
Silva terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap beberapa kali sambil menekan kepalanya yang terasa pusing. Tangannya menyentuh handuk kecil yang basah di atas kepala. Jadi, ia demam? Pikir Silva.
Ia simpan handuk kecil itu di baskom air yang ada di nakas lalu berusaha bangkit duduk. Seketika itu pula rasa sakit mendera kepalanya. Silva meringis sambil menekan dua sisi kepalanya. Lalu, kedua tangan memijat pelan kepalanya dengan harapan bisa mengurangi rasa sakitnya.
Setelah beberapa saat, ia melirik nakas yang terdapat sepotong sandwich berisi selai stroberi. Ia pun melihat secarik kertas berisi tulisan di dekat piring berisi sandwich. Karena penasaran, ia meraih kertas tersebut.
______________________________________
Dari Arkan untuk Silva
Kalo udah bangun tapi gue belum pulang, dimakan rotinya, ya. Sorry, gue keluar sebentar ada urusan. Di apart gak ada makanan lain selain mi instan. Itu sandwich dapet gue beli di toko deket apart. Nanti kalo gue udah pulang, gue bawain bubur sama obat. Tadi lo demam, makanya gue kompres. Sementara kalo bosen nunggu gue, lo boleh baca buku-buku koleksi gue di rak di samping jendela kamar. Banyak novel sama buku-buku sejarah. Gue harap itu bisa sedikit ngurangin rasa bosen lo.
______________________________________
Begitulah isi dari sticky note yang ditulis Arkan. Silva heran, lelaki dingin macam Arkan, kenapa bisa sangat cerewet jika menulis di sticky note? Ia simpan kembali secarik kertas itu lalu melirik sepotong roti isi di samping baskom berisi air. Malas sebenarnya, tapi perutnya seakan berteriak minta diisi. Jadi, ia meraih sandwich tersebut lalu memakannya.
Dalam pikirannya berputar si pemilik apartemen. Ya, Arkan. Lelaki yang mengaku sebagai sahabatnya tapi begitu tega merusaknya. Tapi, sekarang sikapnya begitu lembut padanya seakan memang menyayanginya. Bahkan selam seminggu ia tinggal di sini, ia selalu mengacuhkan lelaki itu. Namun, sikap Arkan padanya tidak berubah sedikitpun. Masih selalu lembut dan penuh kasih sayang.
"Apa dia sengaja ngelakuin ini supaya bisa dapetin gue?" gumam Silva setelah menelan kunyahannya.
Ia termenung menatap roti yang sudah dimakan setengahnya.
"Tapi, kalo dia br*ngs*k, gak mungkin dia mau susah-susah ngelakuin ini semua buat gue, sampe ngajak kabur dari rumah demi ngehindarin amarah orang tua kita."
Silva memejamkan kedua matanya erat. Kenapa sikap Arkan begitu sulit ditebak? Entah bagaimana nasib mereka ke depannya. Silva tak yakin mereka akan baik-baik saja. Ouh, kepalanya kembali terasa pusing. Ia menyimpan sisa sandwich itu di piring kembali. Lalu meminum air di sebelah piring hingga habis setengah gelas. Ia memilih untuk kembali berbaring dan melanjutkan tidur karena pusing menderanya lagi.
Sebelum menjemput mimpinya lagi, Silva melirik jendela yang sedikit terbuka. Langit sudah nampak gelap, ternyata ia tertidur sudah sangat lama. Tapi kepalanya masih terasa pusing. Tak berpikir lagi, Silva masa bodoh dengan berapa lama ia sudah tidur. Kapalnya tidak bisa diajak kerja sama. Ia pun kembali memejamkan matanya dan masuk ke alam mimpi lagi.
***
Di lain tempat, Arkan sedang berada di dalam bus menuju suatu tempat. Ia duduk di samping jendela memandang ke jalanan yang nampak ramai lancar. Mungkin karena weekend, jadi banyak yang keluar untuk liburan meski hari sudah mulai gelap.
Dalam pikirannya berkecamuk tentang resiko dari pilihan nekat yang saat ini ia ambil. Ia tahu kabur bukanlah pilihan yang tepat. Karena orang tuanya dan orang tua Silva bisa melakukan apa saja demi menemukan keberadaan mereka. Tapi, pulang ke rumah juga bukan pilihan yang tepat saat ini. Para orang tua pasti masih dalam keadaan terkurung amarah. Dirinya saja habis dihajar waktu itu. Ia tidak ingin dan tak akan membiarkan Silva juga mendapat perlakuan yang sama dengannya. Meski Silva perempuan, tidak menutup kemungkinan ia akan dimaafkan dengan mudah tanpa konsekuensi. Jadi, pilihan yang paling tepat baginya adalah menunggu. Menghindar dulu, sampai perjuangannya mendapat maaf dari orang tua mereka membuahkan hasil. Intinya, Silva harus tetap baik-baik saja.
Larut dalam lamunan, Arkan baru menyadari bus yang ia tumpangi telah sampai di tempat tujuan setelah bahunya ditepuk seorang ibu-ibu yang jalannya terhalang oleh kaki Arkan. Karena si ibu itu duduk di kursi samping Arkan dekat jendela.
Arkan pun bangkit lalu ikut turun. Dari halte ia melanjutkan perjalanannya menuju cafe yang menjadi tempatnya membuat janji dengan seorang teman lama. Tepatnya kakak kelas yang kini sudah sukses dengan cafe ayahnya yang diurus olehnya.
Tak lama berjalan, Arkan sampai di sebuah cafe yang tampak luarnya bernuansa klasik. Dengan desain simple dan terdapat beberapa pernak-pernik yang sangat memberikan kesan jadul. Arkan sampai tidak menyangka bahwa yang mengelola cafe ini adalah pemuda millenial yang usianya tidak jauh dengannya, bahkan pemiliknya belum lulus kuliah.
Bunyi lonceng di atas pintu terdengar saat Arkan memasuki cafe. Menarik perhatian beberapa pasang mata yang sedang santai di dalam. Termasuk pria dewasa yang sedang berbincang dengan kasir. Segera saja pria itu menghampiri Arkan, menyambutnya dengan tinjuan akrab di lengan kanannya.
Tanpa ragu Arkan membalasnya. Menghela napas sejenak sebelum menjawab, "Kabar buruk, Bang."
"Loh? Ada masalah apa, bro? Ya udah, kita duduk dulu, yuk!" Regan memimpin jalan Arkan menuju sebuah meja kosong di sudut ruangan.
Baru saja mereka duduk berhadapan, Regan mengangkat tangannya memanggil pelayannya. Seorang pelayan mendekat lalu ia menyebutkan nama dua jenis kopi yang dulu sering mereka minum saat sedang nongkrong di cafe sepulang sekolah.
"Jadi, adek gue lagi ada masalah apa, hm?" tanya Regan membuka percakapan.
"Gue butuh kerjaan, Bang. Jadi weiter di cafe lo juga gak papa, Bang. Yang penting gue bisa punya penghasilan. Plis, Bang, tolongin gue..." Arkan sampai menangkupkan kedua tangannya di depan kepala dengan wajah memelas.
"Y-ya... Gue bisa aja terima lo di sini, kebetulan gue juga emang lagi nyari karyawan. Tapi, masa iya gue mempekerjakan anak pengusaha yang punya cafe yang lebih besar dan lebih banyak cabangnya dari gue? Harusnya lo tuh ngelola cafe bokap lo, bukan malah jadi karyawan gue."
"Gak masalah soal itu, gue gak peduli. Yang sekarang gue pikirin, gimana caranya gue punya penghasilan buat biaya hidup gue ke depannya selama gue keluar dari rumah--"
"Maksudnya, lo kabur dari rumah?" tanya Regan dengan wajah kaget sekaligus khawatirnya.
Arkan terkesiap karena merasa ceroboh hampir membocorkan keadaan yang akan ia rahasiakan dari Regan. Namun, pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk kaku menjawab pertanyaan kakak kelasnya itu.
"Kok sampe kabur? Masalahnya sebesar apa? Kenapa sampe kabur dari rumah?"
Arkan tidak langsung menjawab, ia hanya menggeleng dengan kepala tertunduk. "Sorry, Bang. Untuk sekarang ini gue gak bisa ngasih tau lo. Tapi, suatu saat kalo gue udah siap, pasti gue bakal kasih tau semuanya."
Inginnya Regan memaksa Arkan agar mau berbagi. Namun, melihat dari raut yang ditampilkan adik kelasnya ini, sepertinya masalahnya cukup serius. Jadi, ia mengurungkan niatnya.
Regan menghela napas lalu mengangguk. "Oke, gue gak tau masalah apa yang sekarang menimpa lo dan gak akan maksa lo buat ngasih tau. Tapi gue harap lo mau berbagi sama gue secepatnya. Dan lo, diterima jadi pelayan di cafe ini. Kapan lo mau mulai kerja?"
Wajah yang semula tertunduk, seketika terangkat menatap Regan penuh binar. Kurva yang sejak kemarin menghilang, kini muncul, melengkung indah.
"Serius, gue diterima, Bang?"
"Iya."
"Thank you, My bro!"
...Bersambung......
Akhirnya bisa up lagi huhu
sejujurnya Hiatus juga menyiksaku, mianheeeğŸ˜