
Saat ini Silva sedang berjalan mondar mandir sambil menggigiti jempolnya gelisah. Ia sedang menunggu jawaban Rafan yang suruh mencari keberadaan Arkan karena sudah dua hari tidak ada kabar. Jelas Silva khawatir. Ia menyadari Arkan tidak ada saat malam itu ayahnya yang baru pulang dari kantor, memasuki kamar Silva dengan wajah kesal. Yang lebih parah dan membuat Silva gelisah sekaligus kecewa pada ayahnya yang memutuskan sepihak mengenai rencana pernikahannya.
Ya, ayahnya membatalkan rencana pernikahan Silva dan Arkan setelah ia bilang bahwa ia telah menunggu Arkan datang ke kantornya hingga malam tiba, namun lelaki itu tidak datang juga. Hanum berpikir bahwa Arkan tidak sungguh-sungguh dengan Silva. Buktinya, baru akan diuji kemampuan berbisnisnya saja, sudah ciut.
Tapi, Silva berpikiran lain. Ia justru khawatir pada Arkan. Meski baru dekat beberapa bulan, tapi ia sudah mengenal Arkan selama dua tahun lebih semenjak berhubungan dengan Faris di tahun pertama sekolahnya di SMA. Ia tahu betul bagaimana sikap Arkan yang bertanggung jawab dan tidak mudah menyerah. Arkan juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan ahli dalam segala bidang termasuk ilmu bisnis. Jadi, tidak mungkin Arkan mangkir dari janji dengan ayahnya tanpa ada alasan.
Saat sedang berpikir, ponsel miliknya berdering. Silva segera meraih ponsel yang disimpan di atas nakas samping tempat tidurnya.
"Halo, Fan? Gimana, udah ada kabar?" tanya Silva to the point' dengan wajah khawatir yang kentara.
"Gue udah ke rumahnya, ternyata Faris gak ada pulang ke sana dua hari ini. Pas Kevin sama Faris cek ke apartemennya juga gak ada. Tapi lo tenang aja, jangan panik dulu. Kita akan coba tanya ke cafenya bang Regan buat nyari petunjuk. Tapi plis, lo jangan terlalu khawatir dan banyak pikiran. Inget, di dalam perut lo ada janin yang harus lo jaga. Oke, tenang dulu, ya. Kita akan berusaha buat nemuin Arkan," jelas Rafan panjang lebar dan tanpa henti menenangkan Silva agar tidak panik.
Sementara Silva shock, rasa khawatir langsung menyergap hati dan pikirannya. Kalau di rumah dan apartemennya tidak ada, lalu di mana Arkan berada?
"Tolong temuin Arkan, Fan..." pinta Silva dengan suara bergetar.
Di seberang sana, Rafan sudah yakin bahwa Silva pasti sedang menahan tangis. Terdengar dari suaranya yang bergetar dan lirih.
"Pasti, gue yakin bisa nemuin Arkan dan lo juga harus yakin kalo Arkan baik-baik aja. Jangan lupa berdoa juga. Inget ya, jangan terlalu khawatir," jawab Rafan yang lagi-lagi mengingatkan Silva.
"Thank's Fan..." ujar Silva lalu menutup sambungan telfonnya.
Jatuhlah bulir-bulir air mata mengalir di kedua pipinya. Sekeras mungkin ia berusaha menenangkan pikirannya, ia tetap khawatir akan keselamatan Arkan. Ia takut jika Arkan sedang dalam bahaya. Ia takut kehilangan Arkan.
"Arkan, kamu di mana?" bisiknya pada udara kosong.
***
Rafan, Faris dan Kevin telah sampai di depan cafe Regan. Rafan dan Faris segera keluar dari mobil Rafan dan Kevin segera turun dari motornya. Mereka bergegas memasuki cafe.
Kedatangan mereka yang tiba-tiba mengundang tatapan bingung dari para pengunjung cafe yang memusatkan perhatian mereka kepada tiga siswa SMA yang memasuki cafe dengan tergesa dan menginterogasi kasir.
Mereka tidak peduli bahwa mereka telah menjadi pusat perhatian, yang penting sekarang adalah mereka bisa bertemu si pemilik cafe untuk mengais informasi tentang Arkan--mantan karyawan di cafe ini.
"Bos baru aja pulang dari sini, Dek. Katanya harus ke rumah sakit, ngejagain adiknya yang lagi koma," jelas mbak kasir menjawab pertanyaan Faris mengenai Regan.
Ketiganya nampak mengerutkan dahi. "Adik? Maksudnya Bunga? Emang dia kenapa?" tanya Rafan menatap bingung si mbak kasir.
"Bunga sejak lima tahun lalu dirawat di luar negeri karena penyakit langka. Beberapa bulan yang lalu pulang karena dirasa udah sembuh. Tapi, seminggu yang lalu dia kambuh lagi."
"Oh, pantes seminggu terakhir kita gak liat Bunga di sekolah," sahut Kevin yang diangguki Rafan dan Faris.
Ketiganya kembali berpikir. Faris yang melihat beberapa orang mengantri di kasir di belakang mereka pun menginterupsi.
"Ya udah, Mbak. Makasih infonya. Maaf mengganggu, kami permisi."
Setelahnya, mereka keluar dari cafe.
"Gimana? Kita mau ke rumah sakit samperin bang Regan?" tanya Rafan setelah mereka berdiri di depan cafe.
"Ya udah, y--"
"Tunggu!"
Sebuah suara menginterupsi langkah mereka dan menoleh ke sumber suara. Seorang pelayan cafe menghampiri mereka.
"Kalian nyari Arkan?" tanya gadis yang sepertinya seumuran dengan mereka.
"Iya, lo tau?" sahut Rafan balik bertanya.
Gadis itu mengangguk. "Gue Rika, rekan kerja Arkan. Dua hari yang lalu, Arkan ke sini dengan wajah panik dan buru-buru. Terus..."
Rika menceritakan percakapannya dengan Arkan hari itu saat Arkan dengan tergesa memasuki dapur dan menanyakan keberadaan Regan dan kejadian apa yang terjadi di cafe. Namun, ia jawab tidak ada kejadian apapun.
"... Setelah itu dia pergi ke rumah Regan karena saya bilang Regan ngehubungin dia buat ngundang Arkan ke rumahnya."
Ketiganya mengerutkan kening bingung. Merasa ada sesuatu yang janggal.
"Terus, apa lagi yang lo tau?" tanya Faris yang dibalas gelengan oleh Rika.
"Gak ada lagi. Gue cuma tau itu aja. Tapi, waktu itu gue denger bos Regan ngomong sama Arkan dengan panik. Tapi, pas gue tanya, dia cuma bilang kalo ada Arkan dateng ke cafe, suruh dia ke rumahnya. Gue gak tau apa yang dia bilang ke Arkan di telfon," jawab Rika membuat kerutan di dahi mereka semakin terlihat.
Ketiganya saling melempar pandang. Lalu Rafan mengangguk.
"Ya udah, makasih infonya. Kita mau lanjut nyari Arkan."
Mendengar itu, Rika melotot terkejut. "Jadi maksud kalian Arkan hilang?"
"Iya, dia udah dua hari gak sekolah, di rumah orang tuanya gak ada, di apartemennya juga gak ada. Makanya kita mau tanya ke bang Regan. Siapa tau dia tau keberadaan Arkan di mana," jelas Rafan membuat Rika semakin shock.
"Ya ampun, kok bisa? Astaga, gue gak tau sama sekali soal itu. Sorry, gue gak bisa ngasih info apapun lagi selain itu," ujar Rika dengan wajah menyesal.
"Gak papa, info dari lo udah cukup ngebantu, kok. Nanti kalo ada info lain, lo bisa hubungin gue, ini nomor hp gue." Rafan menyerahkan kartu namanya kepada Rika. Jangan heran, Rafan juga anak pengusaha kaya. Jadi, ia juga sudah mulai diajarkan tentang perusahaan ayahnya. Ia juga mulai diperkenalkan kepada klien-klien sang ayah. Makanya, ia memiliki stok kartu nama di sakunya.
"Oke, gue akan hubungin lo," jawab Rika menatap kartu nama Rafan.
"Kalo gitu, kami pergi, ya. Makasih bantuannya, Rika."
Mereka pun melenggang meninggalkan cafe melaju dengan kendaraan masing-masing.
Meninggalkan Rika yang memandang kepergian mereka dengan seringai samar dan tatapan tajamnya.
"Semoga cepet ketemu ya, Arkannya."
...Bersambung......