
Kedua matanya terbuka saat rasa sakit menyergap seluruh tubuhnya. Ia memejamkan matanya kuat saat merasakan sekujur tubuhnya nyeri, perih dan mati rasa. Apalagi saat ini ia tak bisa bergerak sedikitpun karena kedua tangannya diikat oleh tambang yang digantung ke atas. Kedua kakinya pun dirantai dengan dua rantai berbeda. Selain tangannya pegal karena terus diangkat ke atas, pergelangan tangannya pun terasa perih karena ikatan yang terlalu kencang, mungkin kulit tangannya sudah terkelupas saking kencangnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha lepas dari ikatan itu walau tak mengubah apapun. Ia harus keluar dari tempat mengerikan ini dan kembali pada gadisnya yang pasti sedang khawatir dengan keadaannya. Apalagi, lusa adalah hari pernikahan mereka. Ia benar-benar harus segera keluar dari tempat bak neraka ini.
Seseorang membuka pintu yang terkunci dan memasuki ruangan itu. Ia berjalan mendekati sosok lelaki yang telah disekap dan disiksanya selama dua hari itu. Setiap hari, ia akan mampir sepulang dari rumah sakit. Seperti biasa, ia akan bertanya tentang pilihan lelaki itu. Jika jawabannya masih tidak sesuai dengan keinginannya, ia akan kembali menyiksanya dengan tangan, kaki, bahkan benda keras dan tajam.
Seperti saat ini. Ia berdiri di hadapan lelaki itu dan menjambak rambutnya kuat hingga si lelaki mendongak menatapnya.
"Bagaimana kabar lo, Arkan?" tanyanya dengan wajah menyeringai kejam.
Tidak ada jawaban dari korbannya. Arkan hanya menatap wajah itu penuh kebencian. Dalam kepalanya ia bergumam pertanyaan mengapa seorang kakak yang selama ini ia anggap bisa menjadi teladan baginya, justru memperlakukannya sedemikian kejam. Kemana sikap humble dan penyayangnya yang selalu ditunjukkan? Apakah itu semua hanya topeng? Topeng untuk menutupi sifat kejamnya yang sebenarnya.
"Kenapa diem? Pasti sakit, kan?" Lelaki itu terkekeh bagai tak pernah melakukan kesalahan apapun. "Tapi itu semua gak bakal bisa bandingin rasa sakit saat gue hampir ditinggalin anggota keluarga gue satu-satunya. Lo gak pernah ngerasain gimana sakitnya gue liat adik gue terbaring lemah di rumah sakit, berjuang antara hidup dan mati. Lo gak pernah kan, ngerasain itu?!"
Duagh!
Wajah itu terlempar ke belakang saat sebuah lutut menendang keras hidungnya. Membuat aliran darah mengalir deras dari kedua lubangnya menuruni bibir membiru itu hingga ke leher yang penuh dengan bekas sayatan.
Lelaki itu merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan wajah Arkan. Tangannya mencengkram rahang Arkan dengan kuat membuat Arkan memejamkan matanya kuat merasakan sakit karena luka basah di rahangnya ditekan kuat.
"Gue kasih pilihan untuk yang kesekian kalinya. Lo masih kukuh sama pilihan lo sebelumnya atau bahagiain adek gue?"
Tak ada jawaban. Arkan masih memejamkan matanya saat wajahnya dihempas kasar ke samping.
"Jawab gue!!" bentak lelaki itu tepat didepan telinga Arkan.
Dengan sekuat tenaga, Arkan membuka mulutnya. Tenaganya sudah habis sejak kemarin. Untuk mengatakan jawabannya saja, ia tidak kuasa. Hanya mampu membuka mulutnya saja tanpa ada suara yang keluar.
"G-ga... S-sil-va-a..."
Bugh!
Belum sempat Arkan menyelesaikan jawaban terputus-putusnya, tangan lelaki itu menghantam perut Arkan berkali-kali. Sekuat tenaga yang ia miliki hingga cairan kental menyembur keluar dari mulut Arkan. Hantaman itu terus menyerbu perut Arkan hingga merenggut kesadarannya. Arkan kembali tak sadarkan diri akibat terlalu banyak mengeluarkan darah.
Dadanya naik turun setelah mengeluarkan kemarahannya kepada Arkan. Ia menatap wajah mengenaskan di hadapannya itu dengan tajam dan penuh kebencian. Lalu satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum licik yang puas.
"Itu akibatnya karena lo udah bikin Bunga di ambang kematian."
***
Rafan, Faris dan Kevin sudah sampai di depan rumah minimalis milik Regan. Mereka pernah ke sini beberapa tahun yang lalu. Hanya sekadar main selayaknya remaja laki-laki pada umumnya. Regan adalah kakak kelas sekaligus senior mereka di klub basket yang paling baik dan ramah.
Saat itu mereka baru selesai mengikuti ekstrakulikuler basket yang hanya diisi dengan sesi perkenalan dan tanya jawab seputar kegiatan mereka ke depannya. Karena waktu mereka masih terlalu awal untuk pulang, jadi mereka memutuskan untuk main-main dulu. Dengan ramahnya, Regan menawarkan rumahnya untuk tempat mereka nongkrong. Karena katanya, ia sendirian di rumah. Orang tuanya sedang dalam perjalanan bisnis. Maka, mereka pun setuju untuk berkunjung ke rumah Regan.
Setelahnya, mereka sering main ke rumah Regan. Hingga suatu hari Regan melarang mereka datang ke rumahnya lagi dengan alasan, karena ia sudah akan lulus sekolah dan tidak ingin terganggu belajarnya. Jika ada Rafan, Arkan, Faris dan Kevin main, Regan malah tidak fokus belajarnya. Namun, larangan itu terus berlanjut hingga Regan lulus dan lelaki itu seperti menghilang. Tidak ada kabar dan rumahnya pun terlihat sepi.
"Yakin lo bang Regan ada di sini?" tanya Faris kepada Rafan namun tatapannya terarah ke rumah Regan di hadapan mereka.
"Gak tau gue juga. Tapi ya... Apa salahnya dicoba kan?" sahut Rafan yang juga menatap rumah itu.
Kevin mengangguk setuju. Setidaknya mereka telah mencoba mencari di sini. "Kalo gitu, ayo kita ke sana!"
Rafan dan Faris mengangguk dan ketiganya berjalan bersisian dengan Rafan berada di tengah memasuki pelataran rumah itu hingga sampai di depan pintu utama, mereka berhenti.
"Anjir, serem! Kenapa sepi banget begini sih, ini rumah?" keluh Faris mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah itu dengan ekspresi ngeri.
"Penakut lo! Segini aja takut? Godain cewek-cewek aja gak takut kena karma! Banci lu!" cibir Rafan menatap Faris remeh.
"Siapa yang godain cewek-cewek? Enggak tuh, kan gue lagi ngejar My honey Maira," sanggah Faris mengerutkan kening menatap Rafan tak suka.
"Halah, dusta! Tadi aja lu godain ibu kantin," tuduh Kevin membuat Faris beralih menatapnya tajam.
"Ya itu kan beda. Itu adalah sebuah trik supaya kita bisa makan gratis. Kan kalian juga yang enak kecipratan makan gratis," jawab Faris membela diri.
"Eh, kita tau lo ya, Ris. Dari SMP sampe lo pacaran sama Silva sampe putus dan sampe sekarang yang katanya lagi ngejar Maira, lo tetep suka tebar pesona ke cewek-cewek," cerca Rafan yang tidak memberikan Faris kesempatan untuk membela diri.
Bahkan saat Faris akan membuka mulut untuk membela diri, Rafan membekap mulutnya. "Udah, Vin. Lo ketok aja pintunya!"
Sempat menggelengkan kepala dan terkekeh, Kevin maju selangkah dan mengetuk pintu di depan mereka.
Tok tok tok!
"Permisi!"
Namun, tidak ada respon meski mereka sudah berkali-kali mengetuk pintu dan berseru.
"Ada orang gak sih, sebenernya?" tanya Rafan berdecak frustasi.
"Kayaknya gak ada siapa-siapa deh, di dalam," sahut Kevin yang merasa tangannya kebas karena terlalu banyak mengetuk pintu.
"Ya udah, balik yuk! Kita cari ke tempat lain aja. Udah mau sore juga nih, suasananya jadi makin serem," ujar Faris sambil tangannya mencengkram lengan Rafan kuat.
"Ya udah, kita ke rumah om Setya dulu, abis itu kita pulang ke rumah masing-masing," putus Rafan yang disetujui Kevin dan Faris.
Ketiganya berbalik dan menjauhi pintu.
Tanpa sadar bahwa sesosok bayangan mengintip kepergian mereka di balik jendela yang tertutupi gorden.
... Bersambung......