
Ruangan milik Setya sedang dipenuhi ketegangan. Sudah berlalu 30 menit sejak dirinya dan Hanum berdiskusi masalah hubungan Arkan dan Silva. Awalnya, semuanya baik meski Hanum mengutarakan pembatalan dengan nada datar dan wajah tidak merasa bersalah. Setya juga masih bisa mengendalikan emosi dengan berusaha menjelaskan kejadian yang sedang terjadi sebenarnya. Barangkali Hanum akan kembali mempertimbangkan dan tidak memutuskan pilihan secara sepihak.
Namun, keras kepalanya Hanum, membuat Setya lama-lama jengkel juga. Ia berdiri menatap sahabat lamanya dengan sorot kesal dan frustasi. Selama puluhan tahun menjadi sahabatnya, dan sempat berpisah beberapa tahun, hingga setahun terakhir mereka bertemu kembali, ia tak pernah semarah ini kepada Hanum.
Sejak dulu ia tahu bahwa Hanum itu keras kepala. Tapi, tak pernah semenyebalkan ini. Kadarnya masih bisa ditolerir dan dimaafkan. Berbeda dengan sekarang, Hanum benar-benar tidak mau mengubah keputusannya. Padahal, itu belum tentu terbaik bagi Silva. Bagaimanapun, gadis itu sedang mengandung dan nampaknya sangat membutuhkan kehadiran Arkan.
"Arkan hilang sudah tiga hari dan kamu masih menyangka bahwa dia mangkir dari perjanjian kalian?" sarkas Setya menatap Hanum tajam.
Namun, yang dilakukan rekan bisnisnya itu hanya mengangkat bahu acuh. Membuat Setya ingin sekali lepas kendali dan menghajarnya.
"Di mana otak kamu, Hanum?! Jika hanya untuk menghindari ujian darimu, untuk apa dia menghilang dan meninggalkan Silva? Gadis yang dia cintai! Itu jelas merugikan dirinya sendiri! Bahkan polisi saja kesulitan menemukan Arkan! Kemungkinan Arkan baik-baik saja itu hanya sedikit!" sembur Setya dengan wajah merah padam.
Hanum mengangkat satu sudut bibirnya. "Bisa aja kan, kalau sebenarnya dia gak pernah cinta sama Silva dan menggunakan kejadian ini untuk melarikan diri menemui gadis lain yang benar-benar dicintainya?"
Setya melebarkan mulutnya dengan kening mengerut dalam, menatap Hanum tak percaya dengan teori tak berdasarnya.
"Arkan hanya mencintai Silva! Aku tau itu!" tekan Setya seakan segala kemarahannya terkumpul di puncak kepala.
Mendengus, Hanum masih menganggap Setya hanya membual. "Tau dari mana kamu kalau Arkan hanya mencintai Silva?" Pertanyaan mematikan yang membuat Setya diam tak berkutik.
Melihat keterdiaman Setya, Hanum berdecih. "Gak bisa jawab, kan? Makanya, jangan menyimpulkan sesuatu hanya dengan satu faktor saja!"
"Dan itu juga berlaku buat kamu! Jangan suka membuat keputusan hanya sepihak! Kamu itu sedang berurusan dengan orang tua yang anaknya akan menikahi anakmu, bukannya sedang memilih-milih hewan untuk dijadikan peliharaan! Kenapa kekanakkan sekali, sih?!"
Hanum menghela napas saat melihat Setya masih belum reda emosinya. Ia masih kukuh pada keputusannya.
"Intinya, apapun yang terjadi ke depannya, pernikahan ini akan tetap batal."
"Gak bisa begitulah, Han--"
"Ayolah, Setya. Kamu jangan hanya memikirkan anakmu saja, tapi pikirkan juga keadaan anakku jika status mereka masih calon pasangan tapi Arkan masih belum ditemukan. Silva pasti merasa sangat terpukul."
Setya mengerutkan kening bingung. "Maksudnya?"
"Kita batalkan saja dulu rencana pernikahan mereka sementara Arkan masih dalam pencarian. Jika nanti Arkan sudah ditemukan, baru kita mulai menyusun kembali rencana yang sempat tertunda. Atau jika kemungkinan terburuk terjadi, Silva tidak akan merasa terlalu sedih. Karena Arkan bukan lagi calon suaminya," jelas Hanum yang masih dipertanyakan oleh Setya.
Menghela napas kasar, Setya menggeleng pelan. Tidak mengerti dengan jalan pikir Hanum. Itu akan sama saja jika Silva mencintai Arkan. Ada atau tidaknya status 'calon pasangan' diantara keduanya, tidak akan mengurangi kesedihan Silva jika gadis itu mencintai Arkan.
"Aku gak tau letak perbedaannya dimana, tapi aku merasa lebih lega karena kamu tidak betulan membatalkan pernikahan mereka."
"Betulan, kok."
"Ah, sudahlah. Aku pusing bedebat denganmu. Sekarang lebih baik kamu kembali ke kantormu, sana! Terserah padamu mau membatalkan rencana pernikahan mereka atau tidak. Sudah, sana pergi! Hus hus!" Setya mendudukkan dirinya bersandar di kursi kerjanya dan mengibaskan tangan ke arah pintu.
Namun, saat Hanum hendak bangkit dari duduknya, ketukan di pintu ruangan Setya terdengar ribut.
Setya segera beranjak diikuti Hanum. Ia segera membuka pintu dan nampaklah sopir pribadi Hanum berdiri di depan pintu dengan raut panik.
"Ada apa, Mang? Kenapa ke sini? Harusnya Mamang di rumah, ngejagain Silva dan anter-anter dia kalau mau ke suatu tempat," tanya Hanum dengan kening mengerut samar.
"I, itu, Pak. Non Silva tiba-tiba pingsan," jawab sang sopir membuat kedua mata Hanum melebar.
"Di rumah sakit, Pak."
"Kita segera ke sana!" Tanpa berpikir dua kali, Hanum segera melenggang meninggalkan Setya yang masih berdiri di ambang pintu dengan kening berkerut. Lalu mengusap wajahnya kasar.
"Sekarang apa lagi? Sudah kubilang mereka saling mencintai. Dasar kepala batu!" gerutu Setya mengumpati Hanum dengan segala kekeraskepalaannya.
***
Kini Silva sudah berada di salah satu bilik kamar di rumah sakit yang pernah ia masuki. Kembali terbaring lemah di atas brangkar dengan satu tangan tertusuk jarum infus. Ia menatap kosong pada jendela. Bahkan sang bunda yang duduk di sisinya tidak dihiraukan.
Laras tidak mau mengganggu waktu sang anak. Ia tahu perasaan Silva pasti sedang sangat khawatir dan takut akan keselamatan Arkan. Tapi ia juga sadar bahwa Silva tidak boleh terlalu larut dalam kegelisahannya. Karena di dalam perut anaknya sudah ada calon cucunya. Namun, Laras tidak sanggup mengutarakan kata-kata penenang. Bahkan hanya sekadar membuka suara saja, ia tidak kuasa. Karena sedikit saja mulutnya terbuka, sebuah isakan akan lolos dari bibirnya. Semenjak tadi, Laras sedang menahan tangisnya.
Hingga tubuhnya tidak lagi bisa ditahan untuk memeluk tubuh Silva saat ia melihat satu bulir air menerobos sebelah mata sang anak. Laras mendekap erat tubuh Silva, mencoba menyalurkan rasa hangat dan nyaman berada dalam rengkuhannya.
"Bunda... Arkan mau ninggalin aku, Bunda. Orang itu jahat--" lirih Silva terputus karena isak tangis menguasainya.
Dalam pelukannya, Laras menggeleng. "Enggak, Sayang. Arkan pasti akan kembali. Dia itu lelaki yang kuat, pasti bisa melawan rasa sakitnya. Kamu harus yakin kalau Arkan pasti akan baik-baik saja," ucap Laras meski ia sendiripun sangsi dengan perkatannya.
Pintu terbuka menampilkan sosok Hanum yang lalu menghampiri anak dan istrinya yang sedang berpelukan. Ia masuk dan ikut mendekap kedua tubuh wanita kesayangannya.
Merasa ada tangan yang mendekap mereka, Laras menoleh dan mendapati wajah sang suami yang menatap putrinya sendu. Perlahan Laras mendekatkan bibirnya pada telinga Hanum.
"Nanti aku ceritain di luar apa penyebabnya," bisik Laras yang diangguki Hanum.
Keduanya kemudian sibuk menenangkan Silva yang masih dikuasai segala kekhawatiran.
***
Tiga sahabat Arkan dan tiga sahabat Silva bergegas memasuki halaman rumah sakit. Mereka mendapat kabar bahwa Silva pingsan saat jam pelajaran terakhir. Selepas pulang sekolah, mereka langsung menuju rumah sakit bersama-sama.
Saat akan menaiki lift menuju lantai dimana Silva dirawat, tiba-tiba Rafan menarik tangan Faris dan Kevin hingga mereka tidak jadi masuk lift.
"Kalian kenapa berhenti?! Ayo masuk!" seru Raini yang sudah berada di dalam lift dan terpaksa menahan pintu lift dengan ujung sepatunya.
"Kalian duluan aja, kita ada urusan dulu sebentar, nanti kita nyusul!" jawab Rafan dengan kepala memutar seakan memperhatikan objek yang bergerak menjauh.
Raini mendengus dan membiarkan pintu lift tertutup, meninggalkan mereka di lantai dasar.
"Kenapa sih, Fan?" tanya Faris mengerutkan kening.
"Tadi gue liat bang Regan naik tangga darurat," jawab Rafan menolehkan kembali kepalanya ke arah tangga darurat yang berada di sudut lantai itu.
Ketiganya saling tatap sebelum sama-sama mengangguk.
"Ayo!"
Mereka berlari menuju tangga darurat untuk mengikuti langkah Regan.
... Bersambung......