Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 41. Senyum Joker



Arkan berjalan di koridor menuju kelasnya dengan terus tersenyum. Sejak keluar dari apartemennya, senyum Arkan tak mau hilang. Setiap saat, ucapan terima kasih Silva selalu terdengar dan wajah meronanya yang ia yakin disebabkan oleh polahnya yang mengusap kepala gadis itu selalu terbayang. Berputar bagai drama romantis yang ia setel berkali-kali dalam kepalanya. Hanya dalam kepalanya, orang lain tentu saja tidak tahu.


Maka dari itu, hampir setiap orang yang berpapasan dengan Arkan akan mengerutkan kening mereka atau bahkan menatapnya ngeri. Pasalnya, senyum Arkan tak bisa dikatakan tipis. Senyum itu sangat lebar hingga hampir menyerupai milik Joker. Mereka tidak tahu bahwa Arkan sedang bahagia karena hubungannya dengan Silva ada sedikit kemajuan. Meskipun hanya sedikit, setidaknya gadis itu sudah mau menatapnya dan berbicara dengannya, walau hanya satu kata. Tapi, itu berhasil memporak-porandakan hatinya. Itu baru satu kata, apalagi satu kalimat, apalagi satu paragraf! Hei, Arkan sedang bahagia, maklumi saja, okey?


Beberapa menit ia melangkah dengan langkah lebar dan ringan, Arkan sudah sampai di depan kelasnya yang berada di bangunan paling ujung dan berada di lantai ketiga. Hebat, bukan? Biasanya ia perlu menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit. Tapi sekarang, hanya beberapa menit saja. Mungkin efek dari interaksinya dengan Silva berhasil membuatnya sangat bersemangat. Baguslah, ia jadi merasa lebih bergairah hidup dibanding beberapa hari ke belakang. Oh, ralat. Lebih tepatnya beberapa tahun ke belakang. Iya, itu semua karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Heh, mau kemana lu, bocah?"


Suara songong itu membuat langkah Arkan terhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Di sana, di ambang pintu kelasnya Kevin sedang bersandar dengan melipat kedua tangan di depan dada.


"Ke kelas lah!" jawab Arkan dengan yakin.


"Kelewat, b*go!"


Kening Arkan seketika mengerut bingung. "Kelewat gimana sih? Kelas gue kan IPA 1?"


Kevin terlihat menghela napas jengah. "Makanya, kelas lo udah kelewat, ganteng!"


"Enggak ah, itu buktinya lo berdiri di kelas lo, IPS 2, berarti kelas gue masih di depan," jawab Arkan menunjuk ke depan.


Kevin menepuk keningnya frustasi. "Makanya, kalo punya kemampuan membaca tuh dipake! Otak pinter kalo gak dipake membeku ntar. Noh, liat! Bisa baca gak lo?"


Arkan mengikuti telunjuk Kevin yang mengarah ke atas. Seketika itu, Arkan menepuk keningnya. "Kok lo bisa ada di kelas IPA 2 sih?"


Senyum lebar hadir tanpa bisa dicegah oleh Kevin. "Nunggu ayang gue dong! Emangnya lo, gak punya ayang?" jawab Kevin lalu menjulurkan lidah.


Memutar bola matanya malas, Arkan lupa jika Somi berada di kelas ini. "Hilih! Sombong lu, ayang dapet ngaku-ngaku doang juga. Sadar, Vin. Somi udah nolak lo ribuan kali, dimana harga diri lo sebagai cowok?"


"Bentar bentar!" Kevin mengangkat satu telapak tangannya ke hadapan Arkan. "Sejak bolos sekolah seminggu, kok Arkan berubah jadi Rafan? Kok cerewet banget sih lo hari ini? Pasti kemaren main ke rumah Rafan, ya? Disuguhin apa lo sama dia? Gua curiga lo salah makan, deh."


Tiba-tiba tatapan Arkan berubah tajam. Raut yang tadinya kebingungan dengan sedikit ramah, menjadi dingin bagai tak tersentuh. Kevin jadi sedikit menyesal sudah menanyakan pertanyaan tadi. Tanpa berkata apapun lagi, Arkan berbalik hendak ke kelasnya. Namun, tertahan oleh Kevin.


"Pasti, lo ditemenin sama bibi cerewetnya Rafan, ya? Huwaaa ampun, Arkaaaaaan!"


Kevin berlari tanpa aturan meninggalkan koridor kelas IPA padahal Arkan tidak mengejar sama sekali. Hanya menggertak dengan berpura-pura mengejar. Ia menggeleng disertai kekehan kecil. Absurd sekali sahabatnya, pikir Arkan.


Ia melangkah memasuki kelasnya dan membaca ulang materi minggu lalu pelajaran yang akan dipelajari hari ini. Ya, serajin itu loh, Arkan. Makanya, tak heran bila peringkat satu paralel selalu diraih olehnya.


Namun, satu menit sebelum bel berbunyi, Arkan berlari keluar kelas menuju kelas tetangga. Ia lupa menyerahkan surat izin sakit Silva yang ditulisnya sendiri. Arkan mengetuk pintu kelas itu hingga menarik atensi beberapa orang yang ada di dalam.


"Permisi!" ucapnya santun.


Seorang siswa menghampirinya.


"Ada apa, Ar?"


Siswa itu mengangguk paham. "Oke, gue sampein nanti."


"Thank you, Bagas. Gue balik ke kelas lagi."


Setelah Bagas mengacungkan jempolnya, Arkan berbalik menuju kelasnya lagi. Tepat setelah sampai di kelas, bel masuk pun berbunyi.


***


Bel istirahat berdering beberapa menit yang lalu. Kini, kantin sudah ramai dengan para siswa-siswi. Termasuk Arkan bersama dua sahabatnya, sudah menempati sebuah meja dengan makan siang masing-masing.


"Ar, lo udah kasih tau mereka?" tanya Rafan menatap Arkan yang sedang mengunyah makanan super pedasnya. 


Mengerutkan kening, Arkan menatap Rafan menandakan bahwa ia tak mengerti dengan pertanyaan Rafan.


"Gue udah tau soal itu dari Faris. Dia misuh-misuh dateng ke rumah gue nyeritain semua masalah kalian. Dan sekarang, gue mohon lo terbuka sama kita semua," jelas Rafan yang mengerti raut bingung Arkan.


Menundukkan kepala, Arkan menaruh sendok dan garpunya di mangkuk yang mi ayamnya masih tersisa setengah. "Tadinya gue mau rahasiain aja dari kalian."


Rafan menggeleng tegas. "Gak bisa. Lo harus ceritain semuanya sama kita."


Kevin yang tidak tahu menahu tentang apa yang keduanya bicarakan, hanya melongo, menatap mereka bergantian dengan mulut penuh sibuk mengunyah nasi goreng porsi besar miliknya.


"Ngomongin apaan sih, kalian?"


"Nanti abis ini gue ceritain di rooftop sekalian sama cewek-cewek. Gue kasih tau mereka dulu. Tapi, jangan jenguk Silva dulu, keadaannya belum stabil," jawab Arkan lalu mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Raini.


Ya, cewek-cewek di sini maksudnya sahabat Silva. Yaitu Raini, Dinda, dan Bening.


Kevin mengedikkan bahunya lalu kembali melanjutkan acara makannya.


"Pelan-pelan napa, Vin! Lo kek orang tersesat di gunung bertahun-tahun gak ketemu makanan tau gak!" gerutu Rafan membuat Kevin mendelik ke arahnya.


"Mati dong, gue!" sembur Kevin hingga beberapa butir nasi dari mulutnya ikut tersembur mengenai wajah Rafan.


"Anjir lu, Vin! Sini lu, biar gue tabok bibir lo!"


Bisa kalian bayangkan sendiri adegan selanjutnya apa. Ya, perkelahian antara Rafan yang kesal bukan main pada Kevin, dan Kevin yang malah tertawa terbahak-bahak meski lehernya dipiting cukup kuat oleh Rafan.


Arkan hanya menghela napas dan melanjutkan makannya sambil menyaksikan aksi keributan mereka. Sudah terlalu biasa mereka bertingkah seperti itu. Bahkan orang-orang di kantin pun merasa sudah sangat terbiasa dengan tingkah kekanakkan dua orang itu. Bahkan ada beberapa yang memotret mereka. Katanya kelakuan mereka lucu seperti anak kecil yang sedang bertengkar. Jadi, sayang untuk dilewatkan. Wajah mereka yang imut juga sangat mendukung momen itu.


...Bersambung......


Udah seribu kata lebih ternyata. Ngomong-ngomong, ini rekor baru! Aku berhasil nulis seribu kata dalam waktu satu jam! Wohoooo Daebak!! Biasanya lebih dari dua jam, baru bisa seribu kata lebih. Makanya like dan favorit-in ya, cerita ini. Biar aku nulisnya makin semangat! Thank you yang udah baca!🤗❤️