Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 14. Dua Bocil Bar-bar



Sesuai janji yang mereka sepakati beberapa hari sebelumnya, hari Minggu ini Silva akan pergi berlibur bersama kedua orang tuanya. Pagi-pagi saat baru bangun tidur, Silva turun ke lantai dasar untuk minum. Di dapur, sudah ada Bi Lela yang sedang menyiapkan sarapan. Dalam keadaan sadar sepenuhnya, mungkin Silva akan bertanya dengan yang dilakukan asisten rumah tangganya itu karena tidak seperti biasanya sudah selesai memasak sepagi ini. Si bibi pun tidak sempat menyapa, ia justru terkekeh melihat anak tunggal majikannya itu dengan wajah bantal dan mata setengah terbuka, berjalan lunglai menuju kulkas.


Dengan wajah bantal karena baru bangun tidur, Silva membuka kulkas dan mengambil air dingin. Namun, baru saja pintu kulkas terbuka, ia sudah gemetar kedinginan.


"Ih... Dingin!" pekik Silva memeluk tubuhnya lalu menutup kembali pintu kulkas. Kedua mata yang tadinya masih setengah terbuka, seketika terbuka lebar karena hawa dingin yang tiba-tiba menyerbu.


"Lupa aku, ini masih pagi, kenapa aku buka pintu kulkas?" gumamnya menepuk kening. "Mending aku bikin teh manis hangat aja, deh," putusnya berjalan mendekati pantry untuk menyeduh teh manis hangat.


"Loh, Bibi? Kok udah siap aja sarapannya? Gak kepagian?" tanya Silva sembari berjalan menuju dispenser untuk mengisi cangkirnya dengan air panas.


"Iya, Non. Katanya nyonya dan tuan mau pergi pagi-pagi, jadi bibi disuruh masak sarapan dari subuh," jawab Bi Lela sambil menyusun beberapa piring di atas meja makan.


Mengerutkan kening, Silva berpikir kedua orang tuanya akan pergi kemana. Sesaat setelahnya, kerutan di dahi semakin dalam. Masa cuma liburan ke tempat wisata yang masih ada di dalam kota harus pergi sepagi ini? Matahari saja belum terbit, pikir Silva.


"Kemana, Bi?"


"Bibi juga gak tau, Non. Kata nyonya sih keluar kota, Non," jawab Bi Lela, "kalo gitu Bibi pamit ke tempat cuci dulu ya, Non. Mau nyuci baju."


"Oke."


Mendengar jawaban singkat dari Silva, Bi Lela segera berlalu meninggalkan dapur menuju ruang khusus untuk mencuci yang bersebelahan dengan kamar mandi.


Sambil memikirkan kemana sebenarnya orang tuanya akan pergi, Silva duduk di ruang tengah yang menyatu dengan dapur. Di genggamannya ada secangkir teh yang secara berkala disesapnya. Ia mendesah lega saat hangatnya cairan teh memasuki kerongkongan. Baru saja tangan kanannya akan meraih remot di atas meja, perhatiannya teralih pada sang ayah dan bunda yang berjalan tergesa dengan setelan yang begitu rapi. Berjalan menuju meja makan.


"Ayah? Bunda? Mau kemana? Katanya mau jalan-jalan?" Silva segera bangkit dan menyusul kedua orang tuanya ke meja makan. Mereka sudah duduk dan bersiap sarapan. Silva berdiri diantara mereka. Memberikan keduanya tatapan dan pertanyaan menuntut.


Laras melirik sang suami dengan wajah sedikit mencurigakan. Seakan dari tatapan itu ia mengajak Hanum berdiskusi. Lantas Hanum membalas dengan mengedikkan bola matanya ke arah Silva. Seakan mempersilahkan istrinya untuk menjelaskan kepada anak tunggal mereka itu. Yang sudah dapat dipastikan akan merajuk setelah mendengar jawaban bundanya.


Laras menghela napas pasrah lalu bangkit. Kedua tangannya menyentuh kedua sisi bahu Silva dari samping dan belakang, lantas diusapnya pelan.


"Sayang, kita pengen banget liburan sama-sama. Kita tuh semalam juga udah ngerncanain tempat-tempat mana aja yang akan kita kunjungi." Laras memberi jeda membuat Silva meliriknya karena merasa ada yang sedikit mencurigakan. Perasaannya mulai tidak enak.


"Tapi--"


"Aah, tuhkan! Bunda pasti mau bilang kalo liburannya gak jadi. Iya kan?" potong Silva dengan wajah tertekuk.


"Eum... Dengerin Bunda dulu. Jadi, semalam klien ayah--"


Silva berdecak keras yang membuat Laras menghentikan penjelasannya. "Klien lagi, klien lagi yang kalian utamain! Tinggalin aku aja terus!" keluh Silva lalu berlari menaiki tangga tanpa memedulikan panggilan kedua orang tuanya.


"Gimana ini, Yah?" risau Laras menatap Hanum khawatir.


Menghela napas, Hanum menggeleng. "Udah gak papa. Biarin aja dia nenangin diri dulu. Silva cuma terbawa emosi karena ego yang belum stabil. Nanti juga balik lagi moodnya," jawab Hanum menuntun Laras duduk dan mengelus bahunya.


"Apa aku telfon Faris aja, ya? Biar bisa nemenin Silva jalan," usul Laras yang membuat Hanum tersedak nasi goreng.


"Ih, Ayah gimana sih? Masa cuma makan nasi goreng aja sampe keselek? Kaya anak kecil aja deh!" gerutu Laras sembari menyodorkan segelas air putih pada Hanum.


Setelah Hanum menerima air itu lalu meminumnya, Laras bangkit dan berjalan menjauhi meja makan menuju jendela. "Udah, aku mau hubungin Faris dulu."


Karena masih sulit bicara, Hanum hanya bisa memandang punggung istrinya dengan tatapan tajam. Ingin melarang, tapi yang keluar malah batuk yang menyakitkan tenggorokannya. Jadi, ia hanya pasrah dengan keputusan istrinya. Biarlah Faris menghabiskan waktu bersama putrinya hari ini. Hitung-hitung sebagai momen terakhir sebelum hubungan mereka berakhir.


***


Minggu pagi seperti ini, biasa Arkan habiskan untuk bersantai setelah berolahraga. Untung, sang papa masih memiliki hati nurani untuk tidak memaksa dirinya belajar di hari Minggu, kecuali Minggu malam. Karena Minggu malam berarti ia harus mempersiapkan diri menyambut hari Senin yang tidak boleh mengecewakan. Itu adalah salah satu prinsip Setya yang diterapkan pada anak sulungnya. Tentu saja Arkan menuruti meski dalam keadaan setengah pasrah.


Kini, ia baru selesai mandi sehabis olahraga. Arkan yang masih mengenakan bathrobe berbaring di sofa ruang tamu dengan satu tangannya menjadi bantalan kepala. Saat matanya sudah terpejam dan sebentar lagi ia akan memasuki alam bawah sadar, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi berkali-kali seperti ditekan dengan brutal. Tentu saja itu mengganggu ketenangan Arkan. Terpaksa, ia bangkit menghampiri pintu dengan wajah tertekuk. Bersiap membunuh orang tidak mengerti etika bertamu di balik pintu dengan tatapan tajamnya.


Saat pintu terbuka, ekspresi kaget dua orang bocah SMP yang menyambutnya pertama kali. Wajah-wajah polos itu sangat kontras dengan kelakuan bar-bar mereka jika sudah disatukan.


Berbeda dengan ekspresi wajah Arkan yang sama sekali tidak menunjukkan emosi. "Ngapain pagi-pagi udah gangguin orang?" tanya Arkan dingin.


Salah satu gadis yang berwajah mirip dengan Arkan mengerucutkan bibir. "Gangguin abang sendiri emang gak boleh?"


Ya, dua gadis itu adalah Nesya--adik Arkan dan Reva--adik Rafan. Mereka sengaja datang ke apartemen Arkan pagi-pagi untuk mengganggu, oh kalau kata Nesya untuk mengisi weekend Arkan supaya lebih berwarna.


"Ya enggaklah! Yang namanya mengganggu itu termasuk perbuatan yang melanggar hak asasi manusia. Dilakukan kepada siapapun, ya jelas gak bolehlah," jelas Arkan dengan bersedekap dada.


Menghela napas lelah, Nesya menatap datar sang kakak. "Mulai lagi deh, mode profesornya on," cibir Nesya memutar bola mata jengah.


Arkan mengalihkan tatapannya pada Reva yang belum mengatakan apapun selain menyapanya tadi. Lantas ia memperhatikan penampilan kedua gadis itu dari atas hingga bawah.


"Jangan bilang kalo kalian mau Kakak jadi supir kalian weekend-an lagi," tebak Arkan menunjuk keduanya was-was.


Sialnya, kedua gadis itu malah tersenyum lebar. Pertanda tebakannya benar dan ia harus rela hari Minggu yang seharusnya tenang dan damai berubah menjadi kacau dan penuh umpatan dalam hati karena harus mengasuh dua anak bar-bar ini. Memejamkan mata, Arkan bersiap menutup pintu.


"Gak mau! Minta Rafan aja sana!"


"Gak!" Keduanya dengan sigap menahan pintu itu agar tidak tertutup.


Terjadilah adegan dorong-mendorong pintu apartemen. Hingga Nesya menjadikan kakinya yang terbalut snikers sebagai pengganjal agar pintu itu tak bisa tertutup. Namun, yang terjadi adalah Nesya yang memekik kesakitan karena kakinya terjepit pintu.


Arkan yang panik segera membuka pintu lebar-lebar dan menggendong Nesya lalu didudukkan ke sofa diikuti Reva dari belakang yang tidak lupa menutup pintu. Setelah duduk, Arkan berlutut di depan Nesya. Dubukanya snikers yang masih terpasang di kaki mungil itu. Tanpa mengetahui dua gadis di depannya saling mengedipkan mata dan melempar isyarat yang menunjukkan keberhasilan misi rahasia.


"Masih sakit, gak?" tanya Arkan setelah mengurut sebentar kaki Nesya.


Nesya mencoba menggerakkan kakinya memutar lalu berdiri dan berjalan. "Udah gak sesakit tadi, tapi masih bisa dipake jalan, kok."


"Ck, minta Rafan aja yang temenin, sana! Kakak lagi males pergi kemana-mana," jawab Arkan acuh sambil kembali berbaring di sofa yang tadi menjadi tempat berbaringnya.


"Nanti kalo kaki Eca sakit lagi gimana?" Itu Reva yang bertanya, bukan Nesya.


"Ya minta dia gendong lah!"


"Abang gue kan kecil, Kak! Lo mah ngelunjak, Kak!"


"Ebuset mulut lo, bocil! Mau gue sentil, hah!"


"Makanya ayo, lo aja yang temenin kita!"


Bukannya menurut, Arkan malah kembali berbaring dan semakin menyamankan posisi berbaringnya.


"Ih, Kak Arkan! Ayo bangun!" pekik keduanya menarik kedua tangan Arkan untuk bangun.


"Ya udah, iya, iya! Ayo gue temenin!"


Pada akhirnya Arkan hanya bisa pasrah menuruti keinginan kedua bocil itu. Menolak pun tidak akan bisa. Mereka pasti akan terus mengganggu dan memaksa Arkan untuk menuruti keinginan mereka.


"Huft... Weekend gue pasti ancur gegara dua bocil itu!" gerundel Arkan sembari melangkah malas menuju kamar untuk mengganti baju.


Meninggalkan dua gadis yang terkikik geli lalu bertos ria merayakan kemenangan mereka.


...Bersambung......


hai readers kesayanganπŸ‘‹ apa kabar guys? semoga baik-baik aja ya. buat yg lagi gak baik-baik aja don't give up! semua masalah pasti ada jalan keluarnya. yang paling penting, jaga kesehatan selalu yaπŸ€—


luv yu allβ€οΈπŸ§‘πŸ’›πŸ’šπŸ’™πŸ’œπŸ–€β™₯οΈπŸ’˜πŸ’πŸ’–πŸ’—πŸ’“πŸ’žπŸ’•πŸ’ŒπŸ’Ÿβ£οΈ