
Kini Arkan sedang ada di jalan pulang. Ia berjalan setengah berlari menuju halte terdekat dari rumah orang tuanya. Soal restu mereka? Tidak perlu ditanya, tentu saja mereka merestui dengan senang hati. Tinggal yang menjadi PR Arkan adalah meminta restu kepada orang tua Silva. Mungkin akan lebih sulit. Tapi, tidak menutup kemungkinan jika mereka juga akan mudah memberikan restu. Jadi, Arkan hanya bisa berharap agar semuanya lancar dan mudah.
Sampai di halte, bertepatan dengan sebuah bus yang akan melintas. Arkan segera naik bersama beberapa orang yang menunggu di halte. Ternyata masih ada juga orang-orang super yang baru pulang jam segini. Berarti nanti jika ia mengambil jatah lembur, ia tak akan menemukan kendaraan umum lagi, karena katanya ini adalah bus terakhir yang melintas di rute itu. Arkan beruntung karena bus ini searah dengan cafe dan apartemennya.
Namun, tepat di halte dekat cafe tempatnya bekerja, ia melihat Bunga sedang diganggu oleh beberapa orang preman. Preman-preman itu nampak menarik-narik tangan Bunga. Arkan bimbang, haruskah ia menolongnya atau pura-pura tidak tahu? Tapi jika tidak menolong, maka ia akan dihantui rasa bersalah jika esok ia mendapat kabar yang kurang mengenakkan tentang Bunga. Jadi, dari pada menyesal kemudian, ia pun turun.
Arkan turun dari bus dan kemudian... Bugh! Ia langsung mendaratkan bogem mentah ke punggung si preman. Membuat preman itu dan dua temannya berbalik menatap tajam pada Arkan yang berdiri dengan angkuh disertai seringai kecil. Membuat si preman yang mencengkram tangan Bunga semakin mengeratkan genggamannya dan dua preman lainnya maju memblok jalannya menuju Bunga.
"Siapa lo? Mau jadi pahlawan? Hadapi dulu kita!" Kedua preman itu langsung menyerbu Arkan.
Meski agak kaget, tapi Arkan bisa menandingi kekuatan mereka.
"Ah, curang nih! Masa dua lawan satu! Laki bukan sih, Bang?! Satu lawan satu dong!" protes Arkan saat ia kewalahan menghadapi dua preman itu.
"Oke, satu lawan satu tapi yang dua orang itu bawa cewek lo pergi dari sini, gimana?" tawar si preman berwajah paling songong menurut Arkan.
"Enak aja! Gak bisa gitu dong!"
"Alah, kebanyakan bac*t lu!" Kedua preman itu kembali menyerang Arkan dan segera ditangkis olehnya.
Lalu Arkan membalas pukulan mereka, namun ia harus menerima bogeman nyasar yang tidak sempat ia tangkis.
"Akh!" ringis Arkan menyentuh sudut bibirnya yang berdarah.
"Anjir! Songong ya, kalian!" umpat Arkan menatap tajam kedua preman itu dan satu lagi teman mereka yang sedang menyandera Bunga.
Dengan tatapan penuh benci, Arkan mendekat pada mereka membuat para preman itu harus mengakui aura Arkan yang berubah menjadi sangat kuat dan menyeramkan. Hingga Arkan melayangkan serangan-serangan yang membuat mereka kewalahan. Padahal Arkan hanya sendiri dan mereka berdua. Seakan ia ingin mengatakan kepada si preman itu bahwa 'cukup main-mainnya! Sekarang waktunya untuk pembalasan!'.
Arkan mengerahkan seluruh tenaganya hingga kedua orang preman itu terkapar di aspal.
"Pergi sekarang juga atau gue bikin lebih parah dari ini!" gertaknya membuat kedua preman itu segera berlari menjauh.
Sementara seorang lagi masih memegangi tangan Bunga dan menunjukkan wajah bingung.
"Bos, gue gimana ini, Bos!" teriak preman itu yang sudah ditinggal kabur oleh teman-temannya.
"Jadi Abang ini mau ngerasain bogeman gue juga? Oke, mau di sebelah mana, Bang?" tanya Arkan sambil merenggangkan otot leher dan jari-jari tangannya.
"Eum, y, ya udah, g, gue juga k, k, kabur ajaaaa!!" pekik si preman berlari tunggang langgang.
Arkan menghampiri Bunga. "Kamu gak apa-apa?"
Senyum kecil Bunga berikan. "Iya, Kak, aku baik-baik aja. Makasih, Kak Arkan. Untung ada Kakak nolongin aku, kalo enggak, mungkin aku udah diapa-apain sama mereka."
"Makanya, jangan keluar malam-malam, sendirian lagi. Emang kamu abis dari mana?"
"Aku dari cafe Bang Regan, Kak. Dia masih ada di sana, katanya mau lembur dulu ngurusin persiapan promosi minggu depan. Jadi aku pulang aja sendiri, eh tapi waktu aku lagi nunggu bus, ada preman-preman itu lewat. Jadi, gitu deh."
Menghela napas, Arkan tidak menjawab lagi. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu mendial nomor Regan.
"Bentar, biar gue telpon bang Regan dulu."
Mendengar kata 'gue' dari Arkan, rasanya Bunga merasa sedikit tidak rela. Ia lebih senang jika Arkan menggunakan kata ganti 'aku-kamu' saat sedang bersamanya.
Saking asyiknya melamun, Bunga sampai tidak sadar bahwa Arkan sudah selesai menghubungi Regan. Bunga tidak terlalu fokus pada yang Arkan sampaikan. Ia hanya fokus pada kata ganti mereka yang berbeda dengan beberapa hari lalu saat mereka baru pertama kali bertemu.
"Kak, boleh gak aku minta sesuatu?" tanya Bunga dengan raut sendu.
"Minta apa?" tanya Arkan dengan kening berkerut samar.
"Boleh gak, kalo lagi ngomong sama aku, kakak gak pake 'gue-lo'? Tapi pake 'aku-kamu'. Soalnya aku gak biasa pake dan denger orang bicara pake gaya bicara kayak gitu."
"Oh... Gue pikir kita bakal lebih akrab kalo pake 'gue-lo'. Ya udah, kalo lo keberatan gak apa-apa, gue pake 'aku-kamu' lagi." jawab Arkan diakhiri dengan mengulum senyumnya.
'Banyak maunya, ternyata,' batin Arkan menggerutu.
Bunga pun tersenyum lebar mendengar jawaban Arkan. "Makasih, Kak Arkan!"
Saking senangnya, Bunga memeluk Arkan. Karena kaget, Arkan refleks mendorong tubuh Bunga agak menjauh hingga hampir jatuh. Beruntung Arkan segera kembali menarik tangan Bunga, jadi gadis itu tidak sampai jatuh.
"Sorry, sorry, aku reflek tadi, kaget kamu tiba-tiba meluk."
"I, iya, aku juga reflek meluk Kakak. Karena kalo lagi seneng, aku bakal meluk seseorang yang ada di samping aku. Maaf ya, Kak, aku gak sengaja," jawab Bunga sambil menunduk dan menautkan jemarinya.
"Iya, gak apa-apa. Lain kali, kamu harus ngerti kalo aku udah punya hati yang harus dijaga."
Deg. Sakit rasanya mengetahui fakta itu. Kenapa kisah asmaranya tidak pernah berjalan mulus? Pikir Bunga.
Tak lama Regan datang dengan mobilnya.
"Gimana sih lo, Bang?! Adek lo cewek kalo lo lupa! Malah dibiarin pulang sendiri malem-malem! Untung tadi gak sempet diapa-apain sama preman. Kalo gue telat datangnya, mungkin lo udah uring-uringan karena Bunga gak pulang ke rumah," cerocos Arkan mengomeli Regan.
Menyengir lebar, Regan berusaha minta maaf. "Iya, iya sorry, deh. Tadi tuh dia maksa pengen ikut ke cafe, padahal gue udah bilang gue harus lembur, tapi kukuh pengen ikut. Jadi begitu, deh!"
"Iya deh, aku juga minta maaf," cicict Bunga menunduk dalam.
Menghela napas, kini Arkan tahu siapa yang salah. "Ya udah, sekarang sebagai gantinya, lo anterin gue pulang, Bang!"
Tanpa menunggu jawaban Regan, Arkan membuka pintu belakang mobil lalu masuk. Diikuti oleh Bunga yang memasuki kursi samping kemudi bersama Regan.
Kemudian, Regan mengendarai mobilnya menuju apartemen Arkan.
***
Sesampainya di sana, Arkan berterima kasih lalu segera berlari memasuki gedung itu.
"Beruntung banget ya, yang jadi pacarnya kak Arkan?" gumam Bunga dengan pandangan masih tertuju pada arah perginya Arkan.
Regan yang mendengar gumaman Bunga, mengelus rambutnya. "Tenang aja, Dek. Kamu pasti bakal dapetin Arkan."
...Bersambung......
Nah loh...😲