
Selama pelajaran berlangsung, Silva kesulitan memusatkan pikirannya pada guru yang sedang menjelaskan. Dalam pikirannya hanya ada Faris. Ia tidak bisa fokus karena pertengkaran mereka di parkiran pagi tadi. Apa Faris ada di rumahnya saat Arkan berkunjung? Tapi kenapa tidak mengabari dirinya dulu jika akan datang? Kenapa ia bisa tidak menyadari kehadiran Faris? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang memenuhi pikiran Silva bersama kemungkinan-kemungkinan yang lain. Hingga tatapannya kosong, sungguh tidak memperhatikan penjelasan ibu guru di depan kelas.
Dinda yang menyadari tatapan Silva segera menyenggol siku Silva yang tertumpu di atas meja. Setelah Silva menoleh dengan malas, Dinda berbisik.Β
"Jangan ngelamun! Kalo gak bisa fokus, mending izin ke UKS aja. Dari pada dihukum Miss. Hana," saran Dinda yang diangguki Silva.
Mengangguk sekali, Dinda mengangkat tangan kanannya membuat perhatian Miss. Hana terpusat padanya.
"Ya, ada apa, Dinda?" tanya guru muda itu.
"Miss, Silva kurang enak badan. Boleh izin ke UKS?"
Miss. Hana mengalihkan tatapannya ke wajah Silva yang memang terlihat agak pucat. Ia pun mengangguk dan mempersilahkan Silva meninggalkan kelasnya.
"Terima kasih, Miss. Saya permisi," ujar Silva sebelum keluar dari kelas setelah menolak tawaran Dinda untuk mengantarnya.
Langkah Silva gontai melewati koridor dengan tatapan yang tetap hampa. Jujur ia sangat takut jika Faris akan meminta putus dengannya. Faris adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesarnya setelah sahabat dan keluarga. Bahkan mungkin lebih banyak membuatnya tersenyum dari pada keluarganya sendiri. Karena ia anak tunggal dan kedua orang tuanya selalu sibuk. Jadi, saat ini ia benar-benar takut akan kehilangan Faris. Ia takut tak akan bisa bahagia lagi.
Suara gaduh dari tawa dan seruan para murid di dalam kelas menyadarkannya dari lamunan. Saat ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, ternyata ia sudah berada di depan kelas Faris. Memang, jalan ke UKS melewati kelas Faris.
Dari jendela kelas itu, ia dapat melihat Faris yang membaringkan kepalanya di atas meja. Kedua matanya memejam damai. Napasnya teratur pertanda ia benar-benar pulas tertidur.
Silva melihatnya dengan senyum tipis namun sarat akan penyesalan. Baru beberapa jam diacuhkan Faris, dirinya sudah rindu dan sekacau ini. Apalagi jika Faris sungguhan meninggalkannya. Ia tidak bisa membayangkan hal itu. Saat ini ia baru menyadari bahwa ia sudah ketergantungan pada Faris. Ya, memang hampir seluruh kegiatan sehari-harinya dilakukan bersama dan ditemani Faris. Jadi, setelah ini ia harus bagaimana?
Saking tenggelam dengan lamunan, Silva sampai tidak menyadari kehadiran Rafan di hadapannya. Sepertinya lelaki itu ingin tahu apa yang sedang Silva pikirkan hingga terus memandangi wajah Faris dengan sendu di balik jendela.
"Silva!"
Untuk panggilan yang kesekian kalinya, Silva baru tersadar. Ia segera memusatkan perhatiannya pada Rafan setelah sempat beberapa kali mengerjap.
"E-eh? Rafan?"
"Lo kenapa?" tanya Rafan lebih lembut, menatap Silva dengan sendu. Sejujurnya ia tahu pasti Silva begitu karena kejadian tadi. Rafan pun melihat bagaimana pertengkaran ketiga sahabatnya di parkiran yang mendapat banyak perhatian orang-orang.
"Enggak, gue cuma mau ke UKS," jawab Silva dengan senyum kecil yang terlihat dipaksakan.
"Kenapa? Lo sakit?" tanya Rafan lagi dengan raut khawatir.
Silva mengangguk sambil menjawab, "Cuma gak enak badan aja."
Semua orang pun pasti tahu kalau Silva sedang berbohong. Gadis itu sedang menutupi kesedihannya. Rafan tahu yang menyebabkan Silva seperti ini adalah Faris. Memang, lelaki itu keterlaluan kali ini.
"Gue temenin, yuk!" ucap Rafah sambil meraih satu tangan Silva untuk digenggam. Namun, sebelum melangkah, Silva menahannya.
"Gak usah, Fan. Gue bisa sendiri, kok," tolak Silva dengan halus.
Rafan menggeleng tegas. "Gue tau lo lagi kacau. Kebetulan kelas gue lagi kosong, jadi biar gue temenin lo sebelum bel pergantian jam ketiga. Ayo!"
Belum sempat Silva menolak lagi, Rafan sudah menarik tangannya menuju UKS.
***
Silva berbaring di brangkar UKS dengan Rafan yang duduk di brangkar lainnya sambil menatapi punggung bergetar Silva yang menangis memunggunginya. Memang keputusannya sudah tepat. Jika ia tidak memaksa ikut ke UKS, mungkin Silva akan menangis sendirian di sini.
Menghela napas pelan, Rafan turun dari tempat duduknya lalu mendekat pada Silva. Ia usap rambut dan lengan Silva dengan lembut.
Silva sempat terkejut dengan yang dilakukan Rafan. Namun, itu tidak bisa menghentikan tangisannya.
Rafan berdesis berusaha menenangkan Silva. "Jangan berlebihan nangisinnya, Va. Mending lo tidur aja, orang yang lo pikirin juga gak mikirin lo, soalnya dia lagi tidur. Jadi, nanti aja mikirin Farisnya, kalo dia udah bangun dan mikirin lo. Nanti gue kasih tau deh kalo dia mikirin lo. Baru lo boleh mikirin dia. Biar kalian sama-sama mikirin satu sama lain. Kan gak ngenes-ngenes amat, ya gak?"
Tersenyum tipis mendengar candaan Rafan, tanpa sadar Silva menghentikan tangisnya. Rafan perlahan menuntun tubuhnya untuk bangun terduduk. Kedua tangannya memegangi kedua sisi bahu Silva.
Rafan menginstruksi Silva untuk melakukannya sebanyak tiga kali hingga Silva terlihat sedikit lebih tenang. Lalu ia menarik kedua tangannya melepaskan kedua bahu Silva yang sekarang menunduk.
"Ck! Jangan nunduk, dong! Liat gue mau ngomong nih!" pretes Rafan tanpa sadar mengerucutkan bibirnya.
Senyum Silva mengembang meski tipis melihat raut Rafan yang menggemaskan.
"Nah, gitu dong, senyum! Masa gue harus berlagak imut terus sih, supaya lo gak sedih lagi?" Rajuk Rafan masih dengan bibir mengerucut dan kedua pipi mengembung.
Kini, tawa kecil Silva berhasil keluar. Sungguh, pesona wajah Rafan yang sangat menggemaskan itu sangat sulit untuk dilewatkan.
Rafan mencebikkan bibirnya lalu melipat kedua tangannya di dada dengan wajah yang masih dibuat semenggemaskan mungkin. "Afan mau ngambek aja, ah! Ivanya jahat, maca Afan diculuh aegyo telus! Afan kan cowok, udah gede lagi! Malu tau!"
Silva sudah tidak bisa menahan rasa gemasnya. Ia terkekeh geli dan mengulurkan dua tangannya untuk mencubit pipi Rafan dengan gemas.
Dalam hati, Rafan merasa lega karena Silva sudah bisa tertawa lagi. Setidaknya untuk sekarang.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menyaksikan tingkah mereka dari balik jendela. Mereka tidak menyadarinya karena terlalu asik satu sama lain. Orang itu mengeraskan rahangnya dan kedua tangannya mengepal kuat melihat gadis yang masih berstatus kekasihnya itu justru terlihat bahagia bersama sahabatnya.
Dugh!
Dengan sekuat tenaga, Faris meninju dinding di samping jendela. Rafan dan Silva menoleh bersamaan ke arah jendela, namun tidak menemukan siapapun di sana.
"Siapa itu, Fan?"
"Gak tau, orang iseng kali. Udah, gak usah dipikirin! Mending sekarang lo istirahat aja dulu. Masih ada satu jam pelajaran lagi sampe jam pelajaran ketiga. Gue duduk di sini nemenin lo. Nanti kalo udah bel jam ketiga, gue bangunin lo. Kita balik ke kelas, ya!" ujar Rafan sambil duduk di kursi samping brangkar Silva dan mengeluarkan ponselnya.
Silva tidak menjawab, hanya mengangguk pelan.
Rafan melirik raut Silva. "Gak usah terlalu dipikirin lagi, ya! Udah jadi resiko buat siswa kayak kita yang nekat pacaran. Karena ngejalin hubungan sama orang lain tuh gak akan selalu mulus. Hal-hal kayak gini udah biasa terjadi. Mau gak mau, kita harus ngesampingin dulu masalah kita supaya tetep fokus belajar dan gak ngeganggu performa kita dalam belajar. Makanya, ada orang tua yang ngelarang anaknya yang masih sekolah buat pacaran."
Silva mengangguk pelan. Ia mengerti dan sadar sekarang. Seharusnya ia bisa bersikap profesional dan lebih dewasa. Ia mengerti kesalahannya sekarang.
"Ya udah, sekarang lo tidur dulu aja, ya!" ucap Rafan yang diangguki Silva.
Gadis itu merebahkan tubuhnya dan Rafan membantu menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Makasih, Rafan," gumam Silva tersenyum pada Rafan.
Rafan pun membalas senyuman Silva dengan lembut dan mengangguk. "Sama-sama. Sebagai sahabat, gue bakal berusaha memperlakukan lo sebaik mungkin."
"Gue yakin, kalo lo ngelakuin hal yang sama ke cewek lain, pasti dia bakal baper," kekeh Silva membuat Rafan juga ikut terkekeh geli.
"Ya, makanya gue ngelakuin ini gak ke sembarang cewek. Cuma ke sahabat-sahabat gue aja yang udah kebal sama muka-muka ganteng cowok yang udah kayak artis Korea," jawab Rafan yang mengundang tawa mereka berdua.
Tak lama setelahnya, Silva pun tertidur ditemani Rafan yang memainkan ponselnya. Ia mengalihkan tatapannya pada wajah damai Silva. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman manis yang tampak begitu tulus.
"Gue seneng kalo lo baik-baik aja, Va. Karena lo..." bisiknya menggantungkan kalimatnya.
"Sahabat terbaik gue."
...Bersambung......
hadeuh... rasanya kayak ini alurnya lambat banget ya? aku tuh mau mulai bikin konfliknya memuncak, tapi kayak gak tega sama mereka huhuπ gimana dong?? semoga aku bisa lebih profesional ya. segini aja dulu ya, papaiππ»
luv yu allβ€οΈβ₯οΈβ£οΈπ§‘πππ€ππππππππππ
salam
Didiloveπ