Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 65. Ditelfon Ayah Mertua



Kedua kaki jenjangnya memasuki kamar rawat sang adik. Dapat Regan lihat, Bunga masih terbaring lemah di atas brangkar dan masih setia menutup matanya. Ruangan itu hening, hanya ada suara dari mesin pendeteksi jantung. Bunyinya masih sama seperti kemarin. Teratur namun lebih lambat dari detak jantungnya yang normal.


Kakinya ia bawa mendekati sang adik kesayangan. Ia duduk di kursi samping brangkar lalu menggenggam tangan Bunga yang bebas dari jarum infus. Satu tangan menggenggam tangan Bunga, sementara tangan yang lain mengusap kepalanya lembut.


"Kapan kamu buka mata kamu, Dek? Kakak kangen, jangan biarin kakak sedih dong, Dek. Kamu sendiri kan yang bilang, kalo kamu gak mau liat kakak sedih? Sekarang kakak sedih tau, Dek, liat kamu gak bangun-bangun," ucap Regan menatap sendu wajah damai nan pucat adiknya.


"Kamu gak akan ninggalin kakak kan, Dek?" Kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu gak akan biarin kakak sendirian kan, di dunia ini? Kakak udah gak punya siapapun lagi selain kamu, Dek. Makanya, kamu gak boleh tinggalin kakak. Buka mata, yuk!"


Namun, masih tidak ada pergerakan yang berarti dari Bunga. Kedua mata itu masih setia tertutup. Ia takut, sungguh. Dulu, adiknya pernah seperti ini. Berhari-hari Regan uring-uringan karena adiknya tidak kunjung sadar. Bedanya, waktu itu masih ada orang tua mereka. Ia bisa lebih tenang saat ibunya menenangkan dirinya dan ayahnya yang mengatakan Bunga pasti bisa sembuh lagi.


Sekarang, kedua orang tuanya sudah tiada, sudah menghadap Tuhan dan meninggalkan mereka hanya berdua. Itulah yang menyebabkan Regan sangat menyayangi Bunga, karena hanya Bunga, keluarga yang ia punya. Itu juga penyebab yang membuat Regan sangat membenci para lelaki yang menyakiti Bunga. Adiknya hanya ingin merasakan rasanya dicintai, ia tidak salah. Adiknya pasti tahu bahwa usianya tidak akan lama. Maka, ia ingin memanfaatkan waktu yang tersisa untuk dicintai. Tapi kenapa tidak ada lelaki yang mencintainya dengan tulus. Faris hanya menjadikannya pelampiasan saat putus dengan Silva, dan Arkan justru terang-terangan menolak Bunga karena Silva. Sebenarnya siapa sih, gadis itu? Regan jadi sangat muak mendengar namanya. Secara tidak langsung, gadis itu yang menghalangi kebahagiaan adiknya.


Sorot mata Regan nampak tajam. Ia sangat membenci ketiga orang itu. Karena mereka yang membuat adiknya kembali terbaring seperti ini.


"Tunggu pembalasan gue!"


***


Sudah cukup lama, ketiganya berada di kantin. Hingga bel istirahat berbunyi, disusul para siswa penghuni gedung 3 membludak memenuhi kantin. Di antara lautan siswa-siswi, Arkan dapat melihat Faris berjalan di belakang seorang gadis berjilbab yang berbincang dengan dua siswi yang sepertinya anak IPS juga.


"Itu Faris kan? Dia kok sama cewek sih? Siapa tuh? Si Iva kan? Anak PMR?" tanya Arkan menyipitkan matanya memandang Faris yang sekarang duduk di salah satu meja dan nampak berbincang dengan para gadis itu.


Rafan dan Kevin menoleh ke arah pandang Arkan. Mereka menemukan Faris yang berjalan menuju salah satu stand makanan. Lalu mereka kembali berbalik menghadap Arkan.


"Nah, itu cewek yang berjilbab yang gue maksud tadi," ujar Rafan memberitahu Arkan yang dibalas pandangan yang memperhatikan gadis yang Rafan maksud dengan seksama.


"Eh, iya ya, agak mirip sama Silva. Tapi dia berhijab. Kok bisa mirip begitu, ya?" tanya Kevin yang antusias menatap gadis satu-satunya yang berhijab itu.


Arkan masih diam memperhatikan gadis itu hingga si gadis yang mungkin merasa diperhatikan, menoleh padanya hingga pandangan mereka saling bertubrukan. Namun, tidak lama gadis itu segera mengalihkan pandangannya dengan menunduk. Jika tidak salah tangkap, Arkan melihat raut merasa bersalah dari gadis itu. Seperti itukah caranya wanita berhijab bersikap? Pikir Arkan. Ia bukannya merendahkan, justru ia kagum. Gadis itu sangat menjaga pandangannya. Saat berbicara dengan Faris saja, gadis itu lebih banyak menunduk. Hanya sesekali menatap Faris dengan kesal karena sahabatnya itu menggoda gadis itu.


"Heh! Ngapa lu?" Rafan menepuk punggung tangan Arkan dan berhasil mengembalikan atensi Arkan kepadanya.


"Jangan bilang lo juga suka sama cewek itu." Dugaan Kevin yang langsung dibalas jitakan oleh Arkan.


"Ya enggaklah! Ngaco lu!" sanggah Arkan menolak tuduhan Kevin.


"Tapi sekarang, gue jadi tau. Ternyata cinta Faris besar banget buat Silva. Iya kan?" tanya Arkan kepada Rafan dan Kevin.


Keduanya memberikan tanggapan berbeda. Kevin mengangguk dan Rafan menggeleng. Arkan mengerutkan keningnya pada Rafan.


"Lo salah, Ar. Menurut gue, Faris ngedeketin cewek itu bukan karena dia mirip Silva, tapi karena cewek itu beda dari yang lain. Faris tuh seneng sama cewek yang punya poin 'beda' dari cewek-cewek kebanyakan. Lo masih inget kan, waktu Faris deketin Silva? Padahal banyak cewek yang ngejar-ngejar dia, tapi dia malah pilih Silva yang keliatannya cuek sama cowok. Nah, sikap cewek itu juga sama kayak gitu. Dia bahkan tetang-terangan nolak Faris yang ngedeketin dia. Tapi ya, lo tau sendiri kan gimana sifat Faris?" jelas Rafan.


"Dia malah bakal lebih semangat deketin cewek itu," sambung Kevin yang diangguki Arkan.


"Yah, apapun itu semoga Faris bahagia deh sama cewek pilihannya," harap Arkan yang diaminkan kedua sahabatnya.


***


Ruangan besar itu hanya diisi oleh dirinya selaku pemimpin di perusahaan itu. Kedua mata fokus pada layar monitor di hadapannya hingga ia teringat sesuatu. Beberapa saat ia mengerjakan pekerjaannya hingga selesai. Setelah selesai, ia menggapai ponsel miliknya dan menghubungi rekan bisnis sekaligus sahabat lamanya.


Menunggu beberapa saat, panggilannya terhubung. "Halo, Setya!"


"Halo, Calon besan! Ada apa menelfon?" sapa Setya di seberang sana.


Hanum menggulirkan kedua matanya mendengar kalimat penuh kepercayaan diri dari seseorang yang dihubunginya.


"Kapan anakmu pulang sekolah?" tanya Hanum.


"Suruh dia pulang jam 2 saja! Kalau jam 4, mana bisa dia belajar mengatur perusahaan."


"Ya sudah, kau saja sana yang bilang. Aku ada rapat."


"Heh! Sebentar saja, Setya. Dia kan anakmu, ayolah!"


"Tapi dia juga calon menantumu. Sama saja dia juga anakmu, kan? Aku tutup ya, aku harus rapat sekarang juga."


Tut! Setya menutup sambungannya sepihak.


Hanum hanya bisa menghela napas. Mau tidak mau, ia harus menghubungi Arkan sendiri.


"Halo, Om!" Suara Arkan terdengar setelah Hanum menghubunginya beberapa saat.


"Kamu pulang jam berapa?"


"Jam 2, Om. Kenapa?" jawab Arkan berbalik bertanya.


"Setelah pulang sekolah, kamu ke kantor saya!"


"Tapi kan, Om, saya udah janji mau belajar bisnis sama papa. Kan Om sendiri yang nyuruh?"


"Gak usah ke kantor papamu! Kamu datang saja ke kantor saya, saya ingin tau kemampuanmu dulu dalam dunia bisnis."


"B-baik, Om. Saya akan ke sana," jawab Arkan gugup.


"Jangan gugup! Seorang pemimpin tidak boleh kelihatan gugup, takut, dan lemah! Harus selalu terlihat berani dan percaya diri! Hilangkan kebiasaan takutmu kepada saya! Saya juga manusia, kok."


Tut!


Panggilan diputuskan Hanum sepihak. Hitung-hitung membalas perbuatan Setya padanya tadi.


Sementara Arkan yang masih di kantin bersama Rafan dan Kevin, mengembuskan napasnya.


"Ngapa lu?" tanya Kevin melihat Arkan menghela napas.


"Telfon dari siapa?" tanya Rafan.


"Dari calon ayah mertua," jawab Arkan lesu.


Hal itu mengundang kekehan mengejek dari kedua sahabatnya.


"Ngomong apa dia?" tanya Rafan dengan senyum mengejek.


"Pulang sekolah, langsung ke kantor saya! Jangan gugup! Seorang pemimpin tidak boleh kelihatan gugup! Harus selalu berani dan percaya diri! Hah... Gak bisa bayangin gue setelah nikah sama Silva dan serumah sama Om Hanum. Entah gue masih bisa bernapas lega atau enggak?"


Jelas saja Rafan dan Kevin terbahak melihat tingkah Arkan yang menirukan gaya bicara Hanum.


"Makanya, lo bawa Silva pindah supaya gak serumah sama Om Hanum," saran Kevin.


"Ya itu juga kalo dibolehin, Vin," timpal Rafan mengejek Arkan. Lalu mereka berdua kembali tertawa. Tepatnya menertawakan nasib Arkan.


"Si*lan, lu berdua! Kena karma mampus!" umpat Arkan yang malah membuat keduanya semakin keras tertawa.


... Bersambung......