
...Dungeon 21. Kesadaran ketiga rekan Leanne dan keputusan Shinji....
Beberapa hari kemudian, semua rekan-rekan Leanne tersadar kembali. Mendengar itu, Shinji pun memberikan kamar untuk mereka dan Leanne sontak berlari kearah teman-teman nya.
Buk!
Suara pintu terbuka dengan keras.
Ketiga teman nya Leanne sontak teralih pada pintu masuk dan tersenyum senang saat melihat yang datang ke kamar mereka adalah Leanne.
"Leanne!" seru serempak ketiga teman nya.
Melihat ketiga teman nya yang sudah sehat, Leanne sontak memeluk Siska.
"Siska! Andre! Hyna! Syukurlah kalian sudah sadar!" seru senang Leanne dengan menitihkan air mata nya.
Seusai temu haru, Leanne pun menceritakan semua kronologi kejadian nya yang mana membuat mereka terkejut dan trauma mendengar kata Dungeon akan tetapi saat merasakan Dungeon Nexus, mereka pun lebih memilih tenang.
"... Begitu lah cerita," ucap akhir Leanne yang mengakhiri ceritanya.
Mendengar itu, Siska pun tersenyum dan melihat kearah Leanne.
"Terimakasih, Leanne. Kamu telah menyelamatkan kami."
"Terima kasih, Leanne," sambung Hyna.
"Makasih. Hehehe ..." sambung Andre.
"Eh? Aku? Bukan-bukan. Aku tidak menyelamatkan kalian. Dungeon master Shinji lah yang telah menyelamatkan kalian," ngelak Leanne.
Siska sontak memegang tangan Leanne. "Tetap saja, kamu yang berjuang mencari bantuan."
Andre dan Hyna pun tersenyum dan mengangguk kepalanya.
Melihat mereka Leanne pun tersenyum, "Semuanya..."
Sesaat kemudian, Rose pun masuk ke ruangan hingga pandangan teralih pada Rose.
"Semuanya, Master telah menunggu kalian!"
"Baik, Nona Rose. Kami akan pergi menemui Master Shinji." Leanne menoleh kearah teman-teman. "Ayo!"
Siska dan lainnya pun mengangguk kepalanya. Lalu, mereka pun pergi ke ruang kerja nya Shinji.
Setibanya disana Siska dan kedua rekan nya sedikit terkejut dengan ruangan mewah dari tempat kerja Shinji.
"Master, saya sudah membawa mereka semua!" ucap Rose seraya membungkukkan badannya.
"Ayo! Silahkan duduk!" seru Shinji.
"Baik, Master," jawab Leanne dengan menundukkan kepalanya.
Ketiga rekan Leanne juga mengikuti gerakan Leanne. Lalu, Leanne beserta rekan-rekan nya duduk di kursi meja bundar.
"Bagaimana keadaan kalian?" tanya Shinji.
Sesaat Shinji membuka pembicaraan, Siska sontak memotong nya dengan pertanyaan. "Master, ada yang ingin kami sampaikan!"
"Apa itu?" tanya Shinji.
“Master, kami sudah lama di dungeon ini dan kami pun sudah pulih. maka dari itu Master, kami ingin kembali pulang," ucap Siska.
“Tapi, tenang Master. Kami tidak akan mengatakan apapun tentang dungeon ini dan Master,” sambung Andre.
“Benar, kami hanya rindu kepada keluarga kami,” jawab Hyna.
Leanne hanya menundukan kepalanya dan terlihat sedih dari wajahnya.
“Jadi, begitu. Aku mengerti tapi, aku juga menyembuhkan kalian tidaklah gratis,” ucap Shinji.
“Tentu Master, kami akan mengumpulkan uang untuk membayar semua,” ucap tegas Andre.
“Sebenarnya aku tidak membutuhkan itu tapi ada pekerjaan yang kalian harus lakukan,” ucap Shinji.
“Apa itu Master?” tanya Siska.
“Satu, kalian harus pergi ke Asosiasi pedagang dan sampaikan semua yang kalian alami. Kedua, Leanne tetap tinggal disini karena dia sudah menjadi unit disini,” ucap Shinji.
Saat mendengar permasalahan Leanne, Andre dan lainnya melihat dan menatap Leanne. Leanne pun membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Dan ketiga, ambilah ini untuk bekal kalian,” ucap Shinji yang memberikan mereka kotak kecil.
Siska dan lainnya yang penasaran dengan isi dari kotak itu maka dia pun membukanya dan mereka pun terkejut saat melihat isinya.
“Ini bukankah permata yang sangat langka, adamanite,” kaget Andre.
“Benar, kalian bisa menjual atau menjadinya senjata itu terserah kalian,” ucap Shinji.
“Terima kasih, master,” ucap serempak Andre dan lainnya.
Keesokan harinya, Andre, Hyna, dan Siska berpamitan untuk pulang dan mereka diantar oleh Leanne di pintu masuk gua yang dikawal oleh Rose yang berada disamping mereka.
“Bye-bye, Leanne!” seru Siska yang melambaikan tangan.
Andre, Hyna dan Siska pun berjalan semakin jauh hingga Leanne tidak terlihat mereka lagi.
“Nona Leanne, waktunya anda kembali!” seru Rose.
“Iya, aku mengerti,” jawab Leanne.
Leanne berbalik badan dan kembali masuk kedalam goa.
Pemasukan dari Andre dan lainnya sebesar 600 DP.
Setelah itu, Shinji memutuskan untuk memberikan tempat tinggal Leanne di desa Homunculus dengan maksud untuk mengajari mereka beberapa pengetahuan umum. Leanne yang mendengar itu, dia pun menyetujui nya.
Keesokan harinya, Leanne yang melihat kemampuan latihan dari para Boneka dan Homunculus membuat dirinya memutuskan tekad dan dia pun pergi menghadap Shinji yang saat itu sedang berolahraga berlatih dengan Alpha.
“Master, ada yang ingin aku sampaikan!" pinta Leanne yang menundukan kepalanya.
Shinji yang mendengar itu, dia pun menghentikan aktifitasnya dan mengusap keringatnya dengan handuk yang dibawa oleh Lucy dan setelah itu diberikan lagi kepada Lucy, handuk tersebut.
“Ada apa, Leanne? Terlihat sangat serius ekspresi mu,” ucap Shinji.
“Master, izinkan aku berlatih untuk mengunakan senjata api! Agar aku bisa lebih kuat, aku mohon!” ucap Leanne yang membungkukan badannya.
“Kenapa harus senjata api?” tanya Shinji.
Leanne pun menegakan kembali badannya dan melihat Shinji dengan tatapan serius.
“Master, aku memiliki tubuh dan sihir yang lemah sehingga aku tidak bisa mengunakan senjata jarak dekat dengan kuat selain itu aku merasa tidak berguna meski aku seorang penyembuh,” ucap Leanne.
Shinji tersenyum dan memegang bahu serta menatap wajah Leanne.
“Leanne, dengarkan aku! Tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang tidak berguna itu hanya berdasarkan pemikiran darimu saja. Maka, kamu harus tetapkan pikiran bahwa kamu bisa berguna untuk orang lain,” ucap Shinji.
“Terima kasih, Master,” ucap Leanne yang membasuh air mata di pipinya.
“Dan satu hal lagi, aku akan mengabulkan permintaanmu juga tidak akan melepas bakatmu sebagai penyembuh,” ucap Shinji sambil menunjuk ke arah Leanne.
“Benarkah, Master! Terima kasih banyak!” ucap Leanne yang kembali membungkan badan.
Shinji pun tersenyum senang saat melihat reaksi dari Leanne.
Kling!
[Peringatan tinggi. Master, ada yang ingin meretas System Dungeon anda.]
Lalu, Shinji berpikir sesuatu “Navigator, apakah System Dungeon ini bisa dikendali oleh seseorang selain aku?” tanya batin Shinji.
Kling!
[Jawab. Itu bisa saja, jika ada seseorang yang menembus system keamanan milik anda dan meretas nya.]
“Lalu, Bagaimana solusinya agar kamu lebih kuat agar tidak bisa dikendalikan?” tanya batin Shinji.
Kling!
[Upgrade system!]
“Baiklah, Diizinkan aku akan mengupgrade mu dengan system tertinggi dengan satu syarat yaitu kamu harus setia 100 persen?!” ucap batin Shinji.
Kling!
[Itu sudah pasti karena dalam tingkat 5, program royalty permanen 100 persen.]
Leanne memiringkan kepalanya karena bingung melihat Shinji yang sedang melamun.
“Master! Master!” tegur Leanne.
Shinji pun mendengar teguran itu dan tersadar.
“Ohh, maaf, Leanne. Aku melamun dan baiklah kamu akan dilatih oleh Beta,” ucap Shinji.
“Beta, latih Leanne!” sambung ucap Shinji terhadap Beta.
Beta yang sedang berjaga di pintu membungkukan badannya.
“Baik, Master!” jawab Beta.
Seusai itu Beta menegakan kembali badanny dan melihat Leanne.
“Nona Leanne, mari ikut saya!” ucap Beta.
“Terima kasih, Master,” jawab Leanne yang membungkan badannya.
“Sekarang pergilah latihan!” ucap Shinji.
“Baik,” jawab Leanne yang sudah kembali menegakan badannya.
Setelah itu Leanne pun membalikan badan dan meninggalkan ruangan bersama Beta.
...# Let's Build Dungeon With Bug System #...