Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 21. Telur Gulung



"Akh... Ssssh..." Ringisan keluar setiap kali kapas yang berisi alkohol mengenai luka di wajah Arkan.


"Pasti sakit, ya? Aw, akh...ssshh, ih ngeri gue ngobatinnya."


"A--"


"Ngeringis sekali lagi gua gibeng mau?!" kesal Arkan menatap Rafan frustasi.


Sejak awal mengobatinya, Rafan terus-terusan meringis. Padahal yang luka Arkan, yang diobati juga Arkan, dan yang merasakan sakit sudah pasti Arkan. Tapi, kenapa Rafan yang terus menerus meringis? Begitu kira-kira isi pikiran Arkan.


"Yee... Gue tuh kasian liat lo! Dikasianin malah ngelunjak!" Rafan yang tidak terima lantas dengan sengaja menekan kapas agak lebih kuat sampai membuat Arkan meringis kesakitan. "Nah, itu sakit, kan?"


"Ya itu lo teken, bodoh!"


"Ck, makanya lo diem deh!"


"Lo yang dari tadi gak bisa diem!"


Rafan menghela napas lelah, berhenti mengobati Arkan dan menatap datar sahabatnya itu.


"Kalo lo ngomong terus, gimana caranya gue ngobatin luka di bibir lo? Diem dulu kenapa sih?!"


"Ya lo sendiri yang mancing duluan!"


Rafan berdecak. "Iya, iya, gue yang salah. Sekarang diem dulu, ya."


Arkan yang dingin tiba-tiba cerewet seperti ini pasti sedang tidak baik. Maka, Rafan lebih memilih untuk mengalah dari pada perdebatan mereka semakin panjang.


"Nah, selesai!" Rafan segera merapikan peralatan yang ia gunakan ke dalam kotak P3K lalu kembali menyimpannya ke dapur.


"Nih, minum dulu! Lumayan buat nenangin sedikit emosi lo." Kembali dari dapur, Rafan menyodorkan segelas teh hangat untuk Arkan.


"Lo kira gue pangeran kerajaan zaman dulu apa? Dikasih minuman beginian," protes Arkan menunjuk teh hangat dalam cangkir.


Rafan menghela napas lelah. Benar, kan, Arkan akan berubah menjadi cerewet dan menyebalkan saat moodnya buruk.


"Terserah lu aja lah, Jaenudin! Mending sekarang lu pulang sono!"


Arkan mencuramkan alisnya menatap Rafan tajam. "Lo ngusir gue?!"


"Bukan gitu--"


"Ya itu lo nyuruh gue pulang!"


Rafan menghela napas lelah. Mencoba bersabar menghadapi Arkan. "Arkan, sumpah gue capek! Lo kalo ada unek-unek ceritain aja ke gue, jangan kaya gini! Gue bingung harus gimana ngadepinnya!" ungkap Rafan menatap Arkan memelas.


Arkan terdiam lalu menunduk. "Gue mau ngerebut Silva."


Mendengarnya, sontak Rafan membulatkan kedua matanya. "Bercandaan lo gak lucu, sumpah."


"Siapa yang bercanda, sih?" bantah Arkan mengalihkan wajahnya menatap Rafan datar.


"Tapi, itu beresiko, Ar. Lo tau, kan, Faris tuh bucin banget sama Silva. Silva juga keliatannya cinta banget sama Faris. Yakin lo tega?" peringat Rafan berusaha membuka pikiran Arkan yang sepertinya berhasil. Terbukti dari raut sahabatnya itu yang lebih melunak.


"Ya, gue tau itu. Makanya, gue ngasih Faris satu kali kesempatan lagi. Kalo sampe dia nyakitin Silva, bikin Silva sedih, gue gak bakal mikir dua kali lagi buat ngerebut Silva dari dia," jawab Arkan dengan nada yang lebih pelan.


"Dan kalo waktu itu tiba, gue mohon lo gak ngehalangin gue lagi. Lo boleh lepas tangan, gak ngedukung gue lagi. Tapi, gue mohon banget sama lo buat gak ngehalangin gue," lanjutnya menatap Rafan penuh harap.


"Karena gue yakin, saat waktu itu tiba, Silva pasti terpuruk banget. Biar gue yang ngeyakinin dia kalau dunia masih ngizinin dia bahagia."


Rafan menatap wajah Arkan dari samping. Sahabatnya itu menatap lurus meja di hadapannya dengan sorot yang sulit diartikan. Ia bingung harus bagaimana, yang pasti dalam hatinya berharap yang terbaik bagi semua sahabatnya.


***


...Bascet Club'...


Paketu


Besok ada latihan tambahan.


Buat persiapan pertandingan


Rafan


Ay ay kapten!


Kevin


Akhirnya gue punya alasan


buat nambah uang jajan


Thanks tetua


Waketu


Heh!


Ketua bukan tetua


Dion


Wah, kayaknya ada yg pengen


distrap nih


Waketu


Anjir! awas lu Vin


^^^Vin, jangan lupa besok ^^^


^^^traktirannya^^^


Kevin


HAHAHAHAHSHSHS


traktiran apa ar?


^^^Buat ngerayain karna Lo^^^


Rafan


WUAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA


Kevin


Berisik cebol!


Gua sumpel idung Lo ya!


Waketu


Gak nyambung njer!


Kevin


Nyambunglah, kan Rafan


ngomong pake indung


HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA


Rafan


Mampus tuh gua sumpel


mulut Kevin pake botol saos


^^^Kalian lagi barengan?^^^


Rafan


Iya nih, kita lagi jajan telor


gulung depan SD


^^^Ada siapa aja?^^^


Rafan


Ada gue, Kevin, sama ciwi ciwi


Bentar, gue mau ngejar anak


babon dulu


Kalo Lo mau nyusul, ayo cepetan


Mumpung pesenan kita masih


banyak


Arkan meninggalkan ruang obrolan klub basket dan menyimpan ponselnya di nakas. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul lima sore. Sangat pas untuk berjalan-jalan sore sambil jajan telur gulung. Salah satu makanan favorit Arkan dan teman-teman waktu SD. Mungkin hingga sekarang.


Arkan bangkit dari duduknya lalu menyambar jaket dan kunci mobil. Namun, baru satu langkah, ia kembali lagi.


"Masa gue jajan di pinggir jalan bawa mobil? Yang ada entar gue kena tilang karena melanggar larangan parkir. Naik ojek aja deh," gumam Arkan kembali menyimpan kunci mobilnya lalu berjalan keluar.


***


Udara sore hari cukup sejuk. Sangat cocok untuk dinikmati bersama orang-orang terdekat. Sahabat, misalnya.


Di taman dekat SD tempat Rafan, Kevin dan kawan-kawan jajan telur gulung, mereka sekarang sedang duduk melingkar di rerumputan sambil menikmati telur gulung tentu saja. Namun, Rafan baru kembali setelah memberi beberapa pukulan di pantat Kevin.


"Katanya Arkan mau ke sini," terang Rafan dengan terengah lalu menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk di atas rumput.


Tak lama disusul Kevin yang menggeplak kepala belakang Rafan sebelum duduk di sampingnya.


"Bagus, dong! Udah lama kan, Arkan gak gabung kita," sahut Raini dengan mulut penuh telur gulung. Berakhir batuk-batuk karena tersedak.


"Mampus! Makanya kalo mau ngomong tuh telen dulu makanannya! Jorok bat dih!" gerundel Dinda menatap sinis pada Raini.


"Menurut kalian, kenapa ya, Arkan akhir-akhir ini susah buat diajak main?" tanya Bening pada teman-temannya.


"Dia selalu diawasin sama papanya. Makanya gak bisa sembarangan main. Sekarang, dia tinggal di apartemen, jadi bisa sedikit lebih bebas," jawab Rafan setelah membersihkan noda saus di pipinya lalu membalas mencolek pipi Kevin dengan saus. Membuat Raini, Dinda dan Bening menggeleng-geleng tak habis pikir.Β 


Jadi, kenapa ada Raini, Dinda, dan Bening? Sebenarnya mereka teman dekat sejak Faris dan Silva menjalin hubungan. Makanya, pasangan itu pun turut hadir di sana. Lalu, kenapa tidak ikut dalam percakapan? Jawabannya akan sangat membuat kaum jomblo iri. Iya, mereka sedang saling menyuapi telur gulung dan membersihkan noda saos di sudut bibir masing-masing. Mereka sudah terbiasa. Jadi, tidak masalah.


Tak lama kemudian, Arkan datang dengan seplastik besar telur gulung.


"Nih, gue bawain seplastik lagi!" ujar Arkan menaruh makanan berminyak namun sangat digemari itu di tengah-tengah mereka. Yang tentunya disambut sorakan gembira.


Arkan tersenyum hingga matanya menyipit. Namun, senyumnya seketika hilang saat Faris menarik Silva berdiri. Mereka semua yang awalnya sibuk dengan telur gulung, beralih menatap pasangan itu.


"Kalian mau ke mana?" tanya Dinda menatap keduanya.


"Kita duluan deh, udaranya jadi menipis karna terlalu banyak orang. Apalagi dia!" jawab Faris dengan menekan kata dia.


Arkan menatap tajam Faris karena perkataannya. Ingat bukan, mereka sedang bertengkar. Hal itu tidak luput dari perhatian teman-teman mereka yang lain. Oleh sebab itu, suasana jadi terasa canggung dan sedikit menegangkan.


"Eum... Ya udah, kita pamit duluan ya! Gue disuruh pulang sama ayah, mungkin ada hal penting yang mau dibicarain. Maaf ya, Ar, mungkin lain kali kita bisa main bareng lagi. Duluan ya, semuanya!" pamit Silva sebelum ditarik oleh Faris meninggalkan mereka.


Suasana masih hening sampai Kevin memecah keheningan. "Serbuuu!! Gue paling banyak!" serunya merangsek pada bungkusan telur gulung.


"Enak aja, gak bisa gitu dong!" protes Rafan disusul mereka semua merebutkan seplastik makanan favorit mereka.


Perlahan senyum Arkan kembali. Senyum lembut nan tulus yang dapat dihitung dengan jari penyebabnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menghadirkan senyuman itu. Salah satunya para sahabatnya ini. Arkan bersyukur akan hal itu. Namun, ia tidak berharap terlalu muluk untuk menambah lebih banyak penyebab ia tersenyum. Ini saja sudah lebih dari cukup baginya.


...Bersambung......


Yuk berdoa buat Arkan dan Faris supaya cepet baikan. segini aja dulu yaw, semoga suka


luv yu allπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’šπŸ’š


salam


DidiloveπŸ’–