Let's Build Dungeon With Bug System

Let's Build Dungeon With Bug System
Dungeon 61. Budak Manusia



...Dungeon 61. Budak Manusia....


Saat ini aula pertemuan di Mansion lantai pertama sedang dipenuhi oleh warga desa korban dari penyerangan bandit.


Shinji berpikir mereka pasti takut saat tiba di Dungeon namun, setibanya disana pemikiran nya salah. Warga desa terlihat sudah beradaptasi dan itu berkat dari Albert juga Arina yang sedang menangis di pelukan seorang wanita paruh baya.


Shinji menduga wanita paruh baya itu Nenek dari Arina.


Setibanya Shinji disana, semua arah pandang tertuju kepada nya seakan-akan meminta kata sambutan.


"Selamat datang di Dungeon Nexus, Aku Shinji Ikari pemilik dari Dungeon ini. Kalian tidak perlu khawatir karena aku tulus menolong kalian untuk tinggal sementara di Dungeon ini.


Saat mendengar ucapan Shinji itu semua warga saling bertukar senyum.


Lalu, Shinji memerintahkan Kay dan Verom kembali melakukan aktifitas nya dan mereka pun menghilang.


Beberapa saat kemudian, Arina berjalan dengan pemuda seusia nya menghampiri Shinji


"Tuan Shinji, dia Lazio. Putra Kepala desa kami," ucap Arina yang memperkenalkan pria berambut pirang


Pemuda yang bernama Lazio itu membungkukkan badan dan memperkenalkan dirinya.


"Saya Lazio, putra dari kepala desa. Terimakasih kepada Tuan Shinji telah bersedia membantu kami," jawab Lazio.


"Jika kamu putranya, dimana kepala desa?"


Lazio menundukkan kepalanya, "Ayah dan ibu tidak selamat."


Sesaat Shinji teringat akan pasangan suami istri yang terbunuh di depan rumah yang cukup besar dari penampilan pandang Kay.


"Maaf, Tuan Shinji. Kedua orang tuaku tidak berhasil selamat," jawab Lazio.


"Begitu, aku turut berdukacita."


"Tuan Shinji, bolehkah kami meminta sesuatu?" pinta Lazio.


Shinji yang mendengar itu tersenyum kecil, "Lazio, lebih baik kita bicara di tempat lain. Ikut dengan ku!"


"Baik, Tuan Shinji," jawab Lazio yang mengikuti Shinji.


Lalu, Shinji pun membawanya ke ruang pertemuan yang mana Lazio dan Arina duduk dihadapan Shinji.


"Lalu, apa permintaan mu?"


"Kami ingin tinggal disini sampai peperangan berakhir," jawab Lazio.


Shinji yang mendengar itu sontak terkejut, "Peperangan? Apa maksudmu?"


Lazio pun menjelaskan bahwa kerajaan Bellanova dan Kerajaan Salvation sedang berperang dengan alasan yang dia tidak ketahui. Namun, akibat perang itu yang menderita adalah rakyat kecil.


Mendengar itu, Shinji menghela nafas panjang lantaran dia teringat akan kehidupan dahulu yang mana para Pejabat selalu memikirkan diri sendiri dan melupakan penderita rakyat kecil.


"Semua dunia ternyata sama saja. Tapi ... Meski Aku merasa iba dan kasihan terhadap mereka. Aku tidak boleh lemah dan Naif. Lebih dari itu, aku tidak ingin keberadaan mereka akan merugikan Dungeon," batin Shinji.


"Aku bisa saja menolong kalian tapi, kalian memiliki dua pilihan?!"


"Apakah itu, Tuan Shinji?" tanya Lazio.


"Satu, seperti yang kukatakan sebelumnya, aku akan memberikan tempat ini untuk kalian tinggal dengan makanan dan minuman yang kalian harus cari sendiri diluar Dungeon."


"Dan, yang kedua?" tanya Lazio.


"Kalian akan tinggal dan bekerja di sini sebagai Budak ku."


Mendengar itu, Lazio terkejut. "Apa budak?"


"Benar, kalian akan menjadi budak Dungeon ini meski begitu, aku akan memiliki desa di Dungeon ini yang mana kalian bisa mengelola dan mengkonsumsi perkebunan juga peternakan dilantai itu dan keselamatan kalian, aku yang jamin."


"Lalu, apakah kami akan dijual jika memilih yang kedua?" tanya Lazio.


Mendengar itu, Shinji tertawa remeh, Hahaha ... Aku tidak serendah kalian seperti kalian manusia. Aku hanya tidak ingin merugikan Dungeon dengan membawa kalian semua ke sini dan Status budak, bagiku hanya status pekerja saja."


"Jika memang begitu, apakah anak-anak juga diwajibkan bekerja?" sambung tanya Lazio.


"Itu sudah seharusnya. Aku pikir seorang anak bisa bekerja untuk menyirami perkebunan atau memetik hasil panen."


"Jadi, begitu. Aku mengerti..." ucap Lazio yang sontak terdiam.


"Baiklah, jika itu perlu dipertimbangkan maka berikan jawaban kepadaku besok pagi!"


Sesaat Shinji mengatakan itu, Lazio menggelengkan kepalanya dan menelan ludahnya.


"Seperti itu tidak perlu. Aku akan menjawabnya sekarang!" ucap yakin Lazio.


"Dan, apa jawabanmu?"


"Kami akan menjadi budak mu dan akan tinggal di desa Dungeon!"


Shinji tersenyum mendengar hal itu, "Baiklah, aku menghargai keputusan mu dan aku akan mempersiapkan nya jadi sekarang, kamu beristirahat lah!"


"Baik, Tuan Shinji," ucap Lazio dengan menundukkan kepalanya. Lalu, mereka pun beranjak dari kursinya.


Melihat Arina yang juga beranjak diri, Shinji pun menghentikan nya. "Arina, kamu sudah waktunya harus membayar pertolongan ku."


Arina pun tersenyum kecil dengan wajah yang memerah. "Baik, Tuan."


Setelah itu, Shinji memerintahkan Albert dan Mia untuk membantu 250 warga desa Ryu untuk tinggal di desa Homunculus sedangkan, Arina yang sudah mandi dan mengenakan pakaian tipis menunggu Shinji di kamar lantai Istana.


Tidak lama kemudian, Shinji tiba di kamar itu dan tanpa basa-basi, Shinji sontak memeluk Arina, mencium bibirnya sampai pergulatan terjadi diatas kasur. Arina yang masih prawan, dia pun mengeluarkan darah yang membuat Shinji semakin senang.


Arina yang awalnya terpaksa menjadi menikmati permainan Shinji yang lembut dan nikmat.


"Sebuah hadiah seperti ini tidak boleh dilewatkan!" batin Shinji seraya memompa pen nya.


...# Let's Build Dungeon With Bug System #...