
"Vin, menurut lo Arkan ke mana, ya?" tanya Rafan setelah melahap siomay dengan sangat cepat. Belum genap lima menit, sepiring siomay sudah habis tak bersisa.
"Ke kamar mandi, kali," jawab Kevin dengan mulut penuh siomay milik Arkan.
"Kenapa ke kamar mandi?" tanya Rafan lagi, ia heran.
"Gue rasa dia tiba-tiba pergi tuh pasti karena kebelet pipis," tebak Kevin menatap Rafan dengan serius.
"Ck, ah lo mah! Enggak deh, bukan kebelet pipis kalo menurut gue," decak Rafan menggeleng yakin.
"Terus, kemana?"
Rafan berdengung dengan mengusap dagu mulusnya, berpikir. "Gimana kalo dia ke rooftop?!" seru Rafan dengan kedua mata melebar dramatis.
Kevin malah memberikan tampang datarnya pada Rafan. "Yang bener aja dong kalo mikir! Masa mau pipis perginya ke rooftop? Ya ke kamar mandilah, pinter!"
Rafan kembali berdecak lalu mengacak rambutnya frustasi. Ia sedang khawatir pada Arkan, Kevin si manusia raksasa malah menambah rasa pusingnya.
"Tau ah, mending gue susul aja si Arkan!" putus Rafan lalu beranjak tanpa menunggu jawaban dari Kevin.
"Ya udah, kalo gitu gue juga mau nyusul deh. Nyusul ayang Soraya, maksudnya, hehe," kekeh Kevin meninggalkan meja berserta piring-piring kotor yang telah kosong isinya di atas meja. Lalu ia segera menghampiri meja yang terdapat Soraya dan teman-temannya.
***
Udara di ropftop ternyata panas. Untungnya masih ada angin yang berembus tidak membuat Arkan kegerahan. Awan yang berarak di atas sana pun bisa sesekali menghalangi sengatan panas ultraviolet sampai di kulitnya. Sebenarnya Arkan tak peduli semua itu. Ia hanya ingin menenangkan hatinya yang bergemuruh. Sepertinya Faris memang sengaja ingin membuatnya cemburu. Arkan ingat betul seringai di bibir Faris. Seperti iblis yang sangat licik.
Arkan mengepalkan kedua tangan kuat saat mengingat kemesraan mereka. Sudah setahun lebih ia menjadi saksi hubungan mereka. Setahun lebih pula ia harus menahan rasa sakit itu. Kenapa pula rasanya tidak pernah berubah. Seakan cintanya untuk Silva tidak hilang sedikitpun meski ia disakiti berkali-kali.
Ingin sekali merebut Silva dari Faris. Ia ingin menunjukkan pada sahabat sombongnya itu bahwa ia pun bisa membahagiakan Silva.
"Faris sialan!" pekik Arkan disertai geraman yang seakan menyalurkan semua rasa kesalnya.
"Gue juga bisa bahagiain Silva! Liat aja nanti!"
"Yakin lo bisa?" tanya Rafan yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Arkan.
"Sebelum lo nyoba pun Silva udah benci sama lo kalo lo ngerebut dia dari Faris," lanjut Rafan mengatakan yang sejujurnya, tak peduli pada perasaan Arkan yang pasti akan sakit.
Tapi ini kenyataannya. Rafah tidak boleh membuat Arkan seakan mendapat dukungan. Bagaimanapun hal yang dipikirkan Arkan sangat berpotensi memecah belah persahabatan mereka. Sekarang saja kondisi hubungan persahabatan mereka sudah renggang. Meski Faris mengaku sudah baikan dengan Arkan, tetap saja lelaki itu masih tidak mau bertemu dengan Arkan. Faris memang sesulit itu untuk memaafkan.
Rafan berjalan hingga mereka berdiri bersisian.
"Tapi gue yakin, gue juga bisa bahagiain dia. Ya walaupun awalnya mungkin berat karena Silva terlalu mencintai Faris," lirih Arkan dengan menunduk.
"Lo tau Silva cinta banget sama Faris, kenapa lo masih kukuh mau ngerebut Silva?" tanya Rafan frustasi.
"Karena Silva akan jadi milik gue pada akhirnya." Jawaban Arkan yang setengah-setengah membuat Rafan pusing.
"Maksudnya?"
"Bokap gue sama bokapnya Silva ngejodohin kita."
Rafan terkejut dengan jawaban yang didengarnya. Kedua mata dan mulutnya melebar karena kaget. "S-serius lo?"
Arkan tidak langsung menjawab, tapi menghela napas. Sudah memprediksi sikap Rafan yang seperti ini. "Iya, gue gak bohong. Papa sendiri yang bilang ke gue."
"T-terus? Lo ... terima?"
"Awalnya gue sempet nolak. Meskipun gue cinta sama Silva, tapi gue tau dia milik sahabat gue. Gue masih punya hati buat gak nyakitin mereka karena gue pisahin, walaupun sebenernya gue seneng, sih," jawab Arkan diakhiri kekehan sumbang.
Rafan menggelang tak habis pikir. "Lo gak bakal mempercepat proses putus hubungan mereka, kan?" tanyanya menatap Arkan was-was.
"Bagus--"
"Tapi gue gak janji. Kalau ada sesuatu yang bikin hubungan mereka rusak, kenapa gak gue manfaatin?" potong Arkan membuat Rafan mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
"Lo tau kan, yang namanya hubungan pacaran anak SMA jarang banget ada yang langgeng sampe nikah?" tanya Arkan yang diangguki Rafan. Karena ia pun setuju dengan pertanyaan itu.
"Kecuali ... Mereka ngelakuin kesalahan dan bikin mereka terpaksa nikah," sambung Arkan masih menatap lurus ke depan.
Rafan dibuat kembali menatapnya was-was. "D-dan lo, gak bakal ngelakuin itu kan?"
Arkan justru mengedikkan bahu. Melirik Rafan dengan seringai masih terpatri. "Kita gak ada yang tau masa depan kayak gimana."
Rafan menggeleng tak menyangka dengan jawaban Arkan. Ia merasa kini dirinya sedang berada di tengah-tengah dua iblis yang sedang perang dingin. Dan sewaktu-waktu akan berperang sungguhan.
Mendengus geli, Arkan menepuk bahu Rafan. "Lo tenang aja! Kan udah gue bilang tadi. Gue gak bakal ngelakuin itu kalo gak ada yang bikin hubungan mereka rusak sendirinya. Entah itu kesalahan Faris atau Silva. Kalau hubungan mereka renggang karena suatu masalah yang mereka buat sendiri, gue bakal langsung maju! Gak peduli perasaan mereka yang masih saling mencintai atau enggak."
"Gue gak bisa ngomong apa-apa lagi. Kalian beneran serem, deh. Gue kayak lagi ada di tengah-tengah dua iblis yang lagi nyusun strategi buat perang besar-besaran," ungkap Rafan mengutarakan pemikirannya.
"Emang Faris cerita apa ke lo?" tanya Arkan penasaran namun wajahnya tetap datar.
"Jadi gini ..."
Flashback on
Faris malam-malam datang ke rumah Rafan. Saat itu mereka ngobrol ngalor-ngidul tidak tentu arah. Hingga sampai dimana Faris curhat pada Rafan tentang kegelisahannya akhir-akhir ini.
"Kalo Arkan beneran ngerbut Silva dari gue, gue gak akan segan buat ngehajar dia abis-abisan. Gak peduli sama keselamatannya, pokoknya gue bakal mukulim dia sampe dia kapok dan nyerah dapetin Silva," tandas Faris menggebu-gebu.
"Tapi Ris, gue rasa kalo beneran Arkan ngerebut Silva, dia gak bakal nyerah cuma karena dihajar abis-abisan sama lo. Tau sendiri kan lo, gimana keras kepalanya Arkan?" sanggah Rafan mengungkapkan pendapatnya.
"Kalo dia keras kepala, gue juga bakal kukuh pertahanin Silva. Mau gimanapun, cowok yang Silva cinta itu gue, bukan Arkan," jawab Faris dengan yakin dan bangga.
Rafan bergidik ngeri. "Ah tau ah! Gue gak mau ikut-ikutan. Tugas gue sebagai sahabat cuma berusaha ngingetin kalian. Kalo kalian berdua gak bisa diingetin lagi, ya itu urusan kalian. Gue gak mau kebawa-bawa!"
"Haha, lo tenang aja, Fan! Kita gak bakal musuhin lo juga. Gue tau lo ada di pihak netral," jawab Faris dengan enteng.
Rafan menggeleng tak habis pikir. Mereka seakan sedang membicarakan perebutan mainan anak-anak.
Flashback off
"Gue gak ngerti lagi sama kalian. Kenapa selalu suka sama satu hal yang sama? Masih banyak cewek lain di luar sana, kenapa harus ngerbutin Silva? Gue yakin, dia juga gak suka direbutin sama kalian, karena kalian udah sahabatan dari lama bahkan dari orok. Jelas dia gak mau persahabatan kalian rusak, cuma karena ngerebutin dia." Rafan menjelaskan segala pemikirannya.
Arkan tersenyum tipis, entah perasaan apa yang ada di baliknya. "Gue juga gak tau, Fan. Tapi yang jelas, Silva tuh spesial. Ada sesuatu yang bikin kita berdua pengen milikin dia."
"Tapi seenggaknya ada yang ngalah diantara kalian."
"Terus, setahun ini lo anggap gue ngapain kalo bukan ngalah, Fan?" Tersirat kesenduan di sorot mata dan nada suaranya.
"Lo ngalah, tapi gak berusaha ikhlasin Silva sepenuhnya. Lo cuma ngalah buat nunggu waktu yang tepat buat ngerebut Silva," sanggah Rafan telak.
Mendengus geli, Arkan diam-diam menyetujui sanggahan Rafan. "Yah, namanya cinta. Yang pasti, gue bakal bahagiain Silva kalo suatu saat dia jadi milik gue. Apapun balasannya, gue bakal tetep berusaha ngasih yang terbaik buat dia."
Rafan menghela napas pasrah. Kini ia tahu bahwa pepatah yang mengatakan orang pintar bisa menjadi bodoh saat jatuh cinta, itu benar.
...Bersambung......