Let's Build Dungeon With Bug System

Let's Build Dungeon With Bug System
Dungeon 33. Penyusup para pengacau



...Dungeon 33. Penyusup para pengacau....


Pada akhir acara pelelangan pasukan pengacau ingin melakukan aksinya namun, Shinji dengan bantuan Alpha mengirimkan seluruh pengacau yang sedang menodongkan senjatanya ke dungeon pertahanannya.


“Mustahil! Smart dungeon bisa melakukan sihir secepat dan seakurat seperti ini,” batin salah satu pelelang yang merupakan bagian dari pengacau.


Tidak lama kemudian, seluruh unit berlari ke arah ruangan pelelangan dan memasuki ruangan tersebut.


“Apa yang terjadi disini?” tanya Albert.


“Aku juga tidak tahu yang jelas seseorang telah dikirim master ke dungeon pertahanan,” jawab Helena yang menunjukan layar besar di depan mereka.


“Siapa mereka?” tanya Ailin.


“Sudah pasti mereka bukanlah orang baik,” jawab tegas Leanne.


Beberapa saat kemudian, Nami menghampiri yang lain.


“Nami, dari kapan kamu disini?” tanya Helena.


“Dari awal acara,” jawab Nami.


“Apa yang terjadi?” tanya Albert.


Nami pun menceritakan tentang kecelakaan yang dicegah oleh Master mereka dan dijadikan tontonan untuk para pengunjung.


Di lantai pertama, terdapat 23 orang yang dikirimkan oleh Alice. Mereka pun membuat formasi berjalan pelan menelusuri gua.


Krekk!


Suara tekanan dari lantai yang di injak pengacau.


“Gawat!” seru pengacau.


Sreng! ****!


Tombak dari kedua sisi tembok menusuk 3 pengacau.


“Kalian berhati-hatilah!” ucap pria besar.


“Baik, captain,” jawab serempak anak buahnya.


Drungggg! Drunggg!!!


Bola bergelinding menghampiri para pengacau.


“Kurang ajar!” seru pria besar dan meluruskan tangannya.


Dretttttt!!! Drettt!!


Suara tembakan yang dilesatkan oleh pria besar dari jari-jarinya meski bola bisa dihancurkan tetap ada 2 korban yang mati.


Dilantai pertama bawah tanah terlihat para pengacau sedang melewati berbagai macam jebakan seperti perubahan jalan gua, pisau besar dari melintasi dinding, lubang besar yang terdapat duri tajam, dan berbagai macam jenis jebakan yang berbeda-beda hingga para pengacau itu tersisa 15 orang dan mereka pun menemukan jalan keluar ke lantai dua bawah tanah.


“Jebakan macam apa itu?!” seru kesal pria besar.


“Kapten sepertinya kita terlalu meremehkan Nexus Dungeon,” ucap pembawa acara.


Buk!


Suara pukulan keras kepada pembawa acara.


“Kamu, jangan banyak omong kosong! Ayo kita bergegas keluar dari dungeon ini!” seru kesal kapten yang memiliki badan yang besar.


“Baik, kapten,” jawab pembawa acara.


Mereka pun tiba di lantai dua bawah tanah, pada ruangan ini terdapat lorong batu-batu.


Krek! Krek! Krek!


Suara tulang berjalan kearah parah pengacau.


“Kalian bersiaga!” seru kapten pengacau.


“Baik,” jawab serempak para anak buah nya.


Tidak lama kemudian, mereka melihat kedepan yang disana terdapat banyak monster kerangka mendekati mereka.


“Aku kira apa ternyata hanya boneka, kamu singkirkan dia!” seru kapten yang melihat anak buahnya di belakang.


“Hiyaat!” teriak para pengacau yang melawan dengan mudah monster boneka.


Monster-monster kerangka pun dengan mudah dikalahkan oleh para pengacau.


“Cih … mudah sekali,” ucap salah satu pengacau.


“Ayo kita bergegas! Keluar dari sini!” seru Kapten yang berbadan besar.


Mereka pun terus berjalan meski dihalangi kerangka, mereka bisa menyingkirkannya.


Saat mereka tiba di pintu keluar berbaris pasukan kerangka yang membuka matanya dengan mengenakan baju jirah dengan senjata- senjatanya.


Sesaat kemudian, pemimpin boneka, man Doll satu memberikan komando untuk menyerang para pengacau dan serangan panah diluncurkan.


“Perisai!” teriak kapten pengacau.


Para pengacau yang berada di garis depan memunculkan perisainya.


Tang! Tang! Tang!


Suara anak panah yang terpantul pada perisai.


“Sihir!” seru kapten pengacau.


Orang-orang yang berada di garis tengah merapalkan sihirnya.


“Panah Api!” rapal serempak pengacau.


Puluhan panah api dengan bentuk anak panah cahaya dilesatkan kearah boneka.


“Semua! Serang!” seru kapten dengan meluruskan pedang besar nya.


Tang! Tang!


Suara adu pedang antara boneka dan pengacau.


Lalu, mereka pun berhasil mengalahkan boneka itu dan menuju ke lantai berikutnya yang merupakan hutan goblin. Karena serangan dari kerangka itu, mereka tersisa 10 orang pengacau.


“Bagaimana bisa boneka membunuh 5 dari kami?” ucap kapten pengacau yang menoleh kearah pintu.


“Aku juga tidak menyangka bahwa Boneka memiliki skill,” ucap salah satu pengacau.


“Lupakan! Ayo kita kelantai berikutnya!” seru kapten.


“Aku tidak tahu apakah kita turun ataukah naik,” ucap salah satu pengacau juga.


“Aku tidak tahu. Yang jelas, apapun monster yang menghalangi kita? Aku akan membunuhnya,” ucap kapten.


Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan dengan menelusuri hutan.


Srek! Srek! Srek!


Suara gerakan dari rumput-rumput dihutan.


“Gigigi!” tawa goblin.


Saat mendengar suara itu, para pengacau menghentikan langkah dan membuat lingkaran.


“AAA!” teriak goblin yang melompat dan menusuk pengacau.


“Bedebah!” teriak pengacau yang menebas goblin yang melompat.


Serangan goblin tidak berhenti disitu, beberapa goblin yang di pohon melesatkan panah dan tombak kearah para pengacau.


Club! Club!


Suara tombak dan anak panah yang tepat mengenai para pengacau.


"Kapten, lebih baik kita pergi dari sini!” seru pembawa acara.


“Ayo kita lari dari sini!” teriak Kapten pengacau.


Mereka pun bergegas lari kencang untuk menghindari para goblin dan segala serangannya.


Srek! Srek! Srek!


Suara rumput yang terus bergerak.


“Gigigi!” tawa lebar beberapa goblin yang mengejar para pengacau.


Para pengacau tidak mempedulikan para Goblin dan terus berlari kencang.


“Kenapa aku harus mengalami kekacauan ini? Yang seharusnya aku bisa membantai tamu-tamu itu dan membunuh Dungeon Master Shinji,” batin kapten pengacau.


Di ujung hutan mereka melihat cahaya padang rumput.


“Kapten, lihat itu jalan keluar hutan!” seru pembawa acara.


“Iyaa … tapi, itu apa?” ucap Kapten yang melihat goblin tinggi mengenakan jirah hitam, pedang yang di sarungkan dan dia memegang tombak hitam.


“Serpent Pierce!” rapal dari goblin tinggi.


Setelah merapalkan itu, goblin tinggi itu berubah menjadi asap hitam dengan bentuk ular yang menyerang para pengacau.


Club! Club!


Suara tusukan ke arah pengacau.


“AHHHHH!”


“AAAA!”


“Awww!”


Teriakan – teriakan dari para pengacau yang tertusuk dan mengelilingi korbanya.


“Kapten, wakil Kapten! Kalian pergilah, kami mengandalkan kalian!” seru salah satu mengacau yang melihat serangan yang berturut itu dan dia memegang pedang dengan kedua tangan nya dengan gemetar.


Terlihat juga pembawa acara itu adalah wakil kapten pengacau.


“Maaf!” ucap Kapten yang berlari dan tidak mempedulikan anak buahnya.


“Terima kasih, Kapten,” ucap pengacau yang memegang pedang.


Pandangan nya pun berubah saat melihat kapten dan wakil kapten berhasil melarikan diri dan masuk ke pintu berikutnya.


“Goblin jelek … lawan mu adalah aku!” seru pengacau yang memegang pedang.


“Gigigig!” tawa goblin tinggi yang sudah kembali ke bentuk semula.


“Hiyaaat!” teriak pengacau.


Goblin tinggi hanya tersenyum lebar dan dia melemparkan tombaknya lalu memegang pedangnya.


Setelah itu goblin tinggi berlari cepat dan berhasil memenggal kepala pengacau.


Kapten dan wakil kapten tiba di lantai pertahanan terakhir Dungeon Nexus yaitu Kolosium.


“Kapten, tempat ini?!” seru wakil kapten.


“Kolosium dan itu …” ucap kapten yang menunjukan kepada sosok pria yang berdiri ditengah.


“Mungkinkah ....” ucap senang wakil kapten yang menduga-duga.


“Ya, unit terkuat di Dungeon Nexus," jawab Nexus.


Beta yang berdiri ditengah arena, dia pun melihat kapten dan wakil Kapten dengan tatapan tajam dengan pedang yang ditancapkan serta kedua tangan ditaruh pada ujung gagang pedang nya.


...# Let's Build Dungeon With Bug System #...