Let's Build Dungeon With Bug System

Let's Build Dungeon With Bug System
Dungeon 38. Bermain di pantai dan Internet



...Dungeon 38. Bermain di pantai dan Internet....


Shinji yang tidak mempermasalahkan kelakuan Nami, dia pun mengajaknya bersantai dengan yang lain di pantai.


“Master, bukankah anda sedang bersama tamu penting,” ucap Nami.


“Tenang saja, mereka sudah mendapatkan kesenangan sendiri,” jawab Shinji.


“Ehh?!” bingung Nami.


Setibanya disana, terlihat Albert, Helena dan Ailin yang sedang bermain air.


“Master! Nami!” teriak Helena yang melambaikan tangan di pantai.


Shinji pun melepaskan tangan dan berlari menghampiri mereka. Saat masih dekat, Shinji pun melihat kearah Nami.


“Ayo, Nami!” seru Shinji.


Nami pun tersenyum dan berlari menyusul yang lainnya.


Beberapa saat kemudian, Leanne dan lainnya datang.


“Wuah, ternyata pantainya ramai dan ada Master,” ucap Andre.


“Aku jadi tidak enak,” ucap Siska.


“Tidak apa-apa. Ayo!” ucap Leanne yang menarik siska ke laut.


Leanne pun berlari menghampiri Shinji dan Lainnya.


“Master, Izinkan kami bergabung!” teriak Leanne.


Shinji pun mendengarkan itu dan memberikan tangan untuk bergabung.


Setelah itu Andre dan lainnya pun bergabung dengan Shinji.


Beberapa saat kemudian, Shinji melihat ekspresi Nami dan semuanya penuh dengan senyuman dan tawa serta pemandangan itu membuat dirinya bahagia.


Lalu, Shinji membeli bola Voly dari [Dungeon Shop].


Yang mana, tidak lama kemudian di tangan Shinji munculah bola voli.


“Hei, semua! Mari kita bermain voli!” seru Shinji.


“Wow, ide bagus!” ucap Helen.


“Voli? Apa itu?” tanya Andre.


“Sudahlah, ayo main!” seru Albert yang merangkul Andre.


Setelah itu mereka ke tengah pantai dan mereka terkejut saat melihat lapangan voli sudah ada di depan mereka dalam sekejap.


“Oke … mari kita mulai!” teriak Shinji.


Mereka pun memulai pertandingan Voli sehingga mereka kelelahan dan lupa waktu.


“Ahhh, lelah nya!” ucap Andre yang terduduk.


“Baiklah, bagaimana jika kita makan bersama di restauran,” ucap Shinji.


“Oke, aku ingin yang dingin-dingin,” ucap Helena yang berdiri dan langsung pergi.


Begitu juga yang lainnya.


“Andre, Ayo!” ucap Siska yang menarik Andre bangun.


“Iya … ya,” jawab Andre.


Shinji pun mengulurkan tangan terhadap Nami yang sedang duduk beristirahat.


“Ayo Nami!” ucap Shinji.


Nami sempat terdiam dan matanya berkaca-kaca lalu, saat dia melihat senyuman Shinji membuat dirinya tersenyum dan meraih tangannya.


“Hmm …” jawab Nami yang menganggukan kepalanya dan berdiri.


Mereka semua pun pergi ke lantai pertama untuk menyantap makanan kesukaan mereka masing-masing dan saat di pantai tidak ada seorang pun, Navigator menghilangkan lapangan voli beserta bolanya.


Keesokan paginya, Rufus dan Gordo datang ke Restauran VIP yang disana. Shinji sudah menunggu di meja makan dengan desain sofa melingkari meja marmer dan diatas meja sudah ada buah-buahan beserta sarapan lainnya seperti roti, pudding, bubur dan lainnya.


“Bagaimana istirahatmu?” ucap Shinji kepada Rufus dan Gordo.


“Pelayanan malam mu sungguh luar biasa,” ucap Rufus yang duduk dihadapan Shinji.


“Luar biasa! Terima kasih, Tuan Shinji !” sambung Gordo.


“Mari kita sarapan!” ujar Shinji.


Rufus dan Gordo pun menerima sarapan Shinji dan menyantapnya.


Beberapa saat kemudian, Shinji pun membuka topik pembicaraan.


“Ketua Asosiasi Pedagang, bagaimana pendapatmu?” tanya Shinji.


“Luar biasa dan sangat bagus. Aku akan bekerja sama denganmu!” ucap Rufus seraya memberikan tangan.


“Terima kasih, mohon kerja samanya!” ucap Shinji yang menerima tangan Rufus dan mereka pun berjabat tangan.


Beberapa jam kemudian, Rufus pun pulang bersama dengan Gordo dan Andre serta lainnya.


Leanne pun mengantarkan kepergian mereka.


Kehadiran Rufus dan lainnya, Saga Dungeon mendapatkan 1.000 DP.


Setelah kepergian mereka, Shinji merebahkan dirinya dan melamun.


“Ahh, capeknya …” ucap Shinji.


Setelah mengatakan itu, dia pun tidak ingin melakukan apa-apa.


“Bagaimana keadaan di bumi ya?” gumam pelan Shinji.


Disaat memikirkan itu Shinji pun terpikirkan sesuatu dan dia pun duduk diatas kasur.


“Navigator, bisakah aku membuat jaringan internet?” tanya Shinji.


Kling!


[Jawan. Bisa, Master.]


"Oke, jika begitu. Aku akan membuat ruang ruang kerja baru!"


Lalu, Shinji pun membuat ruangan dengan komputer yang memiliki dilengkapi dengan dua layar kecil diatas dan dua layar besar pada meja kerja dengan biaya 150.000 DP.


Setelah berhasil menciptakan ruangan baru. Shinji pun pergi ke ruang itu dan menyalakan


menyalakan komputernya yang mana dia melihat OS nya asing.


“OS? Apa ini?” tanya Shinji.


Kling!


[Jawab. Dungeon Portable OS.]


“Hmm … bisakah kamu merubah sistemnya?” ucap Shinji.


Kling!


[ Jawab. Bisa, anda ingin merubah dengan system OS apa?]


“Window 15,” ucap Shinji.


“Dimengerti!” jawab Alice.


Beberapa saat kemudian, Layar di computer berubah menjadi hitam dengan garis-garis kode yang sangat cepat tersusun dan tidak lama terbentuklah layar komputer yang familiar dihadapannya.


Lalu, Shinji pun membuatkan jaringan internet yang berupa wifi dengan bentuk yang sama seperti di bumi. Semua itu memakan biaya 100.000 DP.


Shinji pun melakukan percobaan dengan pembuatan program browser dan dia mengunakannya.


“Ohh, ternyata boyband Nine telah bubar,” ucap Shinji saat membaca artikel di halaman browser.


Selain itu, dia membuka artikel tentang Shinji Ikari. Dalam keterangannya Shinji Ikari telah meninggal dunia karena kelelahan ditempat kerja dan membuat kantor tempat nya bekerja terkena tuntutan sehingga perlindungan karyawan di perketat oleh pemerintah.


Shinji yang membaca itu, dia hanya menghela nafas panjang dan tersenyum, "Syukurlah, Kematian ku membawa perubahan."


Shinji tidak hanya membuka artikel tapi dia juga bisa membuka sosial media namun, saat dia mencoba program chating, call, dan video call di sosial media. Program itu tidak berfungsi.


“Seperti yang aku duga, secanggih apapun sihir dunia ini tidak mampu menempuh komunikasi antar dunia,” gumam Shinji.


Kling!


[Jawab. Maaf, Master untuk komunikasi antar dunia. Para Dewa-dewi tidak mengizinkan.]


"Aku mengerti," jawab Shinji.


...# Let's Build Dungeon With Bug System #...