
...Dungeon 37. Touring Hotel Nexus....
Pada saat ini Shinji berhadapan dengan orang yang disegani oleh para pedagang yaitu Rufus Hawke, ketua Assosiasi pedagang.
“Dan bisnis apa yang ingin anda tawarkan?” tanya Rufus.
Shinji tersenyum dan menjelaskan tentang bisnis penginapannya dengan fasilitas-fasilitasnya.
Saat Rufus mendengarkan itu semua, dia pun sedikit tertarik mendengarnya.
“Bagaimana?” tanya Shinji.
“Bisnis yang menjanjikan tapi bagaimana usaha itu bisa ramai jika anda menempatkan dungeon anda di tengah kota?” tanya Rufus.
“Tentu! Aku sudah memikirkannya dan ada teknologi kami yang menghubungkan kota dengan dungeon,” jawab Shinji.
“Sungguh menarik! High Reward High Risk,” ucap Rufus.
“Cihh … maaf saya lancang tapi sepertinya anda telah meremehkan para petualang dan pahlawan kerajaan kami jika dungeon menempel kota maka dungeon akan mudah untuk diserang dan dijarah seluruh harta di dungeon ini,” ucap Gordo yang melipatkan tangannya dan tertawa remeh.
“Ucapan mu cukup besar juga sebagai petualang emas,” ucap Shinji yang tersenyum.
“Apa?!” seru kesal Gordo yang memegang pedang dibelakangnya tapi langkahnya terhenti disaat Beta sudah berada dibelakangnya dengan pisau yang sudah menempel pada leher Gordo.
Rufus pun terkejut dan melihat kearah pengawalnya itu dan melihat seorang wanita yang sudah menodongkan pisau dilehernya hingga sedikit darah sudah menetes.
“Cepatnya! Sejak kapan bahkan aku tidak bisa melihatnya berlari, Teleport kah?!” batin Rufus.
“Beta, tenanglah! Dan, lepas pisau itu!” seru Shinji.
“Baik, Master!” jawab Beta.
Gordo pun melepaskan tangannya dari gagang pedang dan terdiam.
“Aura pembunuhnya, luar biasa. Siapa sebenarnya mereka dan baru kali ini aku menghadapi dungeon yang sekuat ini,” batin Gordo saat merasakan Beta dan Shinji.
“Master Shinji, Maafkan Gordo, pengawal ku ini atas pembicaraan lancangnya,” ucap Rufus yang menundukkan kepala dan diikuti oleh Gordo.
“Aku akan beri tahu kepada mu bahwa aku tidak berniat untuk membangun dungeon untuk ajak pertarungan melainkan untuk berbisnis jadi jika ada ingin melawanku tentu aku layani,” ucap dingin Shinji.
“Aku mengerti dan bolehkah aku melihat seluruh kamar dan fasilitasnya?" Pinta Rufus.
“Baik, silahkan!” jawab Shinji yang berdiri dan mengajak rufus dan lainnya untuk mengikutinya.
Setelah itu Shinji pun mengawali tour Nexus Hotelnya dari Lobi, saat disana Rufus pun terlihat senang saat melihat lukisan, patung yang begitu mewah. Setelah itu, mereka pergi ke lantai pertama yaitu restauran.
“Bisakah aku mencicipi makanan terbaik disini?” tanya Rufus kepada Pelayan disana.
“Baik, saya akan sajikan,” ucap pelayan restauran.
Saat pelayan itu pergi, Rufus melihat Shinji.
“Master Shinji, apakah mereka Doppleganger?” tanya Rufus saat melihat pelayan wanita yang berwajah sama dengan pakaian yang sama.
“Bukan, tapi Boneka Sihir,” jawab Shinji.
“Boneka Sihir?!” kaget Rufus dan Ignis.
Setelah itu mereka pun duduk dan salah satu pelayan menyajikan makanannya. Rufus yang awalnya tidak yakin tapi saat melihat tektur makanan yang begitu mengiurkan, dia pun memutuskan untuk memakannya.
“Enaknya!” ucap Rufus yang menyantap makanan.
“Hmm … benar lezat sekali!” ucap Ignis.
“Master Shinji, berapa karyawan yang dipekerjakan oleh anda?” tanya Rufus.
“500 Boneka dan 100 Automata,” jawab Shinji.
Rufus dan Gordo yang mendengar itu membuat tangan mereka berhenti menyantap makanan.
“Sungguh!” ucap kaget Rufus.
“Tentu saja,” jawab tegas Shinji.
Rufus pun menoleh kesamping.
“Sungguh mengerikan bagaimana jika 100 Automata sekuat Beta dan 500 boneka sihir yang begitu cerdas,” batin ketakutan Rufus dan dia mengepalkan tangannya.
“Mari kita lanjutkan!” ucap Shinji.
Shinji pun mengantarkan Rufus dan Ignis ke lantai berikutnya yang merupakan pantai.
“Wuaaahh … luar biasa. Ada pantai seluas ini di dungeon,” ucap kaget Gordo.
Tidak hanya lantai itu, setiap kunjungan lantai Rufus dan Gordo pun terkagum-kagum terutama pada cabaret club.
Rufus dan Gordo disambut oleh wanita yang sangat cantik dengan gaun serta aksesori yang sangat mengkilap membuat kesan mewah dan elegan.
Sambutan dari para wanita cantik itu membuat Rufus dan Gordo tersipu malu dan tidak bisa berkata apa –apa.
“Ketua Rufus. Saya perkenalkan mereka adalah Hostess berlian yang akan melayani orang kaya dan para bangsawan,” ucap Shinji yang memperkenalkan wanita-wanita tersebut.
Saat melihat diamnya mereka, Shinji memberikan kode agar menghampiri Rufus dan Gordo.
“Ketua, mari!” ucap salah satu Hostess yang berambut panjang hitam berwajah korea yang memeluk lengan Rufus.
Rufus pun tidak bisa menolak mereka. Tidak hanya Rufus, Gordo juga diajak juga oleh salah satu Hostess.
Ruangan Hostess yang terlihat mewah dan megah membuat kenyamanan diri untuk Rufus dan Gordo. Duduk di sofa yang empuk juga minuman keras yang sangat mahal menemani mereka.
Para Hostess juga bisa memberikan perasaan kenyamanan kepada Rufus dan Gordo dalam berbincang-bincang.
Shinji yang dari kejauhan tersenyum saat melihat Rufus dan Gordo yang sedang bersenang-senang dan touring pun terhenti di lantai itu.
Shinji pun berbalik meninggalkan mereka sendiri dan kembali ke penthouse nya.
Dilantai pantai yang berbeda, Leanne begitu senangnya bertemu kembali rekan-rekan dan mereka berada di rumah Leanne yang ada di desa Homunculus serta berbincang-bincang disana.
“Hei, apa kalian lapar? Aku akan buatkan makanan,” ucap Leanne yang berdiri dari sofanya menuju dapur.
“Leanne, kamu bisa masak?” tanya Siska.
“Tentu, Lucy mengajarkanku masak,” jawab santai Leanne.
“Lucy?! Siapa itu?” tanya Andre.
“Pelayan di dungeon ini,” jawab Leanne.
“Aku merasa Dungeon Master Shinji terlalu baik kepada kita padahal kan dia Master Dungeon,” ucap Hyna.
“Hmm … aku juga merasa seperti itu,” ucap siska.
“Semoga saja memang Dungeon Master Shinji baik beneran?!,” gumam Hyna.
“Hei, daripada memikirkan itu. Gimana kalo kita ke pantai?” ucap Andre.
“Iya, benar juga. Ayo Hyna! Leanne!” ucap siska yang bersemangat.
“Ehh … makannya!” ucap Leanne.
“Sudahlah, Ayo!” ucap Siska yang menarik Leanne dari dapur.
Andre, Siska, Hyna dan Leanne yang keluar dari desa dan pergi ke lantai Hotel Nexus untuk pergi ke pantai.
Setibanya disana, mereka terkejut saat melihat Rufus dan Gordo bergandengan tangan dengan para Hostess mereka dan pergi menuju ke kamar yang lain.
“Eh, apa yang ketua dan paman besar itu lakukan?” tanya Andre.
“Aku juga tidak tahu,” jawab Leanne.
“Dasar kalian ini!” ucap Hyna menggelengkan kepalanya.
“Hehe …” tawa kecil siska.
Andre dan Leanne pun bingung dengan tanggapan dari Hyna dan Siska.
Setelah itu mereka pun pergi ke pantai yang terletak di lantai Hotel Nexus.
Di lantai yang berbeda juga terlihat Nami sedang sibuk di ruang kontrolnya dan dia melaporkan kepada Master Syelle tentang kedatangan ketua Rufus beserta pengawalnya.
Ciwuung!
Suara pintu otomatis terbuka di ruang control lantai Android.
Nami pun terkejut saat melihat Shinji yang bisa membuka pintu ruangan yang dikuncinya.
“Master!” ucap Nami yang berdiri lalu menundukkan kepala kehadapan Shinji.
“Nami, kamu sedang apa?” tanya Shinji.
“Aku hanya menyelesaikan beberapa program,” ucap Nami.
“Bagaimana kalau kita bermain ke pantai?!" ajak Shinji.
“Dengan senang hati, Master!” jawab Nami yang tersenyum.
Shinji pun tersenyum dan menarik tangan Nami ke pantai.
...# Let's Build Dungeon With Bug System #...