Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 27. Egois



Silva sudah membulatkan tekadnya untuk lebih dewasa dalam menghadapi masalah ini. Ia berusaha mengesampingkan perasaannya dan fokus belajar. Kini, ia dan Rafan sedang berjalan di koridor menuju kelas. Sebelum sampai di kelas Silva, mereka sudah sampai lebih dulu di kelas Rafan. Silva mengerutkan keningnya karena Rafan terus berjalan melewati kelasnya.


"Fan, lo mau ke mana?"


"Nganter lo sampe kelas."


"Ih, gak usah! Gue bisa sendiri, kok."


"Gak apa-apa, takutnya lo pingsan di jalan."


"Lebay banget deh lo!" Silva meninju lengan Rafan pelan dengan kekehan pelan.


"Eh enggak! Gue takut, lo bukannya masuk kelas malah mabal lagi."


"Enak aja!" protes Silva sambil mendorong Rafan hingga terhuyung ke samping hingga akan menyentuh dinding kelas XII IPA 1.


"Astaga, anak bapak Zhafran lebay banget dih!" Silva yang frustasi menggeleng tak habis pikir.


Setelahnya mereka sama-sama tertawa geli hingga mengundang perhatian seorang penghuni kelas itu.


"Silva? Ngapain jalan-jalan sama Rafan?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.


***


Sesampainya di kelas Silva, Rafan berhenti dan Silva berbalik dengan senyum manisnya.


"Makasih, Rafan!"


Rafan mengangguk dan membalas tersenyum simpul. "Abis ini lo harus fokus belajar! Jangan mikirin Faris terus! Biarin dia mau ngelakuin apa aja, jangan dipikirin! Ikutin aja maunya dia apa. Gue tau dia kayak gimana, kalo lagi marah begini, jangan dideketin! Nanti kalo udah hilang marahnya, dia bakal nyamperin lo sendiri. Karena dia tuh bucin banget sama lo. Ngerti kan?"


Silva mengangguk lalu membuat gerakan hormat. "Siap, ngerti kok."


"Bagus! Kalo gitu gue ke kelas dulu, ya! Babay!" serunya lalu berlari sambil melambaikan tangan.


Senyum Silva mengembang lebar melihat tingkah Rafan yang terlihat menggemaskan.


"Yang jadi ceweknya nanti, pasti harus kuat mental karena tiap hari harus dihadapkan sama keimutan muka dan tingkahnya. Ah, kayaknya gue bakal jadi fan beratnya Rafan, deh, abis ini," gumamnya menggelengkan kepala sambil terkekeh geli. Setelah Rafan menghilang di belokan, Silva pun masuk ke kelasnya.


"Silva!" pekik Raini dan Bening bersamaan saat Silva baru saja selangkah melewati pintu kelas.


Dengan wajah kagetnya, Silva berjalan menuju kursinya. Ia duduk tanpa mempedulikan dua orang yang meneriakinya tadi.


"Ih, Silva! Udah sehat? Kok udah masuk lagi sih?" tanya Raini memutar tubuhnya ke belakang menghadap Silva dan Dinda yang duduk tepat di belakangnya.


"Iya, tadi gue cuma tidur bentar doang."


"Sendiri?" tanya Bening melebarkan matanya.


Terkekeh sejenak, Silva merasa lucu dengan ekspresi Bening saat bertanya. "Enggak, tadi ditemenin Rafan di UKS."


"Rafan? Kok dia yang nemenin lo? Faris kemana?" Dinda bertanya dengan kedua alis menukik tajam.


"Iya, tadi sebelum ke UKS, gue ngintip Faris yang lagi tidur. Terus kepergok sama Rafan. Abis itu dia maksa gue buat ke UKS. Udah sampe UKS, dia maksa lagi buat nemenin gue tidur sampe jam pelajaran ketiga. Jadi, ya udah, gue nurut aja," jelas Silva mengedikkan kedua bahunya.


"Wah, kok tiba-tiba Rafan jadi baik begitu ya? Biasanya juga dia ngegas terus, kayak si Dinda," sahut Bening dengan binaran di kedua matanya.


Plak!


"Heh! Kenapa jadi bawa-bawa gue!" protes Dinda yang tidak terima.


Saat mereka tertawa, seorang guru masuk dan memulai kembali pelajaran.


***


"Loh? Faris mana, Vin?" tanya Rafan saat memasuki kelas dan mendapati kursi Faris kosong.


"Gue pergi dulu!" ujar Rafan lalu kembali berjalan cepat keluar kelas.


"Heh, mau kemana lo, Fan?! Bentar lagi bu Nina masuk!" seru Kevin berusaha menahan kepergian Rafan.


"Bilang aja gue ke toilet!" Hanya suaranya yang terdengar, karena Rafan sudah hilang di balik pintu kelas.


Menghela napas pasrah, Kevin menyerah. Sebenarnya ada apa dengan para sahabatnya? Setelah ini ia harus bertanya pada Rafan.


***


Rafan berlari menuju suatu tempat yang ia yakini tempat keberadaan Faris saat ini. Ia harus memberikan wejangan untuk sahabat bebalnya itu agar berhenti bersikap kekanakkan. Karena ia yakin, saat ini pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada Faris.


Tak lama kemudian, ia sampai di rooftop. Perlahan ia buka pintu yang menghubungkannya ke rooftop gedung 3 sekolahnya. Saat itu juga netranya menemukan sosok Faris yang sedang berdiri menghadap langit dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.


Setelah mengatur napasnya, Rafan perlahan berjalan dan berhenti di sisi Faris berdiri. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana dan pandangannya ikut memandang pemandangan di depan sana.


"Setelah gue pikir-pikir, kok makin ke sini, bukannya makin dewasa, lo malah makin kekanakkan, ya?" sarkas Rafan yang membuat Faris mengeraskan rahangnya.


"Berapa taun sih, lo kenal Silva? Setahun lebih kalian pacaran, masa masih belom bisa ngertiin karakter masing-masing, sih? Lo kemana aja, Ris?" lanjut Rafan masih melakukan aksinya.


Dapat ia lihat reaksi Faris yang sedang menahan amarah.


"Yang namanya hubungan, kalo mau awet, ya harus saling percaya dan komunikasi. Mau dengerin alasannya dulu, diskusi dulu baik-baik, baru marah kalo emang wajar buat marah. Kalo kayak gini, namanya lo egois, Ris. Kalo gak bisa ngejalanin hubungan dengan baik, mending gak usah pacaran deh, lo! Nyakitin cewek aja tau g--"


"Aaaargh!!" Faris berteriak marah sambil meninju udara di depannya. Bagaimanapun, Rafan adalah sahabatnya yang paling rapuh. Ia sudah berjanji untuk selalu menjaganya.


Rafan menelan salivanya melihat punggung Faris. Di depannya, Faris membelakangi dengan kedua tangan mengepal kuat dan bahu naik turun dengan cepat. Rafan yakin, saat ini Faris sangat marah namun tetap berusaha menahannya agar tidak menyakitinya.


Menghela napas, Rafan berusaha kembali bersuara. "Gimanapun, lo belum dengerin penjelasan Silva dan Arkan. Bisa jadi mereka punya alasan atau kejadiannya gak kayak gitu. Lo harus dengerin penjelasan mereka dulu."


Tak ada jawaban dari Faris. Bahunya sudah lebih rileks, namun tetap pada posisinya.


"Tadi, waktu lo tidur di kelas, Silva liatin muka lo dengan tatapan sedih, matanya juga agak sembab. Terus gue temenin dia ke UKS dan dia nangis lama di sana. Setelah capek nangis, dia tidur dan dalam tidurnya pun nangis sambil nyebut-nyebut nama lo."


"Gue gak bohong soal ini. Silva emang secinta itu sama lo, Ris. Mungkin dia udah anggap lo sebagai sumber kebahagiaannya. Lo tau kan, keluarga Silva juga sama kayak keluarga lo. Walaupun gak gila kerja, tapi mereka jarang di rumah. Silva kesepian, Ris. Dia butuh lo. Sama kayak lo yang butuh Silva buat nenangin lo saat lagi kalut, saat banyak masalah. Lo sendiri, kan, yang bilang?"


Masih belum ada jawaban ataupun pergerakan dari Faris. Hanya saja, wajahnya sedikit melunak mendengar kata-kata Rafan.


"Terus sekarang kenapa lo kayak gini? Lo mau kehilangan Silva--"


"Gak! Silva gak akan ninggalin gue dan gue gak akan lepasin dia!" potong Faris masih dengan posisinya membelakangi Rafan.


"Gak ada yang bisa jamin. Kalo sikap lo begini terus, bisa aja Silva ninggalin lo. Dia juga manusia, sabar emang gak ada batasnya, tapi hati manusia ada lelahnya. Ada masanya mereka lelah berjuang dan ingin menyerah. Lo gak mau kan, Silva nyerah sama lo dan mutusin hubungan kalian?"


Kini, kepala Faris sudah tertunduk. Entah menyadari bagian yang mana. Tapi Rafan berharap, Faris sudah mengerti dan segera memperbaiki hubungannya dengan Silva. Ia akan berusaha yang terbaik untuk kebahagiaan sahabat-sahabatnya.


"Ya udah, kalo gitu gue balik ke kelas dulu. Lo jangan lama-lama mikirnya! Keburu Silva diembat Arkan nanti!"


Setelah mengatakan itu, Rafan segera pergi meninggalkan rooftop. Ia takut digibeng oleh Faris.


Namun, masih belum ada pergerakan sama sekali dari Faris selain rautnya yang tadinya menyesal kembali nampak dingin.


"Apa gak percuma gue pertahanin Silva, sedangkan sahabat gue sendiri cinta mati sama dia?"


...Bersambung......


kira-kira mereka bakal damai lagi atau gak ya? hmm... stay tune yaw, papaiπŸ‘‹πŸ»


luv yu all❀️β™₯οΈβ£οΈπŸ§‘πŸ’›πŸ’™πŸ–€πŸ’˜πŸ’πŸ’“πŸ’•πŸ’ŒπŸ’ŸπŸ’œπŸ’šπŸ’—πŸ’–


salam


DidiloveπŸ’–