I WAS TRASH

I WAS TRASH
Part 9



"Anak ini memang sangat sesuai dengan kriteria ku," ucap seorang pria yang mengawasi Alex dalam diam.


"Tch tch tch. Aku telah mencarimu kemana-mana. Rupanya kau disini,sobat." Seorang pria dengan tubuh kekar dan wajah begitu garang menghampiri pria tersebut.


"Hai Julio. Lama tidak berjumpa," ucap pria itu.


Julio menyalaminya dan kemudian duduk tepat disampingnya.


"Siapa pria muda itu? Terlihat tampan," ucap Julio.


"Kau ingat tentang eksperimenku? Ya. Dia adalah kandidat yang cocok untuk menyelesaikan misiku selanjutnya," ucap pria itu.


"Ohh ternyata hanya pion. Lalu, apa yang membuatmu tertarik hingga memperhatikannya seperti itu?" Tanya Julio.


"Dia masih muda, namun keberaniannya cukup besar. Dia keren. Diusianya saat itu, aku bahkan masih belajar bagaimana cara menembak dan menyerang musuh. Tapi dia... Dia sudah dapat membunuh seorang pria dalam sekali sayatan. Benar-benar kejam!" Pria itu tertawa puas atas hasil jerih payahnya.


"Sebegitu hebatnya kah?" Tanya Julio tak percaya.


Pria itu kembali memperlihatkan adegan sadis Alex.


*...*


Di lain sisi...


Alex tidak menyadari bila seseorang memerhatikannya diluaran sana. Dia dengan santainya membersihkan dirinya di Sungai sekitar tempat kejadian. Tentu saja, kala itu Alex tidak meninggalkan bukti kejahatan apapun disana selain pisau cadangan yang ia bawa untuk mengelabuhi pihak berwajib.


Setelah selesai melakukan aktivitasnya, Alex pergi dari tempat tersebut untuk kembali ke rumah.


"Sistem, apakah kau tidak bisa memberiku seorang anak buah dan senjata?" Tanya Alex.


"Bisa. Namun, saat ini anda tidak memiliki poin," jawab pria dalam sistem.


"Benar-benar menyebalkan! Baiklah jika begitu. Aku pergi ke markas ayah saja," gumam Alex.


Alex membawa pergi tasnya menuju ke markas pelatihan yang selama ini menjadi tempatnya berlatih menembak.


Saat tiba disana...


Suasana menjadi begitu mencekam. Bukan tanpa sebab, namun sejak kepergian Russel, Louis dan rekannya jadi kehilangan semangat mereka. Markas pun jadi semakin tak terurus, walau pelatihan militer tetap berjalan. Selain itu, mereka pun menjadi lebih agresif dan mudah marah. Semua anak yang mengikuti pelatihan pun jadi malas untuk berangkat, namun dengan sigap, mereka menyusul ke rumah masing-masing.


"Permisi. Paman Louis, Paman Jack, apakah kalian di dalam?" Panggil Alex sambil menilik kondisi markas.


Tak ada seorang pun menyahuti panggilannya. Dia berjalan semakin ke dalam hingga ditemuinya suara jeritan dan rintihan dari beberapa orang disana.


"Paman Louis, Paman Jack, ada apa ini?" Tanya Alex berlagak polos.


"Tu-tuan muda?" Kedua pria itu melepaskan kedua cucu kediaman Lachowicz lainnya dan langsung berdiri tegap menghadap Alex.


"Hormat kepada tuan muda," ucap mereka.


"Jangan terlalu sungkan. Lanjutkan saja latihannya,tapi saya minta tolong kosongkan lapangan menembak. Saya akan berlatih," ucap Alex tegas.


Louis dan Jack saling bertatapan hingga Aron muncul menengahi mereka.


"Salam tuan Aron," ucap mereka menyapa Aron.


Aron mengangguk.


"Tuan. Saya izin bertanya," ucap Louis.


Aron mengalihkan pandangannya kepada pria disampingnya.


"Ada apa dengan tuan muda? Tidak biasanya dia berinisiatif seperti itu," ucap Louis yang nampak kebingungan.


"Ya. Saya juga mendapatkan info dari tuan muda lainnya." Louis nampak mengejutkan dahinya, memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi.


"Namun, bagaimana bisa itu terjadi?" Tatapan kebingungan itu dilontarkan oleh Louis.


"Saya yakin wanita itu tidak akan sebodoh itu meminum teh buatannya sendiri. Dia pasti memberikan perbedaan antara miliknya dengan tuan muda, kecuali..." Aron memutus ucapannya. Hal tersebut membuat beribu kemungkinan muncul di kepala Louis dan Jack.


"Kecuali apa,tuan?" Jack akhirnya membuka suara.


"Seseorang telah menukarnya dan dia minum secara tidak sadar, " Jawab Aron yang langsung pada intinya.


Mereka bertiga saling bertatapan. Dalam tatapan tersebut, tersirat keraguan "mungkinkah itu tuan muda yang melakukannya?" Namun, mereka masih saja ingin menyangkalnya.


"Lalu, bagaimana jika kita melihat tuan muda berlatih. Seharusnya, sekarang dia sudah bersiap."


"Kalian semua setelah ini latihan memanah. Latihan menembak akan dijadwalkan besok," ucap Louis tegas.


"SIAP KOMANDAN!" seru mereka semua serempak.


*...*


Alex bersiap pada posisinya. Dia berdiri tepat di depan sasaran, sedikit mencondongkan badan dan membentuk tubuhnya miring sekitar 40 derajat. Dia benar-benar mengingat semua yang diajarkan oleh paman Louis waktu itu.


Dia meletakkan gagang senapan pada bahunya dengan larasnya yang mengarah pada target. Terlihat sekali amarah yang membara pada sorot matanya yang tajam. Louis dan yang lainnya pun hingga bergidik ngeri melihatnya, namun mereka masih tetap bungkam.


Dia mulai membidik sasarannya dengan mata yang mendominasi. Genggaman senjata yang begitu kuat terasa, membentuk huruf V pada genggaman tangan yang tidak dominan dengan tangan dominan yang jari telunjuk yang mengarah pada pelatuk. Sedangkan jari lainnya ia letakkan pada belakang pemicu. Dia menarik nafas dalam-dalam,  mengeluarkannya dengan teratur dan kemudian, dia menarik pelatuknya.


Dorrrr....


Kali ini, dia benar-benar tepat sasaran. Namun, tidak cukup sampai disini. Dia mengubah arah sasarannya menuju beberapa bidikan disampingnya.


Dor dor dor...


Tiga kali tembakan yang tepat sasaran dia lontarkan. Aron dan yang lainnya tercengang melihat Alex yang begitu mengagumkan.


Plok plok plok...


Suara tepuk tangan yang berasal dari ketiganya. Alex memanggul senapannya pada bahu miliknya, lalu melepas penutup matanya.


"Wow. Impressive! Kau sungguh luar biasa Alex," puji Louis.


Alex hanya mengangguk dan tersenyum elegant.


"Jika boleh tau, tuan muda ingin melakukan apa hingga berlatih menembak?" Tanya Aron.


"Mengungkap fakta kematian Ayah," jawab Alex singkat, namun penuh penekanan.


"Tuan muda sudah mengetahui siapa pelakunya?" Tanya Louis.


Alex mengangguk. " Ya. Tapi, belum ada bukti kuat." Alex meletakkan senjatanya dan menghela nafas sejenak, " Huftt, paman Louis, apakah paman bisa mengajarkanku menjadi sniper?"


Louis hanya terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. Dia memang bisa, namun itu akan sedikit berbahaya jika meleset sedikit saja. Lagipula, Penembak jitu harus mengerti keakuratan segalanya. Mulai dari tekanan angin hingga jarak yang akan ditempuh.


"Kumohon..." Alex membulatkan matanya dengan sempurna membuat hati Louis tak kuasa menahannya.


"Baiklah," jawab Louis setuju.


"Baiklah paman. Besok sepulang sekolah, Alex akan kemari." Alex melepas semua perlengkapan menembaknya dan pergi dari sana dengan begitu saja.


"Tuan muda yang dulu kita kenal jauh berbeda dengan sekarang, seakan mereka adalah dua orang yang bertukar jiwa," gumam Aron yang masih dapat terdengar jelas oleh Louis dan Jack. Mereka berdua hanya mengangguk menyetujui ucapan Aron.