
...Dungeon 30. Negosiasi....
Shinji tidak pernah menyangka akan ada yang mengajukan kontrak untuk perlindungan para petualang pemula dan Shinji pun tidak yakin akan hal itu namun, sosok wanita negosiator bernama Iris merasa yakin akan ucapannya.
"Jika aku ingat beberapa bulan yang lalu ada petualang yang dikejar-kejar oleh serigala bertanduk dan itu terbukti bahwa Dungeon ku berada di tempat perburuan para petualang pemula, Hutan Meiya," batin Shinji.
Melihat keseriusan dari Iris, Shinji pun mencoba mengikuti arah pembicaraan nya.
"Jika aku menyetujui kontrak, apa keuntungan untuk ku?"
Shinji yakin, Iris bukanlah orang yang bodoh dan Shinji menduga Iris memiliki rencana yang matang.
"Yang jelas, ketiga Asosiasi tidak akan menaklukkan Dungeon anda," jawab Iris.
"Lalu, apa lagi?"
Mendengar ucapan ku, Iris terdiam. "Eh? Anu ... Apakah itu tidak cukup?"
Shinji pun menghela nafas dan sedikit menentang nya.
"Jika hanya itu saja sangat mustahil. Apakah kalian tahu hukum dunia? Yang mana, saat ini aku menjanjikan melindungi musuh alami yang seharusnya menaklukkan Dungeon dan apa yang dikatakan oleh Nona Iris itu sudah sepantasnya dan bukanlah keuntungan. Berikan aku dua keuntungan lagi!"
"Aku mengerti," jawab Iris
Iris yang mendengar ucapan Shinji, dia melipatkan tangan, menutup mata dan berpikir keuntungan yang dia bisa berikan kepada Shinji.
Dan, Shinji pun tersenyum lantaran berhasil melawan negosiasi nya.
Beberapa saat kemudian, Iris membuka matanya dan mengutarakan keuntungan yang lain.
"Asosiasi akan membayar biaya bulanan untuk perlindungan itu," ucap Iris.
Shinji pun tersenyum, Iris tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari solusi.
"Negosiator profesional memang berbeda," batin kagum Shinji.
"Baiklah. Lalu, berapa biaya nya?"
"500.000 Libra perbulan nya. Bagaimana, kamu terima?"
"Apakah itu setara dengan penghasilan bulanan petualang kelas emas?"
"Tidak, jika dihitung itu setara dengan penghasilan bulanan kelas perak," jawab Iris.
"Aku salah mengira namun, turun satu kelas itu tidak masalah," batin Shinji.
"Baiklah, aku menerima nya. Lalu, apa yang ketiga?"
"Untuk yang ketiga, Aku rasa itu dari Tuan Dungeon sendiri. Apakah anda memiliki rencana?"
Shinji sontak terdiam, "Iris benar-benar pintar bersilat lidah yang mana aku belum memikirkan rencana apapun," batin Shinji.
Sesaat kemudian, Shinji mengingat perkebunan nya yang sudah mulai panen dan disana lah dia terpikir sesuatu.
"Berikan Aku hak berdagang beserta izin masuk kota nya!"
Mendengar itu, Iris tersenyum. "Apakah Tuan Dungeon tertarik dengan perdagangan?"
"Bukankah menarik, jika aku bisa menjual hasil panen atau barang yang telah ku buat dari Dungeon ini."
"Baiklah, aku mengerti," jawab Iris yang terlihat ragu.
"Meski, Iris terlihat menurut namun, aku tidak boleh lengah karena aku tetaplah monster, Sang Dungeon Master," batin Shinji.
Sesaat kemudian, Shinji mengajukan pertanyaan yang lain.
"Iris, bagaimana caramu meyakinkan para pendukung kota atau lebih tepatnya para petualang pemula?"
"Aku rasa Asosiasi mampu menyakinkan mereka terutama jika itu menguntungkan," jawab Iris.
Shinji tersenyum mendengar nya, "Iya hal itu aku tahu. Tapi, tidak sedikit petualang yang merasa jijik dan takut kepada seorang Tuan Dungeon. Bukan kah begitu?" ucap Shinji yang membuat Iris tersudut.
"Jujur dari lubuk hati, aku tidak ingin bermusuhan dengan manusia namun, aku juga tidak ingin dimanfaatkan oleh manusia juga," batin analisa Shinji.
"Aku tahu, Tapi, apakah Tuan Dungeon memiliki rencana?"
"Iris pintar mengalihkan pencarian ide dan kembali kepada ku untuk solusi nya," batin Shinji.
Shinji pun menghela nafas panjang dan sesaat terpikir lah sesuatu.
"Iris, Bagaimana dengan pelelangan?"
"Itu ide yang menarik! Apakah Tuan Dungeon bersedia untuk Dungeon anda dijadikan tempat pelelangan?"
Sebenarnya ini ide yang gila dan beresiko tinggi meski begitu, Shinji tidak takut. Jika para manusia berani berkhianat kepada nya.
Maka, Shinji juga tidak akan segan-segan membunuh mereka semua dan sekarang, Shinji ingin mengenal apakah mereka manusia yang dapat dipercaya ataukah tidak.
"Dengan pelelangan, mungkin aku bisa mendapatkan kepercayaan dari kalian dan
jika Nona Iris tidak keberatan dengan rencana ini maka, aku akan buatkan aula lelang di Dungeon ini untuk kalian dengan Apa kalian menyetujui nya?" ucap Shinji.
"Tentu saja, aku setuju. Tapi, apakah Tuan Dungeon ingin berpartisipasi? Jika iya maka itu akan menguntungkan kedua belah pihak," ucap Iris.
"Baiklah, aku akan ikut berpartisipasi."
"Dan, apakah ada peraturan tentang barang yang di lelang?"
"Tidak ada. Aku hanya menyediakan tempat selebihnya terserah kalian."
"Lalu, bagaimana dengan biaya penyimpanan barang lelang?" tanya Iris.
"Tidak ada biaya."
"Aku mengerti dan pertanyaan terakhir, kapan diadakan nya pelelangan?"
"Kalian atur saja. Lalu, bagaimana menurutmu, Nona Iris?"
"Bagaimana jika awal bulan yang mana itu 10 hari setelah hari ini?" jawab Iris.
"Baiklah, aku akan mempersiapkan nya."
"Terimakasih atas kerjasamanya, Tuan Dungeon. Aku akan memberitahu kepada Ketua Asosiasi," ucap Iris dengan menundukkan kepalanya.
Gordo dan kelompok nya juga mengikuti gerakan Iris.
Shinji pun tersenyum dan mengangguk kepala. Lalu, aku pun meminta mereka sesuatu.
"Nona Iris dan semua. Jangan panggil aku Tuan Dungeon! Panggil saja Shinji!"
"Baik, Tuan Shinji," ucap Iris.
Dengan ini, Negosiasi pun selesai.
Setelah itu, Shinji menoleh kearah Beta.
"Beta, katakan kepada Rose untuk mempersiapkan makanan nya."
"Baik, Master," jawab Beta.
Setelah itu, Beta bertelepati kepada Rose dan menyuruh nya untuk masuk.
Sesaat kemudian, Rose dan Lucy series datang membawa berbagai makanan dan menyajikan nya diatas meja.
Kehadiran Rose membuat para petualang pria memerah dan para wanita tersenyum kecut.
Shinji yang melihat itu tersenyum sendiri dan mengalihkan menyadarkan lamunan mereka yang memandang Rose.
"Sebelum kalian pergi, Mari kita makan bersama!"
"Baik," jawab Iris dan lainnya.
Lalu, kami pun makan bersama dan para petualang dengan lahap menyantap makanan nya.
Shinji yang melihat nya tersenyum senang lantaran masakan dari Lucy series diterima dan dimakan.
Setelah makan, Iris dan lainnya pun pergi meninggalkan Dungeon.
Sedangkan, Shinji masih duduk di kursi makan seraya menyeruput Wine di gelas.
Sesaat kemudian, Nami datang dan menghampiri Shinji seraya mengutarakan pendapat nya.
"Master, apakah anda untuk bersungguh-sungguh bekerja sama dengan Manusia?"
"Tidak, aku belum sepenuhnya percaya dan kita memiliki waktu 10 hari untuk berkembang. Nami, Rose, Semua! persiapkan diri kalian!"
"Baik, Master," jawab serempak Nami, Beta Rose dan beberapa Lucy.
...# Let's Build Dungeon With Bug System #...