
Faris segera menggelengkan kepalanya. Ia sadar ia tidak boleh melewatkan pengakuan Dea begitu saja. Ia harus bertindak.
"Jadi, lo yang ngelakuin semua itu?" tanya Faris dengan wajah pucat seakan terlalu kaget mendengar pengakuan Dea barusan.
"Iya, gue yang ngelakuin semuanya," jawab Dea masih dengan seringainya.
"Tapi kenapa? Kenapa lo tega ngelakuin itu ke Silva? Lo tau, dia terpuruk sekarang. Arkan bilang Silva sakit setelah kejadian itu. Rafan juga bilang kalo Silva gak berenti nangis dan teriak-teriak kalo dia benci sama Arkan. Lo tau, mereka sahabat baik, De. Sekarang, keadaannya jadi begini, hubungan gue juga jadi berantakan. Lo bener-bener jahat, Dea!"
"Itu semua gue lakuin demi lo, Faris! Lo yang bikin gue begini! Salah lo yang gak mau nerima gue, bahkan ngelirik sedikitpun keberadaan gue, lo gak mau! Jadi gue pilih jalan pintas dengan ngejauhin orang yang menghambat jalan gue, yaitu, Silva. Dengan Silva yang jadi tanggung jawab Arkan, gue bisa deketin lo tanpa penghalang lagi. Jadi, sekarang lebih baik lo nurut kata gue! Karena gue bisa ngelakuin apapun yang gak pernah lo bayangin. Bahkan lebih buruk dari ini."
Tit!
Dea tersentak mendengar bunyi itu apalagi setelah melihat Faris mengeluarkan ponselnya dari balik punggung.
"Tapi sayangnya gue gak sebodoh itu, Dea," sanggah Faris tersenyum miring saat melihat wajah Dea berubah memucat. "Gue bakal jadiin ini barang bukti. So, siap-siap aja ketemu pak polisi, oke?"
Dea merangsek memeluk lutut Faris. "Faris gue mohon jangan! Jangan laporin gue ke polisi, Ris! Gue gak mau bikin mama kecewa. Gu-gue bakal ngelakuin apapun yang lo mau asalkan lo gak ngelaporin gue," resah Dea yang panik memeluk kaki Faris dengan erat.
"Buat apa gue ngasih lo kesempatan? Toh, Silva juga udah gak bakal balik lagi ke gue, dia udah jadi milik Arkan," balas Faris tak mengindahkan permohonan Dea.
"Gue janji gue bakal nurutin semua permintaan lo, gue janji. Tolong, Ris." Dea masih pada posisinya.
Menghela napas dalam, Faris menunduk menatap Dea. Di kepalanya sudah ada permintaan yang tepat agar hidupnya bisa lebih tenang.
"Oke, gue gak bakal laporin lo ke polisi. Asal, lo berhenti ngejar gue!"
Mendengar permintaan Faris, Dea menggeleng keras. "Enggak, gak bisa! Gue gak bisa berhenti ngejar lo! Gue cinta sama lo, Ris! Harus pake cara apa lagi biar lo tau kalo gue cinta sama lo?!"
Faris mengacak rambutnya frustasi. "Harus berapa kali gue bilang! Itu bukan perasaan cinta! Tapi itu obsesi! Lo terobsesi sama gue, Dea! Lo harus sadar, seseorang gak akan mungkin ngebiarin orang yang dia cintai sedih apalagi sakit hati. Bahkan lo rela ngelakuin kejahatan demi gue. Kalo lo emang cinta sama gue, harusnya lo bisa ngerelain gue bahagia sama Silva!"
"Tapi gue terlalu cinta sama lo, Faris! Gue gak rela liat lo bahagia sama Silva!"
"Nah, itu yang dinamain obsesi."
"Gak! Gue gak terobsesi sama lo! Gue cinta sama lo, Faris! Gue tulus mencintai lo! Bukan terobsesi! Gue cinta sama lo! Gue sayang sama lo!" raung Dea melepaskan kaki Faris dan beralih menutup kedua telinganya dengan dua tangan dan menangis histeris.
Faris yang melihatnya menggeleng. "Astaga... Separah apa kejiwaan lo, Dea?"
Faris mendekati Dea dan menggendongnya. Ia berniat akan mengantar Dea pulang lebih dulu. Ia akan menjelaskan kejadiannya kepada keluarga Dea dan menyarankan agar Dea dibawa ke psikiater.
***
Ranjang sempit yang hanya muat untuk satu orang pasien, kini diisi oleh dua orang. Mereka rela tidur berdesakkan asalkan tetap merasakan kehangatan tubuh masing-masing. Salahkan saja Silva yang memaksa Arkan agar tidur bersamanya dan melarang Arkan tidur di sofa. Katanya, badan Arkan akan pegal-pegal kalau tidur di sofa. Lalu, kalau tidur di ranjang tapi desak-desakkan, apa tidak pegal juga, Nona Silva?
"Sempit ya? Aku di sofa aja, ya? Kasian kamunya jadi gak nyaman," ujar Arkan melihat Silva sering bergerak gelisah.
Silva menggeleng dan tanpa sadar melingkarkan tangannya ke sisi ranjang di samping Arkan. Jadi, ia terlihat seperti sedang memeluk Arkan.
"Jangan! Aku nyaman, kok. Pokoknya kamu jangan tidur di sofa, nanti badannya pegel-pegel, terus gak bisa ngerawat aku, gak bisa aku suruh-suruh, gimana?"
Arkan menaikkan kedua alisnya mendengar penuturan Silva. "Jadi, kamu maksa aku tidur di sini supaya kamu bisa nyuruh-nyuruh aku, gitu?"
Tanpa ragu, Silva mengangguk. "Iyalah, apa lagi?" jawab Silva sambil menahan senyumnya.
Silva membulatkan kedua matanya. "T-tapi..."
"Udah, jangan ngomong apa-apa lagi. Aku udah ngantuk, pengen tidur. Kamu juga harus tidur supaya cepet sembuh dan besok boleh pulang. Kan mau dirawat sama aku," potong Arkan sambil menarik kepala Silva agar merebah di dadanya.
Tingkah Arkan benar-benar menyebalkan bagi Silva. Tidak tahu saja bagaimana keadaan jantungnya saat ini. Bahkan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Dengan begitu, Silva memukul punggung Arkan dengan tangannya yang berada di belakang tubuh Arkan. Membuat si empunya meringis sakit.
"Va... Kenapa aku dipukul sih?" tanya Arkan menatap Silva dengan merajuk.
"Kamunya nyebelin! Ini masih jam 8, masa udah mau tidur! Aku belum ngantuk, belum bisa tidur..." rengek Silva dengan bibir mengerucut. Tak tahu saja jika Arkan sedang menahan diri untuk tidak mencium bibir mengerucut itu.
Arkan terkekeh geli melihat wajah merajuk Silva. Ia mengecup pucuk hidung mancung Silva menyalurkan rasa gemasnya. Hal itu berefek langsung pada wajah Silva yang perlahan memerah hingga ke kedua pipinya.
"Cie... Malu, ya?" bisik Arkan menyatukan keningnya dengan kening Silva.
Gadis itu tidak menjawab. Ia menggeleng lalu memeluk Arkan erat. Menyembunyikan wajah meronanya di dada Arkan. "Arkan jangan nakal, dong!" serunya yang teredam dada Arkan.
Lagi-lagi Arkan terkekeh gemas. Ia membalas pelukan Silva dengan tak kalah erat. Sungguh, ia bahagia bisa merasakan momen hangat seperti ini. Ia tidak pernah menyangka bisa merasakan kebersamaan ini dengan Silva, sedikitpun tidak pernah. Memang ia pernah berharap, tapi tidak menyangka jika harapannya akan terwujud. Ya, meskipun harus melalui hari-hari berat dulu.
"Silva, makasih ya," ucap Arkan yang membuat Silva mendongak menatap Arkan bertanya.
"Buat?"
"Buat kamu yang udah mau terima aku dan ngasih aku kesempatan. Aku janji akan terus bahagiain kamu dan gak bakal sedikitpun nyakitin kamu. Mungkin aku gak bisa janji hubungan kita akan indah terus, di awal aja udah banyak banget kejadian buruk. Tapi, aku bisa pastiin kalo aku bakal terus mencintai kamu. Aku gak tau ini masih bisa disebut cinta atau udah obsesi masuknya, tapi aku bener-bener cinta sama kamu, Va. Sampe aku pernah berpikir untuk merebut kamu dari Faris. Sedalam itu perasaanku buat kamu."
Silva menatap Arkan dengan haru. Ia baru menyadari perasaan Arkan yang begitu dalam padanya. Terbukti dari tatapan itu yang begitu tulus tanpa kebohongan yang berarti. Silva tidak bisa berkata-kata, ia hanya menatap mata Arkan dengan berkaca-kaca.
"Sebenarnya aku udah tau, tapi buat mastiin aja, jadi aku mau tanya. Kamu mau kan ngasih aku kesempatan buat jadi yang selalu ada di samping kamu? Aku gak akan minta kamu buru-buru ngebalas perasaanku, cukup kamu ngasih kesempatan aku memperlakukan kamu seperti orang yang aku sayang, terima semua afeksiku, dan gak ngebenci aku lagi. Mau kan?"
Mengerjapkan matanya sekali, meluncurlah air mata Silva. Ia mengangguk yakin mengiyakan pertanyaan Arkan. "Iya, aku mau. Kamu harus bikin aku bisa ngebalas perasaan kamu. Pokoknya kamu harus bikin aku cinta sama kamu, ya."
Arkan lantas memeluk Silva menyalurkan rasa bahagianya. Ia dekap erat tubuh gadis yang dicintainya selama bertahun-tahun itu.
"Iya, aku pasti bisa bikin kamu cinta sama aku, bahkan jadi bucinnya aku," jawab Arkan masih memeluk Silva.
Buk!
Silva memukul punggung Arkan lagi. "Enak aja! Kamu kali yang jadi bucinnya aku!"
"Haha, iya iya, aku emang udah jadi bucinnya kamu dari dulu. Kamunya aja yang gak sadar."
"Ya maaf..."
"Iya, gak papa kok, Sayang. Yang penting sekarang, kamu udah jadi milik aku!" Arkan semakin mengeratkan dekapannya pada Silva.
Keduanya tersenyum bahagia. Saling mendekap menyalurkan kehangatan tubuh masing-masing. Menikmati momen indah yang sedang melingkupi mereka. Entah sampai kapan bisa mereka rasakan, yang jelas saat ini mereka berharap agar saat-saat indah seperti ini bisa selalu mereka rasakan. Mari doakan harapan mereka terwujud.
...Bersambung......
Doain ya semuanya😊