Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 20. Cemburu



Faris menarik tangan Silva hingga ke parkiran. Tanpa mempedulikan ringisan dan permohonan gadis itu yang meminta tangannya dilepaskan. Ia kesakitan, genggaman Faris terlalu kuat.


"Faris, sakit..." cicit Silva dengan nada bergetar.


Mendengar nada bicara Silva, Faris berhenti namun tidak menoleh. Ia menghela napas lalu berbalik. Genggaman tangannya tidak ia lepaskan namun sedikit dilonggarkan.


"Aku udah bilang kan, aku sebentar aja perginya. Kamu gak mau nunggu aku? Kenapa kamu gak nurut sama aku? Malah jalan sama si brengsek itu?!" tuntut Faris dengan nada agak tinggi.


"Aku udah nunggu kamu dua jam. Aku bosen, makanya keliling dulu, kebetulan Arkan mau nemenin. Gak enak kalo keliling sendirian," jawab Silva dengan berusaha tenang.


"Jadi, bagi kamu lebih enak selingkuhin aku, gitu?"


"Gak gitu, Ris."


"Terus gimana?" tuntut Faris, "apa susahnya sih, tunggu aku dulu? Kamu gak akan mati karena bosen. Kamu juga gak bakal diculik karena keliling tempat ini sendirian. Kenapa harus sama dia?!" Faris berkata dengan menggebu-gebu. Kedua matanya memerah menahan amarah.


"Astaga, Faris. Aku cuma ditemenin sama Arkan, bukan selingkuh sama dia. Kenapa kamu harus semarah ini, sih?" sahut Silva frustasi.


"Karena dia suka sama kamu, Silva! Arkan cinta sama kamu dan berniat ngerebut kamu dari aku! Gimana aku gak marah? Aku takut kehilangan kamu, aku gak siap kalo kamu ninggalin aku," ungkap Faris dengan nada merendah di akhir kalimatnya.


Sempat tercenung sejenak kala mendengar perkataan Faris bahwa Arkan mencintainya, Silva mendekap tubuh Faris dan menggelengkan kepalanya di dada Faris. Tidak peduli pada orang-orang yang berlalu-lalang dan memperhatikan mereka.


"Enggak, Bunny. Aku gak akan ninggalin kamu. Cowok yang aku cinta cuma kamu. Mau seberapa banyak pun cowok yang suka dan pengenin aku, yang bakal aku pilih cuma kamu. Karena kamu yang aku cinta, cuma kamu yang aku mau. Tolong jangan berpikir kayak gitu lagi. Aku gak akan ninggalin kamu," tutur Silva sambil kedua tangannya masih mendekap Faris.


Perlahan emosi Faris melunak. Kedua tangannya terangkat untuk membalas pelukan Silva. Kedua matanya terpejam dan satu tangannya mengusap-usap rambut Silva. Perlahan, ia longgarkan dekapan mereka agar dirinya bisa menatap wajah Silva. Benar dugaannya bahwa Silva pasti menangis. Kedua mata favoritnya itu kini basah oleh air mata. Dua tangannya terangkat membersihkan wajah gadisnya dari air mata.


"Jangan nangis," bisik Faris lalu mengecup kedua mata Silva. "Maafin aku, gak seharusnya aku ngeraguin kamu. Harusnya aku yakin kalau kamu pasti akan selalu memilih aku. Maaf, ya?"


Silva menggeleng dengan mata terpejam. "Kamu gak salah kok, Bunny. Cemburu itu wajar, itu tandanya kamu cinta dan takut kehilangan aku. Aku malah seneng kamu cemburu. Tapi, lain kali jangan sampai berlebihan kayak tadi, ya. Kita bisa omongin dulu baik-baik."


"Tadi aku kebawa emosi, Honey. Aku tau Arkan suka sama kamu, jadi dia ngedeketin kamu pasti cuma modus!" rengek Faris dengan bibir mengerucut. Lalu mengaduh saat Silva menyentil bibirnya.


"Gak boleh nuduh orang sembarangan! Lagian dia bener-bener cuma nemenin aku doang, kok. Kalo mau modus, mungkin dia udah pegang-pegang aku. Tapi dia enggak kok," sahut Silva yang sukses mendapat satu tamparan pelan di bibirnya.


"Hih, ngomongnya suka asal, deh! Enggaklah, Arkan gak mungkin pegang-pegang cewek sembarangan. Aku tau dia gak mungkin ngelakuin itu."


"Nah, itu tau. Terus kenapa kamu mukulin dia tadi?"


"Ya aku gak mau aja dia ngedeketin kamu lagi. Biar dia kapok dan gak berani deketin kamu lagi."


Silva hanya memutar bola matanya malas.


Karena gemas, Faris terkekeh lalu mengecup sekilas pipi Silva dan segera berlari setelahnya. Berusaha menghindari serangan Silva yang kini mengejar Faris dengan pipi memerah.


"Fariiiiis! Malu tau, banyak yang liatin!"


***


"Woy! Ngapain masih diliatin? Tau bakal nyakitin hati, masih aja diliatin," ujar Rafan berdiri di samping Arkan, menggeleng tak habis pikir.


"Gue selalu pengen tau semua yang berhubungan sama Silva," sahut Arkan memandang jauh dua sejoli yang sedang kejar-kejaran di halaman parkir hingga Faris berhasil menangkap Silva dengan memeluk pinggang gadis itu dengan erat.


Jelas itu membuat hati Arkan seakan tersayat-sayat. Terlihat dari jakunnya yang menelan ludah kasar.


Rafan memutar bola mata jengah. "Huh, dasar bucin!"


"Lo gak tau rasanya, Fan."


"Iya, iya, gue tau gue jomblo, gue gak tau gimana bodohnya kalian para buciners yang masih aja cinta sama orang yang udah bahagia sama orang lain dan pura-pura bahagia saat orang itu bahagia, padahal hatinya sakit, cih! Gak sudi gue jadi salah satu dari kalian!" cerocos Rafan dengan cepat.


"Enak aja, gak bakal, ya!" seru Rafan menatap punggung Arkan kesal.


"Udah, ayo cepet balik! Lo punya tugas negara!" jawab Arkan tanpa menoleh apalagi menghentikan langkahnya.


"Hah? Tugas negara apaan dah?" tanya Rafan saat telah sampai di samping Arkan, mensejajarkan langkah mereka.


"Bantuin gue obatin maha karya si ibukota Prancis," jawab Arkan menunjuk luka-luka di wajahnya.


"Ish, kirain apa. Gak usah diobatin dah, biar jadi koleksi sekaligus bukti pengorbanan lo mencintai pacar orang," ejek Rafan diakhiri kekehan geli.


Arkan tidak menjawab lagi, ia hanya memutar mata jengah lalu merangkul leher Rafan dan mengapitnya kuat diantara lengan dan ketiaknya. Membuat Rafan berteriak ribut meminta dilepaskan.


"Anjir, Arkan! Ketek lu bau!"


***


"Makasih udah ngajak aku jalan-jalan hari ini," ujar Silva menatap Faris dengan senyuman.


Kini keduanya sudah bediri di depan rumah Silva. Baru saja sampai.


Faris mengangguk dan tersenyum. "Sama-sama, Honey. Aku juga makasih ya, kamu udah mau ngabisin waktu sama aku. Maaf karena ada sedikit masalah."


"Iya, gak apa-apa, Bunny. Yang penting kita udah baikan lagi," jawab Silva yang berhasil menerbitkan senyum lega di bibir Faris.


Kemudian Faris meraih tangan Silva dan menciumnya sekilas. "Makasih udah bertahan selama ini sama aku. Semoga kita bisa tetap kayak gini sampai tahun-tahun berikutnya."


Jangan tanya bagaimana keadaan Silva. Kedua pipinya sudah dihiasi semburat merah muda. Pertanda gadis itu sedang tersipu.


Faris yang gemas, mengangkat kedua tangannya lalu mencubit pelan kedua pipi gadisnya.


"Ya udah, sekarang kamu masuk, gih! Mandi terus istirahat," kata Faris sembari menyelipkan rambut Silva ke belakang telinga.


Gadis itu mengangguk. "Kalo gitu aku masuk, ya. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut apalagi ngelamun! Sampe rumah harus kabarin aku!"


Faris terkekeh melihat tingkah Silva yang tidak ada ekspresi seram sama sekali meskipun sedang memperingatinya. Jatuhnya malah menggemaskan.


"Iya, iya, Honey. Kamu sini dulu, deh!"


"Kenapa?" tanya Silva kebingunan di tempat.


Faris menarik tangan Silva hingga wajah gadis itu condong ke arahnya lalu mengecup pipi Silva sekilas. Setelahnya ia menjauhkan kembali wajahnya dan tersenyum lebar tanpa bersalah.


"Hehe, vitamin buat recharge energi. Tuh, sekarang aku semangat lagi!"


Sementara Silva masih membeku dengan wajah perlahan kembali merona.


...Bersambung......


gimana part kali ini? semoga kalian suka. kalau ada saran atau kritik, boleh banget komen yaπŸ˜‰


luv yu allπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


salam


DidiloveπŸ’–