Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 7. Sebenarnya, ada apa?



Setelah mengantar Silva ke kelasnya, Faris segera menuju kelas. Namun, di tengah jalan, ia harus rela kupingnya seakan tertusuk oleh pekikan dua sahabatnya.


"FARIIIS! WOY TUNGGUIN OI!"


Ia memutar bola matanya jengah. Tanpa menoleh pun ia tahu bahwa yang memanggilnya adalah Rafan dan Kevin. Memangnya siapa lagi orang- orang yang suka berteriak mengganggu ketenangan orang lain? Hanya Rafan dan Kevin yang bisa.


"Ngapain sih teriak-teriak?! Berisik tau, gak!" sembur Faris saat mereka baru saja sampai di hadapannya.


Ge plak!


"Sakit, woy!" marah Faris memelototi Rafan yang baru saja menggeplak kepala belakangnya.


"Ya lo kenapa ninggalin kita, sih?!" protes Rafan sembari memejamkan kedua matanya erat karena kesal.


Seakan kekesalannya menguap, Faris malah terkekeh melihat ekspresi Rafan yang terlihat menggemaskan. Ia pun mangusak rambut coklat Rafan menyalurkan rasa gemasnya.


"Gue kan udah bilang mau ngejar ayang Silva. Masa kalian ikut-ikutan ngejar juga?" jawab Faris dengan mengerucutkan bibirnya.


Ge plak!


"Geli, anjer! Sok imut, lo!"


"Sakit, t*i!" Faris memgumpat sambil mengangkat tangannya bersiap untuk membalas perbuatan Kevin padanya.


"E-e-ampun ampun!" pekik Kevin merungkut dan berusaha menjauh dari Faris.


Namun, baru saja akan melangkah menjauh, tas yang digendongnya ditahan oleh Faris lalu ditarik mendekat.


"Mau ke mana, hm?" tanya Faris pelan dengan seringainya yang terlihat lebih seram daripada Joker kalau kata Kevin.


Plak!


"Aaww!!"


"Aduh shh ..." ringis Kevin sambil memgusap-usap pant*tnya yang baru saja ditampar Faris.


Sang pelaku malah tersenyum semakin lebar bersama tawa pecah milik Rafan yang puas melihat temannya itu menderita.


"Lo gak adil ah! Kalo Rafan yang mukul, lo malah ketawa. Giliran gue yang mukul, dibales lagi. Pilih kasih, lu!" protes Kevin dengan bibir mengerucut.


"Haha, gue kan imut, ung!" Rafan menambahkan sambil menunjukkan wajah imutnya.


"Idih!" Faris dan Kevin meringis melihatnya. Mereka segera berlari meninggalkan Rafan yang masih belum sadar.


Saat membuka matanya, Rafan melihat Faris dan Kevin sudah berjalan di depan sana.


"Ih kok gue ditinggal, sih?!" pekik Rafan lalu menyusul kedua sahabatnya dengan kaki menghentak-hentak ke lantai menyalurkan rasa kesalnya sambil mengerucutkan bibir menggerutu.


Tak sadar, ia sudah membuat beberapa gadis yang melihat tingkahnya menahan pekikan gemas.


***


Saking tak berwarna hidup Arkan, sikapnya sampai tak berubah sejak pertama kali masuk sekolah. Dingin, bak tak tersentuh. Di kelas, Arkan lenih senang menyendiri di tempat duduknya yang berada di barisan paling belakang. Teman-teman sekelasnya sudah terbiasa dengan sikap Arkan yang dingin. Jadi, mereka tak terlalu mempermasalahkan. Beberapa dari mereka juga tidak segan untuk sedikit bercanda meski mereka tahu hasilnya akan garing. Arkan hanya akan menatap mereka dengan tatapan datar yang seakan mengatakan, "Apa sih?". Makanya, anak laki-laki di kelas itu jarang berinteraksi dengan Arkan, hanya sesekali saja.


Berbeda dengan para gadisnya. Justru di kelas itu para siswinya paling sering membicarakan Arkan dengan segala kemisteriusannya. Tak jarang juga mereka mencoba menarik perhatian Arkan dengan cara memberikan berbagai makanan, minuman, atau barang untuk Arkan. Namun, tentu saja Arkan tak menganggap itu semua serius. Ia hanya akan menerima pemberian itu lalu saat istirahat atau pulang sekolah, akan ia berikan kembali kepada tiga sahabatnya. Ya, kepada Faris, Rafan, dan Kevin. Mereka tentu saja senang sekaligus salut kepada Arkan karena bisa menarik banyak perhatian banyak gadis di kelasnya bahkan di sekolah itu.


Saat mereka bertanding basket pun, yang akan mendapat banyak sorakan semangat adalah Arkan. Padahal, kalau kata Faris, ia juga tidak kalah tampan dengan Arkan. Mungkin, aura Arkan yang begitu kuat yang membuatnya lebih menonjol daripada yang lain.


Seperti saat ini, padahal Arkan hanya diam saja. Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan mata berkaca matanya terfokus pada buku di genggamannya. Namun, tak ada yang berani mendekatinya atau hanya sekadar menyapa. Semuanya seakan kehilangan kemampuan berbicara saat berada di dekatnya. Memang sekuat itu aura yang dimiliki Arkan.


Arkan malah bersyukur, ia jadi tidak perlu terganggu oleh orang-orang berisik yang bisa mengganggu ketenangannya. Tak lama setelah itu, seorang guru memasuki kelasnya dan memulai pelajaran.


***


Di tengah kegiatan belajar mengajar berlangsung, Arkan mengangkat tangan dan meminta izin untuk pergi ke toilet. Pak guru mengizinkan, Arkan pun meninggalkan kelas menuju toilet.


Namun, baru saja sampai di depan toilet pria, langkahnya terhenti saat mendengar suara orang yang sangat familiar di telinganya. Maka, ia merapatkan tubuhnya dengan dinding toilet dan menajamkan pendengarannya untuk dapat mencuri dengar percakapan orang itu yang entah sedang berbicara dengan siapa.


"Udah gue bilang, jangan ganggu gue lagi! Kita udah selesai, udah gak ada hubungan apa-apa lagi! Jadi, lo gak bisa maksa gue buat nerima dia lagi!"


Hening sebentar, sepertinya orang itu sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon, dan sekarang ia sedang mendengar jawaban lawan bicaranya. Arkan masih diam mendengarkan dengan tenang. Sebisa mungkin tidak melewatkan sedikitpun informasi.


"Kalo lo berani ngelakuin itu, gue gak segan-segan buat ngabisin lo, bahkan sampe nyawa lo melayang sekalipun."


Arkan melebarkan kedua matanya mendengar kalimat ancaman barusan. Nampaknya masalah yang dihadapinya ini cukup serius. Dan ancaman orang yang di seberang telepon itu pun tidak main-main.


Berbagai asumsi bermunculan di kepala Arkan. Banyak sekali dugaan yang ia pikirkan. Namun, ia sadar bahwa di dalam sudah tidak ada lagi suara maupun pergerakan. Maka, ia memutuskan untuk segera masuk. Baru saja ia memasuki toilet, Faris keluar dari salah satu bilik toilet dengan wajah datar dan aura dingin. Faris menyadari keberadaan Arkan namun tak mengubah raut wajahnya. Nampaknya mood lelaki itu sedang dalam keadaan yang buruk. Bahkan Faris melewati dirinya begitu saja, tanpa sapaan atau senyuman.


Arkan tidak bisa membiarkan sahabatnya itu pergi begitu saja tanpa memberi tahu apapun padanya. Maka, Arkan menahan lengan Faris yang akan melewatinya.


"Tunggu!"


Faris berhenti namun enggan menatap pada Arkan. Malah dapat Arkan lihat dengan jelas bagaimana rahang itu mengeras dan napas yang ditarik dalam. Jelas Faris sedang tidak baik-baik saja. Pasti ada sesuatu yang buruk terjadi.


"Ada masalah apa?" tanya Arkan lembut.


Namun, tangan Arkan malah dihempas keras. Entah apa yang terjadi pada Faris, biasanya ia tidak akan seperti ini jika sedang ada masalah apapun itu, pasti akan berbagi padanya. Arkan menatap Faris bertanya sekaligus khawatir.


Sementara Faris masih tidak mengubah sorot matanya, tajam dan mengintimidasi. Tapi Arkan masih dapat melihat ada sedikit rasa takut di kedua netra itu.


"Gak usah ikut campur masalah gua dan jangan pernah ganggu Silva! Silva itu milik gua!" tekan Faris dengan kedua mata memerah, nampak menahan amarah yang akan meledak.


Mengerutkan kening, Arkan bingung. Sebenarnya apa yang baru saja terjadi pada Faris?


Belum sempat ia menanggapi, Faris sudah melenggang keluar dari toilet meninggalkan Arkan kebingungan sendiri.


Pasti ada yang gak beres, pikir Arkan.


...Bersambung......