Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 44. Calon Besan



"Lihat, Hanum! Mereka sudah semakin dekat. Arkan juga membuktikan kalau dia bisa bertanggung jawab pada putrimu. Ya, walaupun aku juga sedikit prihatin karena anakku bekerja jadi pelayan di cafe orang lain. Padahal dia bisa aja ngurus cafe-cafeku, bahkan perusahaanku. Tapi ya sudahlah, biarkan dulu mereka merasakan pahitnya kehidupan," ujar Setya menunjukkan foto-foto keseharian Arkan dan Silva yang ia dapatkan dari orang kepercayaannya.


Hanum menghela napasnya. Nampak lelah sekaligus lega di raut wajahnya. "Yah, setidaknya anakku sudah lebih baik."


"Pastinya! Itu tandanya mereka memang sudah ditakdirkan berjodoh."


"Kelihatannya kau sangat menyukai putriku, ya Setya? Buktinya kau senang sekali saat mereka semakin dekat."


Setya mengangguk yakin dan tersenyum tulus. Berbeda dengan mimiknya yang beberapa saat lalu nampak tengil sekali. "Ya, jujur aku sangat ingin anakmu menjadi mantuku. Dia luar biasa, Num. Silva itu bisa jadi sosok istri sekaligus ibu yang baik, kuat, dan bisa diandalkan nantinya. Sekarang saja sudah terbukti kalau dia adalah gadis yang kuat."


Mendengar pujian yang keluar dengan lancarnya dari mulut Setya serta ketulusan yang dipancarkan dari kedua netranya, Hanum merasa hatinya tersentuh. Ia yang sempat sedikit kecewa kepada putrinya, seolah menguap sudah rasa kecewanya. Berarti ia tidak salah dalam mendidik anak.


"Terima kasih, Setya."


Setya mengangguk lalu menepuk pundak Hanum. "Sama-sama, calon besan, ha ha ha ha...."


Hanum hanya menanggapi candaan receh Setya dengan memutar bola matanya malas. Rekan kerja sekaligus teman lamanya ini sangat jauh berbeda sikapnya saat berhadapan dengan anak-anaknya dan teman-temannya. Setya yang penuh wibawa saat berhadapan dengan anak dan para karyawan, akan menghilang jika sudah berkumpul dengan para sahabatnya. Berganti dengan kebobrokan yang bisa membuat semuanya geleng-geleng kepala.


"Tapi, Num. Apa kau tidak penasaran dengan pelaku di balik semua ini?" tanya Setya menatap Hanum tajam.


"Tentu saja, penasaran. Aku kira Arkan yang melakukan semua ini, tapi kalau begini caranya memperlakukan Silva, aku agaknya sedikit ragu. Apa kita selidiki saja?"


"Ya, aku akan meminta orangku untuk beralih memecahkan kasus ini."


"Ya sudah, kalau begitu biar suruhanku yang mengawasi mereka."


"Tidak, tidak! Jangan, Num. Mengawasi mereka sudah cukup kurasa. Mereka juga butuh privasi. Kita juga sudah tau kan, mereka baik-baik saja. Jadi, tidak perlu lagi mendapat pengawasan ketat," tolak Setya mengibaskan kedua tangannya.


"Tapi aku bisa khawatir, Setya! Mereka masih terlalu muda untuk jauh dari pengawasan kita."


"Percaya padaku, mereka akan baik-baik saja. Sebulan lagi ayo kita temui mereka!" Setya masih pada pendiriannya.


"Kenapa harus sebulan lagi? Itu kelamaan! Besok aku akan temui mereka!"


"Heh! Tidak, tidak! Kau akan merusak rencanaku, bod*h!"


"Masa bodo! Aku bisa mati khawatir kalau sehari saja tidak mendengar kabar anakku."


Setya memutar bola matanya jengah. Dasar ayah possesif, batinnya.


"Ya sudahlah, terserah kau saja!" Setya beralih menelpon orang kepercayaannya untuk menanyakan kabar Arkan dan Silva.


"Halo?"


-"Halo, Bos! Silva masuk rumah sakit!"-


"Apa?!"


-"Silva pingsan dan sekarang sedang dilarikan ke rumah sakit. Arkan sedang bekerja dan di apartemennya ada teman-teman Silva. Mereka yang membawa Silva ke rumah sakit."-


"Kalau begitu, tetap awasi mereka! Update kabar mereka setiap satu jam sekali padaku dan segera kabari aku setiap kali ada kejadian penting."


-"Baik, Bos!"-


Setya memutus sambungan teleponnya.


Wajah panik Setya tentu saja membuat Hanum penasaran. "Ada apa, Setya?"


"Eum... Putrimu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit."


"Apa?! Aku akan ke sana sekarang juga!"


***


Sementara di cafe Regan, Arkan sedang sibuk melayani pelanggan yang semakin sore kian ramai. Namun, saat memasuki dapur untuk mengambil pesanan, ponsel di sakunya bergetar tanda panggilan masuk. Arkan segera pergi ke toilet untuk mengangkat panggilan tersebut.


-"Arkan, Silva masuk rumah sakit. Lo cepetan ke sini, ya!"-


Rasanya Arkan seperti dijatuhkan dari gedung tertinggi. Apalagi saat mendengar suara-suara panik di seberang sana.


"O-oke, gue segera ke sana. Jagain Silva gue ya, Rain!"


-"Pasti. Lo hati-hati di jalan!"-


Setelah menutup panggilan, Arkan segera mencari Regan. Ia hendak meminta izin untuk pulang lebih cepat.


Namun, harapan hanya tinggal harapan. Regan tidak mengizinkannya.


"Jam kerja lo tinggal satu jam lagi, Ar. Tunggu sampai habis dulu, ya. Setelah itu, lo bisa langsung pulang. Soalnya cafe juga lagi rame banget," jawab Regan yang membuat bahu Arkan merosot lesu. Dengan sangat berat, ia mengangguk. Mau bagaimanapun, di sini bosnya adalah Regan. Jadi, ia tidak bisa seenaknya.


Regan yang melihat Arkan seketika lesu, menepuk pundaknya. "Cuma tinggal satu jam, Bro. Ayo cepet diselesaikan, abis ini lo bisa langsung jengukin adek lo."


Ya, Arkan berbohong pada Regan tentang alasannya. Karena, ingat kan, ia belum siap menceritakan kisahnya kepada Regan. Jadi, ia belum bisa jujur pada bosnya itu.


Arkan mengangguk dan Regan berlalu meninggalkan Arkan yang mengembuskan napasnya lesu.


"Tunggu satu jam lagi ya, Va. Gue bakal ke sana dan temuin lo. Semoga Silva gak parah sakitnya, ya Tuhan..."


***


Di depan ruang UGD, semua orang sudah menunggu dengan cemas. Hingga seorang dokter yang ditunggu-tunggu pun keluar.


Mereka semua berdiri dan menghampiri sang dokter.


"Gimana keadaan adik saya, Dok?" tanya Rafan yang malah mengundang kerutan di kening si dokter.


"Kamu kakaknya? Saya kira kamu adiknya," duga Dokter malah balik bertanya.


Sementara yang lain menahan tawa mengetahui keheranan dokter.


"Makanya, punya badan tuh jangan mungil begitu, Fan. Dikira masih SMP kan lo!" ejek Kevin mengundang kekehan mereka semua termasuk dokter.


Rafan berdecak malas. "Terus aja ejek gue. Gue tuh masih dalam masa pertumbuhan, ya! Awas aja kalo dua taun lagi tinggi gue ngalahin tinggi lo semua!" ucap Rafan dengan wajah tertekuk. Ia beralih menoleh kepada dokter yang juga menahan tawanya. "Termasuk dokter!"


Dokter setengah baya itu seketika mengangkat kedua alisnya kaget lalu kembali tersenyum. Ia menepuk bahu Rafan dan berbicara, "Iya, kamu masih dalam masa pertumbuhan. Makanya, banyak-banyak mengkonsumsi makanan yang berprotein tinggi dan sering olahraga, ya."


Mendengar penuturan dokter, senyuman sedikit mengubah raut wajah kesalnya. "Makasih, Dok. Jadi, gimana keadaan Silva? Baik-baik aja, kan?"


Sang dokter mengangguk. "Ya, pasien baik-baik saja. Hanya..."


Mereka semua terdiam menunggu kelanjutan penjelasan dokter.


"Kamu bisa ikut ke ruangan saya?" tanya dokter pada Rafan.


Rafan mengangguk. "Bisa, Dok."


Dokter dan Rafan pun meninggalkan teman-temannya yang semakin dipenuhi tanda tanya.


"Duh, kok jadi tambah tegang gini sih?" keluh Raini berdiri dengan gelisah.


"Iya, gue jadi takut Silva parah sakitnya huhu..." Bening sudah hampir menangis.


"Ssst, jangan ngomong begitu. Mending sekarang kita berdoa aja demi kebaikan Silva," tegur Dinda yang diangguki Kevin.


"Ya, gue yakin Silva pasti baik-baik aja."


...Bersambung......


Masih belum terjawab juga ya, Silva kenapa😅 tapi yg jelas bukan sakit yg parah kok