Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 64. Faris Tobat



Selesai menelfon, Arkan kembali ke kelasnya. Ia memasuki kelas dan duduk di kursinya dan kembali memperhatikan pelajaran. Sejujurnya Arkan merindukan Silva. Apalagi mengetahui keadaan Silva yang sedang tidak baik-baik saja. Morning sickness-nya selalu datang setiap pagi dan entah kenapa akan sembuh jika sudah berada dalam pelukannya. Dan ternyata faktanya, gejala muntah-muntah dan pusing itu hanya akan sembuh bila mencium aroma tubuhnya. Kenapa bisa begitu? Pikir Arkan. Apakah Silva sudah tertular virus bucinnya? Haha, Arkan terkekeh memikirkan dugaan asalnya.


Saat itu Arkan merasakan getaran di ponselnya. Ia segera mengecek dan ternyata pesan masuk dari ibu mertuanya--eh, calon ibu mertua maksudnya. Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk meresmikan hubungannya dengan Silva sebagai pasangan suami istri. Tapi tahan dulu, Ar. Kalau gegabah, urusannya akan berhadapan dengan sang kepala keluarga yang kejam dan possesif.


Arkan membuka pesan dari Lisa dan melihat foto yang dikirimkannya. Ternyata itu foto Silva yang tidur sambil memeluk kaos yang paling sering ia pakai saat tidur. Senyum kecil terbit di bibir Arkan melihat wajah damai gadisnya. Ia bersyukur karena sekarang Silva sudah lebih baik. Seperti pesan singkat yang dituliskan Lisa.


______________________________________


From : Bunda Camer


Tadi pagi muntah-muntah gak bisa berhenti. Sekarang, tidur pulas banget. Padahal cuma nyiumin kaos kamu aja. Kok bisa begitu, ya? Dasar bucin hahaha


______________________________________


Senyumannya semakin lebar setelah membaca pesan tersebut. Hingga tidak menyadari bahwa sedari tadi Pak Anton memanggil-manggil.


"Arkan! Heh!" bisik Rino--teman sebangku Arkan--menyenggol lengan Arkan.


Seakan tersadar, Arkan mengerjap lalu menatap Rino dengan kedua alis terangkat. "Kenapa, No?"


"Itu dipanggil Pak Anton dari tadi," jawab Rino masih dengan berbisik.


Melotot lebar, Arkan menelan salivanya lalu perlahan menoleh ke arah sang guru dengan tatapan ngeri.


"Mikirin apa senyum-senyum sendiri? Chatting sama pacar?" tanya Pak Anton dengan nada menyindir.


Arkan meringis sambil mengusap tengkuknya. "E, enggak kok, Pak. Saya lagi chatting sama mertua, hehe."


Brak!


"Apa?! Kamu ngejek saya?! Gak sopan kamu! Sekarang pilih, bersihkan halaman belakang sekolah atau semua toilet laki-laki?!"


Kenapa Pak Anton merasa tersinggung? Karena ia sampai sekarang masih belum menikah. Padahal, usianya sudah cukup matang. Ya, kira-kira pantas mempunyai anak usia SMP lah. Tapi Arkan malah keceplosan menyebutkan jawaban yang jujur. Makanya, Pak Anton sangat marah karena merasa diejek oleh muridnya.


"Gak bisa pilih toilet cewek aja, Pak?" tawar Arkan takut-takut.


Bukan apa-apa, yang Arkan tahu toilet perempuan itu lebih bersih dari pada toilet laki-laki. Mungkin karena mereka bisa lebih menjaga kebersihan. Arkan tahu karena ia sering menggunakan toilet perempuan saat kegiatan ekskul karena keadaan sekolah sudah sepi. Jangan ditiru, ya.


"Arkan! Makin songong ya, kamu! Sekarang juga bersihkan semua toilet laki-laki! Gak ada tawar menawar lagi! Cepat!" murka Pak Anton dengan mata melotot merah.


Mengembuskan napas, Arkan terpaksa menuruti perintah gurunya itu. Dengan langkah malas, Arkan berjalan keluar kelas menuju toilet laki-laki.


"Ck, males banget bersihin toilet. Mana bau, kotor lagi," gerutu Arkan melangkah malas.


Hingga sebuah ide nekat namun brilian hinggap di otaknya. "Aha! Gue punya ide!"


Arkan lantas berlari menuju halaman belakang sekolah. Ia bukan akan membersihkan halaman belakang, tapi menemui seseorang yang pasti ada di taman sekolah yang terhubung dengan halaman belakang.


Setelah sampai di hadapan orang itu, Arkan mendudukkan dirinya di tanah. Menjulurkan kedua kakinya yang terasa pegal, padahal hanya dibawa berlari dari lantai tiga gedung sekolahnya menuju taman di sudut paling belakang sekolah.


"Mang Amin!" panggil Arkan membuat pria yang kira-kira usianya setengah abad itu membalikkan badan ke arahnya.


"Loh, Arkan? Kenapa, kok kayak yang kecapean? Habis olahraga?" tanya Mang Amin mendekati Arkan.


"Iya, Mang. Saya abis olahraga lari dari gedung 3 lantai tiga sampe ke sini cuma buat ketemu Mamang aja," jawab Arkan dengan napas yang masih tersengal.


Mang Amin percaya saja karena dari raut wajah Arkan seperti meyakinkan. Tapi, memang benar sih, yang dikatakan Arkan. Iya kan?


"Memangnya mau ngapain ketemu Mamang?"


"Mang Amin mau uang tambahan gak? Saya ada kerjaan buat Mang Amin. Bayarannya tiga kali lipat dari gaji Mang Amin dari sekolah. Gimana Mang, mau gak?"


"Wah, banyak amat, Ar? Mau, mau. Memangnya kerjaan apa?"


"Bersihin toilet."


Setelah mempasrahkan tugasnya ke mang Amin, Arkan dengan santainya sarapan di kantin. Ia lupa bahwa belum sarapan tadi pagi. Pantas saja tubuhnya langsung keringat dingin setelah dibawa berlari. Jadi, dari pada pingsan, Arkan memutuskan untuk sarapan dulu sambil menunggu waktu istirahat tiba sebentar lagi. Kira-kira, dua jam pelajaran lagi lah. Menurut Arkan itu sebentar. Karena waktu belajarnya jauh lebih lama dari itu. Setiap hari saat masih tinggal di rumah orang tuanya, Arkan menghabiskan waktu delapan jam untuk belajar. Bayangkan saja bagaimana mengenakannya otak kalian jika belajar selama itu. Tapi Arkan memiliki otak yang jenius dan sudah terbiasa dengan waktu belajar yang ekstrim. Jadi, ya tidak masalah baginya.


Saat ini Arkan sedang menyantap mi goreng--makanan favoritnya. Setelah Silva selalu memasak untuknya, ia jadi jarang bahkan tidak memakan mi instan lagi. Rasanya rindu sekali dengan rasa favoritnya ini. Makanya, ia memesan dua porsi mi goreng untuknya sendiri.


Saat sedang lahap memakan mi goreng porsi jumbonya, satu kurcaci dan satu raksasa bergabung di mejanya.


"Tumben nih si calon daddy bolos pelajaran. Ada apa nih?" ujar Kevin duduk di samping Arkan sambil merangkul pundaknya.


Karena tidak mau diganggu, Arkan menyingkirkan tangan Kevin. Namun, tidak menjawab pertanyaannya. Justru malah asyik melahap makanannya.


Rafan menatap Arkan penuh selidik. Sahabat paling cerdasnya itu terlihat baik-baik saja. Tapi, kenapa bisa membolos pelajaran?


"Ar, lo lagi ada problem, ya?" tanya Rafan menatap Arkan penasaran. Begitu pun dengan Kevin.


Tidak langsung menjawab, Arkan menelan dulu mi di dalam mulutnya. Setelah itu ia minum dan membersihkan bibirnya dengan tisu. Kedua orang di hadapannya terus memperhatikan gerakan Arkan karena menunggu jawaban darinya.


"Gue sama Silva mau nikah minggu depan."


"HAH?!"


"Apaan sih, lu berdua!! Lebay!"


"Heh, kok lo santai aja sih ngasih taunya?"


"Ya terus gue harus gimana?" tanya Arkan balik dengan wajah polosnya.


Rafan dan Kevin saling pandang sekilas. "Ya... Gak gimana-gimana sih. Cuman ya... Emang lo gak tegang gitu?"


Mengedikkan bahunya, Arkan menjawab acuh. "Enggak tuh, kenapa gue harus tegang? Pernikahannya juga masih seminggu lagi. Kalau beberapa jam lagi, pantes gue tegang."


Kevin mengangguk setuju lalu menoyor kepala Rafan. "Iyalah, lo nya aja yang oon, Fan. Gimana sih?"


"Ribut yok, Vin?"


"Ayo! Mumpung lapangan sepi, tuh!"


Arkan menepuk jidatnya melihat tingkah kedua sahabatnya yang kembali ribut.


"Heh, udah-udah! Berhenti gak lu pada!! Kalo enggak, gue laporin ke Pak Anton kalo kalian bolos," ancam Arkan yang berhasil membuat keduanya berhenti.


"Lah? Kan lo juga bolos," sahut Kevin menunjuk Arkan.


"Gue kan--"


"Jenius, jadi aman. Sekolah gak bakal ngeluarin anak jenius kayak gue. Udah apal banget gue," potong Rafan mencibir jawaban yang biasa Arkan sebutkan.


"Hehe, tau aja lu."


"Sama aja lo kayak Faris. PD-nya over dosis," timpal Kevin.


"Ngomong-ngomong, Faris mana?" tanya Arkan karena tidak melihat Faris bersama mereka.


"Mau jadi anak baik katanya," jawab Kevin seadanya.


"Di kelas ada anak baru, cantik, Solehah, mukanya mirip Silva. Jadi ya gitu, dia mau pencitraan aja sama cewek itu," tambah Rafan tekekeh di akhir.


Arkan menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. "Astaga, ada-ada aja. Tapi gue jadi penasaran deh, sama ceweknya."


... Bersambung......


Gak yang berat2 dulu. cuma selingan aja. yang beratnya besok aja ya😉