Love For My Sad Boy

Love For My Sad Boy
Bab 32. Unwanted Thing



Sinar mentari pagi menembus celah-celah jendela yang tidak terlapisi gorden, mengusik kenyamanan dua orang muda-mudi yang masih bergelung dalam selimut, terlelap dalam nikmatnya tidur. Hingga si gadis lebih dulu membuka mata karena sinar matahari yang tepat mengenai kelopak matanya. Ia mengerjap menyesuaikan sinar yang masuk ke pupilnya.


Saat hendak mengangkat tubuhnya agar terhindar dari sinar matahari pagi yang cerah, ia merasakan hawa dingin langsung menerpa kulitnya. Kedua mata melebar ketika menyadari bahwa tubuhnya tidak terlapisi apapun. Jantungnya berdegup kencang seiring asumsi buruk yang terus memasuki kepala.


Ia coba mengintip bagian tubuhnya yang lain yang masih tertutup selimut. Betapa terkejutnya ia melihat keadaan tubuhnya. Selain telanj*ng bulat, banyak ruam kemerahan di sekujur tubuhnya, juga darah kering di mulut kehormatannya. Seketika itu juga ia menangis meratapi nasib yang menimpanya. Apalagi saat melihat lelaki di sampingnya yang masih belum membuka mata. Ia adalah orang yang akhir-akhir ini selalu ada di dekatnya, menjaganya, dan membuatnya merasa nyaman. Namun, kenapa begini? Kenapa ia tega sekali padanya? Apakah selama ini Arkan baik padanya hanya karena ingin merampas kehormatannya saja?


Silva menangis pecah namun berusaha ditahan dengan menutupi mulutnya agar tidak mengeluarkan isakan. Namun, beberapa isakan yang lolos mampu membangunkan Arkan dari tidurnya. Ia melihat Silva di sampingnya menangis tersedu-sedu. Gadis itu pasti terpukul dengan apa yang telah menimpanya. Arkan segera beringsut mendekat untuk memeluknya.


"Jangan mendekat!" seru Silva membuat Arkan menghentikan pergerakannya.


"Kenapa?" tanya Arkan bingung.


Silva tidak menjawab, ia hanya melirik sebentar tubuh Arkan lalu kembali menangis. Dan betapa terkejutnya Arkan saat mendapati seluruh tubuhnya tidak terlapisi apapun.


Sekarang ia sadar, pasti Silva menyangka dirinyalah yang melakukan ini padanya. Padahal ia sama sekali tak mengetahui apapun. Dirinya justru akan menyelamatkan Silva. Ingin sekali ia mengungkapkan semuanya pada Silva. Tapi, keadaan gadis itu sangat buruk. Jika ia memberitahu yang sebenarnya bahwa pria yang melakukannya adalah pria asing hidung belang, mungkin Silva akan semakin terpuruk. Jadi, untuk saat ini biarlah ia yang jadi tersangka.


Tak mempedulikan tubuh bagian atasnya terekspos dan Silva yang memberontak, Arkan tetap mendekapnya. Membiarkan tubuhnya mendapat pukulan-pukulan lemah dari Silva yang tak mau disentuh olehnya.


"Lepasin! Lo jahat, Arkan! Lepasin gue, lepasin!" Silva terus memberontak sambil berteriak meminta dilepaskan.


Hingga tenaganya habis, Silva tidak memberontak lagi, namun masih menggumam lirih agar Arkan mau melepaskannya. Tapi Arkan tidak bergeming sama sekali. Ia justru menggumamkan kata maaf berulang kali. Dalam hatinya ia meminta maaf karena tidak bisa menjaga Silva dengan baik. Berbeda dengan Silva yang mengartikan kata maat Arkan sebagai penyesalan karena telah merusaknya.


Pagi itu mereka habiskan untuk menangis sambil berpelukan. Meratapi nasib yang menimpa mereka.


***


Berbeda dengan di kediaman keluarga Kamal--ayah tiri Dea. Saat ini gadis itu sedang bersandar santai di tempat tidurnya sambil menatapi layar ponselnya dengan senyum miring. Semalam ia baru saja mengirimkan potret Arkan dan Silva yang terlelap tanpa busana kepada kedua orang tua mereka yang dapat dipastikan hari ini akan pulang. Juga kepada Faris yang pasti akan menghajar Arkan hari ini.


Dea tidak sabar untuk menyaksikan drama yang akan mereka lakukan nanti. Drama yang ia dalangi untuk merusak hubungan Faris dan Silva sebenarnya.


"Gue gak mungkin kan udahan cuma dengan bikin kalian berantem aja? Kalian pasti bisa baikan lagi nanti. Tapi kalo begini, gak akan mungkin kalian balikan lagi. Faris bakal kecewa berat sama kalian berdua," ujarnya diakhiri tawa puas yang terdengar licik.


"Setrlah ini, gue bisa lebih gampang dapetin Faris."


***


Apalagi Setya yang saat ini wajahnya nampak sangat datar dengan rahang yang selalu mengeras. Seakan benar-benar kecewa pada anak sulungnya. Sudahlah tidak becus menjaga adiknya hingga mengalami kecelakaan, anak gadis sahabatnya yang dipercayakan padanya pun dirusaknya. Setelah sampai nanti, ia berjanji akan mengusir anak tidak tahu diuntung itu!


Sementara para ibu justru lebih kentara kecemasan di wajah mereka. Firasat ibu memang selalu tepat. Mereka justru khawatir akan keselamatan anak-anak mereka. Karena mereka mengenal buah hati mereka dengan sangat baik. Dan hal kotor seperti itu tidak mungkin mereka lakukan. Namun, bukti sudah sangat jelas mereka lihat. Mau mengelak pun rasanya sulit. Jadi, mereka hanya mampu berdoa bagi kebaikan putra-putri mereka saja.


***


Masih belum berubah atmosfer di dalam ruangan kamar itu. Kedua remaja itu masih diselimuti kabut kesedihan dan penyesalan. Namun, posisi mereka sudah berubah. Arkan sudah membersihkan dirinya. Saat ini ia sedang berdiri di samping Silva, memeluk gadis itu. Membiarkannya menenggelamkan wajah di perutnya. Dengan sabar ia mengelus rambut Silva berulang-ulang sambil terus menggunakan kata maaf.


"Lo jahat, Arkan..." lirih Silva yang tenggelam di perut Arkan. Sambil tangannya yang melingkar di pinggang Arkan memukul pelan punggung lelaki itu.


"Maaf... Maaf, gue gak becus jagain lo. Maaf, gue udah--"


"...ngelakuin ini ke lo." Arkan merasa berat mengatakan kalimat keduanya. Karena ia memang tidak pernah melakukannya. Namun terpaksa mengatakannya agar Silva tidak terlalu terpuruk.


"Gue bakal tanggung jawab, Va. Gue yang bakal jelasin semuanya ke orang tua kita, dan biar gue yang nerima semua konsekuensinya. Gue siap dihukum seberat apapun sama papa dan ayah lo. Bahkan gue rela kalo harus dihajar sampe koma, asalkan gue bisa tanggung jawab buat lo."


"Dan itu bikin gue makin benci sama lo! Lo bener-bener brengsek, Arkan!" raung Silva mendorong tubuh Arkan hingga dekapannya terlepas dan Arkan terdorong ke belakang beberapa langkah. Silva menatap wajah Arkan dengan wajah yang basah dan memerah saking banyaknya mengeluarkan air mata.


Arkan menunduk, menelan tangisnya bulat-bulat. Ia tak ingin melihat wajah kecewa Silva yang tertuju padanya.


"Gue udah percaya sama lo, orang tua gue juga ngasih kepercayaan penuh sama lo buat jagain gue. Tapi apa yang lo lakuin? Lo malah ngerusak yang harusnya lo jaga! Gue kecewa sama lo! Gue benci sama lo, Arkan! Gue benci!" Silva berteriak sambil kembali menangis dan melempari Arkan dengan bantal-bantal yang ada di dekatnya. Setelah habis bantal di sekitarnya, Silva beralih menjambak kuat rambutnya.


Segera Arkan mendekati Silva dan kembali mendekapnya untuk menenangkan.


"Lo boleh benci gue, lo boleh mukulin gue semau lo, tapi jangan sakiti diri lo sendiri. Gue lebih sakit ngeliat lo kesakitan dari pada diri gue sendiri yang sakit. Biarin gue aja yang nanggung semua kesakitan ini, jangan lo. Biar gue yang tanggung jawab. Lo harus baik-baik aja."


Silva lebih tenang saat mendengar perkataan Arkan. Ia tidak lagi memberontak dalam pelukan Arkan, hanya menangis hingga sesenggukan. Hingga ia mendengar kalimat Arkan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Silva, ayo kabur dari rumah dan jalanin kehidupan sama gue!"


Semakin pecahlah tangisan Silva.


... Bersambung......