
..."Jika aku tak cinta, bagaimana? Memangnya cinta bisa dipaksa?"...
...............
Harus Arkan akui, hidup sendiri itu banyak lebihnya. Membuatnya lebih mandiri, lebih bebas, lebih repot, lebih sepi, dan lebih tidak menyusahkan orang lain. Yah, namanya juga hidup. Segala sesuatunya pasti tidak lepas dari nilai positif dan negatif.
Maksudnya seperti ini, semenjak tinggal sendiri di apartemen, Arkan jadi harus belanja kebutuhan bulanannya sendiri, belanja bahan masakan sendiri, dan belanja yang lainnya, semuanya sendiri. Andai ... Ada yang menemani. Sepertinya ia harus segera memiliki pasangan agar selalu ada yang menemani. Tapi, pasangan yang diinginkannya masih tersesat di hati sahabatnya. Padahal, rumah sebenarnya adalah dirinya. Tak apa, biar saja dulu gadis itu dengan lelaki yang dicintai. Suatu saat, jika sahabatnya membuat gadis itu menangis, ia tak akan segan untuk merebutnya. Menuntunnya menuju jalan pulang ke rumah yang sesungguhnya.
Arkan terhenti dan memperhatikan sekeliling. Ah, keasyikan melamun, ia sampai tidak sadar telah melewati tempat yang banyak terdapat kebutuhannya. Menghela napas, ia terpaksa berbalik dan kembali ke tempat sebelumnya yang ia lewati.
Setelah sampai, Arkan segera memasukkan beberapa bungkus daging sapi dan ayam. Arkan adalah pecinta daging-dagingan. Ia seakan tidak merasa pernah makan tanpa menu daging. Sewaktu masih di rumah, ia bisa menikmati banyak sekali macam-macam menu daging. Tapi setelah pindah ke apartemen, ia hanya bisa makan daging siap saji atau memesan makanan di restoran daging favoritnya. Nah, sekarang ia berbelanja daging karena ingin belajar memasak daging. Ia harus bisa memasak agar menu makanannya tidak selalu beli di luar. Selain harga lebih mahal, beli makanan luar juga kurang variatif. Menu yang ia suka hanya itu-itu saja.
Selesai dengan daging-dagingan, Arkan pindah ke rak di belakangnya untuk mencari bumbu-bumbu. Arkan itu lelaki tulen yang tidak pernah menyentuh benda-benda yang ada di dapur. Sudah dipastikan bahwa ia tidak mengenali bumbu-bumbu dapur. Tapi, Arkan juga pintar. Dari rumah, ia sudah menyiapkan resep beserta gambar bumbu atau rempah yang tertera di resep. Jadi, sekarang ia lebih mudah memilah bumbu-bumbu.
Di sela kegiatannya memilih, ia jadi berpikir apakah Silva bisa memasak? Kalau bisa, ia akan sangat bersyukur setelah menikahinya. Tapi kalau tidak, bagaimana? Ia terkekeh pelan memikirkan kekonyolan yang akan terjadi jika mereka sama-sama tidak bisa memasak. Arkan menggelengkan kepala untuk mengenyahkan pikiran konyol itu. Bagaimanapun ini tempat umum. Jika ia tertawa sendiri, bisa jadi ia disangka kurang waras. Selesai dengan bumbu, ia pindah mencari kebutuhan lainnya.
Sekitar setengah jam kemudian, Arkan selesai. Ia segera mengantri di kasir untuk membayar. Tanpa sengaja, trolinya menabrak punggung seorang pria yang sedang berlutut di depan seorang balita perempuan. Sepertinya pria itu sedang membujuk balita itu yang nampak mengerucutkan bibir. Pria itu menoleh dan bangkit bersama si balita diraih ke gendongannya.
Arkan menundukkan kepalanya. "Maaf, Bang. Saya kesandung terus gak sempet ngerem jadinya," ucapnya merasa bersalah.
Si pria nampak tersenyum dan mengibaskan tangan. "Santai aja, Bro! Gak sakit, kok. Wah, kayaknya istri lo juga lagi sakit, ya?" tanya si pria setelah tatapannya seperti memperhatikan dirinya dan troli yang penuh barang.
"Hah? Istri?" beo Arkan melongo tak mengerti.
Si pria mengangguk. "Iya, lo nikah muda, kan? Gak usah malu gitulah! Gue juga nikah muda, kok. Makanya masih muda begini udah punya anak Segede gini," tutur si pria mengangkat sedikit balita di gendongannya lalu dicium pipi gembilnya dengan gemas.
Oh, Arkan tahu sekarang. Ternyata, ia disangka sudah menikah dan sekarang sedang belanja bahan masakan menggantikan istrinya yang sedang sakit. Arkan hampir kelepasan terkekeh di depan pria itu. Tak apalah ia membenarkan dugaan pria ini. Siapa tahu suatu saat ia akan mengalami hal ini juga. Karena, Arkan juga ingin nikah muda.
Arkan pun mengangguk mengiyakan. "Iya nih, Bang. Istri gua lagi gak enak badan, jadi gua yang gantiin dia belanja. Niatnya sih mau sekalian masakin, tapi, bisa gak, ya?" jawabnya mendalami peran dengan baik.
"Gampang itu sih, tinggal cari aja tutorialnya di YouTube. Kan banyak, tuh. Gua juga sering gantiin istri masak."
"Wih! Terus, masakannya enak gak tuh, kata istrinya?"
"Ya... Awal-awal mah marah-marah dia. Tapi, setelah beberapa kali masak, akhirnya berhasil juga. Dia bilang masakan yang sekarang lebih bisa dimakan dari pada sebelum-sebelumnya."
"Sebelumnya gak layak dimakan ya, Bang?"
Keduanya tertawa menertawakan nasib kurang beruntung pria itu. Selanjutnya mereka saling berkenalan lalu giliran pria itu membayar belanjaannya.
***
Beberapa menit kemudian, Arkan keluar dari supermarket tersebut dengan dua kantung besar di tangan kanan dan kirinya. Arkan bergegas ke parkiran menuju mobilnya. Untung sang papa masih berbaik hati meninggalkan satu mobil untuknya di apartemen. Jika tidak, mungkin ia akan kesusahan menjinjing barang sebanyak ini naik turun angkutan umum.
Ia masukkan belanjaannya ke bagasi lalu memasuki kursi kemudi dan melaju meninggalkan parkiran supermarket itu.
"Itu Faris sama ..." Arkan menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat lebih jelas wajah seseorang yang sedang berdebat dengan Faris. "Dea?" Kedua mata Arkan melebar. "Ngapain mereka berantem di pinggir jalan?"
Keingintahuannya terlalu besar. Maka, ia pun menepikan mobilnya di pinggir jalan. Persetan dengan lambang dilarang parkir itu. Ia pun hanya numpang sebentar. Beruntung, di depannya masih ada sebuah mobil terparkir sembarangan. Jadi, ia tak perlu cemas akan ketahuan menguping.
"Bukannya dulu lo yang ngejar-ngejar gue?"
"Itu dulu! Sebelum gue nyerah sama lo!" Faris menjawab tak kalah tinggi. "Makanya, jangan sok mahal jadi cewek! Giliran gue udah nyerah, lo mohon-mohon ke gue, kayak cewek murahan!" Faris mengakhiri kalimatnya dengan berdecih.
"Jaga mulut lo! Gue gak ngelakuin ini ke sembarang cowok! Cuma ke elo gue rela ngerendahin diri gue sendiri, Faris. Gue gak tau lagi harus gimana dapetin lo." Dea menggeleng seakan hilang harapan.
"Nyerah. Yang harus lo lakuin cuma nyerah! Lupain gue dan cari cowok lain yang bisa mencintai lo dengan tulus. Berenti mengharapkan gue! Gue udah punya Silva, sekalipun gue gak sama Silva, gue udah nyerah sama lo. Gue gak bisa nerima lo lagi, De," jelas Faris menatap mata Dea dalam.
Menggeleng, terlihat Dea meneteskan air mata. Sempat membuka mulut, namun tak ada kata yang keluar. Seakan semua kata yang ingin Dea utarakan, hanya sampai di tenggorokan. Tak mampu terucap oleh lidah.
Sesaat setelah itu Faris berlalu meninggalkan Dea dan melaju dengan motor sport hitamnya.
Di dalam mobil, Arkan menghela napas. Kenapa kisah asmara mereka semua begitu rumit? Padahal mereka baru saja mulai memasuki masa ini. Cinta masih terasa asing bagi mereka.
Karena sudah selesai urusannya, Arkan kembali melajukan mobilnya melanjutkan perjalanan menuju apartemennya. Melewati Dea yang kini terduduk di aspal trotoar dengan wajah ditenggelamkan di lipatan tangan yang ditumpukan pada kedua lututnya.
Arkan tidak bisa hanya diam saja atau berlalu begitu saja. Akhirnya ia kembali menepikan mobilnya, bergegas keluar lalu menghampiri Dea. Di genggamannya ada sebuah es krim yang tadinya akan menjadi camilannya di perjalanan pulang.
Tes.
Air dingin dari bungkus es krim tersebut menetes ke tangan Dea membuat si empunya mengangkat kepalanya. Menatap sepasang sepatu milik Arkan yang berada tepat di hadapannya. Lalu perlahan naik ke kedua kaki jenjang lelaki itu hingga ke wajah tampannya, kedua alis Dea terangkat tinggi.
"Arkan?" ucap Dea dengan suara parau.
"Udah, jangan ditangisin! Dia gak pantes bikin air mata lo kebuang sia-sia. Mending makan es krim aja, nih!" Arkan menyodorkan sebungkus es krim di genggamannya.
Dea menatap es krim tersebut lalu kembali menatap Arkan. Dibalas oleh anggukan meyakinkan dari Arkan. Dengan ragu Dea menerima es krim tersebut.
"Gue tau perasaan lo, karena gue juga ngalamin hal yang sama. Memang, kadang cinta cuma butuh pengorbanan tanpa balasan. Pilihannya ada dua. Pergi dan lupain dia, dengan begitu lo bisa cari hati yang lain dan hidup bahagia. Atau bertahan dengan luka dari setiap pengorbanan yang lo lakuin. Satu yang gak boleh dilakuin, jangan pernah maksa orang yang kita cinta buat ngebalas cinta kita," tutur Arkan membuat Dea tertegun.
"Udah, pulang sana! Mending tidur dari pada nangisin orang yang bahkan gak mikirin lo sama sekali," tutup Arkan sebelum berlalu meninggalkan Dea yang masih tertegun di posisinya.
... Bersambung......
hallo my readersπ gimana kabarnya hari ini? pasti baik-baik aja kan? buat yang lagi gak baik-baik aja, tetap semangat dan don't give up! semua masalah pasti ada solusinya. jangan lupa dukung para tokoh LfMSBπ€£ disingkatnya panjang banget, gak cocok! ya pokoknya tetap dukung cerita ini dengan like, tambahkan ke favorit, komen, dan hadiah juga kalo berkenan heheπ
luv yu allβ€οΈπ§‘πππππ€β₯οΈπππππππππβ£οΈπ