau kamu kenapa-napa. Dia sampe rela dibenci sama kamu dari pada harus ngeliat kamu ngebenci diri kamu sendiri."


Silva tersenyum miris mendengar penuturan Faris. Arkan sangat mencintainya, katanya. Mungkin itu dulu, sekarang ia tidak bisa yakin karena hal yang baru saja Arkan katakan padanya. Bahkan lelaki itu membiarkannya pergi tanpa susah-susah menahannya untuk sekadar menjelaskan alasan yang lebih masuk akal.


"Va, satu hal inti dari fakta ini yang belum kamu tau. Sebenarnya, Arkan bukan pelaku yang menjebak kamu apalagi sampai ngambil kesucian kamu."


"Ya, yang ngelakuin 'itu' ke kamu malam itu bukan Arkan. Justru Arkan yang selamatin kamu."


Silva menggelengkan kepala dengan kedua mata memejam. "Aku gak ngerti apa maksud kamu. Tapi aku harap ini hal baik. Coba kamu ceritain dari awal."


"Oke, aku akan ceritain tapi kamu harus janji gak akan benci sama Arkan setelah ini. Itu dia lakukan demi kamu. Intinya, Arkan tuh cinta banget sama kamu, Va. Dia sayang banget sama kamu. Oke?"


Silva pun mengangguk yakin dan mulai mendengarkan fakta dan kejadian yang sebenarnya. Yang pasti membuat Silva tercengang, tak menyangka dengan kejadian yang sebenarnya dan hal yang ia alami. Ia tak pernah tahu bahwa sebenarnya janin yang sempat ia kandung itu bukan darah daging Arkan. Ia pun tak pernah diberi tahu bahwa Arkan bukanlah pelakunya, tapi justru sebaliknya. Arkan adalah penyelamatnya.


Lalu untuk apa Faris mengingatkan sebelumnya agar ia tidak membenci Arkan? Bagaimana ia akan membenci lelaki itu, malah ia semakin mencintai Arkan. Namun, sekarang rasa bersalahnya juga besar. Silva sangat ingin kembali ke rumah sakit dan memeluk Arkan sambil menangis. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Arkan saat ia menuduh lelaki itu sebagai pelaku yang sudah merenggut kesuciannya. Pasti sangat sulit karena Faris juga mengatakan bahwa Arkan sangat mencintainya. Bahkan dari dulu sebelum Silva menjalin hubungan dengan Faris. Namun, ia semakin merasa tidak pantas untuk Arkan. Ia sudah terlalu banyak menorehkan luka di hati lelaki itu.


Faris tidak bisa lagi menahan diri untuk memeluk Silva karena tangisan gadis itu benar-benar pecah. Ia dekap tubuh Silva yang bergetar hebat. Pasti sulit untuk menerima semuanya. Diusapnya punggung Silva agar lebih tenang.


"A, a, a-ku gak ta-u..."


"Ssst... Udah, jangan dulu ngomong apa-apa. Kamu nangis aja dulu, keluarin semua tangisannya. Kalo udah tenang, baru kamu boleh ngomong lagi. Sekarang, nangis aja dulu. Boleh kok sambil peluk aku," tawar Faris namun selanjutnya malah memekik sakit karena Silva mencubit pinggangnya.


"Iya, iya, gak usah meluk aku. Biar aku aja yang meluk kamu, ya."


Selama beberapa menit, Silva menangis dalam pelukan Faris. Ia tak memikirkan apapun resikonya, yang ia rasakan adalah dirinya yang membutuhkan pelukan hangat untuk menenangkan dirinya.


Setelah merasa lebih tenang dan bisa menguasai dirinya, Silva menarik diri dari pelukan Faris. Diusapnya air mata di kedua pipi.


"Gimana? Udah lebih baik?" tanya Faris menatap Silva yang menunduk.


Silva mengangguk lalu mengangkat kepalanya. "Makasih ya, Ris. Kalo gak ada kamu, mungkin aku udah bunuh diri lagi."


Seketika tubuh Faris menegang. "Apa? Bunuh diri lagi? Emang kamu pernah bunuh diri? Te-terus, kalo kamu pernah bunuh diri, se-sekarang yang di depan aku siapa dong? Masa hantu?!"


Tak bisa menahan tawanya, Silva tertawa geli. "Bukan, Faris. Aku masih hidup, kok. Maksud aku, kalo gak ada kamu, mungkin aku bakal nyoba bunuh diri lagi."


Faris mengusap dadanya sambil menghela napas lega. "Syukur deh, kirain kamu hantunya Silva. Eh, tapi! Apa kata kamu tadi? Nyoba bunuh diri lagi?! Berarti kamu pernah nyoba buat bunuh diri?!"


Mendengar nada bicara Faris yang menegas, Silva menundukkan kepalanya dalam. Hubungan yang lama dengan Faris, membuatnya cukup tahu bahwa saat ini Faris sedang kecewa padanya.


Dari tempatnya, Silva tahu Faris sedang menggeleng tak habis pikir akan tindakan yang pernah ia lakukan.


"Lain kali, kamu gak boleh ngelakuin itu lagi! Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama kita semua. Sama aku, sama Arkan, sama ayah bunda, sama sahabat-sahabat kamu. Jangan kayak sebatang kara dong, Va. Kamu anggap kita ini apa? Kita semua adalah orang-orang yang sayang sama kamu. Kita gak bakal nolak kok, kalo kamu mau cerita. Justru bakal ngebantu supaya kamu bisa nyelesaiin masalah kamu. Jadi, jangan pernah berpikir bunuh diri lagi! Oke?" tutur Faris menggenggam tangan Silva.


Gadis itu mengangguk pelan tanpa menjawab ataupun menatap Faris.


Sementara Faris tersenyum kecil. Ia sudah yakin bahwa Silva cukup menyesali perbuatannya. Lalu satu tangannya terangkat menepuk-nepuk pelan pucuk kepala Silva.


"Ya udah, ayo aku anterin kamu pulang! Kamu harus dijagain tante Laras supaya gak berbuat yang aneh-aneh lagi," ujar Faris bangkit dari duduknya lalu menjulurkan tangan ke hadapan Silva.


Dengan bibir mengerucut, Silva menerima uluran tangan Faris lalu berdiri. Namun, tak lama ia kembali melepaskan tangan Faris lalu berjalan meninggalkan Faris dengan kedua kaki menghentak ke tanah.


"Sebel sama Faris! Berbuat aneh-aneh apa? Aku gak berbuat yang aneh-aneh, kok!" gerutu Silva yang masih dapat didengar oleh Faris.


Faris menahan tawanya saat melihat tingkah lucu Silva. Itu gadis yang sama dengan yang tadi menangis pecah dalam pelukannya? Kenapa cepat sekali berubah? Tapi, di balik itu Faris yakin bahwa Silva masih rapuh. Bahkan terlalu rapuh untuk mendapat masalah yang lain lagi. Yah, semoga saja setelah ini tak ada lagi masalah-masalah yang datang dan masalah ini cepat selesai.


"Faris, ayo! Katanya mau nganterin aku pulang?! Kok malah bengong sih?"


...Bersambung......