Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 62. Hari Pertama Tanpa Silva



Arkan membuka matanya dan menoleh ke samping. Rasanya malam tadi sepi sekali tanpa kehadiran Silva. Kemarin, setelah mengantarkan Silva pulang ke rumah orang tuanya, Arkan langsung pergi ke cafe untuk mengurus surat pengunduran dirinya dan bekerja untuk yang terakhir kali. Ia bekerja dari pagi sampai malam. Meski Regan dan karyawan yang lain menyarankan agar Arkan pulang saja, tapi ia tidak menurut. Arkan terus bekerja tanpa kenal lelah. Sebenarnya itu adalah upaya dirinya agar tidak teringat kepada Silva. Ia ingin melupakan kesedihannya sejenak dengan cara bekerja.


Ia sudah meminta izin kepada papanya yang mengatakan bahwa ia belajar berbisnis mulai hari Senin dan ia diizinkan untuk bekerja terakhir kalinya di cafe.


Banyak yang menyayangkan dirinya berhenti bekerja. Arkan sengaja tidak memberi tahu semua orang termasuk Regan bahwa ia berhenti karena dipaksa oleh sang papa dan calon ayah mertuanya mulai belajar mengelola perusahaan. Mereka hanya tahu bahwa Arkan adalah seorang remaja yang sebentar lagi lulus sekolah dan sedang memerlukan biaya untuk ujian dan kelulusannya nanti. Karena memang itu yang Arkan katakan setiap ada yang bertanya tentang alasannya mengambil kerja paruh waktu.


Apalagi Regan dan Bunga. Mereka tak henti-hentinya menahan Arkan. Bahkan Bunga rela datang ke cafe jam sebelas malam demi menahan kepergiannya. Gadis itu sampai menangis dan menyatakan perasaannya kepada Arkan. Tapi mau bagaimana lagi, Arkan katakan bahwa ia sudah memiliki calon istri yang dijodohkan oleh orang tua mereka.


Flashback on


Bunga menangis sambil menggenggam tangan Arkan--menahan kepergiannya.


"Kak, aku mohon... Kakak boleh jalanin hubungan Kakak sama cewek itu, tapi tolong jangan berhenti kerja di sini, ya. Aku bakal kesepian kalo gak ada Kak Arkan. Ayolah, Kak. Katanya Kakak lagi butuh uang buat biaya akhir tahun sekolah?"


Arkan melepaskan genggaman tangan Bunga dengan perlahan. Ia tersenyum tipis menanggapi pernyataan perasaan Bunga.


"Terima kasih karena kamu udah mencintai aku. Tapi maaf, aku gak bisa balas perasaan kamu. Seminggu lagi kami akan akan menikah, makanya aku berhenti kerja di sini. Maaf karena udah bohong sama kalian," jawab Arkan menatap Bunga lalu Regan yang berdiri di belakang Bunga--menyaksikan drama mereka.


Bunga nampak kaget dengan pengakuan yang Arkan katakan. "J-jadi, selama ini Kak Arkan bohong soal alasan Kakak kerja untuk biaya sekolah?"


Arkan mengangguk pasti. "Iya, sebenarnya aku gak butuh uang untuk biaya sekolah. Tapi aku butuh uang untuk biaya nikah. Jadi sorry, kalau kamu punya perasaan sama aku. Aku gak tau harus gimana. Yang jelas, aku gak bisa balas perasaan kamu. Sorry."


Perlahan Arkan berbalik dan pergi meninggalkan Bunga yang memecahkan tangisnya dan memanggil-manggil nama Arkan untuk kembali. Bunga juga akan mengejar Arkan, namun ditahan oleh Regan. Lelaki itu memeluk tubuh bergetar Bunga dan mengelus-elus kepalanya--berusaha menenangkan sang adik.


"Udah, jangan ditangisin. Dia gak pantes bikin air mata kamu terbuang sia-sia. Dari pada nangisin Arkan, mending kamu cari lagi yang lain. Masih banyak kok cowok yang lebih baik dari Arkan. Udah ya, jangan nangis terus," ujar Regan dengan lembut.


"T-tapi, a, aku p-pengennya k-kak Arkan, Bang..." sanggah Bunga dengan tersendat-sendat karena tangis yang pecah.


Regan menghela napas kemudian terkejut karena Bunga tiba-tiba pingsan. Tubuh Bunga melemas dalam pelukannya. Regan panik menepuk-nepuk pipi Bunga agar membuka matanya lagi. Namun, Bunga tak kunjung sadar. Akhirnya, ia menggendong Bunga ke mobil. Lalu ia segera melaju ke rumah sakit agar Bunga bisa ditangani oleh tim medis. Regan yakin bahwa Bunga seperti ini pasti disebabkan oleh penyakitnya.


Dalam perjalanan, Regan mengepalkan tangannya, kesal pada Arkan. Ia pun berjanji untuk membalas apa yang telah Arkan lakukan pada adiknya.


Flashback off


Saat ini ia sedang bersiap untuk berangkat sekolah. Setelah mengenakan seragam, ia memasak nasi goreng yang sempat diajarkan Silva cara membuatnya kemarin, sebelum pergi ke rumah orang tua Silva.


Arkan tersenyum di sela-sela kegiatannya memasak saat mengingat bagaimana harunya Silva yang meminta maaf pada kedua orang tuanya. Mereka memaafkan Silva dan kembali menerima Silva di rumah mereka. Begitupun Hanum. Ia jadi yang paling pecah tangisannya karena mengingat kekejamannya mengusir Silva di rumah sakit waktu itu saat mengetahui Silva hamil.


Berkali-kali Hanum meminta maaf sambil memeluk Silva. Nampaknya pria itu amat sangat merasa bersalah pada putrinya. Atau mungkin merasa kesepian karena Silva tidak ada di rumah mereka.


"Huh, dasar ayah bucin!" cibir Arkan pelan saat itu. Ia jengah melihat bagaimana tangisan Hanum saat meminta maaf pada Silva. Seakan sudah kehilangan harga dirinya di depan keluarganya. Tapi Arkan pun salut pada Hanum yang berani mengakui kesalahannya. Calon mertuanya itu tidak malu untuk mengaku salah dan meminta maaf pada anaknya. Ia berjanji untuk meniru sikap baik ayah mertuanya itu. Ah, calon mertua maksudnya, hehe.


Kini, nasi goreng buatannya sudah matang. Arkan menyendok sedikit nasi goreng yang masih berada di penggorengan lalu mencicipinya. Seketika wajahnya berubah menjadi aneh.


"Ih, kok rasanya asin banget!" pekik Arkan menjulurkan lidahnya lalu minum air putih sebanyak-banyaknya.


Arkan berdecak sambil memperhatikan nasi gorengnya. "Padahal resep dan cara bikinnya udah sama kayak yang diajarin Silva. Tapi kok pas nyobain bikin sendiri, rasanya jadi asin banget ya?"


Beberapa saat berpikir, Arkan melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Masih tersisa banyak waktu jika ia ingin terlambat. Tapi, kali ini Arkan tidak mau terlambat karena ia belum sarapan. Bisa bahaya jika ia pingsan saat menjalankan hukuman karena datang terlambat.


"Mending gue langsung berangkat aja deh, nanti sarapannya di sekolah," putus Arkan lalu mengambil tasnya di kamar dan berangkat ke sekolah.


***


Di salah satu ruang rawat di rumah sakit, seorang gadis terbaring lemah dengan jarum infus di salah satu punggung tangannya dan alat bantu pernapasan yang melingkupi hidung serta mulutnya. Gadis itu Bunga, ia dinyatakan koma setelah penyakitnya kambuh malam itu.


Di sampingnya, terduduk Regan yang menggenggam tangan Bunga yang bebas dari jarum infus. Ia selalu menemani Bunga sejak malam itu. Bahkan rela cafenya tutup sementara. Karena ia belum bisa meninggalkan Bunga dalam waktu yang lama. Setelah Bunga kembali membaik, ia akan kembali mengurus cafenya.


Dikecupnya punggung tangan itu. Kedua matanya terus menatap kelopak mata Bunga yang senantiasa tertutup. Berharap keduanya akan terbuka. Namun, hanya angan yang tak memiliki kesempatan terwujud. Ini semua ia tangguhkan kepada Arkan yang telah membuat adiknya seperti ini. Ia sangat membenci Arkan sejak malam itu.  


"Abang janji gak bakal biarin Arkan bahagia, Dek."


...Bersambung......