Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 60. Dapat Restu



Hari-hari Arkan serasa tidak tenang karena belum menikahi Silva. Meski ia sudah diberi tanggung jawab sepenuhnya terhadap Silva oleh orang tua gadis itu, tapi ia masih belum bebas membawa Silva keluar apartemen karena khawatir dicurigai para penghuni apart lainnya. Ia juga tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada Silva seperti pasangan-pasangan normal pada umumnya. Yang setiap beberapa waktu sekali akan berkunjung ke rumah orang tuanya atau rumah mertua. Arkan ingin memberikan itu dan ia juga ingin membuktikan kepada Silva bahwa ia bersungguh-sungguh akan perkataannya dan perasaan cintanya kepada Silva.


Belum lagi orang-orang yang menginginkan hubungan mereka kandas. Bunga contohnya. Sekarang Arkan sudah tahu bahwa Bunga menyimpan rasa padanya dan selama ini melakukan usaha untuk mendapatkan hatinya. Tapi sayang, hatinya sudah hilang dicuri oleh Silva. Apalagi saat Bunga tahu bahwa Arkan bekerja di cafe kakaknya. Hampir setiap hari gadis itu datang ke cafe untuk mendekati Arkan. Ia risih tentu saja. Sekarang ia menyesal telah menolong Bunga waktu itu. Jika ia tahu bahwa Bunga adalah adik Regan, ia tak akan menolongnya hingga membuat gadis itu terbawa perasaan. Padahal, niatnya murni hanya menolong.


Maka dari itu, hari ini sepulang sekolah, ia akan pergi ke rumah orang tua Silva tanpa sepengetahuan gadisnya. Hari ini kebetulan hari Sabtu, jadi ia libur di cafe. Arkan sengaja tidak memberitahu Silva bahwa ia akan datang ke rumah orang tuanya, agar Silva tidak mencemaskannya. Ia yakin bahwa Silva akan menahannya atau memaksa ikut. Tapi ia tidak bisa membawa Silva ikut bertemu ayahnya jika belum memastikan bahwa calon mertuanya itu sudah memaafkan mereka. Ia takut Silva mengalami pengusiran lagi oleh Hanum.


Kini, Arkan sudah turun dari bus dan sedang berjalan menuju rumah orang tua Silva. Dengan langkah mantap, Arkan tak henti terus berdoa dalam hati. Semoga ia bisa mendapat restu dari mereka.


***


Bugh!


Satu tinjuan harus Arkan terima di rahang kirinya. Ia tidak berkata apapun selain menunduk sambil memegangi rahangnya yang terasa ngilu. Sebenarnya ia baru saja berdiri di hadapan Hanum saat dipanggil Laras untuk masuk ke ruang kerja Hanum. Namun, baru saja masuk, Arkan sudah mendapat bogeman dari sang tuan rumah.


"Kenapa kamu baru datang sekarang?! Kenama aja, hah! Saya sampe ngira kamu cuma mau main-main aja sama anak saya," marah Hanum menatap Arkan dengan mata melotot lebar dan wajah yang mengeras dan memerah padam, menatap Arkan tajam.


Arkan masih terus menunduk, ia menjawab, "Maaf--"


"Jangan nunduk! Saya gak mau punya mantu yang lembek kaya gitu! Angkat kepala kamu dan tatap wajah saya saat bicara dengan saya!" seru Hanum memotong perkataan Arkan.


Arkan menuruti perintah Hanum. Ia mengangkat wajahnya dan menatap wajah merah Hanum. Sejujurnya ia agak ngeri melihatnya. Seketika ia menelan saliva karena merasa kerongkongannya tiba-tiba kering.


"Maafkan saya, Om. Bukannya saya hanya ingin bermain-main dengan Silva. Tapi, sebelum menikah saya ingin punya pekerjaan agar saya bisa membuktikan kepada kalian bahwa saya bisa menghidupi Silva," jawab Arkan masih sedikit gugup karena debaran keras di dadanya.


"Kerja apa kamu? Pelayan cafe?" Hanum mendengus, membuang muka. "Kerjaan seperti itu mau menghidupi anak saya? Untuk diri kamu sendiri saja saya rasa tidak akan cukup. Saya tidak akan memberi restu kalau kamu masih bekerja di sana! Mulailah belajar mengelola perusahaan ayahmu! Karena suatu hari nanti kau yang akan menggantikannya mengelola perusahaan. Begitupun dengan perusahaan milik saya. Kalau bukan kamu yang akan meneruskan, siapa lagi kalau saya sudah waktunya pensiun nanti? Silva anak tunggal, jadi semua usaha saya akan jatuh ke tangan keluarganya kelak. Yaitu kamu sebagai suaminya."


"Enggak, Om. Saya gak akan mengakui perusahaan Om jadi milik saya. Saya hanya akan mengelola, tapi kepemilikan akan tetap jatuh ke tangan Silva sebagai anak kandung Om," jawab Arkan menyanggah keputusan Hanum.


Hanum mengangguk setuju. "Jadi, kapan kamu siap menikahi Silva?"


"Tentu sebelum kalian menikah, kamu harus keluar dulu dari cafe tempatmu bekerja saat ini dan mulai belajar mengelola perusahaan dan cafe ayahmu sampai Nesya bisa diberi kepercayaan mengelola cafe-cafenya," sambung Hanum.


"Tolong beri saya waktu sebulan untuk mengurus semuanya."


"Sebulan?! Kamu mau anak saya menikah dengan perut yang sudah terlihat menonjol?! Hah!! Kamu mau mempermalukan keluarga saya di depan para kerabat saya dan kerabat ayahmu, begitu?!" sembur Hanum mendengar jawaban Arkan.


"Tapi, jika sebulan lagi pun saya baru mampu membuat perayaan sederhana untuk pernikahan kami. Apalagi dalam waktu dekat ini."


"Kamu pikir kamu anak siapa?! Calon menantu siapa?! Kamu benar-benar meremehkan kami, Arkan!"


"Bukan begitu, Om. Saya hanya ingin menikah dengan uang saya sendiri."


"Lakukan itu saat kamu tidak lalai dalam menjaga anak saya dan tidak sok-sok'an menjadi pahlawan dengan mengaku sebagai ayah dari janin dalam perut anak saya!"


Arkan terkesiap mendengar perkataan Hanum. Ia merasa tidak pernah mengatakan apapun kepada calon mertuanya itu.


"Apa? Kamu kaget karena saya sudah mengetahui semuanya? Itulah kekurangan kamu, Arkan. Selama ini, kenapa kamu hanya diam saja? Kemana janji kamu yang katanya akan membuktikan bahwa kamu tidak bersalah? Apa kamu lupa? Atau pasrah akan apapun yang akan kami lakukan saat kami percaya kamu yang melakukan semua itu? Asal kamu tau, saya tidak akan pernah merestui kalian menikah kalau kamu benar-benar yang melakukan semua itu!"


Arkan tidak menjawab apapun. Ia hanya menunduk dan merenungkan kesalahannya. Selama ini ia hanya fokus mencari biaya untuk menikahi Silva tapi lupa dengan tanggung jawabnya yang harus meyakinkan keluarga Silva. Padahal, semua keputusan ada pada orang tua Silva. Sedangkan biaya, orang tuanya pasti tidak akan tinggal diam. Pasti mereka akan membiayai pernikahan mereka. Yah, sekarang ia menyadari kesalahannya yang terlalu egois ingin menyelesaikan semua masalahnya sendiri, tanpa melibatkan orang lain. Padahal, ia bisa saja berdiskusi dengan orang tuanya. Mereka pun sudah memaafkannya, kan.


"Ya sudah, mulai minggu depan kalian akan menikah. Besok kamu antarkan Silva ke sini. Selama sepekan menunggu hari pernikahan kalian, kalian tidak boleh bertemu! Kamu silahkan urus semua kepentinganmu, dan Silva pun akan mempersiapkan dirinya sebelum menikah. Sekarang kamu bisa pulang!" putus Hanum tanpa ingin dibantah.


Arkan menatap Hanum tak percaya. "Tapi, Om. Kenapa gak boleh ketemu? Kan saya bisa--"


"Bisa apa? Bisa tinggal di sini juga selama persiapan pernikahan? Saya tidak akan mengizinkan kamu tinggal di rumah ini sebelum menjadi bagian dari keluarga ini! Keputusan saya sudah bulat, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Lakukan saja tugasmu! Sekarang, pulang sana! Silahkan manfaatkan waktu yang tersisa dengan baik. Ingat, besok kamu harus mengantarkan Silva pulang ke rumah ini! Awas kamu membawa anak saya kabur lebih jauh lagi!" ancam Hanum yang berhasil membuat Arkan meneguk ludahnya seketika.


"B-baik, Om--"


"Jangan panggil saya om lagi! Panggil saya ayah!"


"Baik, a--"


"Bukan sekarang! Tapi nanti setelah kalian resmi menikah. Sekarang kamu pulang sana!"


Astaga... Jika bukan calon mertuanya, ingin sekali Arkan menyentil dahi lebarnya itu.


... Bersambung......


sabar ya, Arkan. menantu emang selalu selalu salah, mertua yang selalu benar. 🤣